Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel JALAN PULANG

JALAN PULANG

Setelah dua dekade merantau, seorang wanita karier yang sukses memilih pulang ke tanah kelahirannya. Kepulangan ini memaksa dirinya menghadapi memori pahit terkait cinta pertama serta trauma masa kecil yang belum tuntas. Di sana, ia harus berhadapan kembali dengan mantan kekasihnya sembari menentukan pilihan besar yang akan mengubah arah hidupnya selamanya. Sebuah perjalanan emosional untuk berdamai dengan masa lalu yang sempat ia tinggalkan demi masa depan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langit sore di kampung itu dipenuhi warna oranye yang indah, menyelimuti desa dengan kehangatan yang terasa akrab bagi Karina. Meski dua puluh tahun telah berlalu, suasana kampung itu seolah tidak banyak berubah. Jalanan tanah yang berdebu, sawah yang terbentang luas, dan rumah-rumah sederhana dengan tembok yang mulai memudar oleh waktu. Setiap sudut kampung membawa kembali kenangan masa kecilnya, seolah waktu berhenti di sini.

Karina berjalan perlahan menyusuri jalan yang pernah ia kenal. Pandangannya berkeliling, memperhatikan wajah-wajah yang dulu sering ia lihat. Beberapa orang yang lewat tersenyum kepadanya, beberapa lainnya tampak terkejut melihatnya kembali.

"Karina? Apa itu benar kamu?" tanya seorang wanita tua yang tengah duduk di beranda rumahnya, memandangi Karina dengan sorot mata penuh keheranan.

Karina berhenti, mengenali wanita itu sebagai Bu Sri, tetangga sebelah rumah yang dulu sering mengajaknya berbicara saat ia masih kecil. "Iya, Bu Sri. Ini aku, Karina."

"Oh, nak! Sudah lama sekali. Kami pikir kamu tidak akan pernah kembali ke sini!" seru Bu Sri dengan suara yang riang. Wajahnya berseri-seri, dan ia bangkit dari kursinya meski tubuhnya terlihat lemah.

Karina tersenyum, merasa kehangatan dari sambutan itu, tapi di balik senyumnya, ada rasa canggung. "Ya, sudah lama, Bu. Bagaimana kabar Ibu?"

"Alhamdulillah, masih sehat-sehat saja. Tapi kamu ini, kenapa tiba-tiba pulang? Ada urusan di sini?" tanya Bu Sri dengan penasaran, meskipun Karina bisa merasakan nada keingintahuan yang lebih dalam.

"Saya pulang karena ibu sakit, Bu," jawab Karina singkat, tidak ingin memperpanjang percakapan tentang alasannya pulang.

"Oh, begitu. Kasihan ibumu. Ya, sudah lama dia terlihat semakin lemah. Kamu pulang di waktu yang tepat, nak," jawab Bu Sri sambil mengangguk, matanya memandang Karina dengan tatapan lembut.

Karina hanya tersenyum tipis. Ia merasa ada lebih banyak yang tersirat di balik kalimat sederhana itu. Saat Bu Sri mulai bercerita tentang desa dan kehidupan yang ia tinggalkan, Karina merasakan campuran antara nostalgia dan kesedihan. Banyak hal yang tetap sama, tapi banyak juga yang telah berubah. Orang-orang yang dulu dekat dengannya kini sudah berkeluarga, menjalani kehidupan yang damai di desa. Sementara itu, ia merasa terasing, seperti orang luar yang kembali ke tempat yang seharusnya menjadi rumah.

Di sepanjang jalan menuju rumah ibunya, beberapa wajah lain muncul. Karina bertemu dengan Pak Hasan, seorang tukang kayu yang dulu sering membantunya memperbaiki rumah, serta Lili, teman masa kecilnya yang sekarang sudah memiliki tiga anak. Setiap pertemuan membangkitkan kenangan, tapi juga mengingatkan Karina bahwa hidup terus berjalan tanpa dirinya.

Namun, yang paling menghantui pikirannya adalah pertemuan yang belum terjadi-pertemuannya dengan Arman. Pikiran itu terus mengganggu, meskipun ia berusaha mengabaikannya. Ia tidak tahu harus berkata apa jika bertemu dengannya, atau bagaimana ia harus menghadapi perasaan yang selama ini ia tekan jauh di dalam hatinya.

Saat langkahnya membawa Karina melewati sebuah warung kecil di pinggir jalan, ingatan masa lalu menghampirinya lagi. Warung itu dulu adalah tempat ia dan Arman sering menghabiskan sore hari, berbicara tentang mimpi-mimpi mereka, masa depan, dan kehidupan di luar desa kecil ini. Tanpa sadar, Karina berhenti sejenak, menatap warung itu dengan pandangan hampa.

