
Jangan Pernah Menyentuh Anakku
Bab 3
Pagi itu langit Jakarta berwarna abu-abu keperakan, seolah meniru suasana hati Aurora. Ia berdiri di depan lift eksekutif lantai 50, memegang map presentasi berwarna hitam dengan logo Dirgantara Group timbul di sudut kanan bawah.
Kantor masih setengah sepi, sebagian karyawan belum datang. Tapi suara langkah sepatu hak tinggi di lantai marmer, suara mesin espresso yang baru menyala, dan bisikan-bisikan kecil antar staf mulai mengisi udara.
Aurora menatap pantulan dirinya di pintu lift yang berkilap: setelan jas biru muda, rambut dikuncir rapi, bibir dengan warna nude lembut, dan mata yang tampak tenang-meski di dalamnya, ada badai yang ia jaga rapat-rapat.
Hari ini adalah hari penting.
Ia akan mendampingi Kaelan dalam rapat strategi merger dengan investor Jepang, sebuah kesempatan besar yang bisa menentukan masa depan perusahaan. Biasanya, posisi ini hanya dipegang oleh sekretaris senior, atau bahkan manajer khusus. Tapi entah kenapa, Kaelan secara pribadi memilihnya.
"Bu Aurora, sudah siap?"
Suara Lani, rekan sekretaris di departemen legal, memecah lamunannya.
Aurora mengangguk kecil, menyelipkan sehelai rambut di belakang telinga. "Sudah. Kaelan sudah di ruang rapat?"
"Sudah dari setengah jam lalu," jawab Lani cepat. "Katanya mau review ulang dokumen kontrak. Tapi hati-hati, mood-nya agak... susah ditebak pagi ini."
Aurora tersenyum samar. "Kapan sih dia tidak begitu?"
Lift terbuka, dan aroma wangi kopi hitam serta pendingin ruangan langsung menyambutnya. Lantai direksi selalu memiliki nuansa berbeda: sunyi, rapi, dan penuh ketegangan tak kasatmata. Langkahnya mantap saat mendekati ruang rapat, tapi ketika pintu terbuka, dunia seolah berhenti berputar sejenak.
Kaelan berdiri di depan layar besar, tangan menyelip di saku celana, mengenakan setelan hitam dengan dasi abu-abu. Tatapannya fokus ke grafik penjualan di layar, tapi saat Aurora masuk, ia perlahan menoleh.
Sekilas, tidak ada perubahan dalam ekspresi wajahnya. Tapi Aurora tahu, mata itu-mata yang dulu menatapnya dengan kasih, kini hanya menyimpan jarak dingin.
"On time," ujar Kaelan datar, pandangannya turun ke map di tangan Aurora. "Presentasi sudah kamu revisi?"
"Sudah, sesuai catatan Anda semalam," jawab Aurora tenang. Ia meletakkan map di atas meja kaca dan menyerahkan tablet berisi file digital. "Saya juga menambahkan analisis tambahan untuk bagian proyeksi pasar setelah merger."
Kaelan mengangkat alis, sedikit terkejut. "Tambahan?"
Aurora mengangguk pelan. "Ya. Berdasarkan riset tren sektor logistik Jepang dan kebijakan ekspor baru mereka. Saya pikir itu relevan."
Keheningan singkat. Kaelan menatapnya lebih lama dari seharusnya, seolah mencoba menembus lapisan profesionalisme yang ia kenakan pagi ini. Tapi Aurora tidak menunduk. Ia tetap menatap balik, netral, sopan, tapi tidak tunduk.
"Baik," kata Kaelan akhirnya. "Tampilkan nanti di sesi terakhir."
Aurora menekan tombol di tablet, menyiapkan file. Jantungnya berdetak pelan tapi tegas. Bukan karena gugup menghadapi Kaelan-setidaknya, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri-melainkan karena momen ini menandai sesuatu.
