
JANJI YANG DIKHIANATI
Bab 3
Hari-hari berlalu, dan Maya merasakan perasaannya bergolak dalam dirinya. Setiap kali dia melihat Adrian, hatinya terasa hancur. Suaminya yang dulu begitu dicintainya kini menjadi pengingat akan pengkhianatan yang tak terbayangkan. Dengan berusaha menyembunyikan luka batinnya, dia terus menjalani rutinitas harian. Namun, semua itu terasa hampa.
Maya duduk di meja kerjanya di rumah, memandang layar laptop yang menyala. Dia telah meneliti setiap informasi yang bisa dia dapatkan tentang Clara. Namanya tertera di dalam email yang telah dia dapatkan dari ponsel Adrian. "Rekan kerja," dia membaca dalam hati. "Apa lagi yang bisa dia miliki?"
Dia mulai mencatat berbagai informasi, mengumpulkan fakta-fakta yang akan membantunya memahami siapa Clara sebenarnya. "Mungkin aku bisa menemukan titik lemah mereka," pikirnya, menekan rasa sakit di dalam hatinya.
Namun, saat jari-jarinya menari di atas keyboard, dia tidak bisa menghindari suara hatinya yang terus mempertanyakan semua yang telah terjadi. "Apakah aku masih mencintainya?" tanya Maya pada dirinya sendiri, menggelengkan kepala. "Jika cinta itu ada, kenapa semua ini bisa terjadi?"
Dia mengingat saat-saat indah bersama Adrian. Kebahagiaan, tawa, dan harapan masa depan yang mereka impikan bersama. Semuanya kini terasa seperti kenangan kosong. "Semuanya telah dirusak," gumamnya.
Sore itu, saat meneliti, teleponnya bergetar. Itu pesan dari Lisa.
"Hey, bagaimana kabarmu? Ada kemajuan tentang Clara?"
Maya membalasnya dengan cepat. "Belum banyak. Hanya mencari tahu informasi tentangnya. Dia sepertinya rekan kerja Adrian, tapi aku merasa ada yang lebih dari itu."
"Apakah kau mau bertemu? Mungkin kita bisa merencanakan strategi lebih lanjut," jawab Lisa.
"Ya, aku butuh teman," tulis Maya.
Setelah beberapa saat, mereka sepakat untuk bertemu di taman. Maya merasa sedikit lebih baik. Dia membutuhkan dukungan, dan Lisa selalu ada untuknya.
Ketika dia tiba di taman, dia menemukan Lisa duduk di bangku. Senyumnya sedikit membantu mengurangi rasa berat di hati Maya.
"Maya, aku khawatir tentangmu. Kau tidak terlihat seperti dirimu yang biasanya," kata Lisa dengan nada lembut.
"Aku tahu, aku merasa hancur," jawab Maya, menundukkan kepala. "Seperti semua yang aku percayai, semua yang aku banggakan, sekarang hancur berkeping-keping."
"Cinta itu rumit," Lisa berkata. "Tapi ingat, kepercayaan adalah fondasi. Tanpa itu, tidak ada hubungan yang bisa bertahan."
Maya mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Setiap kali aku melihat Adrian, aku teringat akan semua kebohongan. Bagaimana aku bisa mempercayainya lagi?"
"Langkah pertama adalah menemukan kebenarannya. Itu yang akan membantumu melanjutkan hidup," kata Lisa. "Apa kau sudah menemukan informasi lebih lanjut tentang Clara?"
Maya menghela napas, mengambil ponselnya dan menunjukkan catatannya. "Dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Adrian. Mereka bahkan punya proyek bersama. Aku merasa tidak bisa mempercayainya."
"Kenapa tidak kau temui Clara?" tanya Lisa. "Kau bisa tanya langsung padanya tentang hubungannya dengan Adrian."
Maya menatap Lisa, tidak yakin dengan ide itu. "Aku tidak tahu apakah aku siap untuk bertemu dengan orang yang merusak hidupku."
"Tapi jika kau ingin menutup bab ini, kau harus berani menghadapinya. Hanya dengan cara itu, kau bisa melihat seberapa dalam luka ini," kata Lisa.
"Dan jika aku tidak suka apa yang kutemukan?" tanya Maya, wajahnya cemas.
