
Jatuh Dalam Pesonamu (Enigma: Teka-teki)
Bab 2
Ardan mengosongkan kembali sisa proyektil dari senjatanya, lalu melepaskan pelindung telinga yang biasa disebut earmuff untuk meredam suara bising dari letusan senjatanya, juga kacamata dengan lensa jingga dari tactical ballistic sunglass yang baru saja melindungi matanya selama satu jam ini. Biasanya suasana hatinya akan segera membaik setelah ia memusatkan konsentrasinya pada sasaran tembak. Namun, anehnya emosinya tak kunjung mereda karena setiap kali ia menarik napas semua file dan foto yang sudah diperiksanya satu jam lalu kembali membayangi pelupuk matanya.
“Argh, sial!” teriak Ardan, segera berlalu dari ruangan menembak pribadi di mansion megahnya. Dengan langkah lebar ia masuk kembali ke ruangan kerjanya dan menyambar satu foto dari atas meja kerjanya. Meja kerja Ardan tak pernah seberantakan ini, ia sengaja tak merapikan meja kayu eboni hitamnya yang menampakkan kesan kuat, misterius, dan dingin. Ciri khas seorang Ardan Rasendriya Aryasatya ahli waris utama dari keluarga Aryasatya. Meja lebar itu dipenuhi lembaran file dan foto seorang gadis yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh detektif profesional sekaligus orang kepercayaannya, juga beberapa lembar foto yang diambil untuk keperluan dokumentasi secara legal. Sebuah notifikasi pesan tiba-tiba masuk ke dalam ponsel Ardan. Kedua matanya membola saat membaca surel yang dikirimkan Hwanhee, tertulis di sana jika gadis yang dia cari sedang dirawat di Unit Gawat Darurat East Medical Centre London setelah ditemukan dalam keadaan pingsan karena dehidrasi akut dan diperkirakan akan siuman dalam beberapa jam ke depan.
“Luke! Kabari Edmund, kita ke London sekarang,” titahnya sambil mengantongi ponsel canggih dan dompet khususnya ke dalam saku jaket kulit warna hitam favoritnya.
Luke muncul dengan sigap dari ruang keamanan sekaligus pusat kontrol dan bergegas menahan pintu mobil Tesla model 3 berwarna midnight silver metallic yang biasa Ardan gunakan sehari-hari tetap terbuka sampai tuan mudanya masuk. Ia sudah memakai sabuk pengamannya setelah duduk di balik kemudi saat Ardan berkata, “Pastikan Nona Levanchois diantar ke Magnífico saat kita mendarat.”
Secepat itu pula Luke mengantarkan tuan mudanya menuju tempat calon istrinya berada. Sepanjang perjalanan dari Seattle ke London, Ardan memikirkan jalan terbaik untuk menyelesaikan semua kekacauan tak terduga sebelum anggota keluarga Aryasatya atau Levanchois mengetahui kebenarannya. Jujur saja dia mulai tertarik dengan nona muda satu ini, tapi gadis itu sepertinya sama rumitnya dengan dirinya. Menantang dan membuat adrenalinnya selalu terlecut!
✧✧✧
Jet pribadi berlambang Aryasatya Entreprises Holdings mendarat jauh dari jalur kedatangan di bandara Heathrow. Sebuah sedan hybrid warna abu-abu metalik gelap sudah menunggu di dekat landasan pacu untuk segera membawa Ardan menuju griya tawang The Magnífico View yang masih berada satu area dengan Magnífico Boutique Hotel milik keluarga Valerian.
Ardan berjabatan tangan dengan kapten pilot yang selama ini selalu menemani perjalanan lintas negara ke mana pun dia harus pergi saat pekerjaannya memanggil, “Thanks, Edmund. Kau selalu bisa kuandalkan meskipun terkadang aku punya jadwal tak terduga seperti sekarang, penerbangan yang menyenangkan,” puji Ardan. Nada suara dan bahasa tubuh formal dari Ardan disambut baik oleh sang kapten senior.
“Sepertinya campur tangan Tuhan membuat cuaca menjadi cerah dan izin terbang kita menjadi mudah, Sir. Selalu menyenangkan bisa menemani perjalanan Anda, Mr. Aryasatya,” jawab Edmund diplomatis.
Langit senja Britania menyambut Ardan saat mobil edisi terbatas itu membelah jalanan kota London. Ia memejamkan mata untuk mengontrol emosinya, kepalanya sudah dipenuhi dengan rencana sempurna dan sangat matang, “Bagaimana persiapannya?” tanya Ardan pada asisten setianya yang duduk di kursi penumpang kabin depan.
“Sesuai dengan instruksi Anda, Mr. Aryasatya. Nona Levanchois sudah ada di Magnífico dan baru saja siuman sekarang. Sepertinya ada sesuatu yang perlu Anda periksa lebih dulu,” ucap Luke mengulurkan sebuah tablet tercanggih berukuran dua belas inci ke tangan Ardan.
