Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janji Kita Hanyalah Debu

Janji Kita Hanyalah Debu

Rania telah mencapai batas kesabaran menghadapi sikap dingin Farel. Memegang teguh janji masa lalu untuk pergi saat dikhianati, ia diam-diam menyiapkan perceraian dalam waktu tiga puluh hari. Namun, kehancuran sesungguhnya terjadi saat Rania ingin memberi kejutan ulang tahun di kantor suaminya. Ia justru menyaksikan Farel bermesraan dengan Alena, sang mantan kekasih. Momen pahit itu menjadi titik akhir yang memantapkan langkah Rania untuk benar-benar pergi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kota besar itu berbeda. Suara kendaraan yang berdesakan, lampu jalan yang tak pernah padam, dan hiruk-pikuk orang-orang yang berjalan cepat membuat Rania awalnya hampir tersesat di setiap sudutnya. Namun, ada semangat yang tak bisa ia padamkan-semangat untuk membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa Farel.

Apartemen kecilnya menghadap jalan utama, dengan jendela besar yang memantulkan cahaya lampu kota di malam hari. Ruangan itu sederhana: tempat tidur, lemari kecil, dan meja kerja untuk laptopnya. Di sudut ruangan, ada rak kayu tempat ia menaruh alat-alat pastry yang mulai menumpuk seiring pesanan yang semakin banyak.

Rania menghela napas panjang saat menatap daftar pesanan hari itu. Ada tiga ulang tahun, dua pernikahan, dan satu acara amal besar yang harus ia kerjakan. Rasanya campur aduk antara gugup dan bersemangat.

"Ini benar-benar hidup baru," gumamnya sambil mengaduk adonan cokelat.

Tangannya sigap, memutar spatula dengan gerakan yang mulai stabil. Meski awalnya terbata-bata, sekarang setiap langkah terasa natural-seolah tangannya memang ditakdirkan untuk membentuk adonan menjadi sesuatu yang indah.

Di kafe-cabang baru tempat ia bekerja, Dina menepuk pundak Rania. "Ran, pelanggan mulai banyak tahu tentang kamu, loh. Ada yang minta diajari bikin cake, bahkan ada yang mau pesan untuk pesta ulang tahun perusahaan mereka. Kamu benar-benar berbakat."

Rania tersenyum tipis. "Aku cuma beruntung ada mentor kayak kamu, Din."

Dina tertawa. "Beruntung atau nggak, kamu yang jalanin sekarang. Jangan remehkan diri sendiri."

Rania menatap ke luar jendela kafe. Hawa sore membawa aroma kopi dan hujan rintik-rintik yang baru saja reda. "Kadang aku masih nggak percaya bisa sampai di sini," bisiknya pelan.

Dina menepuk tangannya. "Itu tandanya kamu pantas, Ran. Jangan takut melangkah lebih jauh."

Rania mengangguk, tapi hatinya masih berat. Di balik senyum yang ia tunjukkan pada pelanggan, masih ada bayangan Farel-bayangan yang muncul entah kapan dan membuat dadanya terasa sesak.

Malam itu, setelah kafe tutup, Rania duduk di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia membuka laptop dan mulai menelusuri blog pastry internasional. Matahari telah lama tenggelam, tapi semangatnya terasa hidup kembali.

Ia memutuskan untuk membuat konten sendiri-tutorial dekorasi kue sederhana, tips memilih bahan yang tepat, dan resep yang selama ini hanya ia simpan.

"Kalau aku bisa bantu orang lain belajar, mungkin aku bisa lebih percaya diri lagi," gumamnya.

Beberapa hari kemudian, video pertamanya diunggah ke platform media sosial. Ia mengedit sendiri, menambahkan musik lembut, dan berbicara dengan suara yang tegas tapi ramah.

"Ini untuk semua orang yang ingin mencoba, tapi takut gagal," katanya di video itu. "Jangan takut. Semua orang bisa belajar dari kesalahan."

Video itu tak langsung viral, tapi komentar pertama datang dari seorang pemilik café terkenal di kota.

Kue yang kamu buat terlihat sangat profesional. Apakah kamu tertarik untuk bekerjasama?

