Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kakak Ipar

Kakak Ipar

Hanifah yang mandul memaksa adiknya, Nur Naila Habibah, untuk menikahi suaminya, Raihan, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tidak pantas bagi dosen agama itu karena ia dikenal sebagai mahasiswi nakal yang belum berhijab. Namun, sebuah rahasia besar tersembunyi bahwa Naila sebenarnya bukan adik kandung Hanifah, melainkan putri dari Azizah. Akankah Naila menerima permintaan sang kakak untuk menjadi istri kedua iparnya sendiri?
Bab
Bagikan

Bab 3

Naila

Raka

Sayang

Iya ada apa sayang

Naila

Aku mau putuskan hubungan ini ka

Sayang

Loh kenapa nai memang salah ku apa nai

Naila

Kamu gak salah aku cuma mau kita putus

Sayang

Pasti karna disuruh kakak kamu kan nai

Nai jawab?

Nai?

Sayang?

Nai aku cinta sama kamu nai

Nai aku mohon?

Nai kalo memang kamu gak mau kita pacaran kita bisa menikah nai aku akan melamar mu nai?

Nai jawab!

Nai

Sayang

Nai?

"Aku udah putusin pacarku" kata Naila

"Syukurlah makasih nai udah mau nurutin kakak" ucap Hanifah

"Kak kalo aku gak pacaran dengan Raka kita bisa kan kak nikah Raka mengajakku nikah" bujuk Naila

"Naila" kaget Raihan kenapa dia merasa cemburu jika Naila menikah dengan orang lain apa mungkin dia ada perasaan suka sama Naila

"Kenapa kamu kaget gitu mas" tanya istrinya

"Eng...ggakk...paa..paa sih kaget aja gitu kenapa dia tiba-tiba ngajak nikah, menurutku Naila jangan mau nikah sama dia Raka itu bukan cowok baik-baik mana ada sih cowok baik memegang paha perempuan" jawab Raihan dengan gugup

"Bapak gak usah deh ikut campur masalah gw dengan kakak gw" marah Naila

"Hah? Nai apa benar yang dikatakan suami kakak kamu di pegang sama dia kenapa kamu diam aja nai jawab kakak" marah Hanifah

"Itu udah biasa kak gak perlu khawatir" jawab dengan santainya

"Menurut kamu biasa saja nai dia itu sudah melecehkan kamu" emosi Hanifah

"Itu beda kak kalo aku dilecehkan itu aku sudah diperkosa sama dia kak sama sekali aku belum memberikan mahkota ku ke dia" kata Naila

"Sama aja nai" ucap Hanifah

"Seterah kakak aku pusing nurutin kemauan kakak terus" Naila pun langsung pergi ke kamarnya

"Ya Allah kapan adik hamba berubah" kata Hanifah

"Sabar Han aku yakin kok dia pasti berubah" Raihan menenangkan istrinya dengan mengusap bahunya

Pagi hari kepala Hanifah pusing dan mual hari ini lalu dia mengecek dengan tes pack apakah dia hamil atau tidak dikamar mandi Hanifah menangis karena hasilnya negatif sampai hari ini dia belum hamil sudah 7 tahun Pernikahan mereka tapi belum dikaruniai anak sekarang umur Raihan sudah 29 tahun sedangkan Hanifah sudah 28 tahun

Dia ingin sekali memberikan suaminya keturunan tapi dia gak bisa Raihan yang sedang dikamar dia mendengar tangisan istrinya di kamar mandi dia mengetuk pintu kamar mandi

"Sayang kamu kenapa nangis" mengetuk pintu kamar mandi Hanifah membukakan pintu kamar mandinya dengan mata sembab dan menyembunyikan sesuatu dibelakangnya

"Yang dibelakang apa itu" tanya Raihan yang melihat sesuatu di belakang Hanifah

"Bukan apa-apa kok mas" jawab dengan bohong

"Jangan bohong Han" kata Raihan dia langsung mengambil sesuatu dari tangan istrinya dan dia kaget melihat tes pack yang dipegang Hanifah

"Negatif" lanjutnya

"Maaf mas aku belum bisa hamil" maaf Hanifah dengan menundukkan kepalanya

"Udah Gak usah pikirin itu aku cuma mau kita bersama-sama Han kita bisa kok adopsi anak" kata Raihan sambil memeluk istrinya dan mengusap kepalanya