Langkah pertama untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Rapat dimulai setengah jam kemudian. Perwakilan dari pihak Jepang, tiga pria berjas rapi dengan pin bendera kecil di dada, duduk berhadapan dengan tim Dirgantara Group. Aurora duduk di sisi Kaelan, mencatat, mengatur dokumen, dan sesekali menerjemahkan poin penting ke dalam bahasa Jepang dengan lancar.
Kaelan sempat meliriknya, jelas terkejut. "Kamu bisa bahasa Jepang?"
Aurora hanya menjawab pelan tanpa menoleh, "Sedikit. Saya pernah magang di Tokyo."
"Saya tidak pernah lihat itu di CV kamu."
Aurora tersenyum tipis. "Mungkin karena saya tidak menulisnya."
Ada kilatan singkat di mata Kaelan-antara penasaran dan kesal-tapi ia menahan komentar. Rapat berlanjut dengan intens. Aurora tetap fokus, tapi sesekali, ia menangkap Kaelan memandangi profil wajahnya di sela-sela pembicaraan.
Ketika salah satu investor bertanya dengan bahasa Jepang agak cepat, Aurora langsung menjawab, menjelaskan secara diplomatis tanpa menunggu penerjemah resmi. Ruangan seketika hening. Semua mata, termasuk Kaelan, beralih padanya.
"Baik," kata investor itu setelah beberapa detik, tersenyum. "Anda memahami konteksnya dengan tepat, Nona...?"
Aurora menunduk sopan. "Aurora Elenna, sir."
Kaelan menegakkan tubuh, meliriknya sekali lagi, kali ini jelas berbeda. Ada kekaguman yang samar-yang berusaha ia sembunyikan di balik ekspresi dingin.
Setelah dua jam penuh ketegangan, rapat berakhir dengan hasil memuaskan. Pihak Jepang tampak puas, dan Kaelan berdiri untuk menyalami mereka satu per satu.
Saat semua tamu keluar, ruangan hanya tersisa mereka berdua.
"Sejak kapan kamu bisa bahasa Jepang?" suara Kaelan terdengar rendah, hampir seperti gumaman.
Aurora merapikan dokumen tanpa menatapnya. "Sudah lama."
"Magang di Tokyo? Di mana tepatnya?"
"Perusahaan kecil," jawabnya singkat. "Bagian riset pasar."
Kaelan menyilangkan tangan di dada. "Menarik. Kamu tampaknya punya lebih banyak sisi daripada yang kamu tunjukkan di CV-mu."
Aurora akhirnya menatapnya, senyumnya kecil tapi tajam. "Setiap orang punya sisi yang tidak mereka tunjukkan, Pak."
Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu terasa melambat.
Kaelan membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi pintu diketuk dari luar. Suara sekretaris lain memanggil, "Pak Kaelan, Bu Selina sudah datang. Katanya mau bicara penting."
Nama itu membuat udara di ruangan langsung menegang.
Selina Pramudya. Mantan istri Kaelan. Wanita yang dulu menjadi simbol kehancuran hubungan mereka.
Kaelan memijit pelipisnya sebentar. "Baik. Suruh tunggu di lounge."
Tapi sebelum Aurora bisa pergi, Kaelan menahannya dengan satu kalimat dingin. "Kamu tetap di sini. Aku butuh kamu mencatat."
Aurora menatapnya. "Untuk pertemuan pribadi seperti ini?"
"Selina bukan urusan pribadi," balas Kaelan tanpa ekspresi. "Dia masih pemegang saham minor."
Aurora menahan napas, lalu mengangguk pelan. "Baik."
Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Selina masuk dengan langkah penuh percaya diri. Rambut pirang kecokelatannya jatuh sempurna di bahu, tubuhnya terbalut dress putih gading yang menonjolkan keanggunan sekaligus keangkuhan.
"Kaelan," sapanya manis, sebelum menatap sekilas ke arah Aurora. Senyum di bibirnya menipis. "Oh. Sekretaris baru?"
