
Jebakan Utang Mafia
Bab 2
Udara di dalam Delizia malam itu terasa tebal dan berat, seolah setiap helaan napas Evelyn harus membayar iuran. Lampu neon di dapur berkedip-kedip, menerangi genangan minyak yang ia lap dengan gerakan mekanis. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Toko sudah tutup. Luigi, si juru masak, sudah pulang sejak dua jam lalu. Hanya Evelyn yang tersisa, bersama bayangan Riccardo yang menari-nari di sudut ruangan.
Dia memegang lap kotor itu erat-erat, buku jarinya memutih. Tangan Riccardo. Sentuhan itu masih terasa, cengkeraman baja di dagunya, mata gelap itu yang berjanji akan menghancurkan Nikolai Volkov. Ancaman itu bukanlah gertakan. Riccardo Valentini tidak pernah menggertak. Jika dia berjanji memusnahkan seseorang, dia akan menepatinya dengan presisi yang mengerikan.
Evelyn tahu dia hanya punya tiga bulan, maksimal. Utang itu? Persetan dengan sisa utang. Jika ia bisa lunas dalam satu tahun, itu berarti tersisa sekitar tiga ratus ribu euro lagi. Jumlah yang fantastis, tapi tidak sebanding dengan nyawanya atau, yang lebih penting, nyawa Nikolai. Riccardo sudah mengambil keputusan. Pertemuan siang tadi bukan hanya untuk memamerkan kekuasaannya, tapi untuk mempercepat jadwal. Dia sudah bosan menunggu.
Tiga bulan. Cukup waktu untuk mengumpulkan uang tunai yang tersembunyi, mencari dokumen palsu di pasar gelap Palermo, dan mengatur rute pelarian.
Rute pelarian pertamanya, empat tahun lalu, adalah sebuah kecelakaan yang dipicu oleh keputusasaan murni. Rute kali ini haruslah sebuah mahakarya perencanaan, sebuah manuver yang harus dieksekusi dengan kesempurnaan seorang maestro.
Dia berjalan perlahan menuju kamar kecil di belakang, tempat loker karyawannya berada. Di balik papan kayu lapis yang longgar di bagian belakang lokernya, ia menyimpan kotak timah kecil. Di dalamnya, ada paspor aslinya-yang sudah hangus dan tak bisa dipakai-beberapa keping euro emas tua yang ia tukarkan dari upahnya bertahun-tahun lalu, dan yang paling penting, sebuah kartu nama kusam.
Kartu nama itu bukan dari toko pizza, bukan dari bank, apalagi dari La Sanguina. Itu milik seorang kontak lama dari masa lalu yang ia harap masih bisa dipercaya untuk membuat identitas baru. Evelyn meraba huruf-huruf yang timbul di kartu itu. Ini risiko besar. Percaya pada pihak ketiga berarti memberikan nyawanya pada orang asing. Tapi ia tidak bisa melakukan ini sendirian.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada luka tipis yang memudar di pergelangan tangannya. Luka lama, bekas sayatan kaca, yang terjadi empat tahun lalu. Kenangan itu, seperti pisau tajam, langsung menariknya dari kegelapan Delizia kembali ke salju tebal dan dingin di Timur.
Empat Tahun di Bawah Salju
Itu adalah malam yang penuh badai salju. Evelyn berlari, hanya berbekal jaket tipis dan sepotong roti keras yang ia curi dari dapur Il Drago. Dia baru berumur dua puluh satu tahun, dan setelah tujuh tahun melayani keluarga Valentini sejak kematian kakek tirinya, dia akhirnya mencapai titik puncak. Keputusan Riccardo untuk memindahkannya dari toko di pinggir kota ke vila pribadinya sebagai 'asisten rumah tangga' adalah tanda yang jelas. Riccardo sudah menunggu cukup lama.
Dia melarikan diri, tanpa tujuan. Hanya berlari ke Utara, ke mana pun yang jauh dari Italia. Dia berhasil menumpang truk barang melintasi perbatasan ke Slovenia, lalu ke Hungaria. Dia bertahan hidup dari sisa uang recehnya, bekerja ilegal di dapur kotor dan pabrik tekstil.
Pelariannya berakhir di Beograd. Terluka, kelaparan, dan kedinginan, dia pingsan di lorong belakang sebuah diskotek yang remang-remang.
Ketika ia bangun, ia berada di ruangan yang hangat, dengan selimut tebal dan aroma antiseptik yang menusuk. Di sampingnya, duduk seorang pria dengan mata biru es dan struktur tulang wajah yang keras, seolah diukir dari granit Rusia.
Pria itu adalah Nikolai Volkov.
Saat itu, ia hanya dikenalkan sebagai Ivan, seorang pengusaha Rusia yang mengurus bisnis impor-ekspor. Baru belakangan Evelyn tahu bahwa 'bisnis' itu adalah cabang dari kartel Vory v Zakone Rusia. Nikolai Volkov, Capo dari cabang Balkan.
