
Jay and her Odd Daddy
Bab 3
“Kamu orangnya kan? Benar, kan?”
Tanpa tedeng aling-aling, Chai yang sudah melupakan rasa minder atas penampilannya itu tahu-tahu sudah masuk ke dalam kafe, bahkan menudingkan telunjuk tidak sopan pada pria itu.
Pria itu tidak kehilangan ketenangannya. Ia bahkan mengangkat tangan sembari melemparkan senyum pada pramusaji yang datang karena cemas dengan situasi canggung penuh drama yang diciptakan Chai. Pramusaji itu membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum berlalu pergi.
Chai sendiri sebenarnya tidak begitu yakin dengan pemikirannya sendiri. Ia hanya mengikuti instingnya setelah mengenali wajah pria ini dari kejauhan. Bagaimanapun juga, Chai tidak punya petunjuk sama sekali mengenai sosok dermawan yang telah membiayai tunggakan rumah sakit bapaknya. Hanya pria di hadapannya inilah, satu-satunya petunjuk yang ia punya untuk mencari tahu mengenai sang dermawan misterius.
Lalu apa hubungannya sang dermawan misterius itu dengan pria klimis beraura kaya di depannya ini? Selain sebagai benang penghubung misteri? Begini, saat ini, Chai sedang mengikuti insting detektifnya. Bagaimanapun juga, kejadian lunasnya tunggakan rumah sakit sang bapak terjadi tepat setelah Chai mencurahkan beban pikirannya pada orang di hadapannya ini. Bukankah ini mencurigakan? Terlalu indah sekaligus tidak masuk akal untuk disebut sebagai kebetulan semata?
Sejujurnya, Chai juga punya firasat, bisa saja pria di hadapannya ini adalah sosok sejati sang dermawan misterius yang selama ini Chai cari-cari.
Pria itu tersenyum teduh, tak terpengaruh sama sekali baik oleh tudingan telunjuk Chai yang tidak sopan, maupun oleh tatapan seluruh pengunjung kafe. Dengan tenang, pria itu menggerakkan tangannya dan menggenggam jari telunjuk Chai, beralih pada seluruh kepalan tangan Chai dalam cengkeraman lembutnya, lalu menurunkannya ke sisi tubuh sebelah kanan Chai.
Perlakuan yang sanggup membuat Chai dilanda rasa malu tak terkira. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan Chai untuk bersikap tidak sopan, hanya saja dia sering kelepasan menuding orang jika sedang dilanda kaget. Itu murni refleks, bukan hasil didikan buruk dari orang tuanya.
"Pertama-tama, duduklah terlebih dahulu. Saya akan menjawab apa pun pertanyaan yang hendak kamu ajukan setelahnya."
Aneh. Nada lembut itu seperti memiliki sihir, menghipnotis siapa pun untuk menurutinya. Siapa pun, tidak terkecuali Chai yang awalnya datang dengan begitu berapi-api, sekarang berubah kalem seperti kucing yang mengamuk karena menolak dimandikan lalu diberi mainan bebek karet. Diam, tenang, terkendali.
Pria itu lantas memanggil pramusaji lain, lalu membisikkan sesuatu padanya. Pramusaji wanita cepat tanggap dan mengangguk mengerti, lantas undur diri menyiapkan pesanan.
Tak ada lagi tatapan aneh yang terlontar dari sekeliling mereka. Semua pengunjung kafe kembali pada kesibukan masing-masing seperti sebelum Chai datang menginvasi. Chai duduk dengan canggung, sangat berbeda sekali dengan malam beberapa minggu yang lalu ketika ia juga duduk di tempat yang sama, namun dengan emosi yang berbeda. Chai mengutuk dirinya sendiri, menggulung ujung kaos belelnya dengan telunjuk, canggung. Dia pasti sudah gila, menerobos begitu saja tanpa memikirkan konsekuensi sesudahnya.
Chai malu.
"Silakan diminum dulu,"
Suara pria di sebelahnya membuyarkan lamunan Chai. Gadis berambut sepunggung itu melirik kepada gelas tinggi berbahan kaca yang berembun di hadapannya. Milkshake cokelat dingin. Sangat sesuai dengan cuaca yang masih terik, walaupun di dalam kafe terasa sejuk oleh AC. Chai ingat, malam itu pria ini memberikannya segelas cokelat hangat.
Chai menyesap minuman di hadapannya dalam gerakan pelan. Menikmati rasa dingin yang menjalar dari dalam mulut, lidah, turun ke kerongkongan dan berakhir di dalam lambung. Chai diam-diam merasa bahagia. Akhirnya ia dapat menetralkan rasa haus yang menyerang sejak tadi siang.
"Jadi? Ada sesuatu yang bisa saya bantu?"
Chai menaruh kembali gelas milkshake-nya agak ke depan, lalu memutar kursinya agar menghadap ke arah sang pria asing berpenampilan eksekutif serta beraura kaya ini.
"Jika Anda masih ingat, beberapa minggu yang lalu kita pernah bertemu di rumah sakit di seberang jalan sana," Chai menunjuk rumah sakit yang dimaksud dengan jari, yang diikuti oleh sang pria dengan gerakan bola matanya.