"Mas aku cuma mau anak dari kamu mas aku gak mau adopsi" kata Hanifah

"Mau gimana lagi han kita belum bisa sayang mungkin kita belum dikasih anak oleh Allah" ucap Raihan

"Apa mas mau turuti permintaanku" tanya Hanifah dengan ragu

"Kamu mau apa sayang pasti aku akan turuti" Raihan mengusap pipi istrinya

"Aku ingin kamu menikah dnegan adikku mas" kata Hanifah

"Apa? kamu gila Han Jangan aneh-aneh sampai kapan pun aku gak akan nuruti permintaan mu yang gila itu" marah Raihan dengan memalingkan wajahnya ke istrinya "Mas aku mohon ini demi kita mas" bujuk Hanifah dengan memeluk lengannya tapi Raihan malah menghempaskannya dan meninggalkan istrinya itu Raihan pergi dari rumah dia heran dengan istrinya kenapa sampai bicara begitu sih?

"Bapak mau kemana" tanya Naila yang melihat Raihan keluar dari kamarnya dan melewati Naila tidak ada sahutan dari Raihan dia langsung pergi dari rumahnya

"Ada apa dengan mereka" batin Naila kemudian dia langsung ke kamar kakaknya untuk mengecek ada apa sebenarnya dia melihat kakaknya menangis di lantai dengan terduduk

"Kakak kenapa" tanya Naila

"Hiks...hiks..." Hanifah memekikk adiknya itu sembari menangis

"Kakak kenapa cerita sama aku" kata Naila sembari mengusap punggung kakaknya kemudian melepaskan pelukannya dan Hanifah pun memberi tes pack itu ke Naila

"Negatif? Mungkin kakak belum dikaruniai anak kakak yang sabar yah pasti Allah berikan anak untuk kalian" nasihat Naila

"Nai apa kakak boleh minta sesuatu dari kamu" kata Hanifah dengan menggenggam kedua tangan Naila

"Kakak mau apa pasti aku berikan" tanya Naila

"Kakak minta kamu menikah dengan suami kakak" jawab Hanifah

"Kakak gila? Mana mungkin suami kakak mau menikahi adik iparnya sendiri kak jangan aneh-aneh deh" kata Naila

"Nai kakak mohon sama kamu nai bantu kakak" ucap Hanifah dengan memohon

"Ok tapi ini demi kakak" ujar Naila

"Makasih nai" balas Hanifah dengan memeluk adiknya

Raihan pergi ke rumah bundanya dia langsung masuk ke rumah bundanya orang tuanya heran kenapa anaknya pergi dari rumah

"Han kamu kenapa pergi dari rumah" tanya ayahnya

"Hani yah dia minta aku buat nikah dengan adiknya" jawab Raihan

"Memangnya kenapa Hani menyuruh kamu menikah lagi" kata bunda

"Karena Hani belum bisa kasih aku anak Bun" ucap Raihan

"Han bunda sama ayah sudah tua kami juga ingin menggendong bayi dari kamu Han" ujar bundanya

"Tapi Bun Raihan gak bisa menikahi adiknya dia itu adik iparku bun" balas Raihan

"Apa salahnya sah-sah aja kok ayah ingin kalian menikah Naila itu cantik kok baik lagi" kata ayahnya

"Kenapa kalian malah menyetujui permintaan Hanifah sih" ucap Raihan

"Karna kami juga ingin menggendong anak Han sah-sah aja kalian menikah kalian bukan adik kakak kandung kan" bela ayahnya

"Bunda mohon Sama kamu tolong nikah lagi yah" mohon bundanya Raihan pun pasrah dia mengikuti permintaan mereka

"Ok aku bakal nikah lagi dengan Naila" jawab Raihan dengan pasrah

"Cepat kamu pulang ke rumah kasihan istri kamu seharusnya kamu jangan lari dalam masalah" nasihat ayah kemudian Raihan pergi ke rumahnya dia masuk ke rumahnya sudah ada Naila yang sedang memenangi kakaknya

"Aku menyetujui permintaan kamu untuk nikah lagi" kata Raihan

"Yang benar mas makasih mas" dia berhenti dari tangisannya dan memeluk suaminya itu

"Nai apa kamu mau menikah dengan ku" ujar Raihan duduk di sofa depan Naila

"Yah demi kakakku Hanifah" balas Naila dengan tersenyum tipis Raihan pun membalasnya dengan tersenyum

