
Jodoh Tak Akan Tertukar
Bab 2
Bab 2
Sella dengan sangat sumringah melihat kotak masuk dalam emailnya. Hal itu membuat Aldi yang berada disampingnya ikut tersenyum melihat wajah manis sang kekasih. "Kamu kenapa? Kok kayaknya senang banget, Yank?
"Aku diterima di Rumah Sakit Internasional Jogjakarta, Yank. Aku itu masukin lamaran kesana sudah lama banget kalau gak salah bareng sama Rumah Sakit tempat kita kerja deh. Gak nyangka banget, sudah sekitar tiga tahun padahal," ucap Sella dengan mata yang berkaca - kaca.
"Terus kamu mau pindah kerja ke Jogjakarta? Ninggalin aku?" tanya Aldi dengan wajah cemberut.
"Sepertinya begitu, Yank. Aku itu kepengen banget kerja di sana. Dan penantian panjangku membuahkan hasil. Aku keterima. Jadi, sementara waktu kita LDR," jawab Sella santai.
"Aku gak bisa LDR. Aku juga akan resign dari Rumah Sakit Dahlia dan kerja di rumah sakit yang sama kayak kamu," ucap Aldi tegas yang seketika membuat Nasha tercengang. Karena, Aldi memang tegas dalam berbagai aspek. Jika Iya ya pasti iya.
"Mama kamu gimana?" tanya Sella polos.
"Aku sudah dewasa, sayang. Mama juga masih ada Papa 'kok. Kamu sudah sangat mengenal aku. Kalau aku sudah membuat keputusan artinya itu sudah final. Besok aku akan ajukan surat pengunduran diri," ujar Aldi.
Sella yang malas berdebat hanya diam menuruti keputusan sang kekasih. "Iya, aku tahu banget kamu. Semua keputusan ada di tangan kamu. Aku harap kamu gak menyesal."
"Gak ada yang perlu aku sesali kalau pilihannya itu menyangkut kamu. Yang perlu kamu tahu, sayang. Aku cinta sama kamu sepenuhnya. Gak akan sanggup aku jauh - jauh dari kamu," Aldi memandangi wajah cantik Sella yang tersipu malu.
"Iya, sayang. Aku juga sama. Aku sayang banget sama kamu," Sella tersenyum mesra menatap bola mata berwarna cokelat milik Aldi.
"Bohong. Buktinya, kamu gak bilang - bilang mau pindah kerja," gerutu Aldi cemberut.
"Aku aja baru tahu tadi, sayang. Serius, gak bohong. Aku juga kaget bakal keterima. Aku aja udah lupa pernah naro lamaran kesana," ucap Sella membujuk Aldi.
"Iya, sayang. Aku bercanda 'kok," Aldi mengusap lembut hidung mancung Sella.
*****
Sepulangnya dari rumah sakit, Aldi segera mengutarakan niatnya untuk pindah bekerja di Jogjakarta. Awalnya, Bu Indri melarangnya. Namun, Pak Bagas (Papa Aldi) membujuk sang istri untuk memberi sedikit kebebasan terhadap putera mereka.
"Tapi, kami harus tahu dimana tempat tinggal kamu. Saat kamu pindah, kami ikut antar," Bu Indri akhirnya setuju setelah perdebatan panjang dengan anak juga suaminya.
"Iya, Mamaku sayang," ujar Aldi memeluk sayang sang ibu.
Pihak Rumah Sakit Dahlia menjadi heboh dengan pengunduran diri Dokter Aldi juga Suster Sella. Bahkan, beberapa di antara mereka banyak yang curiga dengan hubungan keduanya.
"Dokter Aldi sama Suster Sella resign. Menurut lo itu kebetulan atau memang janjian?" ucap Suster Ami kepada dua rekannya.
"Gak mungkin kebetulan. Menurut gue sih mereka itu punya hubungan spesial. Soalnya, gue sering mergoki mereka pulang bareng," sahut Suster Ina.
"Mereka emang pacaran. Gue pernah mergokin Dokter Aldi manggil Suster Sella "Yank". Wajar sih mereka nutupi hubungannya. Ya kalian tahu status sosial mereka beda jauh. Bu Indri, gak akan mau nerima Suster Sella jadi menantu," ucap Fahmi petugas kebersihan.
Bu Indri datang ke ruang praktek Aldi dengan membawa berbagai macam kue untuk diberikan kepada para suster dan petugas rumah sakit.
"Panjang umur banget. Itu dia Bu Indri. Kita harus jafa rahasia hubungan Dokter Aldi sama Suster Sella. Jangan sampai ketahuan sama doi," ucap Suster Ami berbisik.
"Pagi semuanya," sapa Bu Indri yang terlihat repot membawa beberapa goodie bag dengan pakaiannya yang glamour.