"Karina?"

Suara berat dan familiar itu menghentikan langkah Karina. Ia menegang, jantungnya berdetak kencang. Perlahan-lahan, ia berbalik, dan di sana, berdiri seseorang yang sudah lama ada dalam pikirannya-Arman.

Wajah Arman masih sama seperti yang ia ingat, meskipun lebih dewasa dan keras karena usia. Rambut hitamnya sudah sedikit beruban, dan tubuhnya tampak lebih tegap. Namun, mata itu-mata yang selalu menatapnya dengan lembut-masih sama. Tatapan mereka bertemu, dan seketika, semua emosi yang selama ini Karina simpan meledak dalam dirinya.

"Arman..." Karina mengucapkan namanya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.

"Lama tak berjumpa, Karina," jawab Arman sambil tersenyum, meski senyum itu terasa ada sedikit kesedihan yang tersembunyi di baliknya.

Mereka berdiri dalam keheningan selama beberapa detik, tidak tahu harus berkata apa. Ada begitu banyak hal yang belum terselesaikan di antara mereka, namun semuanya terasa terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

"Apa kabarmu, Arman?" tanya Karina akhirnya, berusaha memecah keheningan yang canggung itu.

Arman tersenyum tipis. "Aku baik. Kehidupan di sini... ya, seperti yang kamu lihat. Tidak banyak yang berubah."

Karina mengangguk pelan. "Aku bisa melihat itu."

"Dan kamu? Bagaimana kehidupanmu di kota besar?" tanya Arman, suaranya terdengar datar, meskipun Karina bisa merasakan ada sesuatu yang lebih di balik pertanyaan itu.

"Aku... sibuk. Karierku berjalan dengan baik," jawab Karina, meski kata-kata itu terdengar hampa bahkan bagi dirinya sendiri. Kesuksesannya di kota kini terasa jauh dan tidak berarti di hadapan Arman.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hingga Arman akhirnya berbicara lagi.

"Kenapa kamu tidak pernah kembali, Karina? Selama ini... kamu tidak pernah memberi tahu alasanmu pergi."

Pertanyaan itu menghantam Karina seperti tamparan. Ia tahu, pertanyaan ini akan muncul cepat atau lambat. Tatapan Arman yang tenang namun penuh rasa ingin tahu membuat Karina merasa bersalah lagi.

"Aku... Aku pergi karena aku merasa aku harus mengejar impianku, Arman. Tapi aku tahu... aku salah karena tidak pernah menjelaskan semuanya padamu," kata Karina, matanya menatap tanah, tidak berani bertemu dengan tatapan Arman.

Arman mengangguk pelan, meskipun ada kesedihan di matanya. "Aku menunggu penjelasan itu selama bertahun-tahun. Tapi, sepertinya sekarang bukan waktunya lagi untuk membicarakannya, bukan?"

Karina menatapnya dengan perasaan campur aduk. "Arman, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu."

Arman tersenyum, meski senyum itu pahit. "Waktu telah berlalu, Karina. Mungkin yang terbaik adalah kita melupakan masa lalu dan melihat ke depan."

Karina merasakan dadanya terasa berat. Meskipun pertemuan ini menyakitkan, ia tahu bahwa ini adalah langkah awal untuk menghadapi semua yang ia tinggalkan. Tapi, apakah ia benar-benar bisa melupakan masa lalu? Dan apakah Arman juga bisa melakukannya?

Dengan tatapan yang masih penuh emosi yang belum terselesaikan, Karina hanya bisa mengangguk. Pertemuan ini, meskipun singkat, telah membuka luka lama yang selama ini terkubur dalam ingatannya.

"Semoga kita bisa menemukan jawabannya nanti," kata Arman pelan, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Karina dalam perasaan yang campur aduk.

Karina berdiri di sana, menyadari bahwa meskipun ia telah kembali, ada banyak hal yang harus ia hadapi sebelum ia benar-benar bisa merasa damai dengan masa lalunya. Pertemuan dengan kenangan ini hanyalah awal dari perjalanan panjang yang harus ia lalui.

Karina berdiri mematung, menatap punggung Arman yang semakin jauh. Hatinya kacau, pikirannya penuh dengan pertanyaan dan penyesalan. Langkah Arman yang perlahan terasa seperti simbol dari apa yang telah mereka lewatkan selama bertahun-tahun. Ia ingin memanggilnya, namun lidahnya keluar.

"Arman!" Karina akhirnya berseru, tanpa sadar suaranya pecah.

Arman berhenti sejenak, lalu berbalik. Tatapannya lembut, tetapi ada keraguan di dalamnya. Karina berjalan mendekatinya, langkahnya berat, seakan ada beban besar yang menggantung di hatinya.

