Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel JANJI YANG DIKHIANATI

JANJI YANG DIKHIANATI

Kehidupan rumah tangga seorang istri hancur seketika saat ia menemukan fakta pahit bahwa suaminya telah mengkhianati komitmen mereka selama bertahun-tahun. Luka mendalam akibat perselingkuhan yang lama tersimpan ini memicu tekadnya untuk menuntut keadilan. Ia pun mulai menyusun rencana pembalasan yang sangat terukur, sebuah langkah yang tidak hanya menguras emosi namun juga menguji kesetiaan serta batas kesabaran orang-orang di lingkaran terdekatnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Maya mengawali hari baru dengan semangat yang penuh meskipun hatinya terasa berat. Dengan tekad yang bulat, ia memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang hubungan suaminya dengan Clara. Dia bertekad untuk mendapatkan bukti konkret, meskipun setiap detak jantungnya mengingatkan pada rasa sakit yang akan segera datang.

Pagi itu, setelah mempersiapkan sarapan untuk Adrian, Maya memutuskan untuk meminjam ponselnya di saat suaminya sedang mandi. "Ini hanya untuk beberapa menit," bisiknya pada diri sendiri. Dengan hati-hati, dia membuka aplikasi pesan dan mencari pesan-pesan yang mencurigakan.

Saat jari-jarinya menelusuri layar, ia merasakan gelombang kecemasan. Dia menemukan lebih banyak pesan dari Clara, yang kali ini lebih terang-terangan. "Kita tidak bisa terus menyembunyikannya, Adrian. Aku merindukanmu," tulis Clara dalam pesan terakhir yang terlihat.

Maya menggelengkan kepalanya, hampir tidak percaya dengan apa yang ia baca. Rasa marah mulai membakar di dalam hatinya. "Dia sudah berani menyentuh hatiku dengan cara yang paling menyakitkan," gerutunya dalam hati.

Setelah itu, Maya mengingat kembali percakapan dengan Lisa. Dia tahu dia perlu menemukan lebih banyak informasi. Dalam perjalanan ke kantor, dia bertekad untuk memanfaatkan hubungan baiknya dengan rekan-rekan Adrian. Siapa tahu, mungkin seseorang bisa memberikan informasi lebih lanjut.

Sesampainya di kantor, Maya berusaha menjaga penampilannya tetap tenang. Dia menyalakan laptopnya dan mulai bekerja, tetapi pikirannya terus melayang kepada Clara. "Bagaimana bisa seorang wanita menginginkan suamiku? Apa yang dia miliki yang tidak aku miliki?" pikirnya, merasakan kecemasan yang mendalam.

Setelah beberapa jam bekerja, Maya memutuskan untuk menemui Lisa di ruang istirahat. "Lis, aku butuh bantuanmu lagi," katanya, wajahnya terlihat serius.

"Ya, ada apa lagi?" tanya Lisa, menyadari kesedihan di wajah sahabatnya.

"Aku sudah menemukan bukti. Adrian berselingkuh dengan Clara, dan aku butuh informasi lebih lanjut tentang hubungan mereka," jawab Maya, suaranya bergetar.

"Baiklah, kita bisa mencoba mencari tahu lebih banyak. Aku akan menanyakan beberapa rekan yang mengenalnya," kata Lisa, berusaha memberikan dukungan.

Selama beberapa hari ke depan, Maya menghabiskan waktu di kantor dengan penuh ketegangan. Dia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan sambil menunggu kabar dari Lisa. Namun, setiap kali dia melihat Adrian, rasa sakit itu kembali muncul. Senyuman suaminya seolah menjadi topeng yang menyembunyikan kebohongan besar.

Satu sore, ketika Maya baru saja selesai bekerja, Lisa menghubunginya. "Maya, kita perlu bertemu. Aku punya informasi yang harus kau dengar," ujarnya dengan nada serius.

Maya merasa jantungnya berdegup kencang. "Di mana kita bisa bertemu?"

"Kita bisa ke kafe yang biasa kita datangi. Aku akan menunggu di sana," jawab Lisa sebelum menutup telepon.