Pria itu mengembalikan fokusnya pada Chai, namun masih enggan menjawab. Hanya senyuman misterius yang masih setia bertengger di bibir penuhnya. Posturnya ketika duduk begitu santai, terbuka dengan sebelah lengan di atas meja dan tangan lainnya di dalam saku celana. Chai sempat salah fokus sesaat, sebelum mengalihkan tatapannya ke arah lain, pada cairan hitam dari kopi milik sang pria yang kini hanya mengisi setengah bagian cangkir.
"Lalu?" tanya pria itu setelah lama menunggu kelanjutan pertanyaan Chai. Chai mengangkat kepalanya sedikit apa maksud dari pertanyaan pria ini? Apakah dia sedang mengakui bahwa dia memanglah orang yang sama?
"Apakah Anda mengingatku?" Chai bertanya kembali, memastikan.
Pria itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Senyumannya semakin lebar tertarik hingga Chai merinding. Ia takut jika ujung bibir pria itu akan sobek, atau jangan-jangan malah akan mencapai telinganya. Cepat-cepat Chai mengembalikan fokusnya yang sempat ambyar oleh imajinasi tak penting.
"Ya. Saya ingat," sahut pria di hadapan Chai dengan nada mantap.
Chai sempat bingung harus bereaksi seperti apa. Awalnya Chai berpikir bahwa pria ini akan mati-matian menampik dengan seribu alasan. Yah, bukan tanpa alasan Chai bisa berpikiran seperti itu. Bayangkan saja jika kau adalah sang pria, kau didatangi tiba-tiba oleh seorang gadis random berpakaian belel yang menudingmu di keramaian kafe. Siapa yang tidak akan kesal? Bahkan Chai pribadi pun akan bersikap pura-pura tidak kenal jika ia menjadi sang pria.
"Lalu? Apa Anda hanya ingin memastikan hal itu?" tanya pria itu membuyarkan lamunan Chai.
"Ah, oh. Ya. Bukan," Chai mengutuki kegugupannya. Ia suka gagap dan hilang fokus jika dikagetkan tiba-tiba seperti barusan. Apalagi jika pikirannya sedang berkelana terhadap hal lain.
Pria itu menatapnya dengan sorot menanti, penuh kesabaran, bahkan jika Chai teliti gadis itu akan mendapati sorot geli-geli gemas di sana. Tatapan yang sering kali akan kau dapati ketika seseorang menatap kucing kesayangannya sedang bertingkah lucu.
Sayang sekali, Chai tidak menangkap hal itu. Gadis berambut sebahu itu sedang berusaha keras menenangkan diri, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh rasa rendah diri yang kerap kali menghampirinya setiap kali ia berhadapan dengan jenis manusia seperti pria di hadapannya. Yap, jenis manusia-manusia kaya.
"Jadi begini. Bapakku sudah boleh pulang," kalimat macam apa ini Chai?
"Selamat, kalau begitu," sahut pria itu hangat. Hangat, namun tidak terkesan sok dekat, apalagi terkesan palsu. Hanya saja tetap terasa seperti sedang menjaga jarak.
"Terima kasih. Tapi bukan itu yang ingin kuucapkan. Baiklah. Jadi, ketika aku hendak mengurus administrasi bapak sebelum pulang, staf kasir rumah sakit itu berkata bahwa tunggakan biaya rumah sakit Bapak sudah lunas. Bahkan biaya untuk kontrol rutin selanjutnya juga sudah dijamin. Ketika aku bertanya siapa yang membayar semua itu, mereka tidak mau memberitahuku."
"Benarkah? Kenapa begitu?"
"Entahlah. Mereka hanya berkeras bahwa sang dermawan tidak mau identitasnya disebutkan," kedua bola mata cokelat milik Chai tak henti-hentinya menatap wajah pria di hadapannya. Memerhatikan setiap jengkal perubahan ekspresi yang mungkin dapat ia tangkap. Nihil. Pria itu masih tetap sama kalemnya dengan sebelumnya. Namun Chai juga bukanlah sosok yang bisa menyerah dengan begitu gampangnya. Firasatnya sedang kuat-kuatnya sekarang.
"Lalu?"
"Dermawan itu adalah Anda, bukan?" Chai tak mau berbasa-basi lagi, langsung melontarkan pertanyaan yang memang sudah gatal ingin ia tanyakan sejak tadi. Pria itu kembali tersenyum lucu, kali ini kedua lengannya disilangkan di depan dada. Benar-benar postur sempurna yang takkan pernah gagal membuat wanita mana pun kehilangan fokus mereka. Lagaknya, auranya, benar-benar seperti seorang model profesional.
Atau penggoda profesional?
Jantung Chai kebat-kebit, cepat-cepat gadis berambut sepunggung itu menundukkan pandang. 'Astaghfirullah ughtea, jagalah pandanganmu!' begitu kata ustaz di corong toa masjid kampungnya, terngiang-ngiang di telinga Chai.
"Benar. Itu saya."
Chai sukses melongo. Pria di depannya tersenyum tampan, membuat suhu di dalam kafe yang sudah sejuk menjadi naik dengan tiba-tiba. Sepertinya senyuman pria ini mengandung kalor, meski Chai tidak tahu entah dari mana kalor tersebut tercipta.
“A ... oke. Maksudku, terima kasih?” Chai gagap, gugup. Belum merencanakan skenario cadangan atas reaksi-reaksi yang ditunjukkan pria ini sejak awal mereka berinteraksi.
“Boleh aku minta kontak Anda?”
Alis pria itu naik sebelah.
Anda Mungkin Juga Suka