Kaelan tidak menanggapi nada sindiran itu. "Selina, langsung saja ke intinya. Kau bilang ini penting."
Selina duduk tanpa diminta, menaruh tablet di meja, dan memperlihatkan beberapa dokumen digital. "Aku ingin membahas soal pembagian aset Dirgantara Pharma. Aku punya hak, dan aku tidak akan diam melihat ayahmu mengalihkan sahamku diam-diam."
Aurora dengan cepat mencatat setiap poin. Tapi dari ekor matanya, ia bisa melihat perubahan kecil di wajah Kaelan-rahang yang mengeras, jemari yang mengetuk pelan meja.
"Selina, perjanjianmu sudah berakhir sejak perceraian," kata Kaelan tenang. "Kau sudah mendapat kompensasi."
"Tidak cukup," balas Selina tajam. "Kau pikir aku tidak tahu proyek baru itu hasil merger dengan pihak Jepang? Itu investasi yang aku bantu bangun dulu."
"Dan aku yang mengeksekusi," sahut Kaelan, suaranya meninggi sedikit. "Kau keluar sebelum proyek itu hidup, jadi berhenti berpura-pura berhak."
Suasana jadi panas. Aurora menunduk sedikit, tapi matanya tak lepas dari tablet. Ia tahu, ini bukan sekadar pertengkaran bisnis. Ini adalah permainan kekuasaan antara dua orang yang dulu pernah saling memiliki.
Selina mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau lupa, Kaelan? Aku tahu semua rahasia keluargamu. Termasuk siapa yang sebenarnya membocorkan data tender lima tahun lalu."
Kaelan terdiam. Tatapannya menjadi gelap. "Jangan mulai, Selina."
"Kalau begitu, kita bisa bicara lagi nanti," ujar Selina dengan senyum licik, lalu berdiri. Ia sempat melirik Aurora sekali lagi sebelum keluar. "Jaga baik-baik sekretarismu, Kaelan. Kadang yang paling berbahaya justru yang tampak paling manis."
Pintu tertutup keras.
Aurora mengangkat wajahnya perlahan, menatap Kaelan yang kini menatap kosong ke arah jendela besar. "Apakah saya perlu menulis laporan rapatnya, Pak?"
Kaelan menghela napas panjang, lalu berkata tanpa menoleh, "Tidak. Hapus saja semua catatan."
Aurora mengangguk, tapi saat ia berbalik hendak pergi, suara Kaelan memanggilnya lagi.
"Aurora."
Ia berhenti. "Ya?"
Tatapan Kaelan tajam, tapi bukan marah-lebih seperti ingin memahami. "Aku tidak suka orang menyembunyikan sesuatu dariku. Termasuk kamu."
Aurora menatap balik dengan senyum tipis yang nyaris tak terbaca. "Kalau begitu, Anda harus belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa Anda kendalikan, Pak Kaelan."
Ia melangkah keluar, meninggalkan Kaelan sendirian di ruangan itu. Tapi langkahnya gemetar sedikit.
Karena di balik ketenangannya, jantungnya berdebar kencang-bukan karena takut, tapi karena satu kesadaran baru: permainan ini baru saja dimulai.
Malamnya, di apartemen kecilnya di Menteng, Aurora menatap laptopnya yang terbuka di meja makan. Di layar, terlihat folder rahasia bertuliskan PROJECT ORION, file internal milik Dirgantara Group yang hanya bisa diakses oleh direksi. Ia berhasil mendapatkannya lewat jaringan lama yang masih ia miliki dari masa magang di luar negeri.
"Jadi ini yang mereka sembunyikan," gumamnya pelan.
Ravi, putranya, sudah tidur di kamar. Wajah kecil itu tenang, polos, tanpa tahu ibunya sedang memegang rahasia besar yang bisa menghancurkan-atau menyelamatkan-ayahnya sendiri.
