
Jodohku Seorang Janda Kaya Raya
Bab 3
Eva hanya diam saja tidak menyahut perkataan dari Devia, dua bola matanya tampak kosong memandang jauh ke depan. Entah apa yang tengah ia pandang kala itu?
Lintar menarik napas dalam-dalam, kemudian berpaling ke arah Devia yang sedari tadi memandangi dirinya. Lintar memberikan isyarat kepada Devia, seakan-akan meminta bantuan kepada sahabatnya itu agar mau membujuk Eva supaya tidak marah lagi kepadanya.
Devia pun memahami apa yang diisyaratkan oleh Lintar. Lantas, Devia bangkit dan sedikit menggeser kursi tempat duduknya lebih mendekat ke arah Eva. Kemudian, ia duduk kembali, dipandanginya wajah sahabatnya itu.
"Kamu tidak boleh bersikap seperti ini! Walau bagaimanapun, Lintar ini adalah sahabatmu, sahabat kita berdua! Kawan baik kita, dan merupakan seorang kakak yang baik untuk kita yang masih polos ini," kata Devia memberikan nasihat kepada kawan baiknya itu.
Eva hanya diam saja, ia tidak menyahut sepatah kata pun. Seakan-akan tidak mau mendengar nasihat dari Devia.
"Segala masalah di dunia ini akan hilang jika kita saling bicara, bukannya saling membicarakan satu sama lain." Devia terus memberikan nasihat kepada Eva dengan harapan sahabat baiknya itu tidak bersikap seperti itu lagi di hadapan Lintar.
'Persahabatan itu lembut seperti gelas, sekali pecah itu dapat diperbaiki tapi tidak dengan retakan dan serpihannya.' batin Eva.
Setelah lama diam, akhirnya Lintar mulai membuka mulut di hadapan Eva dan Devia. Ia menghela napas dalam-dalam, dua bola matanya lurus memandang wajah Eva yang duduk bersebelahan dengan Devia.
"Aku mohon ... tolong berikan waktu untuk aku! Supaya aku bisa memutuskan hal yang terbaik, aku menolak cintamu bukan karena tidak menyayangimu. Semua demi kebaikan persahabatan kita untuk saat ini!" timpal Lintar bersuara lirih. "Aku harap kamu mengerti, biarkanlah waktu yang akan menjawab semuanya!" sambung Lintar berusaha memberikan penjelasan atas keputusannya yang sudah menolak cinta Eva.
Demikianlah, setelah mendengar kalimat yang terucap dari mulut Lintar, Eva mulai mengangkat wajahnya. Gadis itu tersenyum dingin menatap wajah pria tampan yang sangat dicintainya.
"Ya, aku mengerti," kata Eva singkat, kemudian kembali menundukkan kepala.
Lintar dan Devia tersenyum lebar. Mereka saling berpandangan tampak bahagia, karena Eva sudah mulai membuka diri untuk memaafkan Lintar.
"Nah, seperti itu. Kita ini sahabat sejak dulu, jadi tidak elit banget kalau harus pecah gara-gara perasaan cinta," kata Devia sambil tertawa kecil.
"Ah, kamu, Dev. Bisa saja," hardik Eva mendelik ke arah Devia.
Devia pun tertawa lagi ketika melihat Eva yang tersipu-sipu mendengar perkataan darinya, "Hahaha...."
"Sekarang kamu ikut pulang denganku, yah?! Ibumu sangat mengkhawatirkan kamu, Va!" ajak Lintar lirih, dua bola matanya terus memandangi wajah Eva yang cantik itu.
Eva menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab, "Tidak usah, Tar! Aku bisa pulang sendiri, kok."
"Baiklah, kalau memang kamu tidak mau pulang bersamaku. Tapi kamu janji! Harus pulang hari ini!" kata Lintar terus memandangi wajah Eva yang duduk di sebelahnya. "Tadi ibumu datang ke rumahku. Ibumu bilang, jika hari ini kamu tidak pulang, maka dia akan melaporkan aku ke pihak kepolisian," tambah Lintar memberitahu Eva tentang ancaman dari ibunya.
"Iya, aku janji. Hari ini aku pasti pulang, kok. Maafkan atas sikap ibuku ya, Tar," sahut Eva meyakinkan Lintar yang masih penuh keraguan terhadap dirinya.
Dengan demikian, Lintar sedikit merasa lega. Lantas, ia pun langsung pamit saat itu juga kepada Devia dan juga Eva, karena Lintar ada urusan penting dengan Dani sore itu.
Setelah berlalunya pria tampan dari hadapannya, Eva pun kembali melanjutkan perbincangannya dengan Devia.