"Pagi, Bu. Makin cantik aja nih Ibu," goda Fahmi.
"Iya, donk. Harus cantik dan awet muda. Ini buat kalian, ya. Silahkan dinikmati. Ada beberapa oleh - oleh juga dari London. Calon menantu saya yang bawa," ujar Bu Indri dengan sumringah.
"Calon menantu? Dokter Aldi mau nikah, Bu?" tanya Suster Ina penasaran diikuti wajah penasaran kedua rekannya.
"Iya, donk. Masa anak saya yang dokter, ganteng. Mau jadi jomblo terus," ucap Bu Indri dengan wajah sedikit angkuh.
"Sus Ami," panggil Sella yang baru keluar dari ruang praktek Tama dengan membawa catatan pasien.
"Bu Indri," sapa Nasha dengan sopan.
"Sus Sella. Ini ada oleh - oleh dari London. Yang bawa calon menantu saya. Nanti dipilih aja, ya. Saya mau ketemu Dokter Tama dulu. Permisi," ucap Bu Indri tersenyum simpul kemudian berlalu.
"Calon menantu? Apa maksudnya?" gumam Sella dalam hati. Seketika hatinya perih mendengar kalimat yang diucapkan Bu Indri. Rasanya bagai terseyat sembilu hingga perih ke dalam kalbu.
Semua mata rekannya yang ada di meja perawat memandanginya dengan perasaan iba. Mereka seakan tahu apa yang dirasakan Sella ketika mata gadis itu mulai berkaca - kaca.
"Aku ke toilet dulu, ya," pamit Sella yang tak bisa membendung bulir bening di pelupuk matanya.
Mata Suster Ami, Suster Ina, dan Fahmi beradu pandang. Mereka kompak membuang napas kasar.
Sella berlari kecil ke arah toilet khusus karyawan dan menutup pintu. Airmatanya jatuh dengan sekelibat bayangan saat Bu Indri mengucapkan kata calon menantu di hadapannya.
"Aku gak ngerti sebenarnya ada apa? Apa ini hanya usaha Bu Indri menjauhi aku dengan Aldi. Atau memang Aldi akan dijodohkan?" gumam Sella dalam hati dengan pipi yang basah.
Setelah mampu mengendalikan dirinya. Sella mencuci wajahnya dan merapikan diri bersiap untuk kembali ke ruang praktek Aldi. Dilihatnya, Bu Indri sudah pergi. Sella terlihat kurang fokus dan lesu. Hal itu membuat Aldi curiga dengan sikap tak biasa sang kekasih.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan kamu kayak gak fokus dari tadi? Ada apa? Cerita sama aku," ucap Aldi mendekati Sella yang sedang membereskan meja kerja Aldi.
"Gak apa - apa. Aku gak enak badan. Aku duluan," ucap Sella cuek dan berlalu pergi.
"Sus Ami ... Sus Ina ... saya duluan, ya," pamit Sella terburu - buru.
Aldi segera meraih tas kerjanya dan mengejar Sella Namun, Suster Ami dan Suster Ina memberikan selamat kepada Aldi yang akan segera menikah.
"Dokter Aldi, selamat, ya. Gak nyangka sebentar lagi mau nikah," ucap Suster Ina sopan.
"Nikah? Berita dari mana, Sus?" tanya Aldi kaget juga bingung.
"Bu Indri. Tadi itu. Bu Indri kesini sekalian kasih kami oleh - oleh katanya dari calon istri Dokter Aldi yang baru pulang dari London," sahut Suster Ami.
"Gak benar itu, Sus. Ibu saya cuma bercanda," Aldi segera berlalu mengejar Sella yang sudah berjalan jauh. Aldi menyadari sikap Sella berubah karena ucapan ibunya.
"Pantes saja Sella seharian ini gak fokus. Dia pasti kesal. Mama juga kenapa seenaknya aja sih ngomong begitu," Aldi mempercepat langkahnya. Namun, dilihatnya Sella sudah naik ke dalam taksi dan meninggalkan rumah sakit.
Aldi segera mengambil mobilnya lalu tancap gas menuju rumah kontrakan Sella. Aldi mencoba menghubungi Sella namun tak ada jawaban. Saat tiba di rumah, Sella langsung mengunci pintu.
Aldi langsung mengetuk pintu dan memohon supaya Sella mau mendengarkan penjelasannya. "Yank. Aku mohon banget. Tolong buka pintunya dulu. Aku mau jelasin semuanya," pinta Aldi memelas.
Sella yang merasa tidak enak dengan tetangga sekitar karena sudah malam akhirnya membukakan pintu untuk Aldi. Sella duduk di kursi teras dengan wajah yang murung.
