Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janji Kita Hanyalah Debu

Janji Kita Hanyalah Debu

Rania telah mencapai batas kesabaran menghadapi sikap dingin Farel. Memegang teguh janji masa lalu untuk pergi saat dikhianati, ia diam-diam menyiapkan perceraian dalam waktu tiga puluh hari. Namun, kehancuran sesungguhnya terjadi saat Rania ingin memberi kejutan ulang tahun di kantor suaminya. Ia justru menyaksikan Farel bermesraan dengan Alena, sang mantan kekasih. Momen pahit itu menjadi titik akhir yang memantapkan langkah Rania untuk benar-benar pergi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hujan turun deras malam itu, membasahi jalanan kota yang mulai sepi. Rania duduk di dalam bus antar-kota, menatap jendela yang dipenuhi embun. Di kursinya, ia memeluk tas kecil berisi dokumen penting - ijazah, buku tabungan, akta nikah, dan surat gugatan cerai yang sudah ia tanda tangani sendiri.

Ia tak membawa banyak barang, hanya satu koper kecil dan selembar keberanian yang tersisa.

Keputusan untuk meninggalkan rumah itu bukan hal mudah. Tapi setelah melihat Farel memeluk Alena di kantornya, sesuatu dalam dirinya mati - sesuatu yang selama ini menahannya untuk tetap bertahan meski disakiti.

Rania memalingkan wajah dari jendela, menghapus air matanya pelan. Di luar sana, lampu-lampu kota mulai memudar, berganti hamparan sawah dan perbukitan yang ia kenal betul. Ia kembali ke tempat di mana semuanya dimulai - rumah ibunya, di sebuah kota kecil di pinggiran Jawa Tengah.

"Bu, aku pulang," bisiknya pelan, seolah sedang berbicara pada angin.

Entah bagaimana ibunya akan menyambutnya nanti. Mereka sudah lama jarang berkomunikasi sejak Rania menikah. Farel membuatnya sibuk, terlalu sibuk untuk mengingat rumah dan masa lalu. Tapi kini, ketika ia benar-benar kehilangan segalanya, hanya rumah ibunya yang terlintas di benaknya.

Bus berhenti di terminal kecil menjelang subuh. Rania menarik napas panjang, lalu turun dengan langkah gemetar. Angin dingin menusuk tulang, tapi justru itu yang membuatnya merasa hidup lagi.

Ia memesan ojek online menuju rumah ibunya. Jalan menuju sana masih sama - penuh tikungan tajam, dengan pohon jati di kanan kiri. Setiap detik terasa seperti perjalanan menuju masa lalu yang ingin ia ubah tapi tak bisa.

Begitu tiba, rumah itu tampak sepi dan usang. Cat dindingnya mulai mengelupas, tapi pohon melati di halaman masih tumbuh, persis seperti dulu. Rania berdiri di depan pagar, ragu.

Ia mengetuk perlahan. Tak lama, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dengan wajah setengah mengantuk, lalu matanya membesar begitu mengenali sosok di depannya.

"Rania?" suara ibunya bergetar, tak percaya.

Rania tersenyum lemah. "Aku pulang, Bu."

Tanpa kata, ibunya langsung memeluknya erat. Pelukan yang hangat, namun juga menyakitkan - karena di dalamnya tersimpan pertanyaan besar yang belum berani Rania jawab.

Pagi itu, aroma teh melati memenuhi ruang makan kecil di rumah itu. Ibu Rania duduk di seberang, menatap putrinya yang tampak pucat dan kurus.

"Kamu nggak bilang mau pulang dulu. Ibu kaget, Nak," katanya sambil menuang teh.

Rania tersenyum tipis. "Maaf, Bu. Aku... nggak tahu harus bilang apa."

Ibunya mengamati, lalu berkata pelan, "Kamu bertengkar sama Farel, ya?"

Rania terdiam. Tangannya mengepal di atas meja. "Bukan bertengkar, Bu. Aku cuma... capek."

"Capek?" tanya ibunya lembut.

Rania menatap ke luar jendela. "Aku lihat dia... bersama perempuan lain. Aku nggak salah dengar, nggak salah lihat. Aku sendiri yang menyaksikan."

Nadanya pecah. "Selama ini aku selalu berusaha jadi istri yang baik. Tapi ternyata, itu nggak cukup buat dia."

