
Jauhkan kain putih itu Dariku
Bab 3
Alana masuk menuju kamar, dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Dengan sedikit sarapan untuk mengganjal perutnya, Alana melajukan kendaraannya menuju kampus. Sampai di kampus, Alana segera memarkiran motornya di parkir kendaraan.
Alana masuk menuju loket administrasi, kemudian menyerahkan berkas permohonan pengajuan judul kepada petugas administrasi. “Pak Danang, kira-kira berkas pengajuan judul ini berapa hari ya selesainya?” tanya Alana yang sedang berdiri di depan loket jurusannya.
“Paling cepat tiga hari Alana, tiga hari lagi, kamu coba saja cek di loket jurusan. Kalau berkas kamu sudah selesai, sudah pasti ada di depan situ, sama berkas pengajuan judul mahasiswa yang lain,” ucap Pak Danang, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan berkas di depan loket jurusan.
“Paling telat semingguan, itupun karena ada kegiatan atau rapat di kampus,” ucapnya menambahkan.
“Baik Pak, tiga hari lagi saya cek berkasnya di sini,” ucap Alana dia pergi menjauh dari loket jurusan. “Mari Pak, terimakasih,” ucapnya kepada petugas.
Selesai menyerahkan berkas pengajuan judul, Alana langsung pulang. Ketika sampai rumah, ternyata rumah Alana sepi, dia mencari ibunya ke belakang, tapi dia tidak menemukannya. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya, kemudian menghubungi ibunya. “Assalamu’alaikum, Bu lagi di mana?” ucap Alana.
“Ibu sedang di rumah Bu Rasmi, komplek sebelah, kemarin anaknya meninggal,” ucap ibu dari seberang telepon.
“Innalillahi wa inna ilaihiroj’un ya sudah Bu, Alana segera menyusul ibu ke sana. Assalamu’alaikum,” ucap Alana lalu mematikan panggilan telepon.
Alana bergegas menuju rumah Bu Rasmi. Sesampai di halaman rumah Bu Rasmi, banyak warga yang sudah berada di sana. Alana berjalan di tengah banyaknya pelayat, aroma melati dan kapur barus mulai menyeruak.
“Alana, kamu kapan datang?” tanya Ibu Alana, menepuk pundaknya anaknya dari belakang.
“Alana baru saja datang Bu, jenazah anaknya Bu Rasmi di mana Bu, apakah sudah dikafani?” ucap Alana berbisik kepada ibunya, di tengah keramaian para pelayat.
“Belum, keluarga masih menunggu beberapa keluarga dekat yang belum melihat jenazah almarhum. Kabarnya kakaknya yang ditunggu itu kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah,” ucap ibu Alana menarik tangan anaknya menuju ruangan jenazah.
Sebuah ruangan sudah bergema baca’an tahlil, di tengah-tengah keramaian itu berbaring jenazah anaknya Bu Rasmi, yang ditutup dengan kain jarik di kepalanya.
“Assalamu’alaikum, permisi Bu,” ucap Alana berjalan kecil sambil membungkukkan tubuhnya di tengah keramaian warga yang sedang duduk membaca tahlil.
Alana berjalan menuju jenazah, dibukanya kain jarik yang menutupi wajah jenazah. Tiba-tiba saja, kepala Alana terasa sakit, seperti tertusuk jarum, dia memegang kepalanya, pandangannya berkunang-kunang, mendadak wajahnya pucat pasi, seakan semua energi Alana terserap habis oleh kain jarik yang disentuhnya. Alana terlihat akan terjatuh pingsan dari posisi duduk, keduanya bola matanya berputar, ibunya yang duduk di sampingnya dengan sigap memegang tubuh anaknya,
“Astagfirullah, Alana kamu kenapa?” ucap ibunya sambil memegang tubuh anaknya.
Wajah ibunya memerah, dia terlihat sangat panik. Warga yang berada di ruang tahlilan membopong Alana ke ruangan yang lebih leluasa, agar Alana bisa mendapat udara, karena di dalam sangat sesak dengan warga yang sedang tahlilan.
Alana dibaringkan di dipan rumah Bu Rasmi. Tubuhnya sangat pucat dan dingin, ibunya meminta minyak kayu putih kepada Bu Rasmi, kemudian digosoknya kaki anaknya dibantu ibu-ibu yang melayat. Ibunya mengoleskan minyak kayu putih di hidung Alana, berharap anaknya akan segera sadar. Terlihat Alana menggerakan jari-jarinya, perlahan mata Alana mulai terbuka.