"Kau terlalu jauh dari Palma, devushka," kata Nikolai, suaranya dalam dan bergetar seperti cello. Dia berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih, dengan aksen Rusia yang kuat.
Evelyn saat itu terlalu lemah untuk takut. "Aku tahu siapa kau. Aku tahu siapa kau. Biarkan aku pergi. Aku tidak mau berada di bawah Mafia mana pun lagi."
Nikolai hanya menatapnya. Tatapannya berbeda dari Riccardo. Mata Riccardo menuntut, haus. Mata Nikolai... tampak letih, tapi memancarkan semacam kesedihan yang membuatnya tampak seperti beruang yang terluka.
"Aku tidak tertarik pada utang atau perang kekuasaan konyol pria Italia," jawab Nikolai. "Kau terluka. Aku melihat kau pingsan di luar. Tempatku memberi perlindungan. Selama kau tidak membawa masalah ke pintuku, kau bebas. Makanlah. Kau terlihat seperti hantu."
Dan begitulah, Evelyn tinggal. Awalnya, dia hanya pekerja rumah tangga, membantu di kediaman Nikolai yang mewah tapi terpencil. Dia tahu dia adalah pelarian, tapi entah kenapa, dia merasa lebih aman di sana daripada di Italia. Nikolai memberinya tempat berlindung, makanan, dan yang paling berharga: anonimitas.
Nikolai adalah kebalikan dari Riccardo. Riccardo suka tontonan, kekuasaan yang terbuka. Nikolai adalah bayangan, tenang, cerdas, dan mematikan dalam kesunyian. Dia tidak pernah menyentuh Evelyn. Dia tidak pernah menuntut apa pun. Dia menghormati ruang pribadinya, mungkin karena dia tahu betapa rapuhnya Evelyn dari kehidupan lamanya.
Namun, perlahan, dinding di antara mereka runtuh.
Evelyn menemukan bahwa Nikolai suka membaca puisi Rusia kuno di malam hari, dan bahwa di balik penampilan kerasnya, ia punya kepekaan artistik yang mengejutkan. Ia mendapati Evelyn suka melukis-hobi yang sudah lama ia tinggalkan-dan ia memberinya studio kecil di lantai atas.
Suatu malam, Evelyn sedang melukis, mencoba menuangkan trauma pelariannya ke kanvas, saat Nikolai masuk tanpa mengetuk. Dia berdiri di ambang pintu, melihat kanvas abstrak yang kacau itu.
"Itu kemarahan," kata Nikolai pelan.
"Bukan hanya kemarahan. Itu rasa takut," jawab Evelyn, tanpa berbalik.
Nikolai mendekat. Dia tidak menyentuh kanvas, hanya berdiri di belakang Evelyn. "Di sini, kau tidak perlu takut. Aku tahu apa itu Riccardo Valentini. Dia adalah serigala yang berteriak. Aku adalah beruang yang tidur. Beruang tidur, jika dibangunkan, akan menghancurkan hutan. Dia tidak akan mencari kau di sini."
"Dia akan mencari utangnya. Dia tidak akan melepaskanku."
"Utang? Dia tidak peduli pada uang. Dia peduli pada apa yang tidak bisa ia beli. Dia tidak bisa membeli kau. Dia tidak bisa membeli kebebasan. Dia tidak bisa membeli rasa hormat. Dan kau, kau adalah simbol semua itu." Nikolai meletakkan tangannya di bahu Evelyn. Itu sentuhan pertama. Berat, meyakinkan, bukan posesif. "Kau bebas, Evelyn. Kau hanya perlu memilih untuk menjadi bebas. Aku akan melindungi pilihan itu."
Malam itu, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perlindungan dimulai. Cinta yang tumbuh di bawah ancaman perang, di tengah salju dan keheningan. Nikolai bukan pria yang romantis, tetapi tindakannya sangat tulus. Dia tidak pernah menjanjikan masa depan yang normal, karena ia tahu kehidupan mereka tidak akan pernah normal. Dia hanya menjanjikan perlindungan, kesetiaan, dan cintanya.
Selama empat tahun, Evelyn hidup dalam perlindungan emas. Dia dan Nikolai tidak pernah menikah, tapi dia adalah wanitanya, dihormati oleh anak buahnya, dijaga di dalam benteng Vory v Zakone. Ia hampir melupakan bau pizza dan minyak zaitun. Ia mulai terbiasa dengan aroma vodka dingin dan asap tembakau Rusia.
Ia hampir percaya bahwa Riccardo Valentini adalah masa lalu.
Keyakinan itu hancur pada ulang tahunnya yang ke dua puluh lima. Mereka berada di Montenegro, di sebuah properti tepi laut milik Nikolai. Malam itu seharusnya menjadi perayaan kecil.
