Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku

Jangan Pernah Menyentuh Anakku

Demi masa depan putranya, Aurora Elenna terpaksa menerima pernikahan kontrak dari Kaelan Dirgantara, CEO dingin yang dulu menghancurkan hidupnya. Namun, Kaelan tak menyadari bahwa Ravi adalah darah dagingnya. Kini, Aurora yang cerdas kembali dengan identitas baru demi menghadapi ancaman Selina Pramudya. Di tengah intrik perebutan harta dan rahasia besar, Aurora harus memilih antara membalas dendam atau jujur saat Kaelan mulai mencurigai identitas asli istri kontraknya itu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu Aurora pulang hampir tengah malam.

Hujan baru saja berhenti, meninggalkan sisa genangan di jalanan yang memantulkan cahaya lampu kota. Mobil taksi online yang ia tumpangi berhenti di depan apartemen sederhana di kawasan Menteng.

Dari luar, tak ada yang istimewa dengan tempat itu-tapi bagi Aurora, di sinilah satu-satunya tempat yang masih bisa disebut rumah.

Begitu pintu apartemen terbuka, suara kecil menyambutnya.

"Mama!"

Aurora segera menunduk, membuka kedua tangannya, dan seorang bocah laki-laki berlari menghampirinya dengan tawa riang.

Ravi-lima tahun, cerdas, penuh rasa ingin tahu, dan alasan terbesar mengapa ia kembali ke dunia Kaelan Dirgantara.

"Ravi, sudah malam, kenapa belum tidur?"

"Aku nunggu Mama," jawab bocah itu sambil memeluk erat pinggangnya. "Mau peluk dulu sebelum tidur."

Aurora tersenyum hangat, membelai rambut hitam tebal anak itu. Wajah Ravi membuatnya selalu teringat pada satu hal yang ia sembunyikan-mata kelabu tajam itu, bentuk rahang kecilnya, semua terlalu mirip dengan Kaelan.

"Maafin Mama, ya? Hari ini kerjaan banyak banget."

"Gapapa. Ravi udah makan sama Tante Sinta."

Sinta-pengasuh sekaligus sahabat lama yang membantu Aurora sejak ia kembali ke Jakarta-muncul dari dapur dengan celemek masih melingkar di pinggang.

"Kerja sampai jam segini terus, nanti kamu sakit, Aur."

Aurora tersenyum tipis. "Ini baru permulaan, Sin. Aku belum boleh lengah."

Sinta menatapnya dengan cemas. "Kaelan udah mulai curiga?"

"Belum," jawab Aurora sambil melepaskan sepatu dan mengganti baju. "Tapi dia punya insting tajam. Sedikit saja aku salah langkah, semuanya bisa berantakan."

Sinta menghela napas panjang. "Kamu yakin nggak mau bilang soal Ravi? Enam tahun dia hidup tanpa tahu punya anak... kalau Kaelan tahu-"

"Dia akan ambil Ravi dariku," potong Aurora cepat, suaranya serak. "Aku nggak bisa ambil risiko itu, Sin."

Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Di kamar kecil, Ravi sudah terlelap. Aurora menatap wajah polos anak itu lama, lalu berbisik lirih, "Mama janji, kamu akan aman. Apa pun yang terjadi."

Keesokan paginya, pukul tujuh lewat lima belas, Aurora sudah tiba di Dirgantara Group. Kantor masih sepi. Sebagian besar staf datang pukul delapan, tapi ia sengaja lebih awal untuk memeriksa sesuatu-berkas-berkas proyek yang semalam disebut dalam rapat: AuroraTech.

Nama itu kebetulan? Tidak.

Ia tahu pasti, Kaelan menamainya bukan tanpa alasan. Dan ia ingin tahu, kenapa nama yang dulu ia pakai untuk impian mereka berdua kini dipakai untuk proyek yang disembunyikan rapat-rapat.

Ia duduk di depan komputer, membuka sistem data internal yang sudah ia pelajari dalam waktu singkat. Tangan rampingnya lincah di atas keyboard, matanya menelusuri file demi file.