“Alhamdullillah, Alana akhirnya kamu sadar Nak, kamu kenapa Alana?” tanya ibunya sambil mengusap pucuk kepala anaknya.
“Entahlah Bu, mungkin Alana lagi masuk angin aja,” ucap Alana, sambil berusaha bangkit dari posisi tidurnya. “Alana mau pulang Bu, Alana mau istirahat di rumah secepatnya,” ucap Alana sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
“Ya iya, ayo pulang bareng sama ibu, kamu tunggu sebentar di sini, ibu mau pamit dulu sama Bu Rasmi dan mengambil baskom ibu,” ucap ibunya sambil berjalan menuju Bu Rasmi yang sedang duduk di samping jenazah anaknya.
“Permisi Bu Rasmi, berhubung Alana sudah siuman, saya mau langsung balik dulu Bu, biar Alana istirahat di rumah aja,” ucap ibu Alana di depan Ibu Rasmi yang sedang berduka karena kematian anaknya.
“Baik Bu Rana, semoga Alana lekas membaik, terimakasih atas kunjungannya Bu,” ucap Bu Rasmi bersamalaman dengan ibu.
Kemudian ibu berjalan menuju ibu-ibu yang menerima beras melayat. “Bu, tolong baskom saya,” ucap ibu Alana.
“Ini Bu, baskomnya.” Seraya menyodorkan baskom Ibu Alana. “Terimakasih Bu, hati-hati,” ucap mereka pada Ibu Alana.
Ibu Alana berjalan menuju ruangan Alana berada, dan memapah Alana dari posisi duduknya.
“Tidak apa-apa Bu, Alana masih sanggup jalan kok Bu. Ayok Bu cepat, Alana mau pulang,” ucap Alana menarik lengan ibunya, menuju pintu rumah Bu Rasmi.
Kembali ditatapnya jenazah yang ditutup kain jarik. Seketika itu tubuh Alana terasa lemas, tak ingin berlama-lama, Alana langsung berjalan menjauh dari pusat keramaian menuju rumahnya. Alana segera membuka pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
“Bu, kain sarung warna putih di belakang pintu kamar Alana di mana Bu?” tanya Alana dari dalam kamar.
“Sudah ibu cuci Nak, sedang ibu jemur di luar,” ucap Ibu Alana dari luar kamar.
Mendengar jawaban ibunya, Alana mengangguk. “Oowh iya sudah,” ucap Alana dia berjalan menuju tempat tidur, dan membaringkan badannya. Tidak beberapa menit kemudian Alana sudah tertidur lelap.
Ketika terbangun Alana teringat dengan kejadian yang dialaminya di rumah Bu Rasmi. “Mengapa setiap ada kain putih di sekitar aku, energi aku terasa terserap habis, apa kaitannya kain warna putih sama diri aku?” ucap Alana dengan banyak pertanyaan di otaknya.
Alana berjalan menuju dapur, ibunya terlihat sedang memasak untuk makan malam. “Sudah salat asar Nak,” ucap ibunya.
“Belum Bu, Alana baru saja bangun,” jawabnya.
“Ya sudah lebih baik, kamu salat asar sekarang, nanti waktu asar keburu habis,” ucap ibunya sambil menggoreng lauk untuk makan malam.
”Ya, Bu,” jawab Alana yang sedang duduk di kursi makan, sambil memegang satu gelas air putih di tangannya.
Alana berjalan gontai menuju mushalla, mengambil air wudhu dan gegas menunaikan salat asar. Pandangannya tertuju menuju mukena berwarna putih yang tergantung di gantungan mukena, pikirannya masih tidak karuan, firasatnya sangat kuat bahwa penyebab kondisinya yang seperti itu, karena berada di antara kain jarik berwarna putih yang menutupi wajah jenazah, ucapnya dalam hati.
Alana membuka mukenanya kemudian berjalan menuju kamarnya. Beberapa jam lamanya berada di dalam kamar, Alana berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dari luar matahari terlihat mulai tergelincir, burung-burung kembali ke sarangnya.
Anda Mungkin Juga Suka





