
Jerat Cinta Sang CEO
Bab 2
Emma dan Sintia membaur dengan tamu yang lain meskipun mereka berdua masih belum bertemu dengan banyak teman kampusnya. Tamu yang datang kebanyakan kating kampus Emma dan tidak banyak yang Emma tahu. Sintia memberikan segelas minuman untuk Emma dan tidak menyadari bahwa minuman itu mengandung sedikit alkohol.
Acara berlangsung setelah tamu undangan telah banyak yang hadir meskipun belum semuanya. Emma mencoba menikmati pesta tersebut tanpa memikirkan hal lain. Selesai acara puncak, Emma meminta izin pada Sintia untuk pergi ke toilet. Emma merasa kepalanya sedikit pusing dan ingin mencuci wajahnya supaya segar.
Emma menabrak seseorang saat berjalan menuju toilet. Tas tangannya sampai terjatuh dan dia sampai terhuyung saat ingin mengambilnya. Orang tersebut membantu Emma untuk mengambil tasnya dan memberikannya.
"Terima kasih, maaf atas kecerobohan saya." Emma tersenyum dan menunduk sekilas untuk meminta maaf.
"Apa kamu mabuk?" Suara berat seorang laki-laki membuat Emma melihat ke arah orang di depannya. Seketika, Emma terpesona karena ketampanan wajah laki-laki di hadapannya. Meskipun terlihat garang, tetapi garis wajahnya yang tegas membuat Emma melihatnya tanpa berkedip.
"Emma, ayo." Sintia datang dan langsung menarik tangan Emma sebelum dia sempat berbicara dengan laki-laki yang ditabraknya. Emma menoleh untuk terakhir kalinya sebelum menghilang ke tengah acara pesta.
"Ada apa?" Raka menepuk bahu Ethan, saat melihatnya terpaku.
"Cari tahu informasi tentang gadis bernama Emma." Ethan memberikan perintah pada Raka.
"Emma siapa?" tanya Raka bingung.
"Emma yang baru saja menabrak aku. Cari semua informasinya sampai yang tak terlihat." Ethan berjalan masuk ke ruangan pesta, meninggalkan Raka yang kebingungan.
"Aku pasti akan mendapatkan kamu, Emma," ucap Ethan bermonolog sambil menatap Emma dari kejauhan.
***
Ethan telah mendapatkan informasi tentang Emma sampai yang terdalam dan tak terlihat. Raka mengerahkan semua kemampuannya untuk menggali informasi itu. Raka memberikan hasilnya pada Ethan beserta beberapa foto Emma dari mulai kecil sampai yang terbaru. Raka yang awalnya tidak begitu jelas dengan perintah Ethan, akhirnya tahu siapa Emma yang dimaksud oleh bosnya itu.
"Bagaimana, Bos? Apa ada yang kurang?" tanya Raka dengan tersenyum bangga karena bisa menyelesaikan perintah sang bos besar.
"Bagaimana mungkin perempuan secantik dia mendapat kehidupan seperti ini?" Ethan tidak mendengarkan pertanyaan Raka. Dia sedang larut membaca informasi tentang Emma.
"Begitulah hidup, Bos. Terkadang tidak adil bagi sebagian orang," ucap Raka berkata sok bijak.
"Apa yang harus aku lakukan untuk kamu, Cantik?" Ethan berbicara sendiri lagi sambil memandangi foto Emma yang sedang tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Nikahin aja, Bos. Biar hidupnya jadi berubah jika bersama Bos." Raka memberikan saran yang kemudian disesalinya. Ethan bukan termasuk pria yang menyukai ikatan karena selama ini tidak ada wanita di samping Ethan yang bertahan lama.
"Ayo kita ke rumah Emma," ajak Ethan dan langsung beranjak dari kursi kebesarannya.
"Kita ada rapat satu jam lagi, Bos," ucap Raka yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada bosnya.
"Kita akan kembali tepat waktu," ucap Ethan sambil keluar menenteng jasnya dan berpamitan pada Pricillia, sekretarisnya.
"Saya akan keluar sebentar dengan Raka. Tolong atur rapat nanti dan tunggu sampai saya tiba di kantor." Ethan segera menuju lift dan meninggalkan Pricillia yang menatapnya dengan intens.
"Jangan lupa materi rapat nanti," ucap Raka dengan suara lirih dan mengikuti Ethan di belakangnya.
