Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jay and her Odd Daddy

Jay and her Odd Daddy

Jayashri alias Chai terjepit di antara himpitan ekonomi dan prinsip ibunya untuk tidak menjual harga diri. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria asing menyelamatkannya dan menawarkan posisi sugar baby. Meski awalnya menolak keras, takdir mempertemukan mereka kembali. Sang pria menawarkan kontrak kerja sama tanpa pelecehan yang saling menguntungkan. Kini Chai bimbang, haruskah ia berpegang pada prinsip atau menyerah pada realita?
Bab
Bagikan

Bab 2

Chai menyesap air mineral gelas di tangannya dengan nikmat. Matahari masih terasa cukup terik pada jam 3 sore seperti ini, membuatnya dilanda dehidrasi. Ingin rasanya menenggak minuman isotonik rasa kelapa atau rasa buah lainnya, seperti yang lazim dilakukan orang-orang dalam iklan di TV. Atau memesan segelas es dawet, es teh, atau boba. Atau paling tidak, menenggak air mineral botol ukuran 600 ml agar rasa hausnya benar-benar terobati.

Sayangnya kantong Chai kempes, kosong melompong seperti biasa. Ia hanya punya air mineral gelas 200ml di tangannya. Air mineral gelas ini saja ia dapat dari ruang tunggu poli rumah sakit. Chai hanya mengambil 2, malu mengambil barang gratisan banyak-banyak. Dan Chai masih merasa bahwa ia beruntung, jika tidak ada air mineral gelas itu, Chai sudah berniat untuk meminum air keran saja saking haus dan kerenya.

Bapaknya sudah ia minta untuk pulang sejak tadi, ditemani oleh adik laki-lakinya yang kebetulan lewat di depan RS setelah jam sekolah usai. Chai tidak tega melihat sang bapak kelelahan menunggu resep di apotek, belum lagi pasien rawat jalan yang ikut menunggu resep membludak. Chai sudah menunggu resep sejak pukul 1 siang dan baru mendapatkan obat pada pukul setengah 3 lewat. Chai yang sehat saja lelah, apalagi bapaknya yang belum sembuh betul.

Chai masih setia bengong menatapi lalu-lalang kendaraan, berteduh di bawah sebatang pohon besar yang sangat rindang di tepi jalan. Tak terasa sudah hampir 20 menit ia berteduh di sini, berdiri seperti orang bodoh. Tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang sedari tadi lalu-lalang melewatinya. Tatapan Chai berkelana ke mana-mana, mulai dari pelataran parkir rumah sakit yang penuh dengan kendaraan—selain juga penuh dengan kenangan ketika ia membawa sang ayah untuk dirawat di tempat ini.

Kemudian beralih ke toserba alias minimarket di sebelah rumah sakit tersebut yang selalu menimbulkan rasa sedih di hati Chai karena ia kerap kali kepingin melihat makanan yang dijual di sana namun ia tidak dapat membelinya. Paling banter ia hanya dapat membeli roti kemasan harga seribu rupiah, itu juga kadang-kadang Chai lebih memilih untuk mengurungkan niatnya dikarenakan mengingat adik-adiknya belum tentu bisa menikmati roti seperti ini.

Berlanjut ke trotoar lurus yang di tepinya dinaungi oleh pohon-pohon besar penghasil oksigen, peneduh kota serta penambah nilai estetika. Chai tidak punya tujuan khusus dengan kegiatannya ini, hanya ingin melepas lelah dengan caranya sendiri.

Hingga akhirnya kedua netra coklat gelap milik Chai tertambat pada sebuah kafe di seberang jalan dekat perempatan, sekitar 50 meter jaraknya dari posisi Chai saat ini. Kafe itu terlihat agak lengang. Di pelataran parkirnya hanya ada satu mobil SUV berwarna silver, serta 3 motor yang berjejer rapi.

Chai tahu kafe itu, kafe yang sering didatangi oleh anak-anak remaja menengah ke atas di kota. Kafe itu juga sering disambangi oleh orang-orang dewasa untuk sekadar ngopi dan mengobrol dengan sesamanya. Desain kafe itu artistik, elegan, dengan tampilan depannya berupa kaca jendela tinggi yang memungkinkan pelanggan kafe untuk menatap lalu-lalang pejalan kaki maupun suasana di luar kafe. Pun dengan orang-orang yang lewat juga dapat melihat suasana di dalam kafe yang cozy dan estetik.

