
Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
Bab 3
***
Panglima Xue, siapapun di wilayah itu sangat mengenal siapa sebenarnya Panglima Xue. Pria bertubuh kekar itu memang dikenal sebagai panglima berdarah dingin selama pemerintahan Kaisar Liuu Qiang Wen. Karena kekejamannya yang hampir menyamai kekejaman si raja racun, ia bahkan dijuluki sebagai bayangan sang raja.
Nona Yun yang kini berada di bawah kendalinya hanya bisa pasrah sambil mengumpat dalam hati. Bagaimanapun ia tak bisa menerima begitu saja perlakuan kejam yang Qiang Wen lakukan pada keluarga dan rakyatnya. Namun selama berlian merah lambang kerajaan iblis itu berada dalam tubuhnya, setidaknya kerajaan dan rakyatnya akan baik-baik saja.
Kerajaan Iblis memiliki kekuatan istimewa tersendiri, selama berlian itu tidak hancur atau hilang maka kerajaan Iblis takkan mudah hancur meskipun dihancurkan separah apapun. Kerajaan dan rakyat mungkin akan menderita namun mereka tetap bisa bertahan semenderita apapun mereka. Bagi mereka selama berlian itu masih tersimpan baik maka harapan untuk hidup masihlah ada.
Selama perjalanan menuju kediaman Raja, Nona Yun hanya menurut dan tidak berontak sedikitpun. Ia berpikir mungkin lebih baik jika ia tinggal di kediaman mewah daripada meringkuk di penjara pengap. Setidaknya ia bisa bebas dan menyusun ulang rencana untuk memberontak di kemudian hari.
"MASUK DAN JANGAN BERUSAHA KABUR!" bentak Panglima Xue lalu menghempaskan tubuh Nona Yun hingga gadis itu harus terbentur sisi ranjang yang terbuat dari emas dan sedikit runcing.
"BEDEBAH KAU! AKU AKAN MEMBALASMU SUATU SAAT!" sembur Nona Yun marah lantas bangkit dan menantang Panglima Xue yang sama sekali tak bersikap sopan kepadanya.
Panglima Xue mendecih kesal, ia tersenyum miring lalu menoleh ke sisi lain dengan tatapan teramat muak. "Jika bukan karena perintah raja niscaya aku sudah membunuhmu dan membuatmu membusuk bersama kedua orangtuamu di sana."
Sorot mata Nona Yun menatap bengis, manik mata yang semula hitam kelam indah kini berubah menjadi merah pekat sepekat darah manusia.
"Dan jika bukan karena Raja Qiang Wen menginginkanmu, aku juga sudah mencincangmu dan membuangmu di lautan. Kau tahu aku sangat jijik untuk menyentuh tubuhmu." imbuh Panglima Xue arogan membuat si gadis merasakan kobaran api di sekujur tubuhnya yang mendadak memanas.
"JAGA UCAPANMU PANGLIMA BODOH! BAGAIMANAPUN SUATU HARI NANTI KAU AKAN MENYESAL TELAH MENGHINAKU SEPERTI ITU." ucap Nona Yun tajam dan masih berusaha mengendalikan emosinya.
"Menyesal? Apa yang kusesali dari ucapanku? Kau bahkan tidak berharga sama sekali di mataku, jika bukan karena Raja maka aku sudah menghabisi seluruh rakyatmu yang begitu menjijikkan itu." tegas Panglima Xue lalu bersedekap tenang.
"DIAM KAU!!" gertak Nona Yun tak bisa menahan emosi lagi. Dengan secepat kilat kuku panjang dan taringnya mencuat, gadis itu kehilangan sisi manusianya dan berubah menjadi jiwa iblis sepenuhnya. Tanpa peduli apapun gadis itu segera mengayunkan cakarannya ke wajah Panglima Xue.
Pria tegas dan punya tingkat kewaspadaan tinggi itu dengan sigap menangkis, ia menampik tangan Nona Yun yang berkuku panjang dan menghindari serangan.
"Kau takkan bisa membunuhku, Iblis!" ucap Panglima Xue pongah membuat si iblis betina makin kalap dan tak ingin kalah.
Nona Yun kembali menyerang, berusaha mencakar tubuh yang berada beberapa meter di hadapannya . Pertarungan sengit itu menimbulkan kegaduhan yang begitu teramat sangat, meskipun terjadi pertarungan hebat tak ada satupun pengawal yang berani mendekat karena merasaBeberapa guci dan ornamen cantik yang menghiasi kamar raja harus rela pecah dan berserakan tak berguna.
"KAU HARUS MATI!" tandas Nona Yun marah sambil kembali menggoreskan kukunya di tubuh Panglima Xue. Pria itu mencoba terus menghindar, namun sedikit kelalaiannya membuatnya harus rela tergores dan membuat pakaiannya tercabik.
