
Jatuh Dalam Pesonamu (Enigma: Teka-teki)
Bab 3
Jam tangan khusus milik Elle yang dia dapatkan dari salah satu sepupunya menampilkan sebuah sinyal rahasia. Wilayahnya berbeda, tetapi berada di satu negara yang sama seperti satu bulan lalu. Kali ini adalah kesempatan terakhirnya untuk melarikan diri agar bisa membawa kembali adiknya. Menurut informasi yang ia terima, adik tersayangnya yang malang masih berada di London maka dengan secepat kilat dia kembali ke kamarnya untuk mengaktifkan portal khusus miliknya, “Ini adalah kesempatan kami yang terakhir. Aku sudah mengumpulkan semua informasi yang kubutuhkan sampai bekas suntikan di tanganku membengkak dan memar. Tak apa, karena jalan kami untuk pulang sudah di depan mata,” gumam Elle, ia berulang kali menyugar rambut panjangnya karena gelisah dan karena itu pula ia jadi mulai berkeringat.
“Nona Lieben, apakah kau ada di dalam?” tanya seorang pelayan wanita di depan kamar Elle.
Ketukan dari luar kamarnya membuat jantung Elle berdetak semakin cepat, “Ayo, sedikit lagi. Tuhan, tolonglah,” bisik Elle merapalkan doa, berusaha tak menimbulkan suara yang bisa membuat curiga. Ia berulang kali mengibaskan tangannya yang bergetar saat harus memasukkan titik koordinat dengan cermat. Dia menggigiti bibir bawahnya, semakin gelisah saat menunggu tanda jika portal yang akan membawanya untuk mengubah hidupnya sekaligus menyelamatkan adiknya bisa segera digunakan. Tak boleh ada kesalahan apa pun kali ini, hanya tersisa satu kesempatan saja lalu mereka bisa pulang ke rumah paling aman dan nyaman di tengah keluarganya.
“Apa Nona Lieben sedang keluar mansion? Aku harus segera melaporkan ini pada pak Luke,” gumam pelayan wanita itu lalu bergegas pergi menuruni tangga setengah melingkar.
Saat mendapat laporan dari pelayan wanita yang ditugaskan Luke, Ardan memintanya segera menyiapkan mobil karena ia bermaksud memastikannya sendiri ke kamar Elle. Instingnya mengatakan ada yang mencurigakan di sini. Ardan membuka pintu kamar Elle, sunyi seperti tak ada tanda kehidupan sebelumnya. Ia bermaksud untuk menutup kembali pintu kamar Elle, tapi sepertinya pintu itu tersangkut sesuatu. Ada yang mengganjal dan menahan pintu yang masih setengah terbuka. Benar saja, gelang yang tak pernah terlepas dari tangan Elle semenjak pertama kali ia melihat foto gadis itu ternyata tersangkut di celah pintu. Dia mengambil gelang itu, lalu mengeluarkan ponsel keluaran terbarunya untuk menghubungi seseorang, “Apa sekarang sudah saatnya untuk kita beraksi?”
“Tentu saja, kemarilah secepatnya sebelum gadismu mencoba melarikan diri seperti gadis kami,” jawab sebuah suara di sisi lain sambungan telepon.
Ardan menyimpan kembali ponsel dalam saku celananya, memasukkan gelang milik Elle dalam dompet khusus di saku celana chinos hitamnya, lalu beranjak keluar dengan wajah yang tampak tak sabar untuk merasakan sensasi adrenalin yang mulai bekerja, “Luke!” panggil Ardan saat ia menuruni anak tangga dengan langkah cepat, “Kita ke L mansion sekarang. Bawa mobil secepat yang kau bisa!” titah Ardan setelah memasang sabuk pengaman tesla model 3 miliknya.
“Elle, Elle, Aubrey Mirele Leiben. Apa yang harus aku lakukan padamu, Kucing Manis? Kau terus saja menantangku untuk meminta sebuah hukuman rupanya? Baiklah, akan kupastikan kau mendapatkan hukuman yang teramat manis dan membuatmu tak akan pernah melupakannya.” Seringaian berbahaya tampak menghiasi wajah adonis dengan cambang tipis saat Ardan menatap jalanan kota Seattle yang tak pernah tertidur.
✧✧✧
Di mansion L.,
“Apa yang harus kupersiapkan?” tanya Ardan pada pria yang tampak seumuran dengannya.
“Siapkan saja kesabaranmu. Bukankah mereka berdua paling ahli memancing emosi kita?” jawab pria di depan Ardan.
“Apa kau tahu alasannya?”
“Oh, dia lari ke sana karena sinyal dari jam tangan yang tak pernah dia lepaskan.”
“Apa gadismu juga pergi ke sana? Bukankah mereka pergi untuk tujuan yang masih sama, melarikan diri?” ujar Ardan sambil berdecih kesal.