Aurora menutup laptop perlahan. Tangannya gemetar sedikit, tapi tekadnya bulat.
Ia tidak kembali hanya untuk bekerja. Ia kembali untuk memastikan keadilan. Untuk membalas luka enam tahun lalu-dan mungkin, menemukan jawaban yang dulu ia cari tentang Kaelan.
Di luar, hujan turun perlahan.
Dan di gedung pencakar langit yang berjarak beberapa kilometer dari sana, Kaelan berdiri di depan jendela kantornya yang gelap, menatap hujan yang sama.
Di tangan kirinya, ia memegang foto lama-foto dirinya bersama seorang wanita muda berambut cokelat dan senyum lembut yang sama seperti Aurora.
"Aurora Elenna..." bisiknya pelan. "Kau sebenarnya siapa sekarang?"
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Kaelan Dirgantara merasa kehilangan kendali atas sesuatu yang tidak bisa ia pahami-seorang wanita yang dulu ia tinggalkan, kini kembali dengan rahasia yang bahkan ia tak siap untuk hadapi.
Enam tahun lalu.
Langit sore Jakarta terlihat seperti lukisan yang tak selesai. Warna oranye muda menumpuk di antara awan tipis, memantulkan cahaya hangat di gedung-gedung kaca. Di lantai 38 Dirgantara Tower, seorang mahasiswi magang bernama Aurora Elenna Prasetyo menatap layar komputernya sambil mengetik laporan mingguan dengan kecepatan hampir tak wajar.
Usianya waktu itu baru dua puluh dua tahun. Cerdas, bersemangat, dan penuh mimpi. Ia adalah lulusan cepat dari Universitas Indonesia, mendapat beasiswa tambahan di bidang ekonomi bisnis internasional, dan baru saja diterima magang di salah satu perusahaan konglomerat terbesar di Asia Tenggara.
Baginya, Dirgantara Group bukan sekadar tempat magang—tapi simbol masa depan.
Dan Kaelan Dirgantara adalah sosok yang mewujudkan semua ambisi yang selama ini hanya ada di kepala: muda, tajam, tampan, dan karismatik.
Tapi di hari itu, Aurora belum tahu bahwa lelaki yang ia kagumi diam-diam akan menjadi penyebab luka terbesar dalam hidupnya.
“Aurora,” panggil suara lembut tapi tegas dari belakangnya.
Ia menoleh cepat, menemukan sosok Kaelan berdiri di depan pintu kaca ruang magang. Waktu itu Kaelan berusia dua puluh delapan tahun, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku, dasi longgar, dan jam tangan hitam yang tampak elegan di pergelangan tangannya.
Semua orang di lantai itu langsung menegakkan badan. Keheningan jatuh seketika.
Aurora ikut berdiri, menahan gugup. “Ya, Pak?”
Kaelan menatapnya sekilas. “Ikut saya ke ruang rapat. Saya butuh bantuan revisi data tender proyek luar negeri. Sekarang.”
Aurora sempat melirik rekan magangnya, yang menatapnya dengan campuran iri dan heran. Ia mengangguk cepat dan mengambil laptopnya, mengikuti langkah panjang Kaelan yang sudah lebih dulu keluar ruangan.
Ruang rapat di lantai direksi begitu tenang, nyaris seperti dunia lain. Dinding kaca menghadap pemandangan kota, dan aroma kopi hitam memenuhi udara.
Kaelan berdiri di dekat meja besar, membuka laptopnya, sementara Aurora duduk di seberang. Ia memperhatikan cara lelaki itu bekerja: cepat, presisi, nyaris tanpa celah. Tapi justru ketelitian itu yang membuat Aurora gugup.
“Ini,” kata Kaelan sambil menunjuk grafik di layar. “Angka ini tidak sinkron dengan laporan dari tim Jepang. Cek ulang data konversinya.”