"Ternyata apa yang kamu katakan tadi benar, Dev. Lintar akhirnya datang juga ke sini," kata Eva lirih.
"Tapi—" Devia tidak melanjutkan perkataannya.
"Tapi kenapa, Dev?" tanya Eva tampak penasaran.
Sedikit ragu-ragu, Devia pun menjawab, "Itu, masalah ibumu mau melaporkan Lintar kepada polisi. Itu sungguhan, Va?"
"Ah, kamu! Kamu, 'kan tahu sendiri ibuku seperti apa?"
Dengan demikian, Devia pun tersenyum lebar. Lantas, ia coba mengalihkan pembicaraan.
"Aku yakin! Sebenarnya Lintar itu menyayangi kamu. Akan tetapi, ada hal lain yang menjadi penghalang, sehingga Lintar tidak menerima cinta kamu," imbuh Devia berkesimpulan.
Bola mata Eva tampak membulat menatap wajah Devia, ia penasaran dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Maksud kamu penghalang apa?" tanya Eva mengerutkan kening.
"Hemmm! Sudahlah, nanti juga kamu tahu sendiri apa yang menjadi penyebabnya," jawab Devia enggan mengatakan sesuatu yang baru ia duga. Tentang alasan Lintar menolak cinta sahabatnya itu.
"Kamu itu tidak jelas kalau bicara!" hardik Eva mendelik ke arah Devia.
"Sudahlah, kita bahas nanti saja! Sekarang kita makan dulu!" sahut Devia bangkit dan langsung mengajak Eva untuk segera masuk ke dalam rumah.
* * *
Keesokan harinya....
Sekitar pukul delapan pagi, Lintar menyempatkan diri berkunjung ke rumah Eva, karena ia ingin memastikan bahwa Eva benar-benar sudah memaafkan dirinya. Sebelum berangkat ke rumah Eva, Lintar meneleponnya terlebih dahulu. Kebetulan saat itu Rasti tidak ada di rumah, sehingga LIntar dan Eva menjadi lebih leluasa lagi dalam melakukan perbincangan.
"Assalamualaikum," ucap Lintar lirih.
"Waalaikum salam," sahut Eva yang saat itu sedang berada di teras rumah. Eva langsung mempersilahkan duduk kepada sahabatnya itu, "Silahkan duduk, Tar!"
Lintar hanya mengangguk dan langsung duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah tersebut. Setelah itu, Lintar langsung berbincang dengan Eva.
"Aku harap kamu tidak marah lagi, karena sedikit pun aku tidak bermaksud hendak menyakiti perasaan kamu, Va," ucap Lintar di sela perbincangannya dengan Eva.
"Iya, Tar. Aku juga paham," jawab Eva masih bersikap dingin.
Lintar tersenyum lebar dan merasa lega mendengar perkataan dari sahabatnya itu. Meskipun ia tahu, bahwa Eva masih kecewa dengan keputusannya yang sudah menolak cinta sahabat baiknya itu. Setelah berbicara panjang lebar dengan Eva, Lintar langsung pamit kepada sahabatnya itu. Ia khawatir jika kedatangannya diketahui oleh Rasti, sudah barang tentu dia akan marah besar jika mengetahui Lintar datang menemui putrinya.
"Aku pulang sekarang ya, Va. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, takut ibumu keburu pulang," kata Lintar bangkit dari duduknya.
"Iya, Tar. Maafkan aku yah, aku terlalu banyak berharap sama kamu."
"Iya, Va. Tidak apa-apa."
Setelah itu, Lintar langsung mengucap salam dan berlalu dari hadapan Eva. Lintar melangkah dengan iringan tatapan bola mata Eva yang berkaca-kaca, seolah Eva merasa sedih dengan semua keputusan Lintar yang tidak mau membuka hati untuknya.
Ketika Lintar sedang berjalan. Tiba-tiba saja, sebuah mobil sedan putih berhenti di bahu jalan yang hendak dilaluinya. Mobil tersebut dalam posisi menghalangi langkahnya. Lintar tampak kaget sekali dengan pemandangan seperti itu.
"Astaghfirullahal'adzim," ucap Lintar langsung menghentikan langkahnya.
Mobil tersebut adalah mobil Rasti yang baru saja pulang. Setelah menghentikan laju mobilnya, Rasti langsung keluar dari mobil tersebut.
"He, kamu habis dari rumah saya?" tanya Rasti bernada tinggi.
"I—iya, Bu," jawab Lintar gugup.
Mendengar jawaban Lintar, Rasti tampak geram sekali. "Mau apa kamu datang ke rumah saya?"
* * *
Anda Mungkin Juga Suka