Rania menahan napas. Jantungnya berdetak kencang. Itu bisa menjadi kesempatan besar, tapi juga menakutkan. Ia harus menghadapi dunia baru yang lebih luas, yang menuntutnya untuk tampil percaya diri di depan orang-orang yang belum ia kenal.

Hari-hari berikutnya Rania sibuk menyiapkan portofolio, menyempurnakan resep, dan mengatur jadwal kerja di kafe sambil menerima pesanan.

Terkadang, lelah datang secara tiba-tiba. Ia merasa ingin menyerah, tapi setiap kali itu terjadi, ia menatap jendela apartemen, melihat lampu-lampu kota, dan mengingat perjuangan yang sudah ia lalui: meninggalkan rumah yang dulu ia anggap surga, menghadapi pengkhianatan Farel, dan menemukan keberanian untuk hidup sendiri.

Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, dan berkata pada diri sendiri:

"Aku bisa. Aku harus bisa."

Suatu pagi, saat Rania sedang mempersiapkan kue pesanan untuk pesta anak-anak, seorang pria masuk ke kafe. Penampilannya rapi, namun ada aura hangat yang membuatnya mudah dipercaya.

"Halo, saya Andre," katanya sambil tersenyum. "Aku dengar tentang kue-kue kamu. Aku ingin bekerjasama untuk event perusahaan besar minggu depan."

Rania menatapnya, kaget tapi senang. "Wah, senang bertemu. Tentu, kita bisa atur jadwalnya."

Andre mulai berbicara tentang konsep acara, tema kue, dan dekorasi. Rania mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail. Ada sesuatu dalam cara Andre berbicara-tenang, jelas, dan penuh perhatian-yang membuat Rania merasa nyaman.

Di tengah pembicaraan, Andre menatap Rania sejenak. "Kamu serius banget dalam kerjaanmu. Itu langka."

Rania tersenyum. "Aku nggak bisa setengah-setengah sekarang. Semua harus maksimal."

Andre mengangguk, tersenyum hangat. "Aku bisa lihat itu. Aku suka orang yang punya dedikasi tinggi."

Kalau biasanya Rania hanya menatap pelanggan dari balik meja, kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda-perasaan nyaman dan aman yang belum ia rasakan sejak lama. Tapi hatinya tetap waspada. Ia tidak ingin terlalu cepat membuka diri.

Di minggu-minggu berikutnya, Rania semakin dikenal. Video tutorialnya mulai mendapat perhatian lebih, beberapa café besar mengundangnya untuk workshop, dan pesanan kue personal meningkat drastis.

Ia juga semakin akrab dengan Andre. Setiap kali mereka bertemu, ada percakapan ringan yang membuatnya tertawa, meski hatinya tetap menjaga jarak.

Namun kehidupan baru ini tak sepenuhnya bebas dari bayangan masa lalu. Suatu sore, saat Rania sedang menata kue ulang tahun untuk seorang klien, ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat jantungnya tercekat: Farel.

Rania menatap layar dengan tangan gemetar. Tidak ada kata-kata yang ia tulis, hanya emoji maaf. Ia menggenggam ponsel, menatap Andre yang sedang menyiapkan dekorasi.

"Andre, aku-aku harus keluar sebentar," katanya pelan.

Di luar, hujan rintik-rintik mulai turun. Rania menatap kota yang basah, menarik napas panjang.

"Kenapa sekarang?" gumamnya pelan. "Aku udah mulai tenang."

Hatinya bergejolak. Rasa marah, sakit, dan kecewa muncul bersamaan. Tapi kali ini, ia berbeda. Ia sudah belajar bertahan. Ia sudah belajar menempatkan dirinya di atas segalanya.

Ia mengetik balasan singkat:

Aku udah bahagia sekarang. Tolong hargai itu.

Tanpa menunggu jawaban, ia menutup ponsel, menarik payung, dan berjalan kembali ke kafe. Hujan menyiram rambut dan jaketnya, tapi ia merasa ringan. Rania tahu, meski Farel kembali muncul, ia tidak lagi bisa mempengaruhi ketenangannya.