Nikolai memberinya kalung, sebuah liontin batu ametis ungu tua.
"Ini untuk keberanianmu, Lyubimaya," bisik Nikolai, menempelkan dahinya ke dahi Evelyn. Kekasihku.
Tiba-tiba, kaca jendela pecah. Suara tembakan otomatis membelah keheningan.
"Sialan!" teriak Nikolai, mendorong Evelyn ke bawah meja kayu berat.
"Riccardo!" jerit Evelyn, mengenal gaya serangan itu: cepat, bersih, dan mematikan.
Anak buah Nikolai langsung membalas tembakan. Pertempuran sengit meletus di rumah tepi laut yang tenang itu. Ini bukan hanya pembunuhan, ini adalah invasi. La Sanguina tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang untuk mengambil kembali.
Nikolai, dengan wajah sekeras batu, menarik Evelyn ke koridor belakang. "Ikuti aku! Ke bunker!"
Saat mereka berlari, tiga pria bertopeng berbadan besar muncul di ujung koridor. Mereka adalah tim khusus dari Riccardo. Mereka tidak menembak. Mereka bergerak untuk mencegat.
"Lari, Evelyn!" teriak Nikolai. Dia menarik pistol dari balik jasnya dan menembak dua pria itu. Pria ketiga berhasil mendekat. Nikolai terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal, tubuhnya yang besar beradu dengan kekuatan musuh.
Evelyn melihatnya. Nikolai berjuang keras, darahnya mulai membasahi kemejanya. Dia tahu, orang-orang ini dikirim bukan untuk membunuh Nikolai, tapi untuk mengambilnya.
Saat perhatian Nikolai terpecah karena serangan dua orang anak buah Riccardo lainnya, pria pertama yang ditembak, yang hanya terluka, berhasil menahan lengan Nikolai dari belakang.
Dan saat itulah Evelyn ditangkap.
Cengkeraman di lengannya terasa menyakitkan, dan dia diseret ke luar. Dia menoleh ke belakang, melihat pemandangan yang akan menghantuinya selamanya: Nikolai, berlumuran darah, matanya yang biru es memancarkan keputusasaan murni, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lawannya, sambil berteriak dengan suara serak,
"Net! Jangan ambil dia! Evelyn!"
Nikolai tidak berteriak namanya dalam bahasa Italia, atau bahasa Inggris. Dia berteriak dalam bahasa Rusia. Itu adalah teriakan yang jujur, tidak terfilter, teriakan cinta yang kalah.
Itu adalah momen terakhir Evelyn melihat Nikolai Volkov sebagai pelindungnya.
Dia diseret ke mobil hitam yang menunggu, dan dalam beberapa jam, dia kembali ke Italia. Kembali ke tangan Riccardo Valentini.
Riccardo menyambutnya dengan tawa dingin. "Kau pikir kau bisa lari, tesoro? Kau menghabiskan empat tahun di tempat sampah itu. Sekarang kau kembali, tempat kau seharusnya berada. Dan karena petualanganmu, kau akan membayar utangmu lagi di tempat asalnya. Tapi kali ini, aku akan mengawasi kau dengan lebih dekat."
Dia tidak menyentuhnya malam itu. Dia hanya memenjarakannya lagi dalam siklus kerja di Delizia, memperpanjang masa pengabdiannya, menempatkannya tepat di jantung kerajaan kegelapannya, sambil sesekali mengirim utusan atau memanggilnya ke vila-seperti yang ia lakukan siang tadi.
Evelyn tersentak kembali ke kenyataan. Lokernya. Delizia. Bau adonan pizza.
Ia menarik napas dalam-dalam, menekan luka lama di pergelangan tangannya. Luka itu adalah pengingat akan kebebasan yang hilang dan cinta yang terpaksa ditinggalkan.
Satu hal yang tidak pernah Riccardo ketahui, adalah kalung itu. Liontin ametis dari Nikolai. Evelyn tidak pernah memakainya. Dia menyembunyikannya di dalam sepatu bot kulit lamanya, barang yang ia tinggalkan di vila Riccardo sebelum dibawa kembali ke Delizia. Dia berhasil menyelundupkannya kembali ke tokonya.
Dia membuka kotak timah kecil di loker lagi. Bukan untuk paspor atau uang emas. Tapi untuk liontin itu.
Ametis. Batu keberanian.
Nikolai harus tahu. Dia harus tahu bahwa Riccardo tidak hanya akan mengejar utang atau Evelyn. Dia akan mengejar perang total.
Riccardo pasti sudah tahu Evelyn akan mencoba menghubunginya. Saluran telepon akan disadap, surat akan disaring, bahkan pesan yang diselipkan di balik remah-remah pizza akan diperiksa.
