Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kabar Buruk Kehamilanku

Kabar Buruk Kehamilanku

Kebahagiaan Rike saat menunjukkan hasil tes kehamilan kepada sang suami seketika sirna. Sebuah berita mengejutkan muncul, mengklaim bahwa kehamilan tersebut terjadi sebelum mereka resmi menikah. Hal ini memicu kekecewaan mendalam bagi ibunda Rike yang kemudian menuduhnya telah berzina. Kini, Rike harus berjuang memulihkan kepercayaan ibunya. Namun, apakah tuduhan memilukan itu memang sebuah fakta yang tersembunyi? Simak perjuangan Rike mengungkap kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 2

Part 2

Semakin salah paham

"Lho lho lho, sebentar Bude, apa maksud perkataan Bude tadi? Aku kan menyampaikan kabar bahagia, mengapa malah dibilang mempermalukan orang tua? Bude lupa ya kalau aku ini sudah menikah, jadi halal dong kalau aku hamil dengan suamiku," ucapku sedikit tak terima dengan perkataan Bude Nur.

"Kamu ini masih pura pura nggak ngerti juga sih? Lha kelakuanmu yang hamil duluan kan mencoreng wajah orang tuamu to! Masak iya sih, belum satu bulan kok sudah hamil, Bude hitung hitung kamu itu baru nikah selama dua puluh jari loh. Pasti kamu sudah nyicil duluan kan!! Dan juga sebagai anak sulung perempuan harusnya kamu itu jadi teladan buat adik adikmu, jangan malah ngajarin yang tidak benar. Memang ya kamu dari dulu itu nggak bisa dibilangin kok!" Bude Nur masih terus berucap dengan tegas.

"Kok Bude ngomong kayak gitu, aku kan nggak hamil duluan Bude. Jangan fikiran negative sama aku lah Bude. Aku tak mungkin berbuat sesuatu yang membuat malu Bapak dan Ibu. Tolong berikan handphonenya lagi pada Ibu, aku ingin ngomong sama Ibu!" Ucapku yang sudah ingin menangis, tetapi aku masih berusaha menahannya.

Terdengar jelas jika Bude Nur sedang marah besar kepadaku, "bocah kok dibilangi orang tua mbanggeli, yo begini jadinya. Malu maluin orang tua saja kamu. Bapakmu juga sih, terlalu memanjakanmu, jadine yo gini. Yang malu itu nggak cuma orang tuamu, tapi keluarga besar kita juga!"

"Nduk, kamu kok tega banget sama Ibu dan Bapak.  Salah apa kami padamu Nduk. Sungguh Ibu kecewa sekali sama kamu, yang tak bisa menjaga kepercayaan Ibuk," kudengar suara Ibu lirih sambil terisak.

Aku saat itu juga langsung menangis, menangis karena tuduhan yang tak pernah kulakukan. Aku juga bersedih sudah membuat Ibu menangis, padahal selama ini, aku selalu berusaha membahagiakannya, agar air mata tak lagi jatuh dipipinya. Sudah cukup Ibuku merasakan susahnya hidup sebagai orang miskin, saat aku dewasa aku selalu berusaha membuatnya bahagia.

"Demi Allah Buk, Rike tak pernah berbuat zina sebelum menikah. Rike tak sebejat itu Bu, meski kami sudah berpacaran sebelumnya selama dua tahun, namun tak pernah kami melakukan hal yang dilarang agama, kami tahu batasannya Bu. Kemaren sebelum menikah aku haid Bu, dan saat menikah itulah masa masa suburku, jadi aku langsung bisa hamil," kataku panjang lebar sambil terisak juga, namun panggilan malah diakhiri oleh Ibu dari sana.

Pasti Ibu saat ini merasa amat kecewa padaku, apalagi ada Bude Nur bersamanya, pasti Bude sudah mempengaruhi pikiran Ibuk. Karena memang di kampungke Bude ku itu jadi biang gosip. Semoga saja Ibu terbuka hatinya, dan mencoba mencerna penjelasanku tadi.

Aku masih saja terisak saat suamiku kembali dari kamar mandi. Sepertinya dia langsung kaget melihat perubahanku. Yang tadinya senyam senyum malah sekarang tiba tiba menangis tersedu sedu.

"Ada apa Bun? Kok sampai nangis gitu? Apa karena tanggapan Ibu jadi Bunda ikut nangis?" Tanya suamiku sambil senyum senyum, namun perkataannya itu malah membuat tangisanku pecah, dan dengan sigap dia pun langsung memelukku.