Ibunya menatapnya lama. "Kamu udah yakin mau pisah?"

Rania mengangguk pelan. "Udah, Bu. Aku nggak mau hidup dalam kebohongan lagi."

Air mata ibunya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia tahu betul bagaimana keras kepala putrinya itu. Sekali Rania memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa membujuknya mundur.

Hari-hari berikutnya, Rania mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Ia membantu ibunya berjualan kue basah di pasar pagi. Tangannya yang dulu halus kini terbiasa mengukus, membungkus, dan menghitung uang receh. Tapi di tengah lelahnya, ada ketenangan yang ia rasakan.

Tak ada lagi suara bentakan Farel. Tak ada tatapan merendahkan setiap kali ia meminta waktu untuk dirinya sendiri.

Di sini, di rumah sederhana ini, Rania bisa bernapas lagi.

Namun, luka di hatinya belum sembuh. Setiap malam, ketika semua orang sudah tidur, ia masih sering terjaga, menatap atap rumah sambil memikirkan masa lalunya. Kadang ia masih berharap Farel akan mencarinya, menyesal, lalu meminta maaf. Tapi semakin lama, harapan itu ia bunuh satu per satu, hingga yang tersisa hanya keinginan untuk memulai hidup baru.

Suatu sore, ketika ia sedang membantu ibunya menyiapkan pesanan kue untuk hajatan tetangga, ponselnya bergetar. Nama di layar membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Farel.

Rania menatap layar itu lama. Jemarinya gemetar, tapi ia tak menjawab. Panggilan itu berulang tiga kali, lalu berhenti. Tak lama kemudian, pesan masuk.

Rania, kamu di mana? Aku bisa jelaskan semuanya. Tolong jangan pergi seperti ini.

Rania menggigit bibirnya. Air matanya menetes ke bungkus kue yang baru saja ia lipat.

"Jelaskan?" gumamnya lirih. "Apa yang mau dijelaskan dari pengkhianatan yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri?"

Ia menutup ponsel, menatap langit sore yang mulai jingga. Dalam hatinya, ada perang besar - antara cinta yang masih tersisa dan kebanggaan diri yang tak mau dihancurkan lagi.

Beberapa minggu berlalu. Rania mulai merasa lebih kuat. Ia bahkan menerima tawaran kerja paruh waktu dari salah satu teman lamanya, Dina, yang memiliki toko roti di kota. Dina tahu kemampuan Rania dalam menghias kue dan membuat resep baru.

"Kalau kamu serius mau kerja, aku siap bantu," kata Dina waktu mereka bertemu di kafe kecil dekat alun-alun.

Rania tersenyum. "Aku mau, Din. Aku nggak mau cuma sembunyi di balik dapur rumah. Aku butuh sesuatu yang bikin aku bisa berdiri sendiri."

Dina menggenggam tangannya. "Kamu selalu kuat, Rania. Aku tahu kamu bisa."

Hari pertama bekerja di toko roti itu menjadi titik balik. Wajah Rania mulai berseri lagi. Ia belajar tersenyum kepada pelanggan, membuat kue ulang tahun, dan bahkan mencatat pesanan besar dengan percaya diri.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa berguna.

Namun, hidup tak selalu tenang. Suatu malam, Dina menutup toko lebih awal dan menghampirinya.

"Ran, aku harus bilang sesuatu."

Rania menatap bingung. "Kenapa?"

Dina menelan ludah. "Tadi sore, waktu kamu ngantar pesanan ke hotel Grand Vista, aku lihat Farel di sana. Sama Alena. Mereka keliatan... akrab."

Rania membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Ia menatap Dina, mencoba menahan amarah yang mendadak meluap. "Aku udah nggak mau tahu, Din. Aku udah selesai sama mereka."

Dina mengangguk pelan. "Aku cuma takut kamu sakit lagi."

Rania menatap kosong. "Aku udah nggak bisa lebih sakit dari ini."

Setelah itu, malam terasa panjang. Rania berjalan sendirian menyusuri jalan pulang. Hujan turun rintik-rintik, tapi ia tak peduli. Ia berhenti di depan etalase toko mainan, menatap boneka beruang besar yang mengingatkannya pada ulang tahun pernikahan pertamanya bersama Farel.

"Lucu, ya," gumamnya. "Dulu aku pikir cinta itu segalanya. Ternyata, cinta tanpa rasa hormat cuma bikin orang hancur."

