
Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya
Bab 3
Kinasih POV:
Zaki menarik lenganku, menyeretku keluar dari ruangan Pak Budi. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku merasa pergelangan tanganku akan memar. Dia tidak peduli dengan tatapan mata rekan-rekan kerja kami yang mengikuti kami dengan rasa ingin tahu dan kaget.
"Ada apa denganmu, Kinasih?" Zaki membentak saat kami tiba di lorong yang sepi. "Kenapa kamu tiba-tiba mengundurkan diri? Apa kamu sudah gila?"
Aku menatapnya, mencoba melepaskan tanganku. "Lepaskan aku, Zaki. Ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Tidak ada hubungannya denganku?" Dia tertawa hambar. "Segala sesuatu dalam hidupmu ada hubungannya denganku! Kita akan menikah! Kamu tidak bisa tiba-tiba berhenti bekerja tanpa persetujuanku!"
"Persetujuanmu?" aku mengulang, suaraku dingin. "Sejak kapan kamu peduli dengan pekerjaanku? Atau keputusanku?"
Zaki terdiam, matanya menyala. "Aku peduli! Tentu saja aku peduli! Ada apa denganmu? Apa ini tentang kemarin? Tentang Selma?"
"Oh, jadi kamu masih ingat 'kemarin' itu?" aku membalas, nadaku penuh sindiran. "Aku pikir kamu sudah lupa, mengingat betapa sibuknya kamu mengurus Selma."
Zaki menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Kinasih, kamu tahu kan Selma itu adik angkatku. Dia tidak punya siapa-siapa. Dia sangat ketakutan kemarin. Serangan paniknya kambuh karena kliennya membatalkan proyek. Dia sangat rapuh, Kinasih. Apa aku salah kalau aku peduli padanya? Apa aku salah kalau aku ingin melindunginya?"
Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dulu, kata-kata itu akan membuatku merasa bersalah, merasa kejam karena cemburu pada adik angkatnya yang sebatang kara. Tapi sekarang, tidak lagi.
"Kamu tahu, Zaki, aku tidak pernah melarangmu peduli pada Selma," kataku, suaraku datar. "Bahkan aku memahami kondisi Selma. Tapi sepertinya kamu lupa bahwa kamu punya tunangan yang juga butuh perhatian. Tunangan yang kamu tinggalkan di depan penghulu. Untuk ke-12 kalinya."
Wajah Zaki memucat. Dia tahu aku benar. Dia tahu dia keterlaluan.
"Aku… aku minta maaf, Kinasih," bisiknya, suaranya melembut. "Aku tahu aku salah. Aku janji, kali ini aku akan menebusnya. Kita akan segera menikah. Kamu bisa bekerja di mana pun kamu mau, Sayang."
"Aku sudah menemukan pekerjaan baru," kataku, senyum tipis terukir di bibirku. "Di Bali. Proyek resor mewah yang dulu aku tolak."
Mata Zaki terbelalak. Wajahnya langsung berubah muram. "Apa? Bali? Kamu tidak bisa pergi, Kinasih! Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan Selma? Dia pasti akan sangat sedih jika kamu pergi. Dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu."
Dunia di sekitarku terasa berputar. Harapan yang sejenak timbul, kini hancur berkeping-keping. Dia masih saja sama. Demi Selma. Selalu demi Selma.
"Jadi, aku harus mengorbankan impianku lagi, demi Selma?" tanyaku, suaraku menipis.
"Bukan mengorbankan, Sayang," Zaki mencoba meyakinkan, tangannya menggenggam tanganku lagi. "Ini hanya sementara. Setelah Selma stabil, kita bisa memikirkan ini lagi. Aku janji, kita akan membangun rumah impian kita di Bali, bersama. Tapi tidak sekarang, Kinasih. Selma butuh kita."
Aku menatap tangannya yang menggenggamku. Cincin tunangan yang dia berikan padaku delapan tahun lalu, kini tidak ada di jariku. Dia tidak menyadarinya. Dia tidak menyadari apa-apa.
Aku menarik napas dalam-dalam. Aku lelah. Sangat lelah.
Zaki salah mengartikan diamku. Dia tersenyum, mengira aku sudah melunak. "Makan malam nanti? Di restoran favorit kita? Kita akan membicarakan semuanya."
Aku mengangguk. "Baiklah."
Zaki tersenyum lebar, lalu mendekat, mencoba menciumku. Tapi aku menoleh, menolaknya. Sebuah janji tidak akan lagi mengikatku.
"Nanti malam, ya," katanya, masih dengan senyumnya.
Aku hanya mengangguk, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kantor. Zaki masih berdiri di sana, menatapku, mungkin bertanya-tanya mengapa aku begitu tenang. Tapi aku tidak lagi peduli dengan apa yang dia pikirkan.
Aku menunggu di lobi kantor, berniat pulang. Tiba-tiba, suara Selma terdengar dari belakangku.
"Kak Kinasih?"
Aku menoleh. Selma berdiri di sana, wajahnya tampak lelah, tapi matanya berbinar licik.
"Ada apa, Selma?" tanyaku, nadaku datar.
"Aku… aku hanya ingin berterima kasih atas pengertianmu kemarin," katanya, suaranya terdengar manis, tapi aku tahu itu hanya topeng. "Kak Zaki bilang, kamu sangat pengertian. Kamu menyuruhnya untuk menjagaku."
