
JALAN PULANG
Bab 2
Kereta api melaju cepat di atas rel, membawa Karina menjauh dari gemerlap Jakarta dan semakin dekat ke kampung halaman yang telah ia tinggalkan dua dekade lalu. Di dalam gerbong kelas eksekutif, Karina duduk dengan tenang, meskipun perasaannya jauh dari kata tenang. Di luar jendela, pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau dan perbukitan yang menandakan bahwa ia semakin mendekat ke desa tempat ia dilahirkan.
Karina menatap keluar jendela, namun pikirannya tidak berada di sana. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan Arman, pria yang dulu pernah menjadi dunianya. Wajahnya, senyumnya, tawa yang sering kali mereka bagi-semua itu kini terbayang begitu jelas. Apakah Arman masih tinggal di sana?
Bagaimana kehidupan pria yang dulu pernah ia tinggalkan begitu saja demi impiannya di kota besar?
"Apakah dia akan membenciku?" gumam Karina, setengah berharap pertanyaan itu dijawab oleh suara kereta yang melaju. Dua puluh tahun telah berlalu, tapi perasaan bersalah itu masih segar seperti kemarin. Ia tidak pernah memberi penjelasan pada Arman ketika ia pergi. Kepergiannya begitu mendadak, tanpa pamit, meninggalkan luka yang ia tahu tidak mudah disembuhkan.
Namun, bukan hanya bayangan Arman yang menghantui pikirannya. Masa kecilnya di desa juga muncul kembali, membawa serta kenangan yang tidak selalu indah. Ia teringat pada ayahnya yang keras dan sering kali marah tanpa alasan yang jelas. Ayahnya adalah sosok yang dingin, sulit didekati, dan hubungannya dengan Karina selalu tegang. Ketika ayahnya meninggal saat Karina masih remaja, rasa sakit itu belum sempat sembuh. Karina merasa tidak pernah benar-benar bisa berdamai dengan dirinya sendiri atau masa lalunya.
Seiring perjalanan, bayangan-bayangan masa lalu ini bergantian menyerang pikirannya, membuat dadanya terasa semakin berat. Karina tahu bahwa perjalanannya kali ini bukan sekadar untuk melihat ibunya yang sakit. Ini adalah perjalanan menuju masa lalu, menuju luka-luka yang belum pernah ia hadapi secara tuntas.
"Bu, apakah aku bisa menghadapi semua ini?" tanya Karina dalam hati. Ibu yang kini terbaring sakit, ibu yang selama ini selalu diam dan patuh di bawah bayang-bayang ayahnya, dan sekarang terbaring dalam ketidakberdayaan. Hubungan Karina dengan ibunya selalu terasa jauh-lebih karena ibunya yang pasif daripada apa pun yang dilakukan Karina. Tetapi, kini ibunya adalah satu-satunya alasan Karina kembali.
Kereta terus melaju, melewati kota-kota kecil dan desa-desa yang tampak tenang dari kejauhan. Karina merasa dirinya semakin dekat dengan sesuatu yang tak terelakkan. Ia tahu bahwa saat ia melangkah keluar dari kereta nanti, semua kenangan itu akan menyambutnya. Kampung halaman bukan hanya tempat, melainkan juga sebuah ruang yang dipenuhi dengan emosi yang belum selesai.
Ketika akhirnya kereta berhenti di stasiun kecil di desa itu, Karina menarik napas panjang. Ia turun dari kereta, disambut oleh udara desa yang segar namun dingin. Bau tanah yang lembab setelah hujan membawa Karina pada ingatan masa kecilnya-ketika ia biasa berlari di sawah bersama teman-teman, tertawa tanpa beban.
Namun, kali ini, tidak ada tawa yang menunggunya. Desa itu tampak tenang, hampir sunyi, hanya sesekali suara burung atau anjing menggonggong di kejauhan. Karina menatap sekitar, mencoba mengenali setiap sudut yang dulu begitu akrab, tapi kini terasa asing. Jalanan berdebu yang dulu ia lewati kini tampak lebih sempit dan kurang terawat, dan beberapa rumah sudah mulai tampak usang, termasuk rumahnya sendiri.
Dengan langkah perlahan, Karina berjalan menuju rumah lamanya. Setiap langkah seolah membawa ingatan baru yang muncul tanpa bisa dicegah. Di depan gerbang rumah, ia berhenti, menatap bangunan tua itu dengan perasaan campur aduk. Ini adalah tempat di mana ia tumbuh besar, tempat di mana segala rasa sakit dan kebahagiaan dulu bercampur aduk dalam kehidupannya yang sederhana namun penuh tekanan.
Pintu depan rumah itu terbuka pelan, dan dari dalam, seorang wanita tua muncul-ibunya. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya kehilangan sinar kehidupan yang dulu masih tersisa meski hidup penuh perjuangan. Melihat ibunya berdiri di sana, tubuhnya yang kurus dan lemah, Karina merasakan seberkas rasa kasihan dan rindu yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya.
"Karina..." suara ibunya terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang membawa Karina kembali ke kenyataan.
"Ibu..." balas Karina dengan suara serak. Ia berdiri di ambang pintu, tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana menghadapi semua ini. Kenangan masa kecil yang penuh konflik tiba-tiba terasa begitu dekat, tapi ia tidak punya pilihan selain masuk ke dalam dan menghadapi apa pun yang menantinya.
Ketika Karina melangkah masuk ke dalam rumah itu, ia tahu bahwa kepulangannya kali ini bukan hanya tentang menjenguk ibunya yang sakit. Ini adalah tentang menghadapi semua yang selama ini ia hindari-tentang cinta yang tak pernah terselesaikan, trauma yang belum terobati, dan hubungan keluarga yang retak dan perlu diperbaiki.