Ethan dan Raka menuju alamat rumah yang tertera di file informasi tentang Emma. Ethan mengernyitkan alisnya saat melihat daerah tempat tinggal Emma yang jauh dari kemewahan. Tidak ada rumah yang besar seperti di lingkungan tempat tinggal Ethan. Raka menepikan mobil mewahnya di tepi jalan menuju ke rumah Emma.
"Dari sini kita jalan sebentar ke dalam gang itu, Bos." Raka menunjukkan jalan sempit untuk pejalan kaki yang hanya muat untuk satu orang. Rumah Emma melewati jalan seperti itu.
Ethan dan Raka sampai di rumah sederhana milik Emma. Raka mengetuk pintu yang terbuat dari kayu yang sudah sedikit rapuh itu. Seseorang membuka pintu dan terlihat seperti orang baru bangun tidur. Marshel, ayah Emma yang kerjaannya hanya menganggur di rumah dan mabuk-mabukkan. Marshel menatap Ethan dan Raka dengan penuh tanya.
"Siapa kalian? Mau apa datang ke sini? Kalau mau menagih hutang, tunggu Emma pulang nanti malam." Marshel hendak menutup lagi pintu rumahnya, tetapi ditahan oleh Raka.
"Bos saya ingin bicara dengan Anda, Tuan." Raka menarik pintu dengan sedikit keras agar terbuka lebar. Ethan masuk ke rumah yang ditinggali Emma dan melihat ke sekeliling isi rumah.
"Apa kamu bosnya, Emma? Kalau iya, tolong beri aku uang dan kamu bisa memotongnya dari gaji Emma." Marshel terdengar sangat tidak sopan dan membuat Ethan sedikit geram.
"Bagaimana bisa gadis secantik itu mempunyai ayah seperti kamu?" Ethan menatap tajam ke arah Marshel lalu menampar wajahnya dengan sedikit keras.
"Sialan kamu. Apa maksud kamu? Langsung saja ke intinya. Aku tidak punya banyak waktu." Marshel terpancing emosi karena mendapatkan tamparan di pipinya dan mendengar kata-kata Ethan.
"Biarkan Emma menjadi milikku dan aku akan memberikan apa pun yang kamu minta. Kamu hanya harus merahasiakan kedatanganku ke sini dan perjanjian yang akan kamu tanda tangani." Ethan berbicara langsung seperti apa yang ingin diutarakannya.
"Perjanjian apa maksud kamu?" Marshel masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan Ethan.
Raka memberikan selembar kertas yang berisi perjanjian tentang apa yang harus dikerjakan oleh Marshel dan larangan untuk Marshel bertemu atau pun menghubungi Emma lagi. Ethan ingin Marshel memutuskan hubungan keluarganya dengan Emma. Ethan akan membayar berapa pun yang Marshel minta, jika Marshel setuju dengan perjanjian yang dibuat oleh Ethan.
"Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk memutuskan hubungan ayah dan anak dengan Emma? Hanya Emma yang aku punya di dunia ini." Marshel masih mempertahankan Emma di sisinya.
"Emma tidak pantas menjadi anak kamu. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya, apalagi mendapatkan uang dari ayahnya sendiri. Emma bekerja keras menghidupi dirinya sendiri, sedangkan kamu hanya bisa mabuk-mabukan di rumah. Kamu juga suka memukuli Emma jika sedang dalam keadaan mabuk atau marah. Apa itu yang disebut sebagai ayah? Apa kamu mau aku jebloskan ke penjara saja?" Ethan sudah sangat geram mengetahui fakta pahit tentang gadis yang disukainya.
"Jangan … jangan jebloskan aku ke penjara. Aku akan menandatangani ini dan berikan aku uang 1M. Aku akan membuat Emma pergi dari rumah ini dan kamu bisa mengambilnya." Marshel segera mengambil pulpen yang berada di tangan Raka dan menandatangani surat perjanjian itu.
"Jangan sampai Emma tahu tentang semua ini. Kalau sampai dia tahu, kamu akan tahu akibatnya." Ethan mengancam Marshel dengan tegas dan menamparnya sekali lagi. "Jalankan rencana ini malam ini juga. Aku akan menunggu Emma di depan jalan."
Anda Mungkin Juga Suka





