Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki

Jalan Jodoh Sang Koki

Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah hasil memasaknya selesai dengan disajikan dengan sangat cantik, masakannya itu terbuat dengan bahan utamanya adalah makanan laut atau seafood sesuai dengan permintaan dari perdana mentri melalui translator yang menemuinya tiga jam yang lalu. Masakan itu sangat banyak dengan beberapa piring cantik yang dibawa beberapa pramusaji yang tersenyum riang.

"Wah, hari ini Max akan trending topik kembali," ucap beberapa pramusaji yang sudah sangat percaya diri dengan hasil olahan Max sekarang.

"Iya, pasti setelah ini hidangan yang dia masak hari ini, akan masuk menjadi makanan favorit dan tranding topik," sambung yang lain menanggapi ucapan beberapa pramusaji yang lain.

Semua pramusaji membawa hidangan tersebut dengan tersenyum kemenangan, karena biasanya setelah ini ia juga akan mendapat efeknya setelah Max mendapatkan pujian.

Mereka dengan terlatih dan sesuai manner menyajikan makanan tersebut di atas meja makan tanpa ada yang tau di antara mereka bahwa sang perdana Mentri mempunyai alergi udang.

"Enjoy the food!" sambung kepala koki mempersilahkan tamu kehormatan untuk memulai makan hasil masakan yang disajikan.

Sudah banyak sekali piring yang tersaji di depan perdana mentri, dari mulai makanan pokok hingga sajian tertutup.

"Wow, that's a lot! it looks so delicious!"

Makanan itu memang terlihat sangat menggoda dengan plating yang sangat cantik membuatnya makin menggiurkan.

"Very delicious," ucap perdana Mentri yang mulai tak kuat untuk tidak langsung mencicipi masakan Max, konon semua orang mengaguminya, beliau mengunyah dengan lembut makanan yang disajikan dengan sangat mewah.

Beliau bahkan mengacungkan kedua jempolnya ketika hampir seluruh masakan yang dibuat Max sangat nikmat. Ia mencoba dengan masakan yang terakhir sebagai hidangan penutup yang beliau tidak tau bahwa ternyata mengandung udang.

" Semuanya sesuai dengan ekspektasi saya, rasanya sangat lezat, penampilannya cantik dan uhuk-uhuk," ucapnya sembari terbatuk-batuk karena beliau memakan udang yang membuatnya alergi.

Perdana Mentri masih memberikan ulasan positif terkait masakan yang dibuat oleh Max ke wartawan yang sedari tadi mengabadikan, beliau memuji keterampilan Max yang mampu menggoyang lidahnya menjadi berselera untuk makan.

" Uhuk-uhuk." Perdana mentri mulai terbatuk kembali dan lebih sering dari sebelumnya.

"Haduh, gatal," ucap perdana mentri sembari menggaruk mulutnya karena alergi udang. Beliau menggaruk lagi, batuk lebih sering hingga pingsan tak sadarkan diri.

" Bruk!"

Perdana Mentri jatuh karena mengalami reaksi anafilaktik, beliau mengalami penurunan tekanan darah secara drastis dan penyempitan saluran pernapasan.

" Cepat panggil ambulance!" titah kepala ajudan yang selalu membersamai perdana mentri sembari membopong perdana Mentri yang sudah terkapar tak sadarkan diri.

"Cepat cek makanan yang barusan dimakan perdana Mentri!" titah ajudan lagi, ia yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang perdana menteri makan hingga beliau pingsan.

" Tuan, makanan ini mengandung udang, sepertinya Max sengaja karena perdana mentri alergi udang," ucap beberapa ajudan yang langsung sigap mencari penyebab kenapa perdana menteri tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.

Ada guratan amarah bahkan mukanya bermuram durja, kepala ajudan itu tanpa berpikir panjang untuk memerintah bawahannya untuk memeriksa lebih teliti.

"Cepat bawa ke sini Maxnya, tangkap bila perlu," ucap kepala ajudan setengah berteriak.

Para ajudan langsung berpencar mencari keberadaan Max sedangkan yang lainnya membantu kompresi dada sembari menunggu ambulance datang.

"Dia di sana!" jawab beberapa bawahan ajudan yang bersiap mengejar dengan bantuan beberapa polisi.

"Cepat tangkap!"

Ajudan dan para polisi langsung gegas menghampiri Max yang sedang bersiul-siul riang dan bersiap untuk kencan. Mereka lalu menangkap Max tanpa ba bi Bu penjelasan yang cukup lebar.

"Ada apa? Pasti perdana Mentri sudah menikmati surganya masakan, betul?" tanya Max yang belum tau menau kenapa dirinya dicegah untuk pulang. Ia masih mengulas senyuman karena yakin bahwa masakannya akan mendapatkan pujian dan dia akan diwawancarai.

" Ikuti kami!"

Ajudan itu bahkan memegang lengan Max dengan sangat kasar, ia bahkan hampir diborgol karena ia masih dengan percaya diri bahwa ia dibawa karena review masakan yang telah dia masak.