Chai juga pernah masuk ke kafe itu. Kenangan ketika dia memasuki kafe itu untuk pertama kali dalam hidupnyalah, yang kini membuat ia lama termangu lama menatap bangunan kafe tersebut. Tulisan Serein Cafe dalam kaligrafi yang indah berwarna hitam dengan tepian putih. Simpel namun elegan. Tepian berwarna putih itu sesungguhnya adalah dekorasi lampu yang akan menyala ketika malam tiba. Tulisan Serein Cafe yang pada siang hari berwarna hitam, akan berubah menjadi putih di malam hari.

Bagaimana Chai bisa tahu?

Bagaimana tidak? Karena ia pernah mendatangi kafe tersebut di malam hari. Bersama seseorang yang hingga saat ini memenuhi pikirannya, seseorang yang entah bagaimana caranya, Chai harap bisa ia temui kembali. Ya, bertemu dengan pria asing malam itu. Chai, entah kenapa merasa yakin bahwa ia dapat menemukan petunjuk mengenai sang dermawan misterius dari pria itu.

Chai masih setia termangu, tatapannya seperti sedang melamun, namun terus menatap tanpa lelah ke arah pintu kafe. Tepatnya pada jendela kaca tinggi yang membuatnya dapat melihat wajah pelanggan kafe di dalam sana. Ada dua orang gadis remaja yang tengah bercengkerama di meja tengah, tak jauh dari counter tempat mengambil pesanan.

Kemudian sepasang kekasih yang memilih untuk duduk di sudut, terlihat saling tersenyum satu sama lain. Auranya penuh bunga-bunga. Lalu, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak SD yang memilih tempat di sisi dekat dinding tembok. Sepertinya sengaja menghindari dinding kaca depan kafe agar quality time mereka lebih terasa dekat dan tidak terdistraksi oleh lalu-lalang pejalan kaki dan kendaraan yang melintas.

Persis di belakang jendela kaca itu, ditaruh furnitur berupa kursi-kursi dengan punggung pendek, serta sebuah meja panjang yang menghadap ke jendela. Pengaturan yang dimaksudkan agar pelanggan yang ingin duduk di sana dapat menikmati pemandangan dengan lebih leluasa. Biasanya tempat itu diisi oleh beberapa orang, namun sore ini hanya ada satu orang yang mengisi tempat itu.

Seorang pria yang mengenakan kemeja hitam dan celana bahan berwarna senada tengah duduk di sana. Bertopang dagu, pose yang jika dilakukan oleh orang biasa akan terlihat sangat buruk jika bukan terlihat seperti sedang merenungi hidup yang terlalu banyak masalah. Anehnya, pose itu justru membuat pria itu terlihat semakin elegan.

Rambutnya tersisir rapi dalam potongan gaya pompadour, rapi dan klimis. Helai-helai pendek tersebut di highlight cokelat muda, dengan warna dasar rambut cokelat tua. Sangat modis. Sosok pria itu semakin terlihat berkilauan akibat ditimpa cahaya matahari pukul 3 sore. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata para wanita yang kebetulan lewat di depan kafe dan tak sengaja melirik padanya.

Chai ingat, dulu ia duduk persis di tempat di mana pria itu kini tengah duduk. Sembari pikirannya berkelana ke masa ketika ia pertama kali memasuki kafe tersebut, mata Chai tidak lepas-lepasnya memandangi sosok pria klimis tersebut.

Hanya untuk menyadari bahwa pria itu juga tengah menatap dirinya—entah sejak kapan. Hanya untuk menyadari pada detik selanjutnya bahwa pria itu bukanlah hasil de ja vu kosongnya semata. Pria itu ... bukankah pria itu adalah pria yang sama dengan yang tengah ia cari selama ini?

Chai terperanjat, terbatuk-batuk, tersedak oleh air mineral gelasnya sendiri. Apa? Ia tidak sedang bermimpi, bukan? Gadis berambut sebahu itu mengucek matanya dua kali demi memastikan penglihatannya. Sampai ia merasakan perih di mata bekas kucekan yang terlalu keras, barulah Chai yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Doanya sedang dikabulkan oleh Tuhan! Dan kesempatan ini akan berlalu begitu saja jika Chai tidak cepat-cepat memanfaatkan momen! Maka dengan pikiran seperti itu, Chai buru-buru melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan.

TIIIN!!