"Kak bagaimana dengan orang tua kita kak" tanya Naila dnegan bingung

"Tadi kakak sudah bicara sama mereka kok kata mereka seterah kalian saja" jawab

Hanifah dengan senyum

"Semoga kakak bahagia jika aku menikah dengan kak Raihan" kata Naila

"Kakak akan bahagia kok" dengan memeluk adiknya itu dengan erat

"Nanti besok kita fitting baju pengantin yah kakak bakal persiapin pernikahan kalian" kata Hanifah

"Mas seterah Naila saja" Raihan aja nurut dengan permintaan istrinya dia ingin membahagiakan istrinya itu

"Kenapa saya merasa bahagia ingin menikah lagi dengan Naila apa ada perasaan suka dengan Naila apa lagi dia tersenyum bikin saya tersenyum astagfirullah maaf kan hambamu ini ya Rabb" istigfar Raihan

"Kenapa sih Raihan melihat gw segitunya sih gw gak boleh suka sama dia ingat ini demi kakak lu nai" gumam Naila

Malam ini Naila tinggal dirumah orang tuanya karena orang tuanya tadi malam dia datang menjemput Naila di rumah calon suaminya karena besok malam Naila akan dilamar oleh Raihan di rumah orang tuanya

"Akhirnya aku senang deh tinggal bareng Abi dan umi lagi" dengan bahagianya Naila bisa berkumpul dengan keluarganya lagi

"Nai nanti kamu pakai hijab besok malam kamu harus berubah penampilannya nai jangan pakai pakaian ketat lagi kamu gak kasihan sama Abi kamu harus menanggung dosa kamu nai" nasihat umi dengan mengusap kepal Naila yang terbaring di pangkuan uminya sambil menonton tv

"Naila belum bisa umi karena akhlak aku belum bisa berubah umi" kata Naila

"Nai masalah akhlak nanti juga bisa kok berubah dengan perlahan-lahan Kao kita gak berubah dan menunggu hidayah kapan hidayah itu datang nai masa kita harus tunggu sih Kao misanya kita mati disaat hidayah itu belum datang gimana kita mau bawa bekal di akhirat nanti, yang penting kamu berubah dulu dengan pakaian sopan nanti juga perlahan-lahan kamu berubah nai" nasihat umi yang paling dirindukan oleh Naila dia rindu dengan suasana ini

Pagi hari Hanifah pergi ke rumah orang tuanya untuk memberikan baju Naila yah dia memang kakak terbaik dan perhatian dengan adiknya

"Assalamu'alaikum umi" ucap salam Hanifah kemudian mencium tangan uminya

"Wa'alaikumussalam" jawab salam uminya yang membukakan pintu rumahnya

"Hani ke sini mau kasih Naila baju" kata Hanifah

"Naila lagi dikamar nya han kamu ke atas aja yah oh ya umi titip pesan sama kamu tolong rubah tuh anak umi seperti kamu Han" nasihat umi lalu Hani mengangguk sambil tertawa lalu dia ke atas menemui adiknya itu

"Assalamu'alaikum" ucap salam Hanifah yang mengetuk pintu kamar dan dibukakan oleh adiknya

"Wa'alaikumussalam kakak sama siapa ke sini" tanya Naila yang sedang mengurus tugas kuliahnya

"Tadi kakak sendiri ke sininya, kamu lagi ngerjain tugas yah maaf ganggu yah" jawab Hanifah

"Enggak kok gak cuma lagu ngerjain tugas pak Raihan aja" kata Naila yang masih mengetik laptopnya

"Ciee lagi ngerjain tugas dari calon suaminya" goda Hanifah

"Apaan sih kak ini kan tugas seorang mahasiswi yang mengerjakan tugas dari dosennya" tegas Naila sembari mengetik laptopnya

"Mas Raihan kalo di kampus gimana nai" tanya Hanifah

"Dia kalo di kampus mukanya datar kak mana dingin lagi mukanya bicara aja sedikit doang" jawab Naila

"Dia memang begitu tapi Kalo udah kenal huuu perhatian banget tau terus cerewet dan suka manjain istrinya loh" kata Hanifah

"Tapi aku gak suka sama dia kak kaya es batu sikapnya pokoknya gak suka deh" ucap Naila yang sedang menjelekkan calon suaminya tiba-tiba calon suaminya datang yang berada di depan pintu kamarnya