Aku tersenyum tipis. "Dia memang harus menjagamu, Selma. Itu tanggung jawabnya."
Selma mendekat, menggenggam tanganku. "Kak Kinasih memang baik sekali. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana."
Aku menarik tanganku pelan. "Tidak perlu membalas apa-apa."
"Tapi Kak Kinasih…" Selma menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Aku baru saja bertemu dengan klien pentingku. Dan mereka… mereka mengancam akan membatalkan proyek. Aku sangat takut. Bagaimana kalau aku tidak punya pekerjaan lagi?"
Aku tahu ini hanya sandiwara untuk membuat Zaki merasa bersalah. Dan aku tahu Zaki akan membatalkan makan malam kami demi Selma. Lagi.
"Lalu?" tanyaku, mengangkat alis.
Selma menatapku, seolah terkejut dengan ketidakpedulianku. "Aku… aku hanya ingin tahu. Apa Kak Zaki bisa membantuku? Dia kan pengacara hebat."
Aku tersenyum, lalu menoleh ke samping. Dan di sana, berdiri Zaki, menatap kami berdua.
Selma langsung melepaskan tanganku, wajahnya pucat. "Kak Zaki!"
Zaki menatap kami berdua, matanya penuh tanya. "Ada apa?"
Selma langsung menghampiri Zaki, memeluk lengannya. "Kak Zaki, aku takut sekali. Klienku mengancam akan membatalkan proyek. Aku tidak tahu harus bagaimana."
Zaki mengusap rambut Selma, menenangkannya. Matanya melirik ke arahku, seolah meminta izin.
Aku hanya tersenyum. "Tentu saja kamu harus membantunya, Zaki. Dia butuh kamu."
Zaki menatapku, sedikit terkejut dengan reaksiku. Dia mungkin mengharapkan aku akan marah, atau cemburu. Tapi tidak ada. Hanya ketenangan yang dingin.
"Kinasih…"
"Pergilah, Zaki. Selma butuh kamu," kataku, suaraku mantap.
Zaki ragu-ragu, lalu mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengurus Selma dulu. Kamu pulang duluan saja, ya. Aku akan menyusul."
Aku hanya mengangguk. Zaki berbalik, membawa Selma pergi. Selma melirikku, senyum kemenangannya tak bisa disembunyikan.
"Kak Kinasih, kamu baik sekali," katanya, suaranya manis sekali. Lalu, dia menyentuh liontin kalungnya. "Wah, kalungmu cantik sekali. Mirip dengan punyaku. Kak Zaki yang memberikannya padaku."
Jantungku mencelos. Liontin itu… liontin yang sama dengan yang kupakai. Liontin perak berbentuk kunci yang Zaki berikan padaku saat kami pertama kali berpacaran. Dia bilang itu adalah kunci hatinya. Dia berjanji akan selalu memakainya, dan memintaku juga memakainya, sebagai simbol cinta kami yang tak terpisahkan.
Aku menatap kalung di leherku, lalu beralih ke kalung di leher Selma. Sama persis. Bahkan detail ukiran di belakangnya pun sama.
Tanganku gemetar. Bukan karena marah, tapi karena kesadaran yang menusuk.
Aku melepas kalungku, air mata mengalir tanpa kusadari. Kalung itu terasa dingin di telapak tanganku, seperti sisa-sisa cinta yang telah lama mati.
Aku menyerahkan kalungku pada Selma. "Ambullah. Biar kalung kalian kembar. Seperti cinta kalian."
Selma menatapku, wajahnya terkejut. Dia tidak menyangka aku akan bereaksi seperti ini. Dia mengambil kalung itu, tatapan bingung dan sedikit ketakutan di matanya.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya berbalik, berjalan pergi, meninggalkan Selma yang masih berdiri terpaku di sana. Hatiku terasa hampa, tapi ada rasa lega yang aneh. Beban berat telah terangkat dari pundakku.
Malam itu, Zaki menjemputku di apartemen untuk makan malam. Dia tampak ceria, seolah tidak terjadi apa-apa siang tadi.
"Maafkan aku, Sayang," katanya, mencium keningku. "Selma benar-benar butuh aku. Tapi sekarang aku di sini. Kita bisa menghabiskan waktu berdua."
Aku hanya tersenyum tipis.
Zaki menatapku, lalu keningnya berkerut. "Kinasih, kenapa kamu tidak memakai kalungmu?"
Aku menatapnya, lalu ke arah lehernya. Dia juga tidak memakainya.
"Aku… aku kehilangan itu," kataku, mencoba menahan senyum miris. "Mungkin jatuh di jalan."
Zaki terlihat panik. "Apa? Jatuh? Astaga, aku akan mencarinya besok! Kita harus menemukannya! Itu kan hadiah dariku!"
"Tidak perlu," kataku, tersenyum lebih lebar. "Aku juga kehilangan punyaku. Jadi, kita impas."
Zaki menatapku bingung. "Kehilangan juga? Oh, kalau begitu, aku akan membelikan kita yang baru! Yang lebih indah!"
Aku hanya mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan.
Anda Mungkin Juga Suka