Keesokan harinya, Rania menerima kabar bahwa Farel datang ke rumah ibunya. Untung saja ia sedang di toko saat itu. Ibunya menelepon dengan suara gemetar.

"Dia datang, Nak. Katanya mau minta maaf. Ibu nggak tahu harus gimana."

Rania menarik napas panjang. "Bu, tolong jangan biarin dia masuk. Aku nggak mau ketemu dia sekarang."

Ibunya ragu. "Tapi, Nak-"

"Bu, tolong," potongnya pelan tapi tegas. "Aku butuh waktu buat sembuh. Aku belum siap."

Di seberang, ibunya terdiam lama sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, Rania. Ibu akan bilang kamu nggak ada."

Setelah menutup telepon, Rania duduk lama di ruang belakang toko, menatap adonan kue yang belum ia bentuk. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Tapi kali ini bukan karena lemah - melainkan karena ia tahu, dirinya akhirnya punya kendali atas hidupnya sendiri.

Minggu berikutnya, toko tempat Rania bekerja mendapat pesanan besar dari sebuah acara amal yang diadakan oleh yayasan sosial di kota. Dina meminta Rania menjadi koordinator bagian dekorasi kue.

"Ini kesempatan bagus, Ran. Banyak pengusaha besar yang datang nanti. Siapa tahu kamu dapat tawaran kerja lebih besar," ujar Dina.

Rania sempat menolak, tapi akhirnya setuju. Ia ingin mencoba menantang dirinya lagi.

Hari acara tiba, ia datang lebih awal ke aula besar yang sudah dihiasi bunga-bunga putih dan lampu gantung elegan. Suasana megah itu sempat membuatnya gugup, tapi ia menenangkan diri.

Ia mengenakan dress pastel sederhana dan celemek putih. Saat sedang menata kue di meja besar, seseorang memanggil namanya dari belakang.

"Rania?"

Suara itu membuat tubuhnya membeku. Ia perlahan berbalik - dan dunia seolah berhenti berputar.

Farel berdiri di sana. Wajahnya tampak lelah, mata cekung, tapi masih dengan tatapan yang sama seperti dulu.

"Jadi kamu di sini," katanya pelan.

Rania menatapnya tajam. "Aku di mana pun bukan urusanmu lagi."

Farel melangkah mendekat. "Aku nyari kamu ke mana-mana. Aku cuma pengen bicara."

"Bicara?" Rania tersenyum getir. "Waktu aku minta kamu jujur, kamu diam. Sekarang setelah semuanya hancur, kamu baru mau bicara?"

Farel menunduk. "Aku salah. Tapi Alena cuma-"

"Cukup!" potong Rania tajam. "Aku nggak mau dengar nama itu lagi. Kamu udah bikin aku kehilangan harga diri, Farel. Sekarang biarkan aku hidup tanpa kamu."

Farel terdiam. Tatapan matanya berubah sedih, tapi Rania tak ingin lagi terjebak dalam ekspresi itu. Ia berbalik, mengambil nampan kue, lalu pergi tanpa menoleh.

Air matanya jatuh satu per satu, tapi langkahnya tegap.

Malamnya, setelah acara selesai, Dina memeluknya erat.

"Kamu hebat, Ran. Kalau aku yang di posisi kamu tadi, mungkin aku udah gemetar."

Rania tersenyum samar. "Aku gemetar juga, Din. Tapi aku sadar... kalau aku terus biarin dia masuk lagi, aku nggak akan pernah sembuh."

Dina menatapnya dengan kagum. "Aku bangga sama kamu."

Rania menatap ke langit malam dari jendela toko. "Aku cuma pengin hidup tenang, Din. Tanpa kebohongan, tanpa rasa takut."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Rania tidur nyenyak. Tidak ada tangisan, tidak ada mimpi buruk. Hanya keheningan yang damai, seolah alam semesta sedang berbisik:

"Kamu sudah di jalan yang benar."

Beberapa bulan kemudian, Rania resmi bercerai dari Farel. Surat putusan pengadilan ia simpan di laci meja kerja di toko. Tidak ada pesta kebebasan, tidak ada tangisan histeris - hanya kelegaan yang tenang.

Ia menatap dirinya di cermin, melihat perempuan yang berbeda dari dulu.