Hingga ia menemukan folder bertanda "Confidential – Internal Audit Hold".

"Ditemukan," bisiknya.

Ia memasukkan kode enkripsi buatan Rafiq, lalu menunggu loading bar berjalan. Dalam hitungan detik, dokumen terbuka.

Namun sebelum ia sempat membaca lebih jauh, suara langkah mendekat. Aurora cepat menutup file itu dan meminimalkan layar.

"Datang lebih awal lagi," suara Kaelan terdengar dari ambang pintu.

Aurora menoleh, berdiri sopan. "Selamat pagi, Pak Dirgantara."

Kaelan berdiri di sana, kemeja putihnya digulung setengah lengan, dasinya belum dipasang, rambutnya sedikit acak-acakan-pemandangan yang terlalu familiar bagi Aurora, tapi juga terlalu berbahaya untuk ditatap lama-lama.

"Kau rajin sekali," ucapnya sambil berjalan mendekat.

"Sudah terbiasa, Pak."

Kaelan menatap meja kerja Aurora, alisnya sedikit terangkat. "Sedang apa?"

"Saya sedang menyiapkan laporan investor hari ini."

Kaelan hanya mengangguk, namun matanya menelisik layar komputer. "Kau terlihat tegang. Jangan bilang baru dua hari kerja sudah stres?"

Aurora tersenyum tenang. "Hanya butuh waktu menyesuaikan ritme kerja Anda, Pak."

Kaelan menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis-senyum yang jarang ia keluarkan. "Ritme saya memang cepat. Tapi sejauh ini, kau bisa mengikuti."

"Terima kasih, Pak."

Kaelan berjalan menuju meja kerjanya. "Hari ini kita punya jadwal padat. Rapat dengan kementerian, lalu makan siang dengan investor dari Tokyo. Aku butuh kau dampingi di semua sesi."

"Baik, Pak."

"Dan satu lagi," lanjut Kaelan tanpa menoleh, "aku ingin kau siapkan draft kontrak baru untuk proyek AuroraTech."

Aurora menegang. "AuroraTech?"

Kaelan berhenti mengetik, menatapnya. "Kenapa? Ada masalah dengan namanya?"

Aurora cepat menguasai diri. "Tidak, Pak. Hanya... belum sempat saya pelajari detail proyeknya."

Kaelan menatapnya beberapa detik sebelum kembali ke komputer. "Kau akan tahu. Tapi proyek itu... istimewa. Tidak semua orang punya akses."

Ia tak tahu betapa kalimat itu justru menambah rasa ingin tahu di benak Aurora.

Rapat pertama berjalan lancar. Kaelan seperti biasa tampil sempurna-dingin, rasional, dan tanpa cela. Aurora mencatat setiap poin penting, tapi pikirannya sebagian tertuju pada file rahasia itu.

Setelah rapat berakhir, mereka menuju restoran hotel bintang lima untuk makan siang bersama investor Jepang.

Aurora duduk di samping Kaelan. Saat pelayan datang, Kaelan memesan kopi hitam tanpa melihat menu-kebiasaan lama yang membuat Aurora nyaris tersenyum.

"Ms. Elenna, Anda sudah lama bekerja dengan Pak Kaelan?" tanya salah satu investor dengan logat Jepang yang kental.

Aurora tersenyum sopan. "Baru dua hari, tapi saya sudah belajar banyak."

Kaelan meliriknya sekilas, lalu berkata pada investor itu, "Dia cepat tanggap. Saya butuh seseorang seperti dia."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dada Aurora sesak.

Makan siang berlangsung formal tapi hangat. Namun di sela percakapan bisnis, Aurora menangkap satu kalimat dari salah satu investor:

"Kami khawatir audit proyek AuroraTech terlalu lama tertunda. Ada dana yang belum jelas peruntukannya."