Aurora memajukan tubuhnya sedikit. “Boleh saya lihat file mentahnya, Pak?”
Kaelan mengangguk, menyerahkan tablet. Saat jari mereka bersentuhan sekilas, sesuatu di dada Aurora bergetar kecil. Ia buru-buru menarik tangan, menunduk, pura-pura fokus.
Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya bunyi ketikan cepat dan napas yang tertahan.
“Sudah,” kata Aurora akhirnya. “Masalahnya ada di rasio kurs yen yang belum diperbarui.”
Kaelan menatap layar, lalu menatapnya. “Kau tahu itu tanpa melihat catatan?”
Aurora tersenyum tipis. “Kebiasaan, Pak. Saya sering bantu dosen saya untuk riset valuta.”
Kaelan memandangnya lama. Ada sesuatu dalam tatapannya—bukan sekadar kekaguman, tapi seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik di balik wajah polos seorang mahasiswi magang.
“Menarik,” katanya pelan. “Kau tidak seperti kebanyakan magang yang hanya datang untuk dapat sertifikat.”
Aurora menelan ludah. “Saya datang untuk belajar, Pak.”
“Dan kau belajar dengan cepat.”
Suara itu dalam, tapi hangat. Dan untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, jantung Aurora berdetak sedikit lebih cepat.
Hari-hari berikutnya, Aurora semakin sering dipanggil ke lantai direksi. Ia membantu laporan keuangan, mengatur jadwal rapat, bahkan menerjemahkan dokumen asing. Rekan magangnya mulai bergosip: “Aurora itu deh, pasti dekat sama bos.” Tapi ia tak menggubris.
Namun, malam itu menjadi awal dari segalanya.
Hari sudah lewat pukul sembilan malam ketika Aurora masih duduk di ruang rapat, menyusun data presentasi. Lantai sudah sepi. Tiba-tiba pintu terbuka, dan Kaelan muncul dengan kemeja yang sedikit kusut dan mata lelah.
“Kau belum pulang?” tanyanya pelan.
Aurora mengangkat kepala. “Masih sedikit lagi, Pak. Saya mau pastikan datanya lengkap.”
Kaelan berjalan mendekat. “Staf lain sudah pulang sejak jam tujuh. Kau tidak takut sendirian?”
Aurora tersenyum kecil. “Takutnya kalau data ini salah, bukan kalau saya sendirian.”
Kaelan tertawa kecil, tawa yang jarang sekali keluar. Ia duduk di kursi seberang. “Kau tahu, aku mulai mengerti kenapa ayahku dulu bilang: orang seperti kau akan jauh melampaui banyak orang.”
Aurora menatapnya, sedikit bingung. “Saya?”
“Ya.” Kaelan menatap lurus. “Kau punya keberanian. Tapi terlalu berani bisa jadi masalah.”
Aurora menunduk, pura-pura sibuk dengan laptop, padahal pipinya hangat. “Saya hanya melakukan yang seharusnya.”
Kaelan bersandar di kursi, memperhatikan gerak tangannya di keyboard. Ada jeda panjang sebelum ia berbicara lagi. “Kau sudah punya rencana setelah magang ini?”
“Belum tahu, Pak,” jawabnya jujur. “Saya masih menunggu hasil seleksi beasiswa luar negeri.”
“Kalau tidak diterima?”
Aurora menatap layar. “Mungkin cari kerja di sini. Atau di perusahaan lain. Asal bisa belajar banyak.”
Kaelan mengangguk pelan. “Kalau aku tawarkan posisi tetap di sini, kau akan ambil?”
Aurora mendongak, terkejut. “Serius, Pak?”
“Sangat serius,” jawabnya dengan nada rendah. “Kau lebih kompeten daripada beberapa staf tetap.”
Aurora menelan ludah. “Terima kasih, Pak. Tapi… saya masih harus menyelesaikan skripsi.”