Saat Maya sampai di kafe, Lisa sudah menunggu di meja sudut. Wajahnya tampak cemas. "Maya, ini lebih buruk dari yang kita kira," katanya, langsung tanpa basa-basi.

"Jadi, apa yang kau temukan?" tanya Maya, suara bergetar.

"Adrian dan Clara tidak hanya berkencan. Mereka telah berhubungan lebih dari setahun. Aku mendengar dari rekan kerja lainnya bahwa mereka sering keluar bersama, dan ada beberapa foto yang menunjukkan mereka berdua di restoran, terlihat akrab," jelas Lisa, sorot matanya penuh empati.

Maya merasakan dunianya runtuh seketika. "Jadi semua ini benar? Selama ini dia berbohong padaku?" air mata mulai mengalir di pipinya.

"Maya, aku sangat menyesal. Aku tahu ini berat, tetapi kau harus mengetahui kebenarannya," Lisa berusaha men安kan sahabatnya.

"Dia membohongiku! Dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, sementara dia berselingkuh dengan Clara," Maya terisak, merasa marah dan kecewa. "Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini?"

Lisa meraih tangan Maya, mencoba memberi dukungan. "Kau lebih kuat dari ini. Kita akan mencari cara untuk menghadapi semuanya. Kau berhak tahu kebenarannya, dan tidak ada yang bisa menghalangimu."

Maya menghapus air mata dari wajahnya. "Kau benar. Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Aku akan menghadapi Adrian dan meminta penjelasan."

Setelah pertemuan itu, Maya kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega telah mengetahui kebenaran, tetapi di sisi lain, hatinya hancur. Ketika Adrian pulang, Maya berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

"Hey, Maya! Apa kabar? Bagaimana harimu?" tanya Adrian, senyumnya seolah tak terpengaruh oleh keadaan.

Maya menatapnya, merasa seolah dia sedang berbicara dengan orang asing. "Baik, seperti biasa," jawabnya, berusaha tetap tenang. "Kau?"

"Capek, banyak kerjaan. Tapi aku sudah merencanakan malam yang spesial untuk kita," jawab Adrian, berusaha menciptakan suasana ceria.

Maya merasa hatinya semakin berat. "Malam spesial?" ucapnya, suaranya nyaris tidak terdengar.

"Ya, aku ingin kita merayakan ulang tahun pernikahan kita. Aku sudah membuat reservasi di restoran favorit kita," katanya, bersemangat.

"Adrian," Maya menatapnya dengan tegas, "apa kau yakin kita perlu merayakannya?"

Adrian terdiam sejenak, wajahnya berubah. "Maya, kenapa kau bertanya seperti itu? Semua ini adalah untuk kita."

"Karena aku tahu semuanya sekarang," jawab Maya, suara penuh kepastian. "Aku tahu tentang Clara. Tentang kebohonganmu."

Adrian tampak terkejut. "Apa? Apa maksudmu? Ini tidak bisa jadi benar!" Dia mundur beberapa langkah, tampak panik.

"Selama ini kau berbohong padaku, dan aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Aku ingin tahu alasanmu," Maya menegaskan, mengerahkan seluruh kekuatan untuk menahan air mata.

Adrian terdiam, seolah kata-katanya terjebak di tenggorokannya. Dia tampak kebingungan, dan itu membuat Maya merasa lebih kuat. "Apa kau akan menjawabku? Apakah semua ini benar?" tanya Maya dengan nada tegas, mencoba menahan getaran dalam suaranya.

Adrian mengalihkan pandangannya, wajahnya terlihat pucat. "Maya, aku... Aku tidak tahu apa yang kau dengar, tetapi itu tidak seperti yang kau bayangkan," jawabnya, suaranya penuh kepanikan.

"Lalu, bagaimana?" Maya melangkah maju, mendekatkan diri pada suaminya, matanya penuh emosi. "Bagaimana bisa kau mengkhianati janji yang telah kita buat? Dengan Clara? Apa yang kurang dariku?"

Dia melihat Adrian berusaha mencari kata-kata. "Maya, dengarkan aku. Itu... itu hanya kesalahan. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu. Aku masih mencintaimu," katanya dengan suara pelan, tetapi Maya bisa mendengar ketidakjujuran dalam nada bicaranya.