Malam itu, setelah kafe tutup, Rania duduk di balkon apartemennya, menatap kota yang diterangi lampu-lampu jalan. Andre mengirim pesan menanyakan kabarnya, dan ia membalas dengan santai.

Ia menulis di buku catatan:

"Hari ini aku sadar, hidupku bukan soal dia lagi. Aku punya mimpi, aku punya pekerjaan yang aku cintai, dan aku punya teman yang mendukungku. Kalau cinta datang lagi, aku akan menerima dengan hati yang bijak. Tapi kalau tidak, aku tetap akan baik-baik saja."

Ia menutup buku, tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kedamaian sejati. Tidak ada rasa takut, tidak ada air mata, hanya rasa percaya pada dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Rania mendapat undangan untuk menjadi pembicara di sebuah seminar pastry internasional. Ini adalah pencapaian yang belum pernah ia bayangkan beberapa bulan lalu, saat ia masih duduk di rumah ibunya, memikirkan masa depan yang suram.

Ia berlatih presentasi dengan teliti, menata kue-kue yang akan dibawa, dan memastikan setiap detail sempurna. Hatinya berdebar, tapi berbeda dari rasa cemas sebelumnya. Ini adalah tantangan, bukan ancaman.

Di hari seminar, Rania berdiri di depan puluhan peserta, memamerkan keterampilannya, berbagi tips, dan menceritakan sedikit perjalanan hidupnya. Beberapa peserta menatapnya dengan kagum. Bahkan beberapa media mulai meliput kisahnya, menjadikan Rania sosok perempuan yang kuat dan inspiratif.

Setelah acara selesai, Andre mendekatinya. "Kamu luar biasa, Ran. Semua orang terkesan sama kamu."

Rania tersenyum. "Terima kasih. Aku cuma mau menunjukkan kalau perempuan bisa berdiri sendiri dan tetap hebat."

Andre menatap matanya dalam-dalam. "Aku yakin kamu bisa lebih dari itu. Dan aku... mau ada di sisi kamu, kalau kamu izinkan."

Rania terdiam sejenak, merasakan hati yang berdebar-debar tapi bukan karena takut, melainkan hangat. Ia menatap Andre, tersenyum tipis.

"Mungkin... nanti," bisiknya pelan. "Sekarang aku masih ingin fokus sama hidupku sendiri."

Andre mengangguk, tersenyum. "Aku akan sabar."

Malam itu, Rania menatap langit dari balkon apartemennya. Lampu kota yang berkelap-kelip seakan merayakan langkah baru dalam hidupnya. Ia tahu, meski jalan ke depan masih panjang, ia tidak lagi berjalan sendiri. Ia punya pekerjaan yang dicintai, teman yang setia, dan hati yang mulai siap menerima hal-hal baik.

Dan di balik semua itu, Rania menyadari satu hal: kadang kehilangan adalah awal dari menemukan diri sendiri.

Ia tersenyum tipis. "Aku siap, dunia. Datangilah dengan semua tantanganmu. Aku sudah siap."

Lampu kota memantul di matanya, seperti ribuan harapan yang menunggu untuk diwujudkan. Dan untuk pertama kalinya, Rania benar-benar percaya: masa lalunya tidak lagi menentukan siapa dia hari ini.

Kota besar itu tak pernah tidur, dan begitu juga Rania. Sejak pagi, ia sudah sibuk menyiapkan bahan-bahan kue untuk pesanan pesta ulang tahun seorang klien ternama. Oven yang hangat dan aroma gula panggang seakan menenangkan pikirannya, tapi di balik itu, ada perasaan gelisah yang terus menghantui.

Hari itu, sebuah email masuk di kotak kerja Rania. Judulnya sederhana, tapi membuatnya menelan ludah.

“Undangan Kolaborasi Eksklusif – Luxury Pastry Expo 2025”

Rania membuka email itu dengan hati berdebar. Luxury Pastry Expo bukan sembarang acara. Ini adalah ajang bergengsi, tempat para pastry chef profesional dari seluruh dunia berkumpul. Di sana, satu kesalahan bisa membuat reputasi hancur.