Kaelan tersenyum miring. “Skripsi bisa diselesaikan, kesempatan belum tentu datang dua kali.”
Kata-kata itu menghantamnya lembut, seperti godaan. Dan di tengah cahaya lampu redup dan pemandangan kota malam, untuk sesaat, jarak profesional di antara mereka tampak menghilang.
Aurora baru menyadarinya ketika Kaelan mencondongkan tubuh sedikit, memperhatikan wajahnya lebih dekat. “Kau masih sangat muda,” katanya pelan. “Tapi matamu… sudah seperti seseorang yang pernah kehilangan banyak hal.”
Aurora membeku. Tak banyak orang yang pernah membaca dirinya sedalam itu.
“Saya belajar cepat, Pak,” jawabnya akhirnya, lirih. “Kadang terlalu cepat.”
Kaelan menatapnya beberapa detik, lalu berdiri, menepuk bahunya ringan. “Jangan terlalu keras pada dirimu, Aurora.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum kayu yang samar. Tapi langkahnya berhenti di ambang pintu. “Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh, “besok aku ingin kau temani aku ke presentasi investor. Jam delapan. Jangan telat.”
Aurora mengangguk, meski Kaelan tak melihatnya. Setelah pintu tertutup, ia baru sadar betapa cepat jantungnya berdebar.
Itu pertama kalinya ia merasa… terlihat.
Beberapa minggu berikutnya berjalan seperti badai yang indah. Aurora dan Kaelan semakin sering bekerja bersama. Ia mulai memahami ritme kerja Kaelan, kebiasaan kecilnya—bagaimana ia mengetuk pena saat berpikir, bagaimana ia diam lama sebelum mengambil keputusan besar.
Mereka makan siang bersama di ruang kerja, tertawa kecil di sela stres pekerjaan. Kadang Kaelan memberi nasihat, kadang hanya menatap diam ketika Aurora bicara tentang cita-citanya.
Sampai satu malam di akhir proyek besar, saat tim mereka merayakan keberhasilan di restoran mewah.
Aurora tak terbiasa dengan minuman beralkohol, tapi rekan-rekan memaksa. Ia hanya minum sedikit, tapi cukup membuat kepalanya ringan. Saat semua orang berpencar, Kaelan datang menghampirinya di balkon belakang restoran.
“Kau tampak lelah,” katanya pelan.
Aurora tersenyum. “Sedikit. Tapi senang.”
“Senang karena proyeknya sukses, atau karena kau bisa buat aku kagum?”
Aurora menatapnya. “Apakah saya berhasil, Pak?”
Kaelan mengangkat gelasnya. “Lebih dari berhasil.”
Cahaya malam, angin lembut, dan aroma parfum yang sama lagi-lagi membuat segalanya kabur. Ia tahu seharusnya menjauh, tapi langkahnya justru tertahan. Kaelan menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata lirih, “Aku tidak seharusnya tertarik pada anak magang.”
Aurora menahan napas. “Lalu kenapa Anda mengatakan itu pada saya?”
“Karena aku tidak pandai berpura-pura.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Saat itu, Aurora tidak berpikir panjang. Dunia terasa terlalu kecil, dan jarak di antara mereka menghilang dalam sekejap.
Ciuman pertama itu terjadi tanpa rencana. Hangat, dalam, dan memabukkan. Dan malam itu menjadi awal dari hubungan rahasia yang mereka simpan rapat dari semua orang.
Beberapa bulan berikutnya adalah masa paling membingungkan dalam hidup Aurora. Ia masih magang, tapi sering dipanggil untuk proyek khusus. Kaelan mulai sering menjemputnya, membawanya makan malam di tempat sepi, bahkan mengirim bunga kecil ke apartemen mungilnya.
Ia tahu semua itu salah. Tapi setiap kali melihat tatapan lembut di mata Kaelan, semua logika runtuh.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar.
