Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku

Jauhkan kain putih itu Dariku

Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Bab
Bagikan

Bab 3

Alana masuk menuju kamar, dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Dengan sedikit sarapan untuk mengganjal perutnya, Alana melajukan kendaraannya menuju kampus. Sampai di kampus, Alana segera memarkiran motornya di parkir kendaraan.

Alana masuk menuju loket administrasi, kemudian menyerahkan berkas permohonan pengajuan judul kepada petugas administrasi. “Pak Danang, kira-kira berkas pengajuan judul ini berapa hari ya selesainya?” tanya Alana yang sedang berdiri di depan loket jurusannya.

“Paling cepat tiga hari Alana, tiga hari lagi, kamu coba saja cek di loket jurusan. Kalau berkas kamu sudah selesai, sudah pasti ada di depan situ, sama berkas pengajuan judul mahasiswa yang lain,” ucap Pak Danang, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan berkas di depan loket jurusan.

“Paling telat semingguan, itupun karena ada kegiatan atau rapat di kampus,” ucapnya menambahkan.

“Baik Pak, tiga hari lagi saya cek berkasnya di sini,” ucap Alana dia pergi menjauh dari loket jurusan. “Mari Pak, terimakasih,” ucapnya kepada petugas.

Selesai menyerahkan berkas pengajuan judul, Alana langsung pulang. Ketika sampai rumah, ternyata rumah Alana sepi, dia mencari ibunya ke belakang, tapi dia tidak menemukannya. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya, kemudian menghubungi ibunya. “Assalamu’alaikum, Bu lagi di mana?” ucap Alana.

“Ibu sedang di rumah Bu Rasmi, komplek sebelah, kemarin anaknya meninggal,” ucap ibu dari seberang telepon.

“Innalillahi wa inna ilaihiroj’un ya sudah Bu, Alana segera menyusul ibu ke sana. Assalamu’alaikum,” ucap Alana lalu mematikan panggilan telepon.

Alana bergegas menuju rumah Bu Rasmi. Sesampai di halaman rumah Bu Rasmi, banyak warga yang sudah berada di sana. Alana berjalan di tengah banyaknya pelayat, aroma melati dan kapur barus mulai menyeruak.

“Alana, kamu kapan datang?” tanya Ibu Alana, menepuk pundaknya anaknya dari belakang.

“Alana baru saja datang Bu, jenazah anaknya Bu Rasmi di mana Bu, apakah sudah dikafani?” ucap Alana berbisik kepada ibunya, di tengah keramaian para pelayat.

“Belum, keluarga masih menunggu beberapa keluarga dekat yang belum melihat jenazah almarhum. Kabarnya kakaknya yang ditunggu itu kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah,” ucap ibu Alana menarik tangan anaknya menuju ruangan jenazah.

Sebuah ruangan sudah bergema baca’an tahlil, di tengah-tengah keramaian itu berbaring jenazah anaknya Bu Rasmi, yang ditutup dengan kain jarik di kepalanya.

“Assalamu’alaikum, permisi Bu,” ucap Alana berjalan kecil sambil membungkukkan tubuhnya di tengah keramaian warga yang sedang duduk membaca tahlil.

Alana berjalan menuju jenazah, dibukanya kain jarik yang menutupi wajah jenazah. Tiba-tiba saja, kepala Alana terasa sakit, seperti tertusuk jarum, dia memegang kepalanya, pandangannya berkunang-kunang, mendadak wajahnya pucat pasi, seakan semua energi Alana terserap habis oleh kain jarik yang disentuhnya. Alana terlihat akan terjatuh pingsan dari posisi duduk, keduanya bola matanya berputar, ibunya yang duduk di sampingnya dengan sigap memegang tubuh anaknya,

“Astagfirullah, Alana kamu kenapa?” ucap ibunya sambil memegang tubuh anaknya.

Wajah ibunya memerah, dia terlihat sangat panik. Warga yang berada di ruang tahlilan membopong Alana ke ruangan yang lebih leluasa, agar Alana bisa mendapat udara, karena di dalam sangat sesak dengan warga yang sedang tahlilan.

