
Jodoh Tak Akan Tertukar
Bab 3
Bab 3
Karena masih kesal, Bu Indri tidak jadi mengantarkan Aldi saat pindah tugas ke Jogjakarta. "Ma, Aldi berangkat dulu, ya," pamit Aldi menyalami tangan ibunya.
"Iya. Mama gak ikut antar. Nanti kalau Mama sudah gak kesal baru Mama ke Jogja," sahut Bu Indri sedikit ketus.
"Iya, Ma. Salam buat Papa. Aldi tadi telepon cuma kayaknya Papa sibuk," ujar Aldi.
Sella menunggu Aldi di stasiun. Mereka sengaja pergi menggunakan kereta karena ingin menikmati pemandangan dan waktu yang lebih lama saat perjalanan.
"Sayang, barang - barang kamu sudah dikirim lewat ekspedisi semua 'kan?" tanya Aldi memastikan.
"Iya, sayang. Cuma baju - baju aja 'kok. Disana aku sengaja sewa kost putri aja. Biar gak ribet isi furniture," sahut Sella tersenyum.
Sellaa bersandar di pundak Aldi dengan mesra sambil memandangi kaca jendela yang memberikan pemandangan asri menyejukan mata. Mereka bercengkrama seperti biasa diselingi dengan canda tawa. Aldi dan Sella sangat menikmati perjalanan mereka saat ini. Seakan tak ingin semuanya cepat berlalu.
*****
Di rumah sakit baru tempat mereka bekerja, Sella dan Aldi tak dipertemukan dalam satu ruangan. Karena sama - sama masih baru. Sella bekerja sebagai perawat di poli Dokter Spesialis Anak dengan seorang Dokter muda yang tampan bernama Dokter Firza. Sedangkan Aldi yang berada di poli penyakit dalam dibantu oleh suster senior bernama Suster Ida.
"Cantiknya," puji Dokter Firza dalam hati saat melihat wajah perawat pendampingnya yang baru.
"Dokter Firza, perkenalkan ini ada dua orang karyawan baru kita. Dokter Aldi sebagai Dokter spesialis penyakit dalam dan Suster Sella," ucap Pak Bagyo selaku HRD Rumah Sakit.
"Wah, terima kasih, Pak. Selamat bergabung Dokter Tama. Selamat bergabung Suster Sella," sambut Dokter Firza.
Aldi memperhatikan tatapan mata Dokter Firza ke arah Sella. "Nih cowok kayaknya terpesona sama cewek gue. Awas aja berani dekati calon isteri gue," gerutu Aldi dalam hati.
Selama jam praktek, Aldi memikirkan Nasha yang berada satu ruangan dengan Dokter Firza. Hatinya tak tenang. Dia takut Sella akan goyah. Karena diakuinya wajah Dokter Firza memang tampan.
Sepulang kerja, Sella dan Aldi menyempatkan diri untuk makan bersama. Mereka tinggal berdekatan. Aldi melirik ke arah Sella yang berada di hadapannya. Nasha terlihat santai membuka buku menu.
"Kamu kenapa? Ngelihatin akunya begitu banget," tanya Sella tersenyum melihat ekspresi wajah Aldi.
"Kamu gak usah senyum gitu, deh, Yank," gerutu Aldi.
"Kenapa? emang aku begini 'kan. Murah senyum," goda Sella.
"Iya, tapi aku gak mau kamu asal senyum. Pokoknya senyum termanis kamu cuma buat aku. Jangan kasih ke yang lain," pinta Aldi cemberut.
"Ke yang lain siapa maksud kamu?" tanya Sella tak mengerti.
"Ya ke cowok lain," sahut Aldi.
"Kamu jujur sama aku. Ada apa? Gak usah muter - muter. Aku bingung," pinta Sella menatap mata Aldi.
"Dokter Firza," sahut Tama singkat dengan wajah kesal.
"Dokter Firza? Jadi, kamu dari tadi bete gara - gara Dokter Firza?" Sella tertawa kecil. "Jangan bilang kamu cemburu?" ledek Sella.
"Iya, aku cemburu. Aku gak mau kamu terlalu dekat sama dia," pinta Aldi lagi.