"Ada apa sebenarnya Bun? Sekarang coba Bunda tarik nafas dalam dalam dan keluarkan perlahan. Kemudian cerita padaku apa yang barusan terjadi. Masak baru ditinggal sebentar di kamar mandi kok sudah nangis?" Ucap suamiku untuk menenangkanku.

Aku pun menarik nafas dalam dalam dan segera menghembuskannya perlahan. Dan benar saja cara ini sedikit membuatku rileks. Kemudian akupun  mulai meredakan tangisku dan bercerita pada Mas Ferdi.

"Tadi pas aku cerita ke Ibu tentang kehamilanku, beliau malah marah dan bilang kalau aku hamil duluan. Bahkan Bude Nur mengataiku yang bukan bukan Yah. Sakit hati ini, karena kenyataannya tak seperti itu. Apalagi yang mengatakan itu adalah Ibu kandungku sendiri," kataku sambil kembali menangis, karena air mata ini tak kuasa kubendung.

"Mungkin karena memang Ibu tidak paham Bun, dengan yang terjadi pada kita. Harusnya tadi Bunda menjelaskan semuanya pada Ibu, biar beliau pun mengerti," katanya sambil mengusap usap kepalaku yang masih bersandar di pelukannya.

"Sudah Yah, tapi Ibu masih kekeh dengan pendiriannya. Apalagi disana ada Bude Nur, yang malah mengompor ngomporin Ibu. Rasanya ingin kusumpal saja mulut Bude ku itu!!" Kataku geram.

"Ssst nggak boleh ngomong begitu dong sama orang yang lebih tua. Istighfar Bun. Jangan dimasukin hati ya, toh ini hanya salah paham saja. Nanti sore kalau tidak ada halangan, ayok kita main ke rumah Ibuk, dan menjelaskan semuanya pada Beliau," kata suamiku lembut.

"Tapi kan Yah, jika tadi disana tak ada Bude Nur pasti Ibu nggak sampai berpikiran jauh macem macem seperti itu. Aku tahu Ibu itu orangnya kolot, namun aku selalu bisa memberi beliau pemahaman, walau harus sedikit lebih sabar dan pelan pelan menjelaskannya. Tapi dengan hasutan Bude Nur tadi, pasti sudah akan sangat sulit sekali memberi pemahaman pada Ibu. Karena Ibu itu selalu percaya dengan apa yang dikatakan Bude Nur!! Apalagi Ibuku itu memang orang yang sangat polos dan kolot," ucapku dengan masih terisak.

"Ibu pasti bisa mengerti Bun, meski memang agak sulit namun kita harus tetap mencoba memberi beliau pemahaman dan meluruskan masalah ini. Insyaallah semua akan baik baik saja, asal Bunda pun menyikapi semua ini dengan sabar dan kepala dingin," katanya sambil mencium pucuk kepalaku.

Sejak kami berpacaran dua tahun yang lalu, suamiku ini memang orang yang sabar dan bijaksana dalam segala hal, dan sebab itu juga aku menerima cintanya dahulu.

"Atau begini saja, sekarang juga kita berangkat ke rumah Ibu, agar pikiran Bunda lebih tenang.  Namun Bunda harus janji akan sabar dan tidak emosi jika nanti ketemu dengan Bude Nur juga," ucapnya sambil melepaskan pelukan, lalu menatapku.

"Oke, aku janji yah. Insyaallah aku bisa mengontrol emosiku, yang penting Ibu tidak salah paham lagi pada kehamilanku ini," kataku senang.

Rumah Bude Nur memang bersebelahan dengan rumah orang tuaku di kampung, letaknya ada di samping kanan, dan di samping kiri terdapat rumah Bulek Janah, adik dari Ibuku.

Sejak aku kuliah dulu, Bude Nur selalu langsung datang ke rumah saat aku pulang. Selalu saja dia memberikan nasehat-nasehat yang menurutku keterlaluan itu, dan selalu di ulang-ulang, jadi risih kan aku mendengarnya.

Bude Nur adalah seorang janda, dengan dua orang anak. Anak pertamanya Mas Narto yang usianya lima tahun lebih tua dariku, sepantaran dengan Mas Ferdi. Mas Narto hingga saat ini belum menikah, setiap hari dia akan kesawah dan mengurus ternak peninggalan Pakde aryo.

Anak kedua perempuan, Mbak Ninik, usianya dua tahun dibawahku, dan saat ini sedang bekerja di sebuah mini market katanya, dia saat ini ngekost di kabupaten sebelah, yang lebih dekat dengan tempat kerjanya.