"Cinta? Cinta apa yang kau maksud jika kau masih bisa berhubungan dengan orang lain? Jika cintamu tulus, tidak akan ada tempat untuk Clara!" Maya tidak bisa menahan amarahnya. "Apa yang kau harapkan? Maaf yang bisa memperbaiki semuanya?"

Adrian menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tetap tenang. "Aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar, tetapi... itu tidak berarti aku tidak mencintaimu. Aku hanya... terjebak dalam situasi yang rumit."

"Rumit? Atau hanya alasan?" tanya Maya dengan sinis, matanya berapi-api. "Kau pikir kau bisa memutarbalikkan semua ini dengan alasan yang klise? Bahwa kau terjebak? Kau sudah membuat pilihan, Adrian. Sekarang, saatnya aku membuat pilihan juga."

Adrian mundur, terkejut oleh ketegasan Maya. "Apa maksudmu? Kau tidak bisa meninggalkanku. Kita sudah membangun hidup bersama," katanya, nada suaranya mulai tergetar.

"Apakah kita benar-benar membangun hidup bersama, atau kau hanya membangun kebohongan?" jawab Maya, menantang. "Setiap detik kita bersama, setiap kenangan yang kita buat, seolah-olah itu hanyalah ilusi. Aku tidak bisa bertahan dalam hubungan yang dibangun di atas kebohongan."

"Jadi, apa yang kau inginkan? Apa kau akan mengakhiri semuanya?" Adrian tampak putus asa.

Maya merasakan hatinya bergejolak, tetapi ketegasan yang baru ditemukan membuatnya merasa lebih kuat. "Aku tidak tahu. Tapi aku ingin berpikir. Aku ingin mencari tahu siapa diriku tanpa kau. Karena saat ini, aku merasa terjebak dalam bayang-bayangmu."

Dia mengambil langkah mundur, membiarkan ruang yang sempit di antara mereka tumbuh. "Aku butuh waktu, Adrian. Waktu untuk merenung, untuk melihat apakah semua ini masih layak untuk diperjuangkan."

Dengan itu, Maya berbalik dan pergi dari ruangan, meninggalkan Adrian yang tampak terpuruk. Ketika dia melangkah keluar, dia merasakan aliran adrenalin dalam dirinya. Dia tidak pernah merasa begitu kuat dan lemah sekaligus. Namun, dalam keheningan malam itu, dia tahu bahwa langkah pertama menuju pembalasan yang akan datang adalah memberi dirinya waktu untuk merasakan rasa sakit dan marah.

Setelah malam yang penuh emosi, Maya memilih untuk pergi ke kafe favoritnya keesokan harinya, tempat di mana dia bisa menenangkan pikiran. Dia duduk di sudut kafe, dengan secangkir kopi di tangannya, merenungkan semua yang telah terjadi. Suara bising pengunjung tidak bisa mengganggu pikirannya, yang masih terfokus pada Adrian dan pengkhianatannya.

Saat itu, Lisa muncul dan langsung duduk di hadapannya. "Maya, kau terlihat sangat tidak bersemangat. Apa kabar setelah kemarin?" tanyanya, khawatir.

"Masih berjuang," jawab Maya pelan, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa hancur. "Aku merasa seolah-olah semua yang aku percayai selama ini hanyalah ilusi. Bagaimana mungkin seseorang yang aku cintai bisa melakukan ini padaku?"

Lisa meraih tangan Maya. "Ingat, kau bukan sendirian. Kita bisa melalui ini bersama. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan untuk membalas semua ini."

Maya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin balas dendam yang bodoh. Aku hanya ingin menemukan cara untuk melanjutkan hidupku."

"Kadang, balas dendam bisa menjadi cara untuk mendapatkan keadilan," ujar Lisa. "Mungkin kita bisa mencari tahu lebih banyak tentang Clara. Apa yang membuat Adrian tertarik padanya?"

Maya terdiam sejenak, menimbang saran Lisa. "Mungkin kau benar. Mengetahui lebih banyak tentang dia bisa memberiku kekuatan untuk menghadapi situasi ini."

"Benar. Kita bisa mulai dengan mencari tahu tentang hubungan mereka di tempat kerja," tambah Lisa.