"Yank. Aku sama sekali gak tahu kalau Mama bilang begitu. Aku baru tahu dari Suster Ami. Mama cuma asal ngomong aja 'kok, Yank," ujar Aldi.
"Gak mungkin kamu gak tahu. Mama kamu tuh bilang sendiri. Calon menantu saya. Itu artinya calon isteri kamu. Siapa orangnya? Kamu bisa jujur sama aku. Kita sudahi semuanya kalau memang kamu mau menikah sama perempuan pilihan Mama kamu," ucap Sella mulai bergetar menahan rasa kecewa di hatinya.
"Aku beneran gak tahu siapa yang dimaksud Mama. Demi tuhan aku gak tahu," ujar Aldi menggenggam erat tangan Sella.
"Ya terus, Mama kamu sendiri 'lho yang bilang," Sella masih sulit memahami keadaan yang saat ini rumit.
"Aku beneran gak tahu, sayang. Kalau memang aku gak serius sama kamu. Gak cinta sama kamu. Gak akan aku bela - belain resign dan pindah ke Jogjakarta. Aku harap kamu mau ngerti," Aldi mencoba meyakinkan Sella dengan lembut.
"Kamu tahu gak? Aku tuh sampai nangis di toilet pas dengar kamu sudah punya calon isteri," ucap Sella tak sanggup membendung air matanya.
Aldi segera memeluknya erat dan membiarkan Nasha menuangkan airmatanya. "Maafin aku, ya. Yang perlu kamu tahu, aku itu sangat mencintai kamu. Gak ada satu pun wanita yang bisa gantikan posisi kamu."
Sellaa hanya diam seribu bahasa dengan senyum yang mulai terpancar. Aldi mengusap air mata Sella dengan lembut. "Jangan begini lagi, ya. Apapun itu kamu harus bilang sama aku. Jangan dipendam sendiri. Yang calon isteri aku itu kamu."
*****
Paginya, Aldi meminta penjelasan kepada ibunya. "Ma, yang Mama sebut calon menantu itu siapa?"
"Ya, Lisa. Masa kamu lupa. Anaknya Tante Nina. Kemarin waktu kamu pulang duluan, kami ngobrol masalah perjodohan kalian," sahut Bu Indri santai sambil mengolesi selai ke atas roti.
"Perjodohan? Maksud Mama aku dijodohin sama cewek itu?" tanya Aldi kaget.
"Iya, kalian itu sudah dijodohkan sejak masih kecil. Ya 'kan, Pa?"
"Iya kayaknya. Papa mah gak tahu urusan perjodohan. Itu juga 'kan omongan asal pas masih pada kecil," sahut Papa santai.
"Gak resmi 'kan jadinya? Lagian ini tuh sudah zaman modern masa masih pakai perjodohan segala," ujar Aldi tertawa.
"Mama dan Tante Nina serius. Lisa juga sudah setuju 'kok. Tinggal kamunya aja, siapnya kapan?" ujar Bu Indri.
"Aku gak mau dijodohin. Apapun alasannya aku menolak perjodohan ini. Lagi pula, aku gak kenal dia. Aku masih mau berkarir. Minggu depan juga aku sudah harus ke Jogjakarta dan mulai bekerja disana," Aldi beranjak dari kursinya dan meninggalkan meja makan dengan wajah kesal.
"Mama gak mau tahu. Kamu harus menikah sama Lisa!" teriak Bu Indri kesal.
"Ma, jangan begitu. Aldi itu bukan anak kecil lagi. Kita harus kasih dia kebebasan dalam memilih pasangan hidupnya. Jangan terlalu memaksakan kehendak. Kasihan Aldi, jadi beban buat dia nantinya," ujar Pak Bagas menasehati sang istri.
"Kita itu harus pilih menantu yang baik, Pa. Papa mau dia asal pilih pasangan yang akhirnya cuma morotin harta kita. Keluarga Lisaa itu sepadan sama kita. Pokoknya, bagaimanapun caranya Mama akan terus buat Aldi menikahi Lisa!" ucap Bu Indri kesal dan meninggalkan meja makan.
Pak Bagas hanya bisa membuang napas kasar atas sikap keras kepala sang isteri. "Kamu itu terlalu memaksakan kehendak kamu, Ma."
"Bisnis supermarket impian Mama juga akan segera terealisasi. Mama dan Jeung Nina sudah merencanakan sudah lama. Lisa juga sangat menyukai Aldi sejak dulu. Kalau mereka menikah akan sangat membantu semuanya," ujar Bu Indri.
"Pernikahan itu harus diawali dengan cinta bukan kesepakatan bisnis, Ma. Kasihan Aldi kalau dia gak bahagia nantinya," ucap Pak Bagas kesal kemudian berlalu meninggalkan Bu Indri.
*****
Anda Mungkin Juga Suka