Alana dibaringkan di dipan rumah Bu Rasmi. Tubuhnya sangat pucat dan dingin, ibunya meminta minyak kayu putih kepada Bu Rasmi, kemudian digosoknya kaki anaknya dibantu ibu-ibu yang melayat. Ibunya mengoleskan minyak kayu putih di hidung Alana, berharap anaknya akan segera sadar. Terlihat Alana menggerakan jari-jarinya, perlahan mata Alana mulai terbuka.

“Alhamdullillah, Alana akhirnya kamu sadar Nak, kamu kenapa Alana?” tanya ibunya sambil mengusap pucuk kepala anaknya.

“Entahlah Bu, mungkin Alana lagi masuk angin aja,” ucap Alana, sambil berusaha bangkit dari posisi tidurnya. “Alana mau pulang Bu, Alana mau istirahat di rumah secepatnya,” ucap Alana sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.

“Ya iya, ayo pulang bareng sama ibu, kamu tunggu sebentar di sini, ibu mau pamit dulu sama Bu Rasmi dan mengambil baskom ibu,” ucap ibunya sambil berjalan menuju Bu Rasmi yang sedang duduk di samping jenazah anaknya.

“Permisi Bu Rasmi, berhubung Alana sudah siuman, saya mau langsung balik dulu Bu, biar Alana istirahat di rumah aja,” ucap ibu Alana di depan Ibu Rasmi yang sedang berduka karena kematian anaknya.

“Baik Bu Rana, semoga Alana lekas membaik, terimakasih atas kunjungannya Bu,” ucap Bu Rasmi bersamalaman dengan ibu.

Kemudian ibu berjalan menuju ibu-ibu yang menerima beras melayat. “Bu, tolong baskom saya,” ucap ibu Alana.

“Ini Bu, baskomnya.” Seraya menyodorkan baskom Ibu Alana. “Terimakasih Bu, hati-hati,” ucap mereka pada Ibu Alana.

Ibu Alana berjalan menuju ruangan Alana berada, dan memapah Alana dari posisi duduknya.

“Tidak apa-apa Bu, Alana masih sanggup jalan kok Bu. Ayok Bu cepat, Alana mau pulang,” ucap Alana menarik lengan ibunya, menuju pintu rumah Bu Rasmi.

Kembali ditatapnya jenazah yang ditutup kain jarik. Seketika itu tubuh Alana terasa lemas, tak ingin berlama-lama, Alana langsung berjalan menjauh dari pusat keramaian menuju rumahnya. Alana segera membuka pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya.

“Bu, kain sarung warna putih di belakang pintu kamar Alana di mana Bu?” tanya Alana dari dalam kamar.

“Sudah ibu cuci Nak, sedang ibu jemur di luar,” ucap Ibu Alana dari luar kamar.

Mendengar jawaban ibunya, Alana mengangguk. “Oowh iya sudah,” ucap Alana dia berjalan menuju tempat tidur, dan membaringkan badannya. Tidak beberapa menit kemudian Alana sudah tertidur lelap.

Ketika terbangun Alana teringat dengan kejadian yang dialaminya di rumah Bu Rasmi. “Mengapa setiap ada kain putih di sekitar aku, energi aku terasa terserap habis, apa kaitannya kain warna putih sama diri aku?” ucap Alana dengan banyak pertanyaan di otaknya.

Alana berjalan menuju dapur, ibunya terlihat sedang memasak untuk makan malam. “Sudah salat asar Nak,” ucap ibunya.

“Belum Bu, Alana baru saja bangun,” jawabnya.

“Ya sudah lebih baik, kamu salat asar sekarang, nanti waktu asar keburu habis,” ucap ibunya sambil menggoreng lauk untuk makan malam.

”Ya, Bu,” jawab Alana yang sedang duduk di kursi makan, sambil memegang satu gelas air putih di tangannya.