"Terus kenapa kamu nerima kak Raihan" tanya lelaki itu yang baru datang Naila masih fokus dengan tugasnya

"Ya karena..." Belum saja menjawab dia melihat sudah ada calon suaminya di depan pintu kamarnya

"Loh kok bapak ada disini sih katanya Kakak ke sini sendiri" kata Naila

"Kakak juga gak tau loh nai tadi kakak ke sini sendiri kok" ucap Hanifah

"Saya ke sini mau menjemput istri saya" ujar Raihan menghampiri mereka berdua "oh" jawab Naila dengan singkat

"Oh yah nai ini kakak bawain baju buat kamu nanti pas malam dipake yah buat lamaran kamu" kata Hanifah sambil memberikan plastik yang didalamnya baju kepada Naila

"Makasih loh kak ngerepotin segala" ucap terima kasih Naila

"Gak ngerepotin kok ini hanya sebagai terima kasih kakak ke kamu" Hanifah tersenyum Naila pun ikut tersenyum

"Kamu lagi ngerjain tugas apa nai" tanya Raihan yang melihat tugasnya berserakan dimana-mana

"Masih aja gak nyadar orang lagi ngerjain tugas dia juga" gumam Naila

"Tugas bapak numpuk nih" jawab Naila

"Oh lain kali tugasnya jangan ditumpuk jadi kerepotan kan" nasihat Raihan dengan dingin

"Ini kan tugas dari bapak kemarin mana banyak lagi" sinis Naila

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Diabaikan Saat Setia
9.2
Bertahun-tahun Tisni harus menelan pahitnya pengabaian dari sang suami yang justru membiarkannya menghabiskan waktu bersama pria lain. Rasa sepi yang mendalam dan ketidakpedulian pasangannya perlahan menghancurkan kesetiaan yang ia jaga. Kini, Tisni berada di titik jenuh dan berniat untuk pergi mengakhiri penderitaannya. Apakah keputusannya untuk meninggalkan pernikahan itu merupakan sebuah kesalahan? Kisah perjuangan hati yang mencari kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!
9.3
Demi membalas budi, Ayu merawat Ibu Lestari dengan tulus. Namun, ia justru terjebak dalam perjodohan dengan Tama, pria yang sudah memiliki kekasih dan membencinya. Saat kondisi kesehatan sang ibu kritis, Tama terpaksa menikahi Ayu lewat ikatan kontrak yang dingin. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, benih asmara mulai tumbuh tanpa diduga. Luka hati perlahan sembuh saat pengabdian Ayu mengubah kebencian menjadi perasaan yang sulit dilepaskan.
Sampul Novel Budak Nafsu Tuan Jhon!
8.9
Kecantikan luar biasa dan bentuk tubuh ideal ternyata menjadi kutukan bagi tiga bersaudara, Sherly, Livy, dan Hanny. Meski masing-masing telah membangun rumah tangga, kehidupan pernikahan mereka justru penuh cobaan berat. Pesona fisik yang mereka miliki malah memicu berbagai konflik rumit yang mengancam keharmonisan keluarga. Mampukah kakak beradik ini bertahan menghadapi badai masalah yang terus datang menghampiri kehidupan asmara mereka?
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel ISABELLA
7.9
Isabella, perempuan asal Turki dengan hidup sederhana, memutuskan merantau ke London demi meraih cita-citanya. Namun, takdir membawanya ke arah tak terduga saat ia terjebak dalam pusaran gelap dunia mafia. Bersama kekasihnya, Alech, Isabella harus berjuang melewati berbagai rintangan berbahaya yang mengancam hubungan mereka. Akankah cinta mereka tetap bertahan di tengah konflik kekerasan ini? Simak perjalanan penuh risiko Isabella dan Alech demi kebersamaan abadi.
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Tanti dijual keluarga tirinya kepada Darian demi melunasi utang, hingga berujung pada kehamilan. Enam tahun berselang, mereka bertemu kembali saat putra Tanti, Ade, berjuang melawan penyakit sumsum tulang belakang. Darian terkejut saat tes DNA membuktikan Ade adalah anaknya. Ia pun berusaha menebus kesalahan masa lalu dengan menjadi donor bagi sang putra. Kini Tanti terjebak dilema antara benci pada Darian atau menerima bantuannya demi nyawa buah hatinya.