" Santai, tak perlu dipaksa, aku akan jalan sendiri ke sana," ucapnya yang belum tau kenapa dirinya dipanggil.

Dengan langkah penuh percaya diri, ia melangkah menuju tempat keributan, di sana sudah banyak wartawan yang menunggu kehadirannya. Ia yang memang sudah biasa setiap kali ada tamu kehormatan datang selalu mendapat apresiasi tidak terkejut dan tidak menduga bahwa musibah sedang menimpanya.

"Apa anda sengaja membuat hidangan untuk perdana Mentri?"

Para wartawan langsung membuka dengan pertanyaan to the point dan sialnya dengan sangat senang Max mengakui sembari tersenyum.

"Tentu, saya membuatnya dengan sepenuh hati." Jawabnya penuh percaya diri.

" Katamu makanan merupakan senjata mematikan, apa anda sengaja membuat masakan itu sebagai senjata untuk perdana Mentri?"

Pertanyaan kedua dari wartawan tak lagi membuatnya tersenyum, mendadak senyumnya luntur saat teringat dengan jargonnya namun, ia masih belum menduga ada kejadian na'as karena masakannya.

" Benar, dan menjadi penyambung bagi hubungan mereka yang sedang renggang," sambungnya dengan sedikit agak gugup, karena mendadak perasaannya tidak enak dan beberapa polisi menghampirinya.

"Namun ada apa?" tanyanya ketika rasa penasarannya belum terjawab.

"Saudara Max, Anda kami tangkap atas dugaan pembunuhan berencana perdana mentri," ucap polisi yang langsung memborgol Max tanpa memberi waktu untuk Max menjelaskan. Kini wajahnya menjadi tranding topik sebagai pembunuh.

"Bukan saya, saya hanya memasak sesuai dengan permintaan," sangkalnya karena ia merasa tidak bersalah, seingatnya tidak ada catatan bahwa perdana mentri ada alergi udang.

"Anda berhak diam, sebelum pengacara anda datang," balas polisi yang merasa jengah dengan ucapan Max yang menyangkal dari tadi.

Max yang sudah siap untuk kencan berpenampilan cukup menarik, ia diborgol dengan paksa dan mau tidak mau harus mengikuti mereka. Ia tak lagi tersenyum penuh percaya diri, saat ini ia menunduk memikirkan bagaimana ia kabur dan lolos.

"Seperti katamu, besok wajah Max menjadi tranding topik," ucap beberapa koki yang sangat tidak menyukai Max sejak awal.

"Betul dan sesuai katamu makanannya akan masuk tranding topik besok," sambung pramusaji yang juga tidak menyukai dengan cara Max yang suka memerintah semena-mena.

"Itulah buah kesombongannya saat ini, makanya kalian jangan sombong jika tak berakhir seperti Max," sambung yang lain.

Max yang diborgol dan dipaksa untuk mengikuti polisi tidak bisa mengelak. saat ini, menjadi buah bibir semua orang, ia tak lagi menatap mereka dengan kesombongan yang biasa ia tampilkan. Karena kebanyakan dari mereka mencemooh dan mengkritik dengan sikap Max saat ini.

"Akhirnya aku tau bagaimana sikap kalian kepadaku, kalian begitu munafik, awas aja aku akan balas kalian semua suatu saat ini," ucapnya sembari melewati mereka dengan menunduk.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan dari hutan: Pendeta wanita terakhir
8.4
Mira mendambakan hidup tenang sebagai penyembuh, namun takdir menyeretnya kembali ke dunia magis setelah ibu angkatnya diculik. Di alam penuh makhluk ajaib, ia bertemu Eluin, Dewa bebas terakhir yang mengungkap jati diri Mira sebagai pendeta wanita pamungkas. Hanya Mira yang mampu melindungi hutan suci dari ancaman Temenis, sang Dewa Kematian. Mampukah ia membuang keraguannya demi menyelamatkan ibunya sekaligus menghentikan kehancuran dunia dalam pertempuran epik ini?
Sampul Novel I'm The Beast
9.0
Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Istri Tetanggaku Kuntilanak
8.1
Alif kembali ke Kampung Menyan dan langsung terjebak di antara Lisa dan Ning. Namun, desa itu dicekam teror hilangnya bayi serta janin secara misterius. Perhatian Alif teralihkan oleh Kumara, istri tetangga yang cantik namun dituduh sebagai kuntilanak karena tabiat anehnya. Kumara mengaku memiliki masa lalu dengan Alif yang telah ia lupakan. Di tengah misteri dan pesona mistis tersebut, Alif harus mengungkap kebenaran di balik sosok Kumara dan anomali di desanya.
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku
9.0
Arvella Siregar melarikan diri dari kekejaman suaminya, Rivan, hingga tersesat di hutan dan diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan menjadi tangguh. Arvella mengungkap fakta bahwa kematian orang tuanya adalah konspirasi jahat, bukan kecelakaan. Bersama Kael, ia kini bersiap keluar dari hutan untuk membalas dendam dan mengungkap asal-usulnya meski nyawa menjadi taruhan utama.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.