Darah segar mengucur dari dada Panglima Xue, membuat sang pemilik jadi naik pitam dan berusaha menghabisinya saat itu juga. Kekejaman yang dimiliki Panglima Xue membutakan dirinya, ia lupa bahwasanya ia tengah bertarung di peraduan sang raja yang begitu di keramatkan dan juga tengah bertarung dengan gadis calon milik raja. Alangkah murkanya sang raja nanti jika melihatnya.
"Berani-beraninya kau melukai tubuhku!" bentak Panglima Xue tak terima lantas maju menyerang Nona Yun.
Panglima itu menangkap tangan Nona Yun, membekuknya lantas menjambak rambutnya. Tanpa kenal ampun, Panglima Xue membenturkan kepala Nona Yun ke dinding berkali-kali hingga dinding itu seakan bergetar dan hendak roboh.
"MATI SAJA KAU!!" maki Panglima Xue terus menghancurkan tubuh Nona Yun yang bersimbah darah.
"KAU YANG PANTAS MATI, PANGLIMA SIALAN!" balas Nona Yun keras dan terus bertahan.
"APA KAU BILANG???" ucap Panglima Xue semakin geram.
Pria bertubuh kokoh itu hendak membenturkan kepala Nona Yun kembali namun terhenti seketika setelah sebuah trisula mengarah ke arah lehernya tanpa ada yang memeganginya satupun.
Sedetik kemudian ia sadar jika di dunia ini yang memiliki senjata trisula dan kekuatan seperti itu hanyalah rajanya, Raja Liuu Qiang Wen.
"Benturkan sekali lagi Panglima Xue." perintah Raja Qiang Wen lirih sambil berdiri di ambang pintu kediamannya dengan wajah tenang.
Panglima Xue perlahan melepaskan genggaman tangannya di rambut Nona Yun dan membungkuk dalam-dalam seakan merasa menyesal.
Sang raja mencuramkan alisnya lalu berjalan mendekati panglima Xue, ia nampak kurang senang.
"Lakukan sekali lagi dan aku akan menggantinya dengan kepalamu." tegas Raja Qiang lalu mengulurkan tangannya ke arah trisula emasnya.
Secara ajaib trisula itu mendekat ke arah sang tuan dan dengan sigap Raja Qiang menangkapnya. Perlahan sang raja menyembunyikan trisula itu di telapak tangannya lalu kembali menatap panglima Xue yang dianggapnya telah lancang.
"POTONG TANGANMU!!" titah Raja Qiang tak kalah tegas.
Panglima Xue terkesiap, ia mendongak lalu bersujud memohon ampun karena kelalaiannya.
"Ampun Yang Mulia.... Ampun...." sembahnya berkali-kali dengan penuh penyesalan.
"Kau sudah membuat kamarku penuh dengan lukisan darah calon ratuku, lalu untuk apa aku mengampunimu? Sekarang... POTONG TANGANMU!" tegas Raja Qiang tak kalah kejam.
Panglima Xue menatap rajanya sedikit lebih lama namun tak lama kemudian dengan tangan bergetar ia meraih pedang yang ia taruh di punggungnya.
"Demi kesetiaan saya terhadap anda Yang Mulia... Saya mohon ampun sekali lagi." ucapnya sekali lagi dengan tatapan penuh penyesalan.
"JANGAN MEMBUATKU MENGULANGI PERINTAHKU, PANGLIMA XUE."
Pria itu menatap tuannya lalu tanpa pikir panjang lagi, Panglima Xue memotong tangannya sendiri.
Blassh.
Teriakan kesakitan muncul dari mulut Panglima Xue, tangan itu terlempar ke hadapan Raja Qiang Wen. Sang raja hanya diam, menatap tangan dan kesakitan Panglimanya dengan tatapan dingin.
Bagi Nona Yun itu pemandangan yang teramat mengerikan, ia menyadari bahwa pria yang tadi menghancurkannya kalah beringas oleh rajanya sendiri. Nona Yun sadar musuh yang harus ia waspadai bukanlah panglima tengik itu tapi rajanya sendiri, Liuu Qiang Wen.
"Kau panglima yang patuh, kau berikan tanganmu dengan sukarela padaku. Aku harap suatu hari nanti kau akan lebih sukarela lagi dan memberikan kepalamu kepadaku, Panglima Xue." ucap Raja Qiang dingin dan tak berekspresi sama sekali.
"Yang Mulia..." desis Panglima Xue hampir tak terdengar, suaranya ditelan kesakitannya sendiri. Baginya kehilangan satu tangan tidaklah mengapa asal ia tidak kehilangan kepercayaan rajanya.
"PERGILAH! RAWAT LUKAMU, KUBUR JUGA TANGANMU. SUATU HARI NANTI AKU AKAN MEMINTA BAGIAN TUBUHMU YANG LAINNYA."
Anda Mungkin Juga Suka