Rahang Ardan mengeras seketika, ‘Gadis menarik yang tak pernah berhenti membuatku terkejut dan kagum. Kita lihat siapa yang akan menang banyak kali ini!’ tekat Ardan dalam hati. Ia segera menambahkan catatan sebagai instruksi pada tablet yang sama agar bisa segera dikerjakan Luke sebelum mobil beraroma kulit ini memasuki fasad mewah ciri khas Magnífico. Sebuah seringaian berbahaya menghiasi wajah tampan khas eurasia dengan iris berwarna cokelat muda yang kembali berkilat penuh ancaman.
Sementara itu seorang gadis yang mengenakan rok terusan di bawah lutut berwarna lilac berbahan sifon sutra tampak larut dengan pikirannya sendiri. Dia duduk termangu di ruang kerja sebuah griya tawang bernuansa mewah yang terlihat mutakhir. Kepalanya kembali pusing sebab tak berhenti memikirkan banyak kejadian tak terduga yang membutuhkan jalan keluar secepatnya dalam beberapa bulan terakhir ini, hingga membuatnya nekat mengambil keputusan yang menurutnya paling benar untuk dia lakukan. Pergi seorang diri ke sebuah negara asing hanya untuk melarikan diri bersama saudarinya. Sialnya tak ada satu pun yang berjalan lancar hingga sekarang ia sudah berada terlalu jauh dari rumah, mereka terpisah, dan kali ini dia benar-benar menghadapi seorang mogul yang misterius seorang diri.
Ia menyandarkan sikunya sambil mengelus tepi bibirnya dengan sisi jari telunjuk kanannya ketika ia menggigit bibir bawahnya. Pandangannya lurus, tapi kosong saat menatap tepi meja kayu kokoh yang tampak antik di depannya. Menunggu dengan perasaan campur aduk, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam beberapa jam ke depan. Meskipun begitu, mundur atau menyerah bukanlah pilihan lagi baginya. Ia sepertinya terlalu larut dengan pikirannya sendiri sampai tak mendengar pintu ruang kerja yang berada tak jauh di depannya sudah terbuka dan suara langkah kaki sepatu kulit berwarna hitam mendekatinya.
Ardan menatap tajam ke arah seorang gadis cantik yang sedang duduk di sofa tunggal berlapis kulit dengan kaki disilangkan ke sisi kiri tubuhnya, sepasang kaki jenjang itu mulai bergerak gelisah. Ardan melangkah pelan sambil terus mengamati bahasa tubuh gadis berambut brunette ikal dengan panjang hampir menyentuh sikunya, tatapan Ardan sangat mengancam seperti predator yang sedang mengunci target buruannya sebelum menyerang dalam sekali sergapan. Mata hazel abu-abu muda milik si gadis mengerjap beberapa kali saat akhirnya tersadar ada sosok lain yang duduk berseberangan dengannya sedang memancarkan aura tak biasa. Sepasang iris cantik itu perlahan mengintipnya melalui bulu mata lentik yang tebal menggoda. Tatapan keduanya saling mengunci membuat suasana menjadi hening, dingin, mencekam untuk beberapa saat.
“Punya gambaran kenapa mereka membawamu ke sini, Nona Levanchois? Atau aku harus mulai memanggilmu dengan nama Nona Lieben?” tanya Ardan dengan suara berat dan rendahnya.
Tubuh gadis itu sontak menegang, pupilnya membesar saat mendengar rahasianya sudah terbongkar secepat ini. Tidak, tidak! Ini tidak benar! Rahasia mereka, rencananya, jalan keluar paling sempurna, keamanan orang-orang yang sedang dilindunginya tiba-tiba semua hal itu menggantung di tepi jurang di bawah seutas tali yang tampak rentan dalam sekedip mata saja.
“A-aku tak mengerti ....” Ia tergagap lalu terdiam seketika saat menyadari jika mengelak sepertinya akan terdengar sangat konyol dan sudah jelas sia-sia. Gadis itu kembali menunduk, ia menegakkan duduknya dengan kedua tangan mencengkeram kedua lututnya, jantungnya memompa darah lebih cepat. Sial! Selama ini dia belum pernah berada di posisi seperti ini, belum pernah ada yang bisa mengintimidasinya sampai sebegini rupa. ‘Pikirkan sesuatu, Elle! Ayolah, kau selalu punya jalan keluar untuk segala hal,’ teriak sosok dirinya yang terlihat dewasa berusaha membantunya mencari jalan keluar. Elle kembali mengintip dari balik bulu mata lentiknya, tapi ia kembali menurunkan pandangannya saat melihat wajah tegas dengan aura berbahaya di depannya, ‘Sudah berakhir! Akhirnya kau bertemu dengan lawan yang tak bisa kau kalahkan kali ini. Aku sudah bilang untuk lari secepatnya, ‘kan?’ teriak batinnya lagi. Kali ini bukan sosok dewasa yang muncul, melainkan sosok dirinya ketika muda, naif, yang selalu bertingkah jahil dan enerjik sambil meniupkan permen karet dari mulutnya.