“Kaulah yang akan dia temui di sana, karena gadis kami masih ada di sini. Kami menangkapnya tepat waktu, lagi. Sepertinya sekarang sudah saatnya kita memberikan mereka sedikit hukuman sebelum mereka menjadi semakin nakal di luar sana. Jadi, kupikir kami akan membiarkan sinyal itu tetap menyala hanya untuk mengulur waktu sampai kita mempersiapkan semuanya dan kau tiba di sana untuk menangkapnya. Apa ada tempat khusus yang ingin kau tuju?”
“Wow, kau benar-benar akan mengirimnya langsung padaku? Aku tak perlu berburu hari ini?” tanya Ardan takjub.
“Tidakkah menurutmu kita sudah cukup sabar dengan memberikan mereka waktu untuk bermain-main? Well, Sepertinya aku juga membutuhkan gelang pelindung yang ada di dompetmu itu. Wah! Tak kusangka Sang Pencipta sebaik ini pada kita.”
Ardan terkejut, tapi seketika tersadar dengan siapa dia sedang berbicara sekarang. Ardan mengeluarkan gelang milik Elle dan mengulurkannya pada pria misterius di depannya, ‘Jadi, ini gelang pelindung?’ batin Ardan.
“Ya, gelang pelindung yang tadinya melindunginya, tapi sekarang akan kubuat gelang ini melindungimu juga.”
Pria misterius pemilik mansion L membawa gelang milik Elle lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak antik agar bisa menambahkan cairan beraneka warna yang tak Ardan pahami, “Apa kau tertarik untuk memilih kotakmu sendiri? Ada di etalase sebelah situ. Saranku pilihlah sesuai kata hatimu, Mr. Aryasatya.”
Ardan menuju tempat yang dimaksud, berdiri selama beberapa menit untuk mengamati kotak antik mana yang memikat mata dan hatinya. Sampai netra cokelat mudanya tertuju pada satu kotak yang tak biasa, ini seperti kotak miliknya saat ia kecil dulu. Hadiah istimewa dari kakek buyutnya yang didapat dengan ketulusan dan kesetiaan sebuah persahabatan. Begitulah cerita kakek buyutnya saat menyerahkan kotak yang terlihat indah kala itu, “Inilah kotak yang aku inginkan,” kata Ardan menunjuk kotak yang terletak di deretan tengah.
“Kalau begitu bawa kemari dan ambil gelang milik gadismu. Segera setelah kau membuka kotak yang ada di atas meja kerjaku, kau harus memasukkannya sendiri ke kotak yang ada di tanganmu, lalu di waktu yang tepat kau bisa memasangkannya lagi ke pergelangan tangan gadismu tanpa dia sadari. Hanya dari tanganmu dan langsung ke pergelangan tangannya, begitulah cara kerja pelindung ini. Aku percaya kau akan menemukan kesempatan dan cara yang tepat. Oh, pastinya istimewa juga,” jelas pemilik mansion L sambil berjalan ke arah pintu yang mengarah ke jajaran anak tangga berbahan kaca di dalam ruang kerjanya.
“Bukankah kau tadi mau mengirimku pergi ke tempat gadisku, bagaimana caranya aku bisa pergi ke sana? Aku bahkan belum memberitahumu tempat tujuanku,” protes Ardan yang merasa diacuhkan.
“Jangan lupa siapa aku. Kau tinggal memakai cincin yang sepasang dengan gelang gadismu di dalam kotak itu, lalu fokuskan pikiranmu ke tempat yang ingin kau tuju. Bagi orang awam kedua benda itu akan tampak biasa saja, tapi jelas tak begitu bagi orang yang tahu. Karena itu adalah hadiah pernikahan khusus dari kami, sebuah pelindung yang dibuat sepasang dan hanya ada satu sealam semesta. Selamat atas pernikahan kalian. Aku harus pergi karena gadis kami sudah bangun. Kusarankan untuk segera pergi juga karena gadismu pasti sedang kebingungan sendirian di sana. Oh satu hal lagi, mulai sekarang kau bisa memanggilku Yu Long seperti anggota kerabatku yang lain karena kita sudah menjadi saudara ipar, bukan begitu Kakak Ipar Ardan?”
Ardan terkekeh mendengar kalimat yang membuatnya semakin tak sabar untuk menemui gadisnya, “Baiklah, terima kasih untuk kado pernikahan istimewa ini Adik Ipar Yu Long dan sampaikan terima kasihku pada Adik Ipar Yu Wen. Oh, aku hampir lupa. Bisakah aku merepotkanmu sekali lagi? Tolong kirimkan Luke ke London karena aku pasti akan membutuhkan bantuannya di sana secepatnya. Sepertinya aku dan Kakak Iparmu akan langsung pergi berbulan madu,” pamit Ardan membuat tawa kedua pria penuh misteri ini membahana di ruang kerja mansion L.
Anda Mungkin Juga Suka