"Selamat datang, Rania yang baru," ucapnya pada bayangan sendiri.

Di hari yang sama, Dina menghampirinya dengan kabar baik.

"Ran, ada investor yang tertarik buka cabang toko kita di kota besar. Dan mereka mau kamu yang jadi kepala operasionalnya."

Rania terkejut. "Serius?"

"Serius banget," jawab Dina sambil tertawa kecil. "Aku udah rekomendasiin kamu. Kamu pantas, Ran. Kamu bukan cuma kuat, tapi juga berbakat."

Rania menatap Dina lama, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Din. Kamu nggak tahu seberapa besar artinya ini buat aku."

Beberapa bulan berikutnya menjadi lembaran baru dalam hidup Rania. Ia pindah ke kota besar, tinggal di apartemen kecil dekat toko baru. Hari-harinya dipenuhi aroma roti panggang, senyum pelanggan, dan cahaya matahari yang menembus kaca etalase.

Kadang-kadang, bayangan Farel masih muncul di pikirannya - tapi hanya sesaat.

Sekarang, ia tahu, bukan masa lalu yang menentukan dirinya, melainkan keputusan yang ia buat hari ini.

Dan setiap kali menatap adonan kue yang mengembang di oven, Rania tersenyum.

Karena di antara aroma manis gula dan tepung, ia akhirnya menemukan sesuatu yang lebih berharga dari cinta: ketenangan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku
9.4
Demi melindungi wanita pilihannya, Regan terpaksa menikahi Ella dua tahun lalu. Di mata Regan, Ella adalah sosok licik yang menjeratnya dalam pernikahan, sehingga ia bersikap dingin dan mengabaikan pengabdian tulus Ella selama sedekade. Namun, saat Ella mulai lelah dan berniat menyerah, ketakutan melanda hati Regan. Ketika nyawa Ella terancam saat mengandung anaknya, barulah Regan tersadar bahwa cinta sejatinya selama ini hanyalah untuk sang istri.
Sampul Novel Istri Lugu Presdir Dingin
9.4
Kehidupan Nia hancur saat kehamilannya terbongkar. Di tengah keputusasaan, seorang wanita yang pernah ia tolong menawarkan jalan keluar: menikahi putranya, Dion, dan merawat cucunya. Tanpa diduga, Dion adalah duda dingin beranak satu. Pernikahan pun terjadi, namun Nia segera menyadari kenyataan pahit bahwa penolongnya ternyata berkerabat dengan pria yang menghamilinya. Kini, ia harus menghadapi dilema besar apakah sang suami sanggup menerima dirinya dan janin di rahimnya.
Sampul Novel Istri Nomor Dua
8.8
Menikah di usia muda sebagai istri kedua adalah mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan. Namun, demi rasa bakti, aku terpaksa menerima takdir menjadi orang ketiga dalam pernikahan pasangan yang sudah kuanggap kakak sendiri. Kini aku harus menelan pil pahit karena diabaikan oleh suami sendiri. Sanggupkah aku bertahan di tengah kerumitannya, ataukah aku harus menyerah dan pergi mencari kebahagiaanku yang sesungguhnya di luar sana?
Sampul Novel Mantan Tapi Menikah
8.8
Pertemuan Emily dengan King di acara reuni tahunan membangkitkan luka lama yang belum sembuh. King, mantan kekasih yang sangat ingin dihindarinya, justru muncul kembali dan memberikan tawaran pernikahan yang mengejutkan. Meski Emily sempat bersumpah tidak akan pernah menerimanya kembali, sebuah peristiwa besar memaksanya untuk berubah pikiran. Kini, Emily harus berjuang menjalani kehidupan rumah tangga yang rumit bersama pria yang dulu paling ia benci.
Sampul Novel My Handsome Boy
9.4
Terjebak utang, Kiara Mauren menawarkan diri untuk bekerja demi melunasi kewajibannya. Namun, Ken justru menyodorkan map berisi surat perjanjian nikah kontrak. Meski terpesona oleh kecantikan Kiara, Ken tetap bersikap sinis saat tawarannya ditolak. Kiara bimbang karena ia sudah memiliki calon suami, tetapi Ken tidak memberi pilihan lain. Di tengah ketegangan itu, Ken tak mampu mengalihkan pandangan tajamnya dari sosok Kiara yang sangat memikat hatinya.