"Kalau itu terjadi, kau sudah tahu. Kau tidak perlu lagi terjebak dalam kebohongan," jawab Lisa dengan percaya diri.
Maya merasakan ketegangan dalam dadanya. Menghadapi Clara berarti mengingkari rasa sakit, tapi juga berarti mengambil langkah berani untuk masa depannya. "Mungkin kau benar," jawabnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Aku harus mencari tahu kebenarannya, meskipun itu menyakitkan."
"Baiklah, kita akan merencanakan ini dengan baik," kata Lisa dengan senyum penuh semangat. "Aku akan bersamamu."
Setelah berbincang lebih banyak, Maya pulang dengan pikiran yang lebih tenang. Dia tahu, perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi dia merasa lebih siap. Dia akan mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Clara, dan tidak hanya untuk kebaikan dirinya, tetapi juga untuk menemukan kembali harga dirinya.
Keesokan harinya, Maya duduk di meja kerjanya lagi, meneliti lebih dalam tentang Clara. Dia menemukan akun media sosial wanita itu dan mulai mencari foto-foto. "Jadi ini dia," pikirnya, memerhatikan senyuman Clara dalam foto-foto yang diunggah. "Cantik, dan tampak bahagia."
Tiba-tiba, dia mendapatkan ide. "Kalau aku bisa memposisikan diriku sebagai teman baru, mungkin aku bisa mendekatinya tanpa kecurigaan," gumamnya, merasa semakin berani.
Dia mulai menyusun pesan untuk menghubungi Clara. "Hai, aku Maya, aku mendengar banyak hal baik tentangmu dari Adrian. Kita harus bertemu dan ngobrol!" Setelah menunggu beberapa detik, dia menekan tombol kirim.
Sekarang, Maya menunggu balasan dengan perasaan campur aduk. Dia tahu, apa pun yang terjadi, ini adalah langkah pertama untuk mengatasi rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Mungkin, setelah semua ini, dia bisa mendapatkan kembali kepercayaan diri yang hilang dan menjadikan pengkhianatan ini sebagai titik balik dalam hidupnya.
Akhirnya, ponselnya bergetar, dan jantungnya berdegup kencang. Dia membuka pesan yang masuk.
Clara: Hai Maya! Senang bisa berkenalan. Adrian sering bercerita tentangmu. Kapan kita bisa bertemu?
Maya terdiam sejenak, mencoba mengekang gelombang emosi yang mengalir dalam dirinya. Dia balas dengan cepat, mencoba menjaga nada santai.
Maya: Bagaimana kalau kita bertemu besok sore? Di kafe dekat kantor Adrian?
Clara membalas dalam hitungan menit.
Clara: Terdengar bagus! Aku akan ada di sana jam 4 sore. Sampai jumpa!
Maya merasa sedikit lega. Ini adalah kesempatan yang dia tunggu-tunggu untuk menggali lebih dalam tentang apa yang terjadi antara Adrian dan Clara. Namun, rasa cemas tidak bisa dihindari. Dia tahu pertemuan ini berpotensi menghancurkan hatinya lebih jauh.
Malam harinya, Maya duduk di tempat tidur sambil memandang langit-langit, berpikir tentang apa yang akan dia katakan kepada Clara. Apa yang kau harapkan darinya? pikirnya. Apakah ada harapan untuk mendapatkan kebenaran tanpa menyakiti diri sendiri lebih dalam?
Dia berusaha menenangkan dirinya. "Aku hanya ingin tahu," bisiknya, "Apa yang membuatnya lebih berharga daripada aku di mata Adrian?"
Keesokan harinya, Maya mempersiapkan dirinya dengan hati-hati. Dia memilih pakaian yang nyaman namun terlihat menarik, berharap bisa memberi kesan positif pada pertemuannya dengan Clara. Setiap kali dia melihat bayangannya di cermin, rasa percaya dirinya terus merosot.
Saat tiba di kafe, Maya merasakan detakan jantungnya yang semakin cepat. Dia menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kegugupannya. Di sudut kafe, dia melihat Clara duduk, mengenakan gaun sederhana berwarna biru yang membuatnya terlihat ceria dan menawan.
"Ini dia," Maya berbisik pada dirinya sendiri, lalu melangkah menghampiri Clara.
"Hi, Maya! Senang bertemu denganmu," Clara berkata, tersenyum ramah saat melihatnya.