Aurora berpura-pura menulis catatan, tapi telinganya menangkap semua detail. Kaelan menjawab dengan tenang bahwa audit akan diselesaikan dalam waktu dekat. Namun Aurora tahu nada itu-Kaelan sedang menyembunyikan sesuatu.

Saat mereka keluar dari restoran, Kaelan tiba-tiba berkata tanpa menoleh, "Jangan terlalu banyak mendengarkan pembicaraan yang bukan urusanmu, Elenna."

Aurora menatapnya, terkejut karena ia sadar Kaelan tahu ia mendengar. "Saya hanya mencatat yang penting, Pak."

Kaelan berhenti berjalan, lalu menatapnya tajam. "Kau memang cepat belajar. Tapi ingat, di dunia ini, terlalu banyak tahu bisa berbahaya."

Aurora menatap balik, tak mundur. "Saya tidak takut pada bahaya, Pak."

Kaelan menatapnya lebih lama, kemudian berbalik tanpa kata. "Kita lihat nanti."

Sore hari, setelah semua pertemuan selesai, Aurora kembali ke mejanya dan memandangi jam. Sudah hampir pukul tujuh.

Ia menunggu sampai Kaelan meninggalkan kantor, lalu kembali membuka sistem. Kali ini, ia berhasil menyalin sebagian file proyek AuroraTech ke flashdisk kecil.

Namun tepat saat ia hampir selesai, suara pintu terbuka membuatnya kaget.

Kaelan berdiri di sana-lagi-lagi tanpa suara.

"Kau masih di sini?" tanyanya datar.

Aurora cepat menyembunyikan flashdisk di bawah dokumen. "Hampir selesai, Pak. Saya ingin memastikan laporan keuangan hari ini lengkap."

Kaelan mendekat. "Kau benar-benar berdedikasi. Tapi aku tidak ingin kau lembur sendirian."

Aurora menahan napas saat pria itu berdiri hanya sejengkal darinya.

Aroma cologne-nya masih sama seperti dulu-maskulin, tajam, dan berbahaya.

Kaelan memandangi layar laptopnya. "Proyek AuroraTech, ya?"

Aurora cepat menutup file. "Hanya memastikan tanggal penandatanganan, Pak."

Kaelan menyipit. "Kau tahu apa artinya 'Aurora' dalam bahasa Latin?"

Aurora menggeleng pelan.

"Cahaya fajar," jawab Kaelan lirih. "Sesuatu yang muncul setelah malam panjang. Proyek ini... adalah fajar bagi Dirgantara Group."

Aurora nyaris tertawa getir. Ia tahu makna sebenarnya di balik kata itu-Aurora bukan sekadar nama proyek. Itu nama yang dulu ia pilih bersama Kaelan untuk startup kecil mereka sebelum semuanya hancur.

Kaelan menatap wajahnya lama, lalu berbisik nyaris tak terdengar, "Kau benar-benar mengingatkanku pada seseorang. Tapi wanita itu sudah lama pergi."

Aurora menelan ludah. "Mungkin saya cuma kebetulan mirip, Pak."

Kaelan menatapnya sekali lagi sebelum berbalik. "Mungkin."

Saat pintu tertutup, Aurora menggenggam flashdisk itu erat. Jantungnya berdebar cepat, tapi bukan karena rasa takut-melainkan karena campuran antara nostalgia dan kemarahan.

Kaelan tidak tahu apa pun. Dan ia berniat menjaga agar tetap begitu.

Malamnya, Aurora duduk di ruang tamu apartemen dengan Sinta. Flashdisk itu kini terhubung ke laptop lain, menampilkan data yang baru saja ia curi.

"Lihat ini, Sin." Aurora menunjuk layar. "Ada dana masuk dari rekening luar negeri atas nama perusahaan bayangan. Nominalnya besar sekali. Proyek AuroraTech ternyata bukan cuma riset teknologi. Ini... pencucian uang."

Sinta menatap kaget. "Kamu yakin?"

"Data mentahnya jelas. Mereka pakai proyek ini buat menutup transaksi ilegal. Dan lebih parahnya, semua laporan resmi dihapus dari sistem utama. Kaelan pasti tahu."