Ia menatap layar komputer, membaca detailnya: undangan itu datang dari perusahaan event organizer besar, yang ingin Rania membuat kue utama untuk acara tersebut. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tapi rasa takut muncul secara bersamaan—apakah ia siap menghadapi tekanan sebesar itu?

“Ran, kamu lihat email ini?” Dina menepuk bahu Rania.

Rania mengangkat kepala, matanya masih terpaku pada layar.

“Kau serius, Din? Mereka mau aku bikin kue utama untuk Luxury Pastry Expo?”

Dina mengangguk. “Ini kesempatan besar. Semua orang bakal kenal kamu. Tapi… aku bisa lihat ekspresimu. Kau ragu?”

Rania menelan ludah. “Aku takut gagal. Kalau aku gagal di depan orang-orang seperti itu… aku nggak tahu apakah aku bisa bangkit lagi.”

Dina tersenyum. “Ran, kamu lupa berapa kali kamu bangkit dari kegagalan. Dari rumah kecil ibumu, dari pengkhianatan Farel… kamu selalu kuat. Ini cuma tantangan lain.”

Rania menghela napas panjang. Ia tahu Dina benar, tapi hatinya tetap resah. Ia butuh waktu untuk berpikir.

Malam itu, Rania duduk di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ponselnya bergetar, dan kali ini pesan masuk dari nomor tak dikenal:

Rania, aku ingin bicara. Ini penting.

Rania menatap layar, jantungnya berdegup kencang. Bayangan masa lalunya langsung muncul: Farel? Alena? Atau seseorang yang ingin mengganggu ketenangannya?

Ia membiarkan pesan itu tetap terbuka, tapi tidak membalas. Ia menutup laptop, menarik selimut, dan mencoba menenangkan diri. Hatinya sudah terlalu sering hancur. Ia tak ingin kembali ke permainan emosional yang tak jelas.

Keesokan harinya, pekerjaan di kafe berjalan seperti biasa. Pesanan mengalir deras, tapi Rania tetap fokus pada tugasnya. Ia mulai membiasakan diri dengan ritme baru, belajar menata adonan cokelat, menghias kue dengan pola yang rumit, dan menyiapkan dekorasi unik untuk klien-klien penting.

Saat tengah hari, seorang pria masuk ke kafe dengan wajah serius. Penampilannya rapi, jas gelap, dan mata tajam.

“Rania?” tanyanya tegas.

Rania menatapnya, agak terkejut. “Ya… siapa yang bertanya?”

Pria itu tersenyum tipis tapi tidak ramah. “Nama saya Adrian. Saya dari Luxury Pastry Expo. Kami ingin membicarakan kontrak kerjasama. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum acara.”

Rania merasakan adrenalin naik. Ia berdiri, menatapnya serius. “Baik, mari kita duduk.”

Mereka duduk di meja sudut kafe. Adrian mulai menjelaskan ketentuan kontrak: bahan yang harus digunakan, konsep desain, hingga tenggat waktu yang sangat ketat.

“Ini proyek besar, Rania. Tekanan akan tinggi, tapi ini juga kesempatan besar,” kata Adrian, menatapnya dalam-dalam. “Kami butuh orang yang bisa bekerja cepat, kreatif, dan fokus. Aku dengar kamu punya reputasi itu.”

Rania menelan ludah. “Aku… akan melakukan yang terbaik.”

Adrian mencondongkan badan. “Aku ingin kamu sadar, ini bukan sekadar kue. Ini pertunjukan. Semua mata akan tertuju padamu. Setiap kesalahan akan terlihat, dan setiap keberhasilan akan dikenang. Apakah kamu siap?”

Rania menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia merasakan ketegangan yang nyata. Bukan ketegangan karena takut gagal, tapi karena ini benar-benar ujian bagi dirinya sendiri.

“Siap,” jawabnya tegas.

Hari-hari berikutnya menjadi neraka dan surga sekaligus. Rania harus bangun sebelum subuh, menyiapkan bahan-bahan, dan bekerja hingga larut malam. Oven yang panas, adonan yang lengket, dan waktu yang selalu terbatas membuatnya hampir menyerah beberapa kali.