“Sepertinya kau cepat mempelajari situasi atau memang ini adalah dirimu yang sesungguhnya? Kau bahkan tak mencoba membuatku kesal seperti biasanya. So, ini artinya aku sedang berhadapan dengan Nona Lieben yang asli?” Ardan kembali membaca bahasa tubuh Elle, memerhatikan ekspresi mikro yang coba disembunyikan oleh gadis cerdas nan jelita ini, menarik! Merasa targetnya benar-benar tersudut membuat Ardan tak sabar untuk membuat gadis di depannya menyerah secara sukarela, “Luke!” panggilnya dengan satu nada tegas.
Asisten sekaligus pengawal Ardan berjalan mendekat untuk meletakkan sebuah map di depan Elle, lalu ia segera keluar, menutup pintu ruang kerja di belakangnya untuk berjaga kembali.
“Sebelum kau membuatku lelah karena terlalu banyak bicara. Kusarankan kau baca dengan teliti dokumen itu sebelum memutuskan akan menandatanginya atau ...?” Ardan sengaja menggantung kalimatnya.
Elle menelan salivanya susah payah, ia tahu kalimat Ardan bukanlah pertanyaan apalagi penawaran. Dia segera menuruti Ardan, ia mulai membaca dokumen di atas pangkuannya. Semakin teliti ia membaca, semakin berkeringat pula dirinya, ‘Sial! Perjanjian apa ini?!’ gadis batinnya mengetukkan sepatu bot stiletto merah sambil menggeleng tak suka.
Elle mencengkeram tepi map beludru berisi lembaran kertas lumayan tebal, ia menatap marah pada Ardan, “Jadi, kau ingin aku menandatangani kontrak perjanjian konyol ini? Apa aku bisa menyimpulkan jika ini adalah sebuah pemerasan, Mister Aryasatya?!” tukas Elle melupakan tata krama.
Ardan menaikkan satu alisnya, “Apa kau masih berpikir aku akan tetap menyebutkan nama gadis lain saat pernikahan kita? Di depan anggota keluarga Aryasatya dan Levanchois, juga seluruh dunia? Sementara kau adalah Aubrey Mirele Lieben, bukan Marseille Levanchois. Bukankah pernikahan itu akan dianggap tidak sah nantinya? Lagi pula saat keluarga Levanchois mengetahui tentang ini, apa kau pikir mereka akan tinggal diam? Tidakkah kau tahu apa yang terjadi pada Nona Levanchois sebelum ia dibawa kembali ke kediaman utama Levanchois untuk diakui sebagai bagian dari keluarga terpandang itu? Lihatlah, jika ini sebuah bisnis siapa pihak yang paling dirugikan karena permainan konyol kalian berdua?” ujar Ardan datar, tapi kalimatnya sangat tepat sasaran.
Bahu Elle merosot. Bukankah semua jejak sudah dihapus? Seharusnya mereka berdua bisa pergi sesuai rencana. Pria ini sangat berbahaya! Ah, sial! Pria yang dihadapi adiknya juga sama berbahayanya. Tidak bisakah Tuhan membantu mereka sekali saja agar bisa terlepas dari jeratan mematikan yang sedang mereka hadapi?
“Aku tak punya banyak waktu! Kau bisa memilih untuk menyetujuinya atau kau ingin aku memulai diskusiku dengan Mr. Samuel Levanchois untuk membatalkan semuanya? Semua terserah padamu, Nona Lieben. Aku tak ingin memaksamu untuk tinggal.”
‘Kenapa jadi terserah aku? Bukankah sudah jelas isi kontrak ini semuanya terserah keputusannya, bukan aku?!’ Kedua gadis batinnya saling menatap dengan lutut bergetar. Elle menghirup napas tajam, lalu segera mengambil pena di atas meja.
“Kau yakin tak mau membaca sisanya? Ingatlah jika aku tak memaksamu untuk menandatanginya, kau masih punya kesempatan untuk menjelaskan sendiri pada keluarga Levanchois dan mencoba bernegosiasi sendiri dengan mereka. Pikirkan dulu baik-baik, meskipun perjanjian ini memang vice versa. Karena ketika kau menandatangani kontrak denganku, itu artinya aku akan melanjutkan kontrak kerja sama dengan Mr. Levanchois sekaligus menjamin rahasia kalian tetap aman dengan caraku,” kata Ardan memberi sedikit gambaran.