Sinta menelan ludah. "Aurora, kalau ini beneran, kamu bisa dalam bahaya besar."

Aurora memejamkan mata sejenak. "Aku nggak peduli. Aku cuma butuh bukti konkret. Kalau aku berhasil buka semua ini, bukan cuma aku yang bebas dari masa lalu... tapi Ravi juga."

Sinta mengangguk pelan. "Kamu masih mencintai dia, kan?"

Pertanyaan itu menghantam Aurora seperti badai. Ia terdiam lama sebelum menjawab, "Aku benci dia... tapi setiap kali menatap matanya, semua benci itu terasa rapuh."

Sinta menatapnya dengan iba. "Hati kamu belum benar-benar sembuh."

Aurora tersenyum getir. "Mungkin. Tapi kali ini, aku nggak datang untuk cinta. Aku datang untuk menang."

Hari berikutnya, suasana kantor berbeda. Beberapa staf tampak gelisah, beberapa sibuk membicarakan isu rapat dewan mendadak yang dijadwalkan sore nanti.

Aurora memperhatikan, tapi tak berkomentar.

Kaelan datang sekitar pukul delapan. Ia tampak lebih serius dari biasanya. "Elenna, batalkan semua janji sore ini. Kita punya rapat internal mendesak."

"Baik, Pak."

Menjelang siang, Kaelan memanggilnya ke ruang kerja.

"Duduk," katanya singkat.

Aurora menurut.

Kaelan menatap layar laptop, lalu menatapnya lurus. "Kau pernah bekerja di bidang audit sebelumnya?"

"Ya, Pak. Di London, beberapa tahun."

Kaelan mengangguk. "Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk meninjau ulang laporan proyek AuroraTech. Ada kebocoran data, dan aku tidak ingin media tahu sebelum waktunya."

Aurora menahan napas. Tawaran itu-adalah kesempatan emas. "Saya siap, Pak."

Kaelan menatapnya dalam. "Aku memilihmu bukan karena kebetulan, Elenna. Ada sesuatu pada dirimu yang... membuatku merasa kau bisa diandalkan."

Aurora hanya bisa menatap, menahan gejolak di dada.

"Terima kasih, Pak. Saya akan lakukan sebaik mungkin."

Kaelan berdiri, mendekat, menatapnya dari jarak yang terlalu dekat. "Aku harap begitu. Karena kalau sampai kau berkhianat, aku tidak akan segan menghancurkanmu."

Aurora menatap balik tanpa gentar. "Saya tidak punya alasan untuk berkhianat, Pak."

Kaelan tersenyum tipis. "Kita lihat nanti."

Rapat dewan sore itu menegangkan. Aurora duduk di sisi ruangan, mencatat, sementara para direktur berdebat soal kebocoran dana. Nama proyek AuroraTech terus disebut, dan Kaelan berulang kali ditekan untuk memberi penjelasan.

Namun pria itu tetap tenang.

"Semua laporan akan diverifikasi ulang," katanya mantap. "Saya sudah menugaskan staf khusus untuk meninjau sistem."

Semua mata menoleh ke Aurora.

Ia berdiri dan menunduk sedikit. "Saya akan memastikan audit selesai dalam tiga hari, Pak."

Kaelan menatapnya singkat dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Di bawah meja, tangan Aurora mengepal. Ia tahu ini langkah berani-tapi ia tidak bisa mundur.

Malam itu, Aurora kembali ke apartemen dengan kepala penuh rencana. Ravi sudah tidur, Sinta sudah menyiapkan teh hangat.

Namun sebelum ia sempat duduk, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal:

"Kau bukan satu-satunya yang mencari kebenaran soal AuroraTech. Tapi hati-hati, Elenna-mereka mengawasi."

Aurora menatap layar itu lama.

Siapa pun pengirimnya, satu hal pasti: permainan sudah berubah menjadi lebih berbahaya.