Maya mulai merasa semangatnya kembali. "Baiklah, aku akan melakukan ini. Aku akan menemukan kebenaran dan menunjukkan pada Adrian bahwa pengkhianatannya tidak akan terlewat begitu saja."

Maya kemudian meninggalkan kafe dengan tekad baru. Saat dia berjalan pulang, pikiran akan strategi untuk menyelidiki hubungan Adrian dan Clara memenuhi pikirannya. Rasa sakitnya mulai berubah menjadi motivasi, dan dia bersumpah untuk tidak membiarkan pengkhianatan ini merusak hidupnya lebih jauh.

Setibanya di rumah, Maya mengambil napkin dari meja dan mulai menulis rencana. Setiap detail mulai tercatat dalam pikirannya. Dia ingin melakukan ini dengan cermat. "Kebenaran akan terungkap," bisiknya, menguatkan hati dan pikirannya untuk apa yang akan datang.

Dia tidak akan menjadi korban dalam kisah ini. Sebaliknya, dia akan mengambil alih narasi hidupnya sendiri. Dan dengan setiap langkah yang diambil, dia semakin dekat untuk membuktikan bahwa pengkhianatan Adrian adalah awal dari akhir, bukan hanya untuk mereka berdua, tetapi juga untuk Clara.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benci Jatuh Cinta
9.6
Panji, anak yatim asuhan Terryn dan Deva, tumbuh tangguh meski dibenci Sheira akibat hasutan Imelda. Sebagai menantu keluarga Danuarta, ia tetap sabar menjaga martabat Deva walau terus dizalimi istrinya sendiri. Konflik memuncak saat rahasia kematian calon istri Panji yang melibatkan Sheira terungkap. Di tengah duka wafatnya ibu angkat dan kemunculan ibu kandungnya, Panji terjepit dilema batin antara luka masa lalu dan harapan masa depan yang penuh rintangan.
Sampul Novel DIBUANG SUAMI DISAYANG AYAH MERTUA
8.4
Elsa, gadis desa lugu, terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pewaris Group Parker, Landon. Demi wasiat kakek, Landon justru memperlakukan Elsa dengan kejam hingga ia hancur. Di titik terendah, Alex Parker selaku ayah mertua hadir melindungi Elsa karena rasa tanggung jawab. Namun, kedekatan mereka memicu gairah terlarang yang sulit dibendung oleh sang miliarder dingin. Akankah Alex sanggup menahan godaan Elsa atau justru menyerah pada hasratnya?
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Kau Hancurkan Persahabatan Kita
8.8
Satu malam penuh kelalaian mengubah persahabatan Lysandro Wicaksana dan Callista Rayendra menjadi pernikahan terpaksa. Sebagai pewaris bisnis, Lysandro panik saat Callista hamil hingga sempat memintanya menggugurkan janin tersebut. Meski Callista menolak dan memilih pergi, Lysandro akhirnya kembali untuk menikahi sahabatnya secara rahasia. Kini Callista harus hidup dalam bayang-bayang Elowen, kekasih Lysandro yang tidak tahu suaminya telah menjadi milik wanita lain.
Sampul Novel Kehancuran Yang Direncanakan
8.9
Nayla hancur saat memergoki tunangannya berselingkuh dengan sepupunya sendiri. Di hari yang sama, orang tuanya tewas dibunuh secara keji. Sebagai saksi kunci yang kini diburu, ia melarikan diri hingga nyaris tertabrak mobil milik pria asing bernama Reza. Demi bertahan hidup, Nayla menyembunyikan identitas aslinya dari Reza saat berlindung bersamanya. Namun, ia tak menyadari bahwa pria penolongnya itu juga menyimpan rahasia gelap yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Luka & Keegoisan
9.1
Sembilan tahun lamanya Lina Damaris Adelia berjuang menghapus jejak Elian Zayn Anderson dari hatinya. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan pria yang pernah memberi luka batin tersebut. Kini, Lina terjebak bekerja di perusahaan milik Elian yang angkuh dan egois. Di tengah gejolak emosi dan kesabaran yang kian menipis, mampukah mereka memperbaiki hubungan yang telah hancur, ataukah perasaan lama itu hanya akan menjadi ujian yang menyakitkan?