Karena anak anaknya yang sibuk itulah, Bude Nur setiap hari selalu bertandang ke rumah adik-adiknya dan juga kerumah tetangga untuk bergosip ria tentunya. Dan di kampungku Bude Nur memang sudah dikenal dengan sebutan biang gosip. Rata-rata gosip yang beredar di kampungku selalu di sebar luaskan oleh Bude, tak peduli itu nyata atau hanya kebohongan belaka.

Dari dulu juga Bude selalu iri terhadap kehidupan keluargaku, terutama setelah Pakde meninggal dunia lima tahun lalu, makin kentara ketidaksukaannya pada pencapaian keluargaku.

Apalagi ketika Bapak yang hanya seorang buruh tani bisa mengantarkanku menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi, dan lulus dengan nilai yang amat memuaskan, terlihat Bude semakin merasa terkalahkan.

Dulu saat aku masih kuliah, setiap aku pulang ke rumah, Bude selalu mengatakan banyak hal namun berulang ulang padaku.

Next??

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Duri Pernikahan
8.6
Sasy Mentari, mahasiswi berusia 19 tahun, mantap menikahi Satya setelah setahun menjalin kasih. Meski sosok dosen itu tampak sempurna, segalanya berubah drastis tepat setelah janji suci diucapkan. Satya yang semula hangat mendadak bersikap dingin dan kasar, seolah cintanya hilang dalam semalam. Di tengah luka batin yang kian mendalam, Sasy harus mencari tahu alasan di balik perubahan sikap suaminya. Mampukah ia bertahan saat setiap detik pernikahannya terasa bagai duri?
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Iris Barcova terpaksa menjalani kehidupan kelam sebagai PSK demi membiayai ayah dan adiknya. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius keturunan mafia menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi medis bagi ayahnya. Meski ada dokter tulus yang mencintainya, Iris justru terjebak dalam dilema hati. Namun, kenyataan pahit mulai terungkap bahwa pria yang ia anggap penyelamat mungkin adalah dalang di balik segala tragedi dan kesialan yang menimpa hidupnya selama ini.
Sampul Novel Let's Watch the Stars Forever
7.9
Seorang gadis muda yang terus bergulat dengan rasa benci pada dirinya sendiri menemukan titik balik saat bertemu pemuda yang berbagi minat mendalam pada astronomi. Melalui keindahan langit malam, Ataya perlahan belajar menghargai jati dirinya. Di tengah proses penyembuhan luka batin tersebut, ia menyadari bahwa perasaannya telah berkembang menjadi cinta yang tulus bagi sang laki-laki yang selalu hadir menemani setiap langkah perjalanannya.
Sampul Novel Perjanjian dengan Sang Pewaris Tahta
9.5
Setahun setelah bertunangan, Sesil justru memergoki calon suaminya berkhianat tepat sebelum pernikahan mereka. Ia pun membatalkan rencana pengunduran diri dari Aditama's Group dan tetap menjadi sekretaris Raffael. Didorong rasa sakit hati, Sesil berniat membalas dendam dengan bantuan sang atasan. Namun, dukungan Raffael tidaklah gratis. Keduanya akhirnya terikat dalam sebuah perjanjian khusus yang menguntungkan bagi satu sama lain di masa depan.
Sampul Novel Sindiran Pedas Istri Kedua
8.9
Keputusan Tiara mengizinkan suaminya berpoligami membawa penderitaan mendalam. Meski sudah mencoba bersabar dan mengalah, hidupnya tak kunjung damai akibat ulah istri kedua. Tiara terus menjadi sasaran sindiran tajam nan menyakitkan, baik melalui interaksi langsung maupun unggahan di media sosial. Kini, ia berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah Tiara tetap bertahan dalam pernikahan penuh luka ini, atau ia berani mengambil langkah untuk pergi?
Sampul Novel Tergoda Gairah Ayah Tiri
8.9
Angel awalnya sangat menyayangi ayah tirinya yang tampan layaknya orang tua kandung. Namun, kasih sayang itu perlahan berubah menjadi benih cinta yang terlarang. Keadaan memuncak saat sang ayah tiri menyatakan perasaan dalam kondisi mabuk hingga keduanya melewati batas. Di tengah kemelut batin tersebut, sang ibu mengungkap rahasia kelam yang menghancurkan hati Angel: pria itu adalah dalang di balik kematian ayah kandungnya. Kini Angel terjebak dalam dilema antara gairah dan dendam.