
Kakak Ipar
Bab 2
"Kakak lakukan ini semua demi kamu nai kakak cuma gak mau kamu tersesat Naila kalo kamu pacaran sama aja kamu menjerumuskan Abi dan umi ke neraka memangnya kamu mau orang tua kita masuk ke Neraka cuma karena kamu nai pacaran" nasihat Hanifah Naila pun berpikir dia juga tidka tega jika orang tuanya masuk neraka kemudian Naila membukakan pintu kamarnya dan memeluk kakaknya dengan erat
"Maafkan aku kak aku gak mau Abi sama umi masuk neraka hiks...hiks... Maafkan aku kak" tangisan Naila yang memeluk kakaknya itu Raihan melihat itu pun ikut bersedih dia tahu jika Naila sebenarnya anak baik mungkin karena orang tuanya sibuk kerja jadi pergaulannya gak benar kaya gini deh
"Saya tau kok sebenernya kamu orang baik hanya saja kamu salah pergaulan" kata
Raihan dengan tersenyum
"Bapak gak usah ikut campur deh ini urusan perempuan" omel Naila hanifah pun ikut terkekeh melihat tingkah suaminya dengan adiknya
"Kamu mau kan pustuskan hubungan kamu dengan Raka" tanya Hanifah lalu Naila mengangguk dia harus rela pustuskan hubungan ini demi Abi dan uminya
"Terima kasih dek udah mau meringankan tanggung jawab abi" dengan memeluk adiknya itu
Esoknya Naila dan Raihan berangkat ke kampus bareng mereka sedang makan bersama berkumpul di ruang makan
"Mulai sekarang kamu harus berangkat bareng sama kak Raihan yah" kata Hanifah
"Aku gak mau kak aku bisa naik taxi kok" tolak Naila
"Gak ada bantahan" ucap Hanifah
"Udah sih ikutin aja apa susahnya" kata Raihan
"Bapak enak bicara begitu lah saya setiap hari di omongin sama fans-fans bapak" ucap
Naila smbil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya
"Emang fanss mas Raihan bilang apa" tanya Hanifah dengan kepo jika ini masalah menyangkut suaminya
"Itu gak penting sayang udah gak usah dengerin Han" jawab Raihan
"Masa sih dia bilang..." Ucapan Naila terpotong dengan ucapan Raihan
"Naila jangan teruskan atau nilai kamu saya kurangi" tegas Raihan
"Apa sih pak main ancam aja" kata Naila
"Udah ngomong aja sama kakak gak usah takut sama mas Raihan" ucap Hanifah dengan penasaran
"Dia bilang..." Ucapan Naila terpotong oleh Raihan lagi
"Saya gak segan-segan memotong nilai kamu" ancam Raihan
"Apa sih mas gak usah ancam adik aku deh" omel Hanifah
"Udah terusin aja" lanjutnya degan masih penasaran
"Kalo fanss kak Raihan bilang aku ini pelakor kak ngerebut suami kakak katanya" kata Naila
"Udah kamu gak usah dengerkan apa kata mereka dia hanya iri sama kamu" ucap Hanifah
Kami berangkat bersama ke kampus di perjalanan tidak ada sahutan dari Raihan, Naila hanya menatap jendela saja sampai di kampus Naila berjalan menuju kelasnya dia menemui Raka yang menghampirinya dengan mencium pipi ku yah seperti biasa kami selalu begitu
"Hai sayang nanti pulang bareng aku kan" sapa Raka sambil mencium pipi Naila
"Nanti habis istirahat aku pengen bicara sama kamu" kata Naila
"Bicara apa" ucap Raka belum saja Naila bicara sudah ada dosen yang masuk kami memulai pelajarannya setelah selesai sebelum pulang kuliah kami mengobrol bareng di kantin
"Kamu mau bicara apa sih sayang" kata Raka dengan mengelus paha Naila dibawah meja kantin tanpa mereka sadari kakak iparnya melihat kelakuan mereka
"Ini gak bisa didiemin dia sudah keterlaluan dia gak menghargai seorang wanita"
Raihan pun menghampiri mereka dan memukul Raka sampai ke lantai
"Kamu bisa gak sih hormati seorang perempuan" kembali memukul Raka dengan bibirnya mengeluarkan darah kental Raka bangkit dan memukul Raihan terkapar Raihan pun membalasnya lagi
"Pak sudah berhenti dia bisa mati" memisahkan Raihan dengan memeluk tangannya kemudian berhenti memukul semua penghuni kantin melihat mereka bertengkar tidak ada yang memisahkannya
"Dia harus kasih pelajaran nai dia sudah seenaknya sama kamu" sahut Raihan
"Bapak gak usah ikut campur urusan saya dengan pacar saya" kata Naila
"Gimana saya gak ikut campur nai kamu itu adik ipar saya, saya gak mau kamu kenapanapa nai" jelas Raihan
"Ka kamu gapapa kan" tanya Naila yang mencoba membantu Raka tapi sebum membantu raka, Raihan langsung menarik tangan Naila dan membawanya ke mobil
"Pak turunin saya" Naila mencoba membuka pintu mobilnya tapi terkunci oleh Raihan
"Kamu bisa diam gak" bentak Raihan dan Naila pun langsung terdiam sesekali nangis sambil menghadap jendela
"Nai maaf saya gak bermaksud begitu sama kamu nai jangan nangis" permintaan maaf tidak ada sahutan dari Naila dia masih terdiam
"Nai" panggil Raihan sama saja tidak ada sahutan dari Naila dia berhenti di sebuah restoran