"Ya ampun, Yank. Ya gak mungkinlah. Aku setia sama kamu," Sella meraih telapak tangan sang suami.
"Pokoknya jaga jarak sama dia," tegas Aldi yang diangguki Sella.
*****
Lisa berkunjung ke rumah Bu Indri dengan membawa beberapa buah tangan. Bu Indri menyambut senang kedatangan calon menantu pilihannya.
"Lisa. Calon menantu idaman Mama," Bu Indri menyambut kedatangan Lisa dengan pelukan hangat.
"Tante Indri yang selalu cantik dan menawan," sapa Lisa.
"Panggil Mama. Sebentar lagi 'kan kamu jadi isterinya Aldi," ujar Bu Indri tersenyum manis.
"Iya, Ma. Sepi banget, Ma? Mama sendirian?" tanya Lisa memasuki ruang tamu.
"Iya sayang. Aldi sekarang dinas di Jogjakarta. Papa lagi ada dinas di Padang. Sepi banget, deh. Makanya, Mama pengen banget kamu sama Aldi cepat menikah. Jadi, Mama bisa ada temannya," ujar Bu Indri.
"Aku juga pengennya begitu, Ma. Tapi, tunggu sekitar enam bulanan lagi, Ma. Aku lagi sibuk buka perusahaan kosmetik. Jadi, aku mau fokus dulu," ujar Lisa.
"Siap, deh. Mama doakan usaha kamu nanti bisa berkembang pesat," Bu Indri tersenyum manis.
"Ma, aku boleh tanya satu hal?" tanya Lisa.
"Boleh, mau tanya apa, sayang?"
"Mas Aldi belum punya pacar?"
"Sejauh ini Mama yakin Aldi itu masih single. Karena dia belum pernah memperkenalkan perempuan manapun sebagai pacarnya," sahut Bu Indri dengan yakin.
"Masa sih, Ma? Mas Aldi itu Dokter muda ganteng pasti banyak yang mau jadi pasangannya," ucap Lisa tersenyum.
"Iya Mama tahu itu. Tetapi, yang cocok menjadi pendamping hidup Aldi ya cuma kamu," ungkap Bu Indri serius.
"Aku jadi semakin gak sabar mau menikah sama Mas Aldi," ungkap Lisaa dengan mata berkaca - kaca.
"Mama harap juga begitu, sayang,"
Bu Indri bertekad akan melakukan apa saja demi mewujudkan mimpinya untuk menikahkan Aldi dengan Lisa.
*****
Tiga bulan berlalu, Dokter Firza semakin perhatian dengan Sella. Hal itu sangat terlihat terang - terangan bahkan di mata umum. Suster Ida yang merupakan asisten Aldi juga mengetahui hal itu.
"Dokter Aldi, alumni rumah sakit yang sama ya kayak Suster Sella?" tanya Suster Ida kepo.
"Iya, Sus. Kenapa memangnya?" sahut Aldi santai.
"Suster Sella itu masih gadis 'kan?" tanya Suster Ida lagi.
"Iya, Sus. Suster Sella belum menikah," jawab Aldi membereskan meja kerjanya sebelum praktek hari ini berakhir.
"Berarti kesempatan emas donk, ya buat Dokter Firza?" ujar Suster Ida sumringah.
"Maksud Suter Ida?" tanya Aldi tercengang.
"Iya, Dokter Firza suka sama Suster Sella. Soalnya ----" belum sempat melanjutkan omonganya, Aldi sudah berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan wajah kesal.
"Ternyata, Dokter Aldi ada hati juga sama Suster Sella? Wajar sih, Suster Sella itu cantik banget," ujar Suster Ida tertawa kecil. Seraya menggelengkan kepala melihat kisah cinta segitiga mereka.
Aldi segera menyusul keberadaan Sella di ruangan praktek Dokter Firza. Dilihatnya ruang tunggu telah sepi. Aldi langsung membuka pintu tanpa permisi. Sella yang sedang bercanda dengan Dokter Firza seketika terkejut melihat kehadiran Aldi disana.