‘Astaga, pria ini! Bagaimana bisa dia berbicara seolah akulah yang memegang kendali di sini, padahal dia tak memberiku kesempatan untuk menolak. Sudah jelas dia akan menguras habis energiku!’ Kali ini kedua gadis batinnya sudah bersembunyi agar tak merasakan aura intimidasi lebih jauh lagi.
Tanpa membuang waktu lagi untuk membaca sisa klausul dalam perjanjian di atas pangkuannya, Elle segera membuka halaman paling akhir untuk menandatangani satu garis putus-putus di atas nama lengkapnya, nama aslinya. Lalu membuka setiap halaman dari belakang untuk menambahkan paraf pada setiap halaman perjanjian berhalaman tebal karena seperti selayaknya sebuah perjanjian legal, semuanya dibuat rangkap dua untuk kedua belah pihak. Apa pun yang diinginkan pria ini bukanlah hal yang bisa ia tawar. Elle sangat paham dengan hal itu.
“Aku sudah melakukan semua sesuai keinginanmu, Mr. Aryasatya,” ucap Elle tanpa menatap Ardan. Nyalinya sudah ciut saat ia terus disudutkan, dan secara sadar ia menyerahkan diri.
“Ck! Bagaimana bisa kau seceroboh ini? Kau bahkan tak membaca apa saja berkas yang kau tanda tangani, Nona Lieben.”
“Apa pentingnya membaca sampai akhir? Bukankah sudah jelas kau membuatku tak punya pilihan lain selain menyerahkan diri? Entah itu secara suka rela atau dengan paksaan. Saat ini aku dalam posisi tak bisa mengajukan penawaran apa pun lagi padamu, ‘kan?” sarkas Elle dengan nada datar ciri khasnya.
Ardan mengangguk dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, “Penyerahan diri? Aku suka pilihan kalimatmu. Jadi, apa ini jawabanmu?” tanya Ardan dengan tatapan menyelidik.
Wajah Elle menjadi pias seketika, ‘Sebenarnya ke mana arah pembicaraan ini?!’ kedua gadis batinnya berteriak frustasi saat sadar mereka sudah kalah telak. Dia tetap mengangguk meskipun jutaan pertanyaan berseliweran di dalam kepalanya.
“Luke!” panggil Ardan. Dengan sekali komando ia memerintahkan semuanya segera disiapkan dalam waktu satu jam.
Elle belum bisa memahami segala luapan fakta yang baru saja terjadi, tak juga sanggup mencerna apa pun saat ia dengan penuh kesadaran mengizinkan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai penata gaya membantunya bersiap di dalam kamar tamu setelah ia menyetujui tawaran untuk mengganti bajunya, sebab Ardan bilang mereka akan bertemu seseorang yang penting jika Elle menyetujui kesepakatan di antara mereka. Sebuah gaun french lace berwarna putih yang memancarkan aura elegan sekaligus membuat siluet tubuhnya tampak memesona dan dewasa, serta tambahan make-up natural yang membuat wajahnya tampak jauh lebih segar, juga rambut yang disanggul dalam bentuk twisted bun updo dengan tambahan dua buah jepit rambut yang tampak manis nan elegan mampu membuatnya terpesona pada bayangannya sendiri saat menatap ke arah cermin. Setelahnya, seorang dokter wanita mengambil darahnya, menanyakan perihal periode menstruasinya, tentang riwayat kesehatannya, lalu menyuntikkan sesuatu. Tak berselang lama dia menjawab beberapa pertanyaan dari seorang pria paruh baya tentang kesiapannya memeluk keyakinan yang sama dengan Ardan, keluarga yang bisa menjadi wali bagi dirinya, dan kesediaannya untuk tetap menikah dengan Ardan tanpa paksaan. Hingga secepat kilat ia tiba-tiba sudah memeluk keyakinan yang sama seperti Ardan, dia memang tak memeluk keyakinan apa pun sebelumnya sebab di tempatnya berasal ini tak lagi menjadi hal yang diprioritaskan. Meskipun sebenarnya ia sangat penasaran dan ingin mempelajari semua keyakinan yang ada di dunia.
Tak berselang lama Ardan keluar dari ruang kerjanya bersama pria paruh baya yang tadi sempat berbincang dengannya. Ardan mengenakan setelan jas yang tampak serasi dengan gaun yang membalut tubuh indahnya. Lalu menjamunya untuk makan malam, hanya berdua dengan suasana yang cukup romantis menurutnya. Elle sempat berpikir apakah kesepakatan di antara mereka sangat istimewa, tapi di mana letak keistimewaannya? Hanya dengan memikirkan satu lagi pertanyaan yang membingungkan sanggup membuat kepalanya kembali pening seketika. Pada akhirnya dia memilih menikmati apa yang Ardan tawarkan selama itu tak menyakiti raga lelahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