"Pasti kamu belum makan kan ayok kita makan" ajak Raihan dan Naila pun ikut turun dari mobil mereka masuk ke restoran itu dan duduk paling pojok karena hanya itu tersisa satu meja Raihan jelas melihat Naila dengan muka sembab nya
"Kamu cuci muka dulu nai biar lebih segar gitu" langsung saja Naila ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya setelah itu kembali lagi ke meja tadi
"bapak kok tau sih makanan kesukaan saya" tanya Naila yang kaget melihat sudah ada makanan di meja
"Saya tau dari istri saya" jawab Raihan lalu Naila mengangguk kemudian mereka makan bersama Raihan Melihat Naila makan belepotan di bibirnya Raihan pun mengelap sisa makanan di bibirnya dengan tangan kami saling tatap wajah, mata kami saling bertemu
"Kenapa deg-degan yah gak gak mungkin saya suka sama adik ipar saya sendiri" batin
Raihan kemudian mereka sadar apa yang mereka lakukan
"Maaf, ta..addi ada sisa makanan dibibir kamu" maaf Raihan yang tergugup Naila hanya mengangguk
"Habis ini kamu mau kemana lagi jalan-jalan atau pulang" tanya Raihan dengan lembut
"Tumben sekali dia bersikap baik sama gw biasanya datar cuek, mana dingin lagi gumam Naila
"Nai" panggil Raihan
"Eh eh" Raihan menyadarkan Naila dari lamunannya
"Kamu kok malah bengong sih ngelihatin saya sampai segitunya, saya tau kalo saya ganteng nai" kata Kevin dengan geernya
"Apa sih pak aneh aja saya melihat bapak biasanya datar dan kenapa sekarang malah lembut sama saya" tanya Naila dengan aneh
"Hmm... Kaa..arr..na" jawab Raihan dengan gugup
"Kenapa bapak gugup hayo" ledek Naila
"Udah mending kita pulang sekarang" ajak pulang Raihan setelah membayar makanannya langsung saja kami masuk ke mobil
"Pak" panggil Naila
"Hmm" Raihan hanya berdehem
"Pak" panggil sekali lagi Naila
"Iya kenapa" jawab dengan datar
"Tadi aja baik sekarang kembali lagi datarnya" sindir Naila membuang mukanya ke jendela
"Maaf jika sikap saya bikin kamu terganggu" maaf Raihan tapi Naila hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Raihan
"Kita mau kemana lagi apa kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu" tanya Raihan
"Pulang aja nanti dikira saya pelakor lagi" jawab gw
"Haha ada aja kamu, kamu kan adik ipar saya nai" kata Raihan dengan terkekeh
"Kakak ipar juga harus jaga jarak kali" sindir Naila Raihan pun hanya tertawa aneh saja dengan perkataan Adik iparnya ini sampai dirumah Hanifah sudah menunggu suaminya pulang di depan rumahnya dia khawatir dengan suaminya
"Mas kamu kok baru pulang sih aku khawatir tau gak" tanya Hanifah mencium tangan suaminya dan Raihan pun mencium kening istrinya Naila yang melihat itu kenapa tibatiba cemburu yah seperti ada sedikit perasaan dengan kakak iparnya
"Maaf yah tadi kita makan dulu sayang" maaf Raihan dengan memegang pipi istrinya dengan lembut
"Iya kak maaf yah tadi kita makan dulu" kata Naila
"Kamu udah makan mas yah padahal aku masakin kesukaan kamu mas" dengan memasang wajah cemberutnya Naila hanya terdiam disitu
"coba jangan romantisan disini" sindir Naila mereka hanya terkekeh
"Kamu cemburu nai" goda Raihan Naila tidak menanggapinya dia langsung masuk ke dalam rumahnya
"Adik kamu kenapa sih aneh" kata Raihan sembari tertawa
"Udah yuk kita masuk" ajak istrinya kemudian mereka masuk ke dalam rumahnya
Naila keluar dari kamarnya dia melihat kemesraan Raihan dengan istrinya kenapa tibatiba dia cemburu gitu Sama kakaknya apa mungkin dia punya perasaan suka dengan kakak iparnya itu dia menghampiri mereka berdua dan terduduk di sofa sambil menonton tv
"Nai kamu sudah putuskan hubungan dengan raka" tanya Hanifah
"Belum kak kenapa?" Jawab Naila sambil memakan cemilan dimeja
"Nai kakak kan sudah bilang sama kamu putuskan hubungan kalian apa kamu gak kasihan sama Abi" kata Hanifah
"Abi aja gak kasihan sama Naila" dia tidak perduli dengan ucapan kakaknya
"Jaga omongan kamu nai Abi itu sayang sama kamu kalo dia gak sayang dia gak akan nitip kamu ke kakak"
"Kalo dia sayang sama nai dia gak akan ninggalin nai" sindir Naila yang masih makan cemilan
"Kakak gak mau pokoknya pustuskan hubungan kamu sekarang" marah Hanifah dnegan sedikit membentak
"Nanti nai pustuskan" Naila pun pasrah dia tidka mau berdebat dengan kakaknya dia ingin hidup tenang
"Kakak maunya sekarang bukan nanti" kata Hanifah
"Kalo sekarang gimana mau ngomongnya coba" ucap Naila
"Kamu bisa kan telpon dia atau chat dia" ujar Hanifah
"Ok aku mau ambil handphonenya dulu" kemudian Naila pun mengambil handphonenya di kamar lalu kembali lagi ke tempat tadi
Anda Mungkin Juga Suka