Ia menatap jendela, melihat langit malam Jakarta yang suram, lalu berbisik, "Aku sudah terlanjur masuk terlalu dalam. Tidak ada jalan mundur."

Di kejauhan, lampu kota berkelip seperti bintang palsu-dan di salah satu penthouse tinggi, Kaelan Dirgantara berdiri menatap laporan di tangannya, alisnya berkerut.

Di sana, di pojok bawah dokumen audit yang baru ia terima, tertera nama:

Elenna Arista.

Kaelan menatap tanda tangan itu lama, lalu berkata lirih,

"Elenna... siapa sebenarnya kau?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!
8.3
Hanif, pimpinan INANTA Group, bukanlah CEO angkuh pada umumnya. Ia adalah sosok religius yang mengutamakan ibadah di tengah kesuksesan. Namun, hidupnya berubah saat putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ikatan kuat antara Aisyah dan Aida membuat pertunangan Hanif dengan Soraya terancam gagal. Di antara tanggung jawab dan keinginan sang anak, ke manakah hati Hanif akhirnya akan memilih berlabuh?
Sampul Novel Cinta Beracun: Jatuh Cinta Pada Kekasihku yang Kejam
9.0
Brynn terjebak dalam hubungan toksik dengan Lawrence, pria yang kerap menghina sekaligus memanjakannya. Saat Lawrence mengumumkan pernikahannya, Brynn merasa bebas dan mencoba memulai hidup baru melalui kencan buta. Namun, di tengah hinaan keluarga calonnya, Lawrence tiba-tiba muncul dan mengklaim Brynn sebagai miliknya di depan semua orang. Brynn pun tertegun; mengapa pria itu ada di sini dan membelanya padahal hari ini adalah jadwal pernikahannya?
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Hidup Cantika hancur saat seseorang tak bertanggung jawab membuatnya gagal membayar biaya medis ayahnya. Demi melunasi utang rumah sakit, ia terpaksa menjadi istri kedua seorang milyarder dan setuju mengandung anaknya. Namun, impian akan pernikahan indah sirna saat realita berubah menjadi penderitaan layaknya neraka. Akankah gadis polos ini tetap bertahan dalam siksaan tersebut, atau justru memilih melarikan diri dari sang suami demi kebebasannya?
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang CEO
8.9
Pasca bercerai, Bella yakin hidupnya akan tenang tanpa bayang-bayang mantan suaminya. Namun, sang CEO yang dulu angkuh justru datang bersimpuh dan memohon pengampunan agar mereka bisa memulai kembali. Meski pria itu menundukkan kepala dengan penuh penyesalan, luka hati Bella sudah terlanjur dalam. Ia dengan tegas menolak bunga serta permintaan maaf tersebut karena merasa semuanya sudah terlambat. Kesempatan kedua yang diharapkan sang mantan kini terasa sia-sia.
Sampul Novel Lyana
8.4
Lyana adalah wanita sederhana yang bekerja keras demi menyokong hidup keluarganya di desa. Namun, masa depannya hancur seketika setelah bertemu dengan Justin, seorang pria kaya raya yang memiliki sifat sangat angkuh. Dalam kondisi mabuk berat dan hilang kesadaran, Justin melakukan tindakan keji yang merusak hidup Lyana. Kini, Lyana terjebak dalam nestapa akibat perbuatan Justin. Apakah sang miliarder akan bertanggung jawab, atau justru melarikan diri?
Sampul Novel Pesona Presdir Posesif
8.3
Dunia Adira hancur saat kekasihnya memilih menikahi sahabatnya sendiri. Dalam keputusasaan, ia menghabiskan malam dengan Kian, pria misterius yang mengaku sebagai gigolo. Namun, Adira terkejut saat mengetahui identitas asli Kian adalah seorang Presdir berkuasa sekaligus orang tua mahasiswanya. Kian menjebak Adira dalam sandiwara rumit yang sulit ditolak. Terperangkap dalam kebohongan, mampukah Adira melawan pesona posesif sang miliarder yang kian menjeratnya?