Alana berjalan gontai menuju mushalla, mengambil air wudhu dan gegas menunaikan salat asar. Pandangannya tertuju menuju mukena berwarna putih yang tergantung di gantungan mukena, pikirannya masih tidak karuan, firasatnya sangat kuat bahwa penyebab kondisinya yang seperti itu, karena berada di antara kain jarik berwarna putih yang menutupi wajah jenazah, ucapnya dalam hati.

Alana membuka mukenanya kemudian berjalan menuju kamarnya. Beberapa jam lamanya berada di dalam kamar, Alana berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dari luar matahari terlihat mulai tergelincir, burung-burung kembali ke sarangnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arimbi
8.7
Hanna terpaksa menikahi Sultan setelah sebuah insiden di perkemahan desa memaksa mereka bersatu. Meski awalnya terlihat lembut, sifat Sultan berubah drastis setelah membawa Hanna ke kota. Hanna kini terkurung dalam rumah, terjebak aturan ketat tanpa diperlakukan layaknya istri sah. Sultan ternyata terobsesi menjadikannya pengganti Arimbi, cinta pertamanya yang menderita gangguan jiwa. Di bawah bayang-bayang masa lalu itu, masa depan Hanna hancur dalam tekanan mental yang berat.
Sampul Novel Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh
9.7
Aurelia adalah putri tunggal konglomerat yang hidup dalam kemewahan hingga sebuah kecelakaan maut mengubah segalanya. Setelah menabrak tiga pemotor hingga tewas, gadis berusia lima belas tahun ini memilih kabur demi menghindari tanggung jawab. Namun, pelarian itu justru mengundang petaka supranatural. Kini, Aurel diburu oleh tiga roh penuh dendam yang menuntut balas. Mampukah ia lepas dari teror mengerikan ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kutukan?
Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Mas Yusuf, kecurigaan mulai menghantui benakku. Suamiku itu menyimpan rahasia besar di balik sebuah pintu kamar yang selalu terkunci rapat. Keganjilan semakin terasa saat aku memergokinya mengendap-endap setiap malam, membawa baki makanan serta minuman ke dalam ruangan misterius tersebut. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Yusuf dariku? Misteri di balik bilik terlarang itu kini mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Escaping The Madhouse
9.7
Alana, seorang gadis yang dijual oleh ibu tiri dan pacarnya ke sebuah pasar gelap yang menjual wanita-wanita muda untuk dijadikan budak seks. Beruntungnya, sebelum naik ke tempat pelelangan, Lana kabur dengan mengelabui para penjaga meskipun pada akhirnya dia tetap ketahuan. Mereka mulai mengejar Lana yang berlari dengan pakaian yang sangat terbuka dan juga bertelanjang kaki. Dia berlari dan menemukan sebuah rumah yang sangat mewah, kemudian menaiki pagarnya untuk menghindari kejaran orang-orang itu. Sayangnya, Lana tidak tahu rumah seperti apa yang dia masuki. Sekali dia masuk kedalam, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu. "Apakah ini adalah malam keberuntunganku? aku mendapatkan wanita tanpa membuang uangku. Diaz, Charlotte, bawa dia ke kamarku dan persiapkan semuanya." "Bantu aku untuk membalas dendam, sebagai bayarannya kau bisa menggunakan tubuhku sesukamu." "Lana, aku akan membantumu pergi dari tempat ini dan lepas dari cengkraman Jeffrey. Kamu tidak pantas diperlakukan sebagai alat pemuas oleh Jeffrey, malam iuni kau harus pergi setelah aku memberi tanda padamu. Jangan khawatirkan aku."
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel "KALA" Buah Cinta Terlarang
8.8
Kayli dituduh meracuni mertuanya sendiri hingga membuat rumah tangganya bersama Gala hancur berantakan. Di tengah upaya membersihkan namanya, Kayli justru menemukan sisi gelap yang tersembunyi dalam dirinya. Berbagai kejanggalan muncul, membuatnya curiga bahwa ia terlibat dalam tragedi itu tanpa sadar. Apakah Kayli memiliki kepribadian ganda atau ada entitas lain di tubuhnya? Misteri kian pelik saat Zael, sahabat lamanya, memanggilnya dengan nama Kala.