"Malam, Dokter Aldi. Ada apa?" tanya Dokter Firza dengan sisa tawanya.
"Saya ada perlu sama Suster Sella," ujar Aldi segera meraih tangan Sella dan menggandengnya keluar dari ruangan.
Sella hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepala ke arah Dokter Firza. "Ini kenapa sih? Pasti dia cemburu lagi," gerutu Sella dalam hati.
Sella mengikuti langkah cepat Aldi menuju ke parkiran mobil. Dia hanya diam tanpa bicara sepatah katapun kepada Aldi.
Saat mereka sudah berada di dalam mobil. Aldi membuka pembicaraan dengan nada bicara yang kesal. "Kamu kenapa diam aja? Gak ada yang mau kamu jelasin ke aku?"
"Kamu sendiri 'kan yang bilang tadi. Kamu ada perlu sama aku. Ya sudah seharusnya kamu yang jelasin ke aku. Kenapa tiba - tiba datang ke ruangan Dokter Firza tanpa permisi lalu tarik tangan aku. Gak sopan," sindir Sella juga kesal.
"Kamu senang bisa ngobrol berduaan sama dia?" sindir Sella.
"Aku itu bukan ngobrol berduaan. Aku itu kerja. Dan sebagai manusia normal, aku gak mungkin diam aja kayak patung. Kami ngobrol juga masih seputar pekerjaan gak lebih dari itu," ujar Sella menjelaskan.
"Aku gak suka, kamu ketawa bareng cowok lain," ucap Aldi ketus.
"Ya gak bisa begitu donk, Yank. Aku juga perlu sosialisasi. Aku juga tahu batasan. Sekali lagi, aku itu cuma anggap.Dokter Firza rekan kerja biasa sama kayak yang lain," ucap Sella tak mau kalah.
"Itu sama aja kamu kasih dia kesempatan," Aldi masih tak mengalah.
"Kesempatan apa sih maksud kamu? Aku sama sekali gak paham," Sella mulai bete.
"Suster Ida dan karyawan rumah sakit yang lain aja tahu kalau dia itu suka sama kamu. Masa kamu gak peka?" ujar Aldi semakin terbakar api cemburu.
"Ya aku emang gak peka. Untuk apa aku peka sama cowok lain. Karena buat aku ya cuma kamu yang berhak dapat perhatian dari aku. Jadi, siapapun itu ya aku gak tahu," ucap Sella menggenggam tangan sang kekasih untuk meredakan amarahnya.
"Kalau dia menyatakan perasaannya ke kamu. Kamu akan bersikap seperti apa?" pancing Aldi.
"Ya aku tolak baik - baik. Aku udah punya pacar," jawab Sella singkat.
"Kamu yakin?" pancing Aldi lagi.
"Jadi maksud kamu, aku ini cewek yang gampangan? Nerima cinta lebih dari satu lelaki?" kini Sella yang kesal dan akan beranjak keluar dari mobil.
Aldi segera meraih tubuh ramping Sella dan memeluknya erat. Sella hanya diam berusaha untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.
"Aku mau kita nikah minggu depan," ajak Aldi yang spontan membuat Sella menjauhkan tubuhnya karena sangat terkejut.
"Nikah?" Sella terbelalak.
"Iya kita menikah," jawab Aldi yakin.
"Aku 'kan ada kontrak kerja gak boleh menikah dulu di tahun pertama karena dapat beasiswa untuk kuliah lagi. Gak mungkin aku sia - siakan kesempatan ini 'kan. Lagi pula, Mama Papa kamu belum tahu tentang hubungan kita," Sella terlihat ragu.
"Kita bisa menikah secara agama dulu. Pihak rumah sakit juga gak akan tahu. Kita rahasiakan sementara waktu. Aku mau hubungan kita halal. Supaya kita bisa tinggal seatap dan waktu yang kita miliki lebih banyak," pinta Aldi.
"Orang tua kamu aja belum tahu kita pacaran," ujar Sella.
"Itu gak penting, yang penting. Kamu mau atau enggak?" ucap Aldi serius.
"Jadi, maksudnya saat ini kamu melamar aku?" ledek Sella.