Karina berdiri di ambang pintu, merasa canggung. Rumah itu masih seperti dulu-dindingnya yang mulai pudar, perabotan kayu tua, dan suasana yang begitu sunyi. Aroma khas kayu yang lembap menyambutnya, aroma yang selalu mengingatkannya pada masa-masa kecil. Namun, kali ini, semuanya terasa lebih suram. Rumah itu seperti cerminan ibunya-lemah dan rapuh.
Ibunya berdiri di depan pintu, tangan kurusnya menggenggam gagang pintu dengan erat, seolah berusaha menahan tubuhnya yang rapuh agar tidak jatuh. Wajahnya tirus, dan ada lingkaran gelap di bawah mata yang menunjukkan keletihan bertahun-tahun.
"Kamu sudah datang..." kata ibunya dengan suara yang hampir tak terdengar. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan campuran rasa syukur dan rasa bersalah.
Karina tersenyum tipis, mencoba menahan emosi yang mulai muncul. "Iya, Bu... Aku pulang."
Mereka berdiri dalam keheningan canggung selama beberapa detik sebelum ibunya bergerak pelan, mengundang Karina untuk masuk.
"Masuklah... duduk dulu," ajak ibunya dengan lembut, tetapi Karina bisa melihat ketegangan di mata wanita tua itu.
Karina melangkah masuk, merasakan lantai kayu yang berderit di bawah sepatunya. Ruangan itu tampak kecil dibandingkan dengan ingatannya, seolah-olah waktu telah menyusutkan segalanya. Ia duduk di sofa tua yang pernah menjadi tempat favoritnya dulu, tapi kini terasa tidak nyaman. Matanya tertuju pada meja kecil di samping sofa, di mana foto-foto lama keluarga masih tersusun rapi. Salah satu foto menangkap perhatian Karina-foto dirinya saat remaja, tersenyum bahagia di samping ayah dan ibunya, seakan kenangan indah itu tidak pernah ternoda oleh kenyataan pahit.
"Apa kabar, Bu?" tanya Karina akhirnya, memecah keheningan. Suaranya terdengar datar, meskipun hatinya penuh dengan kekhawatiran.
Ibunya duduk di kursi tua di seberangnya, tersenyum tipis. "Ya, begini... penyakit ini semakin parah. Tapi, aku senang kamu pulang, Nak. Ibu rindu kamu."
Karina menelan ludah, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia tidak pernah dekat dengan ibunya, tapi melihat wanita tua itu dalam keadaan seperti ini membuatnya merasa bersalah. "Maaf aku baru bisa pulang sekarang."
"Tidak apa-apa, Nak... Ibu mengerti. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu di kota besar," jawab ibunya pelan, seolah mencoba menghibur dirinya sendiri.
Karina mengangguk, meskipun ada banyak hal yang ingin ia katakan-tentang betapa ia selalu merasa terjebak antara ambisi dan tanggung jawab, tentang bagaimana ia merasa bersalah meninggalkan ibunya selama ini. Tapi, kata-kata itu sepertinya tak pernah keluar.
"Bagaimana dengan Arman? Kamu pernah dengar kabar darinya?" tanya ibunya tiba-tiba, memecah keheningan yang tidak nyaman. Pertanyaan itu membuat Karina tersentak.
Nama itu kembali terdengar, menimbulkan gelombang kenangan yang sulit diabaikan. Karina menunduk, menatap tangannya yang gemetar.
"Arman? Aku... aku sudah lama tidak mendengar kabar tentang dia, Bu," jawabnya dengan suara bergetar. Jantungnya berdegup kencang, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
Ibunya menatap Karina dengan sorot mata penuh makna, seolah-olah mengerti lebih dari yang dikatakan. "Dia masih tinggal di desa ini, Nak. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat ini."
Karina merasa tenggorokannya kering. Ia mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya melayang kembali pada hari-hari sebelum ia meninggalkan desa, ketika ia dan Arman masih begitu dekat, ketika mereka merencanakan masa depan bersama. Ia tidak pernah memberi Arman alasan yang jelas kenapa ia pergi.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, ia harus kembali menghadapi kenyataan yang ia hindari.
"Apakah... dia sudah menikah?" Karina akhirnya bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ia tidak tahu kenapa pertanyaan itu muncul, tapi ia perlu tahu.
Ibunya menghela napas panjang. "Belum, Nak. Sepertinya... dia masih menunggu."
Karina terdiam. Perkataan ibunya terasa seperti pukulan. Menunggu? Apakah Arman benar-benar masih menunggu setelah semua yang terjadi?
"Mungkin kamu harus bicara dengannya, Karina. Ada hal-hal yang belum selesai di antara kalian," saran ibunya dengan nada lembut namun penuh harapan.
Karina terdiam, bingung. Semua luka lama yang telah ia coba sembuhkan selama bertahun-tahun tiba-tiba terbuka kembali. Arman-nama itu tidak hanya membawa kenangan, tapi juga perasaan yang masih belum bisa ia kendalikan.
"Ibu... aku tidak tahu harus mulai dari mana. Terlalu banyak yang berubah," jawab Karina akhirnya, suaranya terdengar putus asa.
"Kadang, untuk bisa maju, kita harus kembali ke tempat di mana semuanya dimulai, Nak," jawab ibunya bijak.
Karina menunduk, merenungkan kata-kata ibunya. Ia tahu bahwa kepulangannya ini bukan hanya tentang merawat ibunya. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ia tahu akan sulit dihadapi, tapi tidak bisa dihindari.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