Namun setiap kali ia ingin berhenti, ia mengingat dirinya sendiri: perempuan yang meninggalkan rumah demi harga diri, perempuan yang menolak dikendalikan Farel, perempuan yang belajar berdiri sendiri.

Di tengah rutinitas itu, Andre selalu hadir untuk memberinya dukungan. Kadang ia datang membawa kopi panas, kadang ia membantu menata kue, atau sekadar tersenyum memberi semangat. Kehadiran Andre membuat Rania merasa aman, tapi hatinya masih waspada. Ia tak ingin terlalu cepat membuka diri lagi.

Suatu sore, saat Rania sedang menata kue cokelat tinggi dengan dekorasi bunga segar, ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Farel.

Rania, aku butuh bicara. Tolong jangan abaikan aku.

Rania membeku. Napasnya tertahan. Ia menatap Andre yang baru saja masuk ke dapur. Andre menatapnya, menunggu isyarat.

Rania menarik napas panjang, menutup ponsel, dan menatap Andre. “Aku harus fokus. Aku nggak mau drama masa lalu ganggu pekerjaan.”

Andre mengangguk, memegang tangannya sebentar. “Aku di sini, Ran. Jangan khawatir.”

Rania tersenyum tipis, merasa sedikit tenang. Ia tahu, untuk pertama kalinya, ia punya seseorang yang bisa ia percaya.

Malam itu, Rania pulang larut. Apartemen sepi. Ia menatap kotak kue yang sudah ia siapkan untuk presentasi demo besok. Hatinya gelisah, tapi juga bersemangat.

Ia membuka laptop untuk melihat referensi desain kue dari pastry chef dunia. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul dari media sosial:

“Rania, kamu diundang tampil di acara live cooking di Luxury Pastry Expo. Ini kesempatanmu untuk dikenal internasional.”

Rania terdiam. Tangannya gemetar, tetapi matanya berbinar. Ini adalah peluang yang selama ini ia impikan.

Namun di balik kegembiraan itu, ada rasa cemas yang tak bisa dihilangkan. Apakah ia bisa tampil sempurna? Apakah tekanan akan menghancurkannya?

Ia menarik napas panjang, menutup laptop, dan menatap langit malam dari balkon. Hujan rintik-rintik jatuh, membasahi kota. Suara hujan seakan menenangkan pikirannya.

“Rania, kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini bukan tentang dia lagi. Ini tentang aku.”

Hari demo live cooking akhirnya tiba. Aula besar dipenuhi kamera, lampu, dan peserta dari seluruh dunia. Rania berjalan di panggung, jantungnya berdebar. Ia menatap ribuan mata yang tertuju padanya.

Tangannya gemetar saat mengambil adonan cokelat, tetapi ia menarik napas dalam-dalam. Ia mulai bekerja, mengikuti semua latihan yang ia lakukan selama berbulan-bulan. Gerakannya presisi, hati-hatinya sempurna. Ia menghias kue, menambahkan bunga segar, dan menciptakan pola rumit yang memukau.

Setelah selesai, tepuk tangan memenuhi aula. Kamera merekam setiap detik, menyorot setiap detail kue yang ia buat.

Rania tersenyum tipis. Hatinya lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri—bukan karena orang lain, tapi karena ia berhasil menaklukkan ketakutannya sendiri.

Di belakang panggung, Andre menepuk punggungnya. “Kamu hebat, Ran. Aku tahu kamu bisa.”

Rania menatapnya, tersenyum hangat. “Terima kasih… karena selalu ada.”

Namun malam itu, ketika ia pulang ke apartemen, sebuah pesan masuk lagi dari nomor tak dikenal:

Rania, aku tahu kamu berhasil. Tapi aku nggak bisa diam. Aku akan datang. – Farel

Rania menatap layar, napasnya tertahan. Bayangan masa lalu kembali hadir, tapi kali ini berbeda. Ia tidak lagi takut, hanya siap menghadapi apa pun.

Ia menulis pesan balasan singkat:

Aku sudah memilih hidupku. Jangan ganggu itu lagi.