"Kita belum selesai," kata Karina, menatap Arman dengan mata yang kini dipenuhi dengan tekad. "Aku tahu aku salah. Aku meninggalkanmu tanpa penjelasan, dan itu tidak adil. Tapi aku ingin kita bicara...

benar-benar bicara, bukan sekadar menyapu semuanya di bawah karpet."

Arman menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Karina. "Apa yang mau kamu bicarakan, Karina? Dua puluh tahun sudah berlalu. Kita bukan orang yang sama lagi."

"Aku tahu, dan itu membuat semuanya lebih sulit. Tapi aku tidak bisa terus hidup dengan penyesalan ini," jawab Karina, suaranya tegas meski dalam hatinya ada ketakutan besar. "Aku tidak tahu apakah kamu bisa memaafkanku, tapi aku perlu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Arman terdiam, sejenak ia tampak bimbang. Lalu, dengan nada pelan namun penuh ketenangan, ia berkata, "Kamu bisa jelaskan, tapi apa yang bisa diubah? Apa kamu benar-benar yakin ini yang harus kamu lakukan sekarang, setelah bertahun-tahun?"

Karina tertegun mendengar kata-kata itu. Arman benar. Waktu telah berlalu begitu lama. Tapi perasaan yang terpendam, rasa bersalah yang ia bawa bertahun-tahun, masih segar seakan semuanya baru terjadi kemarin. Dia tahu, dia harus menjelaskan, setidaknya untuk memberi dirinya dan Arman kejelasan.

"Bukan soal mengubah apa yang sudah terjadi, Arman," Karina menggelengkan kepala. "Tapi soal mengakhiri apa yang pernah kita mulai, dengan cara yang benar. Ketika aku pergi, aku bukan hanya meninggalkan kampung ini, aku meninggalkanmu-dan meninggalkan bagian dari diriku sendiri. Aku takut saat itu. Takut bahwa jika aku tetap tinggal, aku akan terjebak di sini tanpa pernah mengejar mimpiku."

Arman menatap Karina dalam-dalam, wajahnya sulit dibaca. "Aku selalu tahu kamu ingin lebih, Karina. Kamu punya impian besar yang tidak bisa ditahan oleh kampung kecil ini. Aku mengerti. Tapi itu tidak membuat kepergianmu jadi lebih mudah."

"Waktu itu aku tidak tahu cara yang benar untuk menghadapinya," lanjut Karina, suaranya mulai bergetar. "Aku berpikir kalau aku pergi tanpa penjelasan, aku bisa memulai hidup baru tanpa beban. Tapi ternyata beban itu tetap ada, Arman. Setiap langkahku, setiap kesuksesan yang aku raih di kota, selalu diiringi oleh rasa bersalah karena meninggalkanmu."

Arman menunduk, menghela napas panjang lagi. "Kamu tahu, aku tidak pernah benar-benar marah padamu. Aku kecewa, tentu saja. Tapi aku selalu berharap kamu akan menemukan apa yang kamu cari di sana."

Karina terkejut mendengar kalimat itu. "Kamu... tidak pernah marah?"

Arman menggeleng. "Tidak. Aku terluka, ya, tapi aku tidak bisa marah padamu karena memilih untuk mengejar impianmu. Kamu punya hak untuk itu, sama seperti aku punya hak untuk tetap di sini, menjaga mimpi yang pernah kita rencanakan bersama."

Karina menatap Arman, melihat kedewasaan dan ketenangan yang tidak pernah ia duga akan ada di dalam diri pria yang dulu begitu penuh semangat dan ambisi untuk meninggalkan kampung ini bersamanya.

"Tapi kenapa kamu tetap di sini, Arman? Kamu bisa pergi. Kamu bisa memulai kehidupan baru di luar sana."

Arman tersenyum pahit. "Setiap orang punya jalannya sendiri, Karina. Kamu memilih jalanmu, dan aku memilih jalanku. Aku menemukan kebahagiaanku di sini, meski tidak seperti yang dulu kita impikan."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Karina merasa begitu kecil di hadapan pengakuan Arman. Ia menyadari bahwa meski ia telah pergi untuk mencari arti kebebasan, Arman telah menemukan makna lain dari kebahagiaan yang lebih dalam di tempat yang sama.

"Aku menyesal, Arman," bisik Karina, suara penyesalan yang nyata terasa dalam kata-katanya. "Aku hanya berharap kita bisa punya kesempatan kedua, untuk memperbaiki semua ini."

Arman menatapnya dengan lembut, namun mantap. "Kesempatan kedua bukan tentang memperbaiki yang sudah rusak, Karina. Tapi tentang menerima apa yang telah terjadi dan bergerak maju. Mungkin kita tidak bisa kembali ke masa lalu, tapi kita bisa memutuskan apa yang ingin kita lakukan dengan hari ini."