Evelyn melihat ke sekeliling ruangan dapur yang kosong. Ada satu cara. Satu cara gila yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang dari dunia Nikolai.
Di setiap pengiriman barang impor yang datang ke Delizia-botol minyak zaitun mahal, rempah-rempah langka, anggur khusus-selalu ada satu barang, satu kode. Evelyn ingat percakapannya dengan Nikolai saat ia pertama kali belajar tentang bisnis Mafia Rusia.
"Jika kau butuh aku, dan kau tahu Riccardo mengawasi, Lyubimaya. Kirimkan aku Sinyal Kosong. Barang yang dikirim ke tempatmu harus berisi sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Sesuatu yang gila, yang hanya akan menarik perhatianku. Sesuatu yang akan membuat orang Italia itu tertawa. Atau membuat ia berpikir itu adalah kesalahan konyol."
Sinyal Kosong. Sebuah paket yang tampaknya legal, tetapi isinya sangat aneh sehingga hanya Nikolai yang akan menganggapnya sebagai pesan darurat.
Evelyn melihat daftar pengiriman yang dijadwalkan besok pagi. Ada satu pengiriman penting: Kopi Arabika dari Kolombia-yang sebenarnya berisi kokain kualitas tinggi. Pengiriman ini akan datang ke Delizia untuk transit sebentar sebelum dijemput oleh orang La Sanguina di pelabuhan.
Ide gila muncul di benaknya. Evelyn tahu di mana Dante dan anak buahnya menyimpan kokain itu sementara menunggu penjemputan. Di dalam karung kopi yang disegel.
Jika ia menyelipkan sesuatu yang sangat aneh ke dalam salah satu karung itu-sesuatu yang akan dilihat oleh Nikolai, tapi akan diabaikan sebagai sampah oleh Riccardo.
Apa? Bunga? Terlalu romantis. Sebuah tulisan? Terlalu mudah dilacak.
Evelyn teringat akan sesuatu yang konyol yang ia pelajari dari Nikolai: dia benci boneka beruang. Dia fobia terhadap boneka beruang. Evelyn dan Nikolai sering bercanda tentang hal itu.
Tiba-tiba, ia teringat hadiah kecil yang diberikan Luigi padanya-boneka beruang kecil berwarna merah, kunci gantungan kunci murahan dari pasar malam yang ia ikat di tasnya.
Evelyn segera mengambilnya. Boneka beruang kecil, murah, konyol.
Dia harus mengambil risiko. Besok, saat Dante dan Rocco sibuk di ruang belakang, dia akan menyelipkan boneka beruang merah ini ke dalam salah satu karung kopi Kolombia.
Kokain itu akan dikirim ke gudang pusat. Dari sana, beberapa akan diekspor ke Balkan-ke jaringan distribusi Nikolai. Boneka beruang itu, barang yang tidak mungkin ada di dalam karung kopi Kolombia, akan menarik perhatian Nikolai segera setelah ia melihat laporan inventaris. Riccardo akan melihat daftar pengiriman, melihat 'kopi Kolombia', dan tidak akan menaruh curiga. Dante akan melihat 'gantungan kunci konyol' dan berpikir Evelyn ceroboh.
Tapi Nikolai akan tahu. Boneka Beruang Merah. Sinyal Kosong. Aku dalam bahaya. Tolong jangan datang. Ini jebakan.
Itulah pesan yang akan ia kirim. Dia tidak meminta Nikolai datang. Dia memohonnya untuk menjauh. Karena jika Nikolai datang lagi, seperti empat tahun lalu, kali ini Riccardo akan memastikan itu adalah kunjungan terakhirnya.
Evelyn Rossi, si pelayan toko pizza, menghapus air matanya. Dia melihat boneka beruang kecil itu, lalu liontin ametis di tangannya.
"Maafkan aku, Nikolai," bisiknya. "Aku harus lari. Dan aku harus memastikan kau tetap hidup."
Keputusan sudah dibuat. Rencana pelarian dimulai besok, dan langkah pertamanya adalah mengirimkan pesan yang mematikan kepada pria yang sangat ia cintai, memintanya untuk menjauh agar ia tetap aman dari cengkeraman pria yang sudah ia benci seumur hidupnya.
Dia mengunci kotak timah itu kembali. Tubuhnya terasa ringan, tetapi pikirannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan. Dia akan menjadi Evelyn yang tidak patuh lagi. Evelyn yang melarikan diri. Dan kali ini, ia akan berhasil, bahkan jika harus mengorbankan segalanya.
Dia mematikan lampu neon yang berkedip-kedip, meninggalkan Delizia dalam kegelapan. Malam itu, ia tidak tidur. Ia menghitung, merencanakan, dan menunggu fajar, menunggu kedatangan karung kopi Kolombia dan boneka beruang merah kecil.
Anda Mungkin Juga Suka