Mengetik kata-kata itu membuatnya merasa kuat. Rania duduk di balkon apartemennya, menatap lampu kota, dan untuk pertama kalinya merasa bahwa dunia ini penuh tantangan, tapi ia siap menghadapinya.

Ia tersenyum tipis, menatap ke langit malam. Di balik hujan rintik-rintik dan lampu kota yang berkelap-kelip, Rania tahu satu hal pasti: apapun yang datang, ia akan tetap berdiri, kuat, dan tak akan pernah menyerah lagi.

Dan malam itu, kota besar terasa berbeda. Bukan menakutkan, tapi penuh peluang, tantangan, dan harapan baru. Rania akhirnya sadar: kehilangan masa lalu adalah awal dari menemukan kekuatan sebenarnya dalam dirinya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hasrat Liar
8.8
Meski statusnya hanya anak angkat, Rey mendapatkan dukungan penuh dari orang tua serta saudara-saudaranya untuk bertransformasi menjadi sosok pria perkasa. Mereka mendorongnya untuk mengasah daya pikat yang tak tertandingi demi menaklukkan hati setiap wanita yang ia temui. Ikuti perjalanan hidup Rey dalam mengeksplorasi sisi maskulin dan pesonanya yang liar. Akankah ia berhasil memenuhi harapan keluarga dan menjadi sang penakluk ulung di dunia asmara?
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver adalah CEO sukses yang tampak memiliki segalanya, namun hidupnya terkekang oleh aturan sang ayah. Di usia 29 tahun, ia dilarang menjalin kasih karena statusnya yang sudah terikat pernikahan sejak remaja dengan Olivia, putri sahabat ayahnya. Meski telah bertahun-tahun mencari, Christian tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Ironisnya, tanpa ia sadari sedikit pun, sosok Olivia sebenarnya selalu berada sangat dekat di sisinya selama ini.
Sampul Novel Janda Pemikat Hati
9.5
Pasca perceraian yang menyakitkan, Ruby merasa hancur dan kehilangan arah hidup. Berusaha bangkit, ia pergi ke sebuah bar bersama sahabatnya untuk mencari hiburan. Namun, sebuah insiden memalukan di toilet justru memicu perselisihan sengit antara dirinya dan seorang pria bernama Dinan. Tak disangka, takdir mempertemukan mereka kembali di kantor sebagai atasan dan bawahan. Situasi kian rumit karena Dinan ternyata adalah pria yang sangat dicintai oleh adik Ruby sendiri.
Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan
8.2
Mutiara Embun Pagi terpaksa pindah ke Jakarta demi memenuhi wasiat mendiang ayahnya. Di sana, ia terusik oleh Leon Bhaskara Granada, pemenang King of School yang arogan dan gemar meremehkannya sebagai gadis kampungan. Tak terima dihina, Embun bertekad memenangkan ajang Queen of School untuk membuktikan kemampuannya. Di tengah persaingan dan intimidasi Leon, mampukah Embun bertahan, meraih takhta sekolah, sekaligus menaklukkan hati sang playboy kaya tersebut?
Sampul Novel Kutemukan Cinta-Nya dan Dia di Tokyo
8.7
Akankah pernikahan impian terwujud di tengah keindahan kota Tokyo? Perjalanan ini membawa harapan besar bagi seorang wanita yang mendambakan kehadiran sosok pria idaman sebagai pemimpin dalam hidupnya. Di bawah langit Jepang yang romantis, ia mencari cinta sejati yang tidak hanya menyentuh hati, namun juga mampu membimbingnya menuju rida Sang Pencipta. Sebuah kisah pencarian imam yang penuh makna di tengah hiruk pikuk modernitas kota metropolitan.
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Terdesak kebutuhan hidup, Zio terpaksa setuju melayani seorang wanita dalam satu malam. Ia sempat mengira akan bertemu wanita tua, namun justru sosok muda yang sangat cantik muncul di hadapannya. Secara mengejutkan, wanita itu memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah beban hidupnya yang sangat berat, mampukah Zio memenuhi permintaan gila tersebut dan menjadi pendamping sang miliarder cantik yang misterius itu?