"Lebih ke ajakan. Karena mendadak," ujar Aldi tertawa kecil.
"Ya udah gak aku jawab dulu. Nanti aja, kalau kamu melamar aku secara resmi," sahut Sella tertawa kecil.
Aldi mengeluarkan sebuah cincin yang sangat cantik dari saku jasnya. "Sella Sabrina, maukah kamu menikah denganku?" Aldi menyodorkan sebuah cincin ke hadapan Sella.
Nasha sangat terkejut dengan kejutan dari sang kekasih. "Kamu tuh ya, paling bisa bikin aku meleleh kayak gini?" Sella memandangi wajah Aldi dengan mata berkaca - kaca.
"Sella Sabrina, maukah kamu menikah denganku?" lamar Aldi dengan wajah serius.
"Iya, aku mau Aldi Aditya. Aku mau jadi isteri kamu," jawab Sella dengan air mata haru.
Aldi menyematkan cincin ke jari manis Sella dengan senyum merekah. Meskipun pernikahan siri yang akan mereka jalani nanti. Aldi ingin menjadikan Sella halal untuknya.
Selesai menyematkan cincin, mereka berdua berfoto. "Kamu rekam lamaran tadi?" tanya Sella kaget saat melihat hasil foto mereka berdua.
"Iya donk. Buat bukti, kalau nanti kamu lupa udah terima lamaranku," ujar Aldi tertawa.
"Makasih, sayang," ucap Sella mesra.
"Minggu depan kita akan menikah, untuk saksi aku akan minta Papa sama keluarga Bu Rina hadir di pernikahan kita," ucap Aldi serius.
"Papa kamu tahu hubungan kita?" tanya Sella kaget.
"Tahu, sayang. Semenjak kita baru pacaran. Papaku orangnya bebas dan santai. Dia gak mau kekang aku," ucap Aldi dengan wajah sumringah.
"Mama kamu gimana?" tanya Sella lirih.
"Urusan Mama biar jadi urusanku. Perlahan dia pasti luluh. Kita akan kasih tahu kalau sudah saatnya," ucap Aldi dengan sangat tenang.
*****
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan jadi isterinya Mas Aldi. Mas Aldi itu cinta pertama aku. Bagaimanapun caranya, aku gak akan sia - siakan kesempatan ini," ujar Lisa memandangi wajah Aldi dalam handphonenya.
Bu Nina tersenyum melihat kebahagiaan sang putri yang terlihat sedang kasmaran. "Anak Mama kayaknya senang banget. Ada apa? Kamu sering ke rumah Tante Indri, ya?" Bu Nina menghampiri sang anak yang sedang duduk di kursi taman belakang rumah.
"Aku bahagia banget. Mas Aldi belum punya pacar. Dan kata Tante Indri, kami akan dinikahkan dua bulan lagi, Ma. Penantian aku bertahun - tahun gak sia - sia. Aku itu suka sama Mas Aldi sejak kecil waktu kita tetanggan dulu," Lisa terlihat sangat sumringah.
"Mama senang, kalau kamu juga senang. Mama akan bikin pesta pernikahan mewah dan meriah untuk kalian nanti," ucap Bu Nina tersenyum bahagia.
"Makasih, Mamaku," Lisa meraih tubuh sang mama dan memeluknya.
*****
Sella dan Aldi mendatangi Bu Rina ke Bandung untuk mengundang Bu Rina supaya bisa hadir di pernikahan mereka nanti.
"Kalau kalian memang yakin, Ibu selalu mendukungnya. Tapi, kalau bisa selesai urusan kontrak dan lain - lain. Kalian harus mendaftarkan pernikahan secara resmi. Apalagi, kalau kalian mempunyai anak nantinya. Karena status pernikahan siri itu tidak kuat di mata hukum," ujar Bu Rina bijak.
Sebenarnya, Bu Rina kurang setuju dengan pernikahan mereka yang akan dilakukan secara siri. Namun, melihat kerseriusan Aldi dan juga Sella membuat Bu Rina tak kuasa menentangnya. Bu Rina khawatir Sella tak bisa diterima oleh Ibunda Aldi.
*****
Anda Mungkin Juga Suka