"Hi, Clara! Terima kasih sudah meluangkan waktu," jawab Maya dengan suara yang sedikit bergetar.
Maya duduk dan mulai merasakan ketegangan yang ada di antara mereka. Mereka memesan kopi dan berusaha mengobrol tentang hal-hal umum. Namun, Maya tahu bahwa dia harus membawa pembicaraan ke arah yang lebih serius.
"Jadi, bagaimana kau mengenal Adrian?" tanya Maya, berusaha menjaga nada santai meskipun hatinya berdegup kencang.
"Oh, kami bekerja di proyek yang sama selama beberapa tahun terakhir. Dia sangat berbakat dan menyenangkan untuk diajak bekerja sama," Clara menjawab, senyumnya tidak pernah pudar.
Maya memandangi Clara, memperhatikan bagaimana wanita itu berbicara dengan penuh semangat. Namun, dia tidak bisa menahan rasa sakitnya. "Kau sangat dekat dengan Adrian, ya?" tanya Maya dengan nada yang lebih tajam.
Clara terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Ya, tapi kami hanya rekan kerja. Kenapa, apa ada yang salah?"
Maya menahan napasnya. Ini adalah saat yang tepat untuk menyampaikan semua yang ada di hatinya. "Adrian dan aku sudah menikah selama beberapa tahun. Dia sangat berarti bagiku," kata Maya, mencoba untuk berbicara dengan tenang meskipun suara hatinya bergetar.
Clara terlihat bingung sejenak, lalu menjawab, "Oh, aku tidak tahu... Aku hanya tahu bahwa Adrian adalah orang yang sangat baik dan sangat peduli. Apa dia memberi tahu tentang proyek kami?"
"Proyek? Atau hubungan yang lebih dalam?" Maya melanjutkan, mencoba mempertajam fokus percakapan.
Clara tampak semakin cemas. "Maya, aku tidak tahu apa yang kau maksud. Dia tidak pernah mengatakan apapun tentang masalah pribadi."
Maya merasa hatinya semakin hancur. "Tapi aku menemukan pesan-pesan di ponselnya. Dia menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu daripada seharusnya," suara Maya mulai bergetar.
Clara tampak bingung dan terkejut. "Maya, aku tidak tahu. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa seperti ini. Adrian dan aku... kami hanya bekerja bersama. Aku tidak tahu tentang hubungan kalian yang lebih dalam."
Maya merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bagaimana bisa? Kenapa dia tidak jujur padaku? Kenapa dia merusak kepercayaan ini?"
Clara terlihat benar-benar minta maaf. "Aku minta maaf, Maya. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Jika aku tahu, aku tidak akan berhubungan dengan dia."
Maya menggelengkan kepala, berusaha menahan emosinya. "Aku ingin percaya padamu, tetapi hatiku terasa hancur. Kepercayaan ini sangat berharga, dan sekarang semua itu sudah hancur."
"Aku tidak ingin ada yang salah paham di antara kita," Clara berusaha menenangkan. "Aku tidak ingin jadi bagian dari masalah ini. Kita harus berbicara dengan Adrian."
"Tapi apa yang akan dia katakan?" tanya Maya, merasakan rasa sakit yang begitu dalam. "Dia pasti akan berbohong lagi."
Mereka berdua terdiam sejenak, masing-masing terjebak dalam pikiran sendiri. Maya merasakan beban di dadanya semakin berat, dan Clara terlihat bingung, berusaha memahami situasi yang rumit ini.
"Aku tidak ingin berbohong padamu, Maya," Clara berkata pelan. "Mungkin ada baiknya jika kita semua bertemu dan berbicara secara langsung. Kita perlu klarifikasi."
Maya mengangguk, merasa kebingungan semakin meningkat. "Kau benar. Mungkin itu yang terbaik."
Dia tahu, untuk mengatasi masalah ini, mereka harus menghadapi Adrian secara langsung. Namun, saat hatinya penuh dengan kekecewaan dan rasa sakit, Maya juga merasakan secercah harapan. Mungkin, pertemuan ini bisa membawanya lebih dekat kepada kebenaran yang dia cari. Dan jika ada cara untuk menyelamatkan hubungan yang telah lama dibangunnya, dia akan melakukannya-meskipun harus melewati jalan yang penuh duri.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