Hampir saja gadis itu terserempet oleh sebuah sepeda motor yang sedang melaju kencang dari arah kanannya. Untungnya bunyi klakson dari sang pemotor yang lumayan kencang itu cukup untuk membuat refleks tubuh Chai membawanya mundur, hingga terhindar dari celaka.

Chai menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang menggila setelah hampir diserempet motor. Gadis itu sekalian menjernihkan kepalanya untuk berpikir rasional dan mementingkan keselamatan diri, alih-alih terburu-buru mengejar sang pria yang ternyata masih setia di tempatnya.

Tanpa Chai sadari, pria yang sejak tadi ia amati ikut berjengit kaget melihat peristiwa yang dialami Chai barusan. Namun Chai tidak akan pernah mengetahui hal itu, karena ketika Chai melirik kembali padanya, pria tersebut cepat mengendalikan ekspresi wajahnya ke semula : tenang, kalem, santai.

Berhasil menghindar dari bahaya, Chai merasa dirinya seperti seekor kucing yang baru saja kehilangan satu nyawa. ‘Tenang, aku masih punya 8 nyawa yang tersisa,’ batin Chai mencoba bercanda dengan dirinya sendiri. Sebuah usaha kecil untuk menenangkan diri dan tremor yang melanda akibat kejadian barusan. Mata gadis itu masih setia melirik, lantas menghela napas panjang. Bersyukur bahwa sosok itu masih setia berada di sana. Bahkan kini pria itu terang-terangan tengah menatap ke arahnya, mengikuti setiap gerak langkahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bucinnya Cowok Temprament
9.2
Bastian Theo Raymond dan Liliana Mahendra terpisah selama lima tahun akibat kecelakaan yang memicu amnesia. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Theo jatuh hati pada Lili yang kini menjadi dokter. Demi meminang Lili, Theo rela menyerahkan sepuluh miliar kepada ayah Lili. Meski temperamen, Theo berubah menjadi sangat bucin. Di sisi lain, Lili mulai merangkai kepingan ingatan masa lalunya melalui sentuhan Theo guna mempertahankan pernikahan rumit mereka.
Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel I’m Always Be Yours
8.8
Freya Angelicia, supermodel menawan berusia 23 tahun, terjebak cinta tak terbalas pada kakak angkatnya, Max Xavierano Miller. Meski dikagumi dunia, Freya justru menghadapi kebencian dari pria yang ia puja. Max, miliarder sukses yang trauma akibat dikhianati tunangannya, mendapati hidupnya penuh kejutan saat bertemu kembali dengan Freya. Namun, tepat ketika Max mulai menyadari perasaannya, muncul saingan berat yang siap merebut hati Freya darinya.
Sampul Novel Istri Keempat
9.2
Airin dikenal sebagai putri penurut yang tak pernah membantah titah orang tuanya. Namun, kepatuhannya diuji saat ia dipaksa menikahi Saka Januar Pradipta, pengusaha kaya yang telah memiliki tiga istri. Menjadi istri keempat bukanlah akhir bagi Airin. Di balik wajah polosnya, tersimpan sisi manipulatif dan licik yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Meski mampu mengelabui dunia, Airin tak berkutik di hadapan Saka yang sanggup melihat jati diri aslinya.
Sampul Novel Istri Kontrak CEO Galak!
9.8
Leora Adhisti, putri ceria Prayoga Alexander, harus menghadapi kenyataan pahit saat bisnis keluarganya di New York hancur total. Demi membiayai operasi sang ayah, gadis berusia 20 tahun yang ceroboh ini terpaksa mengambil langkah ekstrem. Ia terjebak dalam kesepakatan pernikahan kontrak dengan Adnan Nicholas, miliarder tampan yang dikenal angkuh dan dingin. Mampukah Leora bertahan menghadapi sikap kejam Adnan yang dijuluki Mr. Devil di tengah kemelut hidupnya?
Sampul Novel Keluarga Sewaan
8.0
Prima Jayashree, CEO muda Jayashree Company, menghadapi tekanan besar untuk segera menikah demi kelangsungan takhta perusahaan. Dalam keputusasaan, ia berlibur ke Tokyo dan menemukan jasa sewa keluarga. Prima memutuskan menyewa seorang istri serta anak untuk menemaninya. Namun, saat masa sewa berakhir, muncul ide nekat untuk membawa mereka ke Indonesia. Mampukah Prima mengubah sandiwara ini menjadi kenyataan tanpa terbongkar oleh sang ayah?