
Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya
Bab 2
Kinasih POV:
Riska membantuku berkemas. Dia tidak banyak bicara, hanya sesekali menatapku dengan mata khawatir. Aku tahu dia masih takut aku akan berubah pikiran. Tapi tidak ada lagi yang bisa berubah. Keputusanku sudah bulat, seperti batu yang keras.
"Aku akan merindukanmu," kata Riska saat kami berpelukan di depan pintu rumah sakit.
"Aku juga," balasku, mencoba tersenyum meyakinkan. "Tapi ini bukan perpisahan. Kita akan tetap terhubung."
Dia mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan biarkan siapa pun lagi menyakitimu."
Aku mengangguk. Janji itu, kali ini, aku akan menepatinya untuk diriku sendiri.
Riska pergi, dan aku kembali ke kamar rumah sakit yang sunyi. Zaki belum juga datang. Teleponku mati, tidak ada pesan darinya. Seolah-olah aku tidak pernah ada dalam hidupnya.
Sakit kepala kembali menyerang. Rasanya seperti ada palu godam yang menghantam tengkorakku. Aku meraba laci di samping ranjang, mencari obat migrain yang selalu kubawa. Kosong. Obatku habis. Aku lupa membelinya karena terlalu sibuk mengurus pernikahan yang tidak pernah terjadi.
Aku memejamkan mata, mencoba menahan rasa sakit. Zaki dulu selalu sigap. Dia akan membelikanku obat, mengompres kepalaku, dan membisikkan kata-kata menenangkan. Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Aku di sini.
Mengingatnya sekarang terasa seperti racun.
Aku meraih ponsel, berniat menghubungi Zaki untuk meminta dia membawakan obat. Tapi jariku berhenti melayang di atas namanya. Untuk apa? Dia tidak akan datang. Dia sedang bersama Selma, dan Selma adalah prioritasnya. Aku sudah menyaksikan itu berkali-kali.
Aku tertawa hampa. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan, hanya kepedihan. Aku tidak butuh dia. Aku bisa mengurus diriku sendiri.
Dengan langkah gontai, aku bangkit dari ranjang, mengenakan pakaian seadanya, dan berjalan keluar dari kamar rumah sakit. Koridor rumah sakit sepi di malam hari. Aku berjalan perlahan menuju apotek.
Saat aku menunggu antrean, sebuah suara familiar menyapa. "Kinasih? Sedang apa kamu di sini?"
Aku menoleh. Itu Bu Citra, manajer proyek dari kantor lamaku. Dia menatapku dengan tatapan terkejut, bergantian melihatku dan piyama rumah sakit yang masih kukenakan.
"Bu Citra? Saya… saya hanya…" Aku tergagap, tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku baru saja pingsan di hari pernikahanku yang ke-12 karena calon suamiku memilih adik angkatnya?
"Kamu baik-baik saja?" Bu Citra bertanya, matanya menyipit penuh selidik. "Kamu terlihat sangat pucat. Dan… bukankah hari ini…?"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi aku tahu apa yang ingin dia tanyakan. Semua orang tahu tentang drama pernikahan Zaki dan aku.
"Saya baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit kelelahan," kataku, mencoba tersenyum.
Bu Citra mendengus. "Kelelahan? Kinasih, kamu tidak pernah berbohong dengan baik. Aku tahu apa yang terjadi. Zaki itu… dia keterlaluan."
Aku menunduk, tidak bisa membantah.
Tiba-tiba, dari arah ruang IGD, aku mendengar suara Zaki. "Selma, pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai jatuh lagi."
Jantungku mencelos. Aku mendongak, dan di sana, terlihat Zaki sedang memeluk Selma yang berjalan terhuyung-huyung keluar dari ruang IGD. Selma terlihat baik-baik saja, bahkan senyum tipis tersungging di bibirnya saat dia bersandar manja pada Zaki.
Mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih, tidak seperti kakak-adik angkat. Zaki mengusap pipi Selma dengan lembut, matanya penuh kasih sayang. Tatapan yang dulu selalu dia berikan padaku.
Sebuah sengatan nyeri menusuk hatiku. Sakitnya bukan karena cemburu, tapi karena kesadaran. Kesadaran bahwa aku telah membiarkan diriku disakiti sedalam ini.