Karina terdiam, menyerap kata-kata itu. Arman benar. Masa lalu tidak bisa diubah, tapi hari ini adalah kesempatan mereka untuk menemukan kedamaian.

"Aku masih ingin bicara lebih banyak denganmu, Arman. Aku ingin tahu bagaimana hidupmu selama ini, apa yang sudah kamu lalui," kata Karina dengan nada lebih lembut, seolah-olah ini adalah awal dari percakapan baru yang lebih dalam.

Arman tersenyum, kali ini lebih tulus. "Kita punya banyak waktu untuk itu, Karina. Selama kamu di sini, kita bisa bicara kapan saja."

Karina merasa ada sedikit beban yang terangkat dari pundaknya. Mungkin pertemuan ini tidak akan mengubah semuanya dalam semalam, tapi setidaknya ini adalah awal. Awal dari perjalanan panjang untuk berdamai dengan masa lalu dan membangun kembali sesuatu yang mungkin telah hilang.

Mereka berdua beranjak dari sana, berjalan berdampingan di bawah langit sore yang semakin memudar, sambil membawa kenangan yang kini mulai sedikit lebih ringan di hati mereka.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Tersisih
8.4
Sarinah melarikan diri dari rumah karena ketidakadilan orang tuanya. Insiden kecelakaan mobil justru membawanya ke kehidupan baru sebagai Rully setelah ia diadopsi. Dari gadis buta huruf, ia bertransformasi menjadi dokter sukses. Namun, konflik besar muncul saat seorang pria melamarnya tanpa mengetahui asal-usul Rully yang sebenarnya dari keluarga miskin. Kini, ia harus memilih antara jujur atau terus bersembunyi demi menjaga cinta dan statusnya.
Sampul Novel Baby Twins Billionaire
7.9
Masa depan Freya Amalia hancur dalam semalam akibat perbuatan pria asing. Kegetiran hidupnya bertambah saat ia menyadari dirinya mengandung bayi kembar dari tragedi tersebut. Di sisi lain, Vero Brance Harison dihantui rasa bersalah yang mendalam atas dosa masa lalunya. Ia bertekad menemukan wanita yang telah disakitinya untuk dijadikan istri. Saat takdir mempertemukan mereka, mampukah Vero menebus kesalahannya dan dapatkah Freya memaafkan ayah dari anak-anaknya?
Sampul Novel Bayiku Bukan Untukmu
8.7
Nayla, asisten rumah tangga yatim piatu, terjebak dalam tragedi berdarah yang menewaskan majikannya. Setelah menyelamatkan bayi sang majikan, ia bertemu Arkan, pria misterius yang menawarkan perlindungan. Arkan mengajukan kontrak pernikahan senilai satu miliar rupiah agar Nayla bersedia menjadi istri palsu sekaligus ibu bagi bayi itu. Demi masa depan si kecil, Nayla setuju. Namun, rahasia dan bahaya mengintai saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Hasrat Kedua
9.7
Senja Malini berjuang keras menghidupi dua putrinya sebagai janda sebelum akhirnya dipersunting pengusaha kaya, Dafa Suryaningrat. Meski awalnya hidupnya membaik dan diterima keluarga mertua, kebahagiaan itu sirna saat rahasia Dafa terungkap. Suaminya ternyata mencintai wanita lain bernama Lily. Di tengah kemelut rumah tangga yang hampir hancur, Bagas sang kakak ipar justru jatuh hati padanya. Senja kini terjebak antara mempertahankan pernikahan atau berpaling pada Bagas.
Sampul Novel Janda Laila
9.4
Lima tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati membuat Laila berada di posisi sulit. Suami dan ibu mertuanya memberikan pilihan pahit yang tak terelakkan: rela dipoligami atau mengakhiri pernikahan dengan perceraian. Di tengah tekanan batin yang hebat, Laila harus segera menentukan masa depannya. Akankah ia bertahan dalam bayang-bayang madu, atau berani melangkah sendirian dan menyandang status sebagai Janda Laila?
Sampul Novel Mantan Jadi Bos
9.4
Alula kehilangan pekerjaan tanpa pesangon karena menolak jadi istri keempat bosnya. Padahal, ia tulang punggung keluarga demi ibu dan adiknya. Lewat bantuan teman, Alula kembali bekerja, namun CEO barunya adalah mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan. Sang mantan pun memanfaatkan posisi ini untuk membalas dendam. Meski terus disakiti, Alula justru merasakan kembali benih cinta. Sanggupkah ia bertahan menghadapi dendam sang bos?