
Jatuh Cinta Pada Luka
Bab 2
Senja menyelimuti desa dengan rona jingga yang lembut, menyapu lembah-lembah dan atap-atap jerami rumah penduduk yang sederhana. Udara segar menguar dari pepohonan, mengusir sisa-sisa dingin yang dibawa hujan tiga hari lalu. Namun di dalam pondok kecil di tepi sungai, suasana berbeda jauh.
Damian duduk terpaku di kursi kayu tua, menatap ke luar jendela yang berbingkai jerami. Pandangannya kosong, seolah terseret jauh ke masa lalu yang tak ingin ia kenang.
Alira masuk dengan dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu cangkir di depan Damian dan duduk di seberangnya. Wajahnya lembut, tapi mata coklatnya menampilkan rasa penasaran yang tersimpan rapat.
"Kamu diam saja hari ini," kata Alira pelan.
Damian menghela napas panjang, menatap cangkir teh di tangannya. "Aku sudah lama tidak... merasa tenang seperti ini."
Alira tersenyum tipis, tapi ada kehangatan dalam senyum itu. "Mungkin karena kamu sekarang jauh dari semua kekacauan di kota."
Damian tertawa getir. "Jauh? Mungkin. Tapi bayang-bayang masa lalu selalu mengikuti, entah seberapa jauh aku pergi."
Malam tiba dengan cepat, membawa dingin yang menusuk. Damian terbaring di atas tikar anyaman di pojok pondok, matanya terpejam, namun pikirannya bergejolak.
Pertempuran itu. Pengkhianatan itu. Suara tembakan, jeritan, darah yang memercik. Semua terulang dalam pikirannya dengan detail yang menyakitkan.
Ia ingat bagaimana kepercayaannya dikhianati oleh orang yang selama ini dianggap saudara. Bagaimana peluru itu membakar kulitnya dan menyeretnya ke dalam sungai yang deras. Bagaimana ia hampir mati di sana, sendirian, tanpa harapan.
Dan ia juga ingat, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa... rapuh.
Pagi berikutnya, Alira sudah menyiapkan sarapan sederhana-nasi hangat dengan sayur dan ikan panggang. Damian bangun dengan rasa sakit yang masih menusuk, tapi lebih kuat dari sebelumnya.
Dia berjalan keluar pondok, menarik napas dalam-dalam. Desa ini sunyi. Penduduknya jarang terlihat kecuali di waktu tertentu. Semua terasa asing, tapi juga damai.
Saat berjalan menyusuri jalan tanah, Damian melihat anak-anak bermain di sawah. Tertawa riang, bebas tanpa beban. Ada sesuatu yang menggerakkan hatinya.
"Alira..." dia memanggil saat gadis itu muncul dari kebun di belakang pondok.
"Kamu ingin kemana?" tanya Alira.
"Aku harus tahu lebih banyak tentang tempat ini. Tentang kamu," jawab Damian jujur.
Alira menatapnya sejenak, lalu tersenyum. "Kalau begitu, ikut aku."
Mereka berjalan ke tengah desa, di mana terdapat sebuah balai kecil dan sumur tua. Penduduk desa berkumpul dengan hangat, menyapa satu sama lain. Tapi tatapan mereka saat melihat Damian lebih seperti waspada dan penuh pertanyaan.
Alira memegang tangan Damian erat. "Mereka belum tahu siapa kamu, jadi jangan kaget kalau ada yang menatapmu aneh."
Damian mengangguk, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman itu. Tapi ada satu pria tua yang menatapnya dengan tajam dari kejauhan. Wajahnya penuh keriput dan mata yang seperti menyimpan banyak rahasia.
"Siapa dia?" Damian bertanya.
"Itu Pak Rasim. Dia yang merawatmu. Orang paling bijaksana di sini," jawab Alira.
Hari-hari berlalu dengan perlahan. Damian berusaha berbaur, meski sulit. Tubuhnya yang besar dan bekas luka membuatnya berbeda dari penduduk desa. Tapi Alira selalu ada di sisinya, menjadi jembatan antara dunia lama dan dunia barunya.
Namun, di balik kedamaian itu, ada sesuatu yang mengusik ketenangan Damian.
Suatu malam, saat ia sedang berjalan menyusuri pinggir sungai sendirian, ia melihat cahaya api di kejauhan. Suara langkah kaki dan bisik-bisik terbawa angin. Sesuatu yang familiar tapi menakutkan.
"Ini... bahaya," pikirnya.
Ia menyembunyikan diri di balik semak, mengamati sekelompok pria bersenjata yang masuk ke desa. Wajah mereka tidak asing bagi Damian. Ini adalah orang-orang dari masa lalunya, yang pasti mencarinya.
Panik mulai menjalar. Damian bergegas kembali ke pondok, menatap Alira yang tengah menunggu dengan khawatir.
"Mereka datang," katanya pelan tapi tegas. "Orang-orang dari dunia lama. Aku harus pergi."
Alira menggenggam tangan Damian erat. "Tidak. Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Aku akan membantu."
Damian menatapnya dengan campuran kekaguman dan keheranan. "Kenapa kamu peduli? Kamu bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya."
Alira tersenyum kecil, tapi matanya penuh keyakinan. "Karena aku tahu, siapa pun kamu, kamu bukan orang jahat. Aku bisa melihat itu."
Malam itu, mereka duduk bersama, membicarakan masa depan yang tidak pasti. Damian tahu, jika ia bertahan, hidup Alira dan seluruh desa akan dalam bahaya. Tapi jika ia pergi, ia akan kehilangan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cinta.
Hari berikutnya, Damian mulai melatih diri kembali, memperbaiki bekas luka dan membangun kekuatan. Alira belajar menggunakan senjata sederhana dari Damian, bertekad melindungi desa dan pria yang kini ia cintai.
Mereka berjanji, apapun yang terjadi, mereka akan menghadapi bersama.
Namun, bayang-bayang pengkhianatan dan dendam masih mengintai. Dan saat malam turun, suara langkah kaki di kejauhan makin mendekat.
"Persiapkan diri, Alira," Damian menatap tajam. "Pertarungan kita belum selesai."
Anda Mungkin Juga Suka