Aku bersembunyi di balik pilar, tidak ingin terlihat. Bu Citra menatapku dengan iba, lalu melirik ke arah Zaki dan Selma dengan tatapan jijik.
Selma merangkul lengan Zaki, kepalanya menyandar di bahu pria itu. "Kak Zaki, aku lapar. Kita makan sate padang ya?"
"Tentu, Sayang. Apa pun untukmu." Zaki tersenyum, mengangguk.
Aku menatap mereka sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangan. Rasa pahit memenuhi mulutku. Bu Citra menepuk bahuku.
"Pulanglah, Kinasih. Istirahat," katanya, suaranya lembut.
Aku mengangguk, lalu berbalik dan berjalan kembali ke kamar. Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit, membiarkan air mata mengalir tanpa suara. Tapi anehnya, air mata itu tidak terasa panas. Hanya dingin, seperti jiwaku.
Keesokan harinya, aku mengemasi barang-barangku. Tidak banyak yang kubawa. Hanya beberapa pakaian dan buku-buku sketsa arsitekturku yang kumal. Semua kenangan dengan Zaki, semua barang yang dia berikan, aku tinggalkan. Aku tidak butuh lagi.
Tepat saat aku hendak keluar, ponselku berdering. Nomor Zaki. Aku terdiam sejenak, lalu mengangkatnya.
"Kinasih? Kamu di mana? Kenapa tidak di kantor?" Suaranya terdengar cemas, tapi ada nada ketidakpuasan di sana.
"Aku sakit," jawabku singkat.
"Sakit? Kenapa tidak memberitahuku? Sejak kapan? Apa yang sakit?"
Aku tersenyum miris. Kau tidak tahu? Kau yang meninggalkanku pingsan di altar, Zaki. Dan sekarang kau bertanya apa yang sakit?
"Kepalaku pusing. Agak demam," jawabku datar.
"Astaga. Aku minta maaf, Sayang. Tadi malam Selma demam tinggi, jadi aku harus menemaninya. Aku baru bisa pulang pagi ini. Bagaimana kalau aku bawakan makanan untukmu? Atau obat?"
Aku mendengar suara Selma dari balik telepon, memanggil nama Zaki. "Kak Zaki, aku mau es krim!"
"Iya, Sayang, sebentar," Zaki menjawab Selma. Lalu kembali kepadaku, "Kinasih, aku akan segera ke sana setelah ini. Kamu istirahat saja dulu, ya."
Aku menutup mata. Suara Selma, permintaan es krim, dan janji Zaki yang tidak akan pernah ditepati. Semua itu terasa seperti déjà vu. Aku tahu dia tidak akan datang.
Aku menatap sekeliling apartemen yang dulu kami impikan, apartemen yang kami rancang bersama. Sekarang, tempat ini terasa hampa. Aku hanya ingin pergi.
Dua hari kemudian, aku berdiri di kantor arsitektur tempatku bekerja selama lima tahun. Surat pengunduran diri ada di tanganku.
Pak Budi, atasanku, menatapku dengan ekspresi kecewa. "Kinasih, kamu yakin? Apa kamu tahu ini akan memengaruhi kariermu?"
"Saya yakin, Pak," kataku, suaraku mantap.
"Tapi… bukankah Zaki ingin kamu tetap di sini? Dia juga kan salah satu klien besar kita," kata Pak Budi, mencoba mencari tahu. "Saya tahu kalian berdua dulu adalah calon arsitek paling menjanjikan di sini. Tapi kamu memilih untuk menunda impianmu demi dia. Sekarang, kenapa tiba-tiba begini?"
Aku menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Saya rasa, sudah waktunya saya mengejar impian saya sendiri, Pak. Bukan impian orang lain."
Pak Budi menghela napas. "Saya mengerti. Tapi… apa karena Zaki lagi?"
Aku menggeleng. "Ini tentang saya, Pak. Saya ingin sesuatu yang baru."
Baru saja Pak Budi ingin mengatakan sesuatu lagi, pintu kantornya terbuka dengan kasar.
Zaki berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah. Matanya menatapku tajam, seolah aku telah melakukan kejahatan besar.
Aku tahu dia akan datang. Tapi tidak secepat ini.
"Kinasih," suaranya berat, penuh kemarahan. "Apa yang kamu lakukan?"
Anda Mungkin Juga Suka