Suatu pagi, Aurora datang ke kantor dan mendapati berita besar di seluruh portal bisnis:
“CEO Muda Kaelan Dirgantara Resmi Bertunangan dengan Putri Konglomerat Selina Pramudya.”
Dunia Aurora runtuh seketika.
Ia berlari ke ruangannya, menutup pintu, berusaha bernapas.
Ia ingin marah, tapi lebih dari itu—ia ingin penjelasan.
Sore itu, Kaelan datang ke ruang magang, wajahnya tegang. “Aurora, dengar dulu—”
“Jangan,” potongnya cepat, menatapnya dengan mata basah. “Kau bisa menjelaskan apapun, tapi bukan ini. Aku cukup tahu arti ‘tunangan’.”
“Aku tidak mencintainya,” Kaelan berkata cepat, suaranya rendah. “Ini urusan bisnis. Ayahku—”
Aurora tertawa pahit. “Bisnis. Selalu tentang bisnis. Jadi aku apa, Kaelan? Proyek sampinganmu?”
Kaelan mendekat, menahan bahunya. “Tidak. Kau tahu bukan begitu.”
“Lalu apa?” bentak Aurora. “Kau bilang tak pandai berpura-pura, tapi sekarang kau berpura-pura bahwa pernikahanmu bukan pengkhianatan?”
Kaelan menatapnya dalam diam, tak bisa menjawab.
Air mata Aurora jatuh. Ia menepis tangannya, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum keluar, ia menatap balik. “Aku harap suatu hari kau sadar, kehilangan yang terbesar bukan karena bisnis yang gagal, tapi karena cinta yang kau hancurkan dengan keserakahanmu sendiri.”
Itu terakhir kali mereka bertemu.
Seminggu kemudian, Aurora mengundurkan diri dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan beasiswa. Ia sudah mengandung saat itu, tapi tidak pernah mengatakannya pada siapapun.
Kembali ke masa kini.
Aurora terbangun dari mimpi itu dengan napas tersengal. Ia duduk di ranjang, menatap langit-langit kamar apartemennya. Ravi masih tidur di sampingnya, memeluk boneka beruang kecil.
Ia mengusap kepala putranya dengan lembut. Wajah Ravi, meski muda, memiliki garis tegas yang terlalu mirip Kaelan. Setiap kali melihatnya, kenangan itu datang lagi.
Aurora berdiri pelan, menatap bayangannya di cermin. Enam tahun sudah berlalu. Ia bukan lagi gadis polos yang menangis karena cinta. Sekarang ia adalah wanita dengan rencana, strategi, dan rahasia.
Tapi di lubuk hatinya, bagian kecil dari dirinya masih bertanya:
Apakah Kaelan pernah benar-benar mencintainya?
Dan apakah ia bisa terus berbohong pada dirinya sendiri, bahwa perasaan itu sudah mati—padahal setiap kali Kaelan memanggil namanya di kantor, jantungnya masih berdetak seperti dulu?
Di gedung Dirgantara Group, pagi itu Kaelan menatap file di mejanya. Di dalamnya ada laporan kinerja Aurora Elenna. Nilai luar biasa, efisiensi tinggi, kecerdasan di atas rata-rata. Tapi sesuatu membuatnya gelisah—nama itu.
Ia membuka data latar belakang, tapi catatan tentang masa lalunya samar, seolah ada yang sengaja disembunyikan.
Kaelan menyandarkan tubuh di kursi. Ia mengingat senyum Aurora saat di ruang rapat, nada suaranya, bahkan cara ia menatap langsung tanpa takut. Semuanya terasa… terlalu familiar.
“Aurora Elenna,” gumamnya pelan. “Aku pernah mengenalmu, bukan?”
Di luar, suara hujan mulai turun pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaelan merasa masa lalunya belum benar-benar berakhir. Karena wanita yang dulu ia lepaskan—kini kembali, bukan sebagai gadis yang lemah, tapi sebagai rahasia terbesar dalam hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





