Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku Cacat, Istriku Malang

Istriku Cacat, Istriku Malang

Dendam membara menyelimuti hati Ellard Willard setelah kecelakaan tragis merenggut nyawa tunangannya. Ia meluapkan amarah kepada Emily Laura, sosok yang dituding sebagai dalang di balik tragedi tersebut. Terjebak dalam jerat kebencian, keduanya terikat dalam hubungan kompleks yang penuh penderitaan. Namun, di tengah konflik yang kian memanas, Ellard justru tersesat dalam keintiman yang membingungkan, membuat batas antara benci dan obsesi menjadi kian kabur.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kau sungguh tidak apa-apa, Emily?" Morin bertanya untuk kesekian kalinya. Sungguh ia merasa tidak enak hati dengan perlakuan Ellard yang membuat gadis itu terjatuh.

"Terima kasih," sahut Emily begitu ia sudah berbaring di atas ranjangnya. "Entah kapan aku bisa berjalan dan tidak menyusahkanmu lagi," Emily mengulurkan tangannya ke udara yang dengan segera ditangkap oleh Morin.

Emily tersenyum, ia mengusap tangan Morin yang selama 5 bulan ini sudah menjaga dan merawatnya.

Morin menatap miris mendengar pernyataan Emily yang hanya menginginkan kesembuhan kakinya, tidak dengan penglihatannya.

"Sebentar lagi, kau pasti bisa berjalan, Emily. Kau seorang pasien yang sangat tangguh," Morin mengusap bahunya dengan lembut, memberi semangat pada wanita itu.

Morin mengetahui apa yang terjadi antara adiknya dengan Emily. Ia juga tahu betapa Ellard sangat membenci Emily dan berniat menjebloskannya ke dalam penjara. Dan selama lima bulan ini para wartawan dan pihak polisi selalu datang mengunjungi Emily. Emily tidak memberikan bantahan untuk membela dirinya sama sekali, wanita itu juga tidak menolak jika harus ditahan.

Morin masih mengingat dengan jelas, saat pertama kali polisi meminta kerja samanya. Emily tidak membantah sama sekali. "Jika tanggung jawabku dituntut atas kecelakaan yang terjadi aku tidak akan mungkar dari hal tersebut. Tapi lihatlah kondisiku sekarang, aku akan sangat merepotkan kalian dengan keadaanku ini," tukasnya yang membuat hati Morin merasa iba hingga ia melakukan permohonan kepada polisi agar menunda penahanannya sampai ia bisa berjalan setidaknya, karena untuk mencari donor mata untuk penglihatannya sedikit susah ditambah dengan situasi Emily, bahkan setelah 5 bulan, tidak satu pun keluarganya datang mengunjunginya.

Emily juga menolak untuk membahas keluarganya jika Morin menyinggung hal tersebut. Emily biasanya akan melakukan pengalihan pembicaraan. Bukan hanya tentang keluarganya, Emily juga menolak membahas prihal kecelakaan yang melibatkannya.

Morin juga ingin tahu cerita sebenarnya, di mana dari bukti yang ada semua memberatkan Emily. Dan kecelakaan itu membuat adiknya Ellard hampir kehilangan akal sehatnya. Ia memaklumi kemarahan Ellard, karena ia juga tahu melihat betapa adiknya sangat mencintai Naura.

Namun kebencian Ellard juga tidak mendorongnya untuk ikut serta membenci Emily. Ia dan suaminya mencoba bersikap netral dan realistis, di samping profesi mereka, Morin juga tidak bisa mempercayai serta merta apa yang diberitakan di televisi. Entah kenapa, ia menolak bahwa Emily adalah wanita cantik berwujud iblis seperti yang dituduhkan Ellard pada wanita itu.

"Ya, aku ingin segera cepat berjalan. Aku khawatir para pasien di rumah sakit ini ikut terganggu dengan kedatangan para wartawan dan polisi yang sepertinya sangat rajin mengunjungiku," tukasnya dengan senyum tipis. "Mungkin pemiliknya juga sudah merasa jenuh dan ingin agar aku agar segera dikeluarkan dari sini," imbuhnya lagi yang membuat Morin tersenyum tipis. Emily memang tidak mengetahui bahwa suami Morin lah pemilik rumah sakit tempat ia dirawat. "Kau sangat baik, mau merawatku begitu saja. Terima kasih, Morin."

"Itu sudah tugasku sebagai Dokter," Morin mengusap punggung tangan Emily yang masih menggenggam tangannya.

"Apa saat kau masuk, kau melihat seseorang di sini, di ruanganku?" tanya Emily. Dan percayalah selama 5 bulan dalam perawatan Morin, wanita itu baru mau berbicara padanya satu bulan terakhir ini. Selama empat bulan lamanya, Emily memilih bungkam setiap ada yang mengajaknya berbicara. Tadinya ia dan suaminya mengira ada yang salah dengan pita suaranya. Dan sekalinya ia berbicara saat ia tidak melakukan bantahan atas tuduhan yang ditujukan padanya. Ia bahkan mengatakan tidak keberatan jika dirinya harus ditahan.

Morin manarik napas panjang mendengar pertanyaan Emily. Apa yang harus ia jawab sekarang. Haruskah ia mengatakan itu adalah Ellard, calon suami korban yang meninggal dalam kecelakaan yang menimpa mereka.

"Jam berapa aku harus bertemu dengan dokter Jovan? Aku ingin cepat bisa berjalan."

"Mereka akan membawamu ke tahanan begitu kau bisa berjalan," Morin mengingatkan. Dan ia sedikit bersyukur bahwa Emily tidak menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi.

"Aku pantas mendapat hukuman," sahutnya dengan nada getir. Dan hal yang membuat Morin kagum pada sosok di hadapannya ini adalah Emily yang mampu merubah raut wajahnya dalam hitungan detik. Emily tidak ingin orang lain melihat kesedihannya dan tidak ingin orang lain menaruh simpati atau kasihan terhadapnya.

"Tadi aku juga mendengar suara dokter Jovan. Apa aku salah mendengar?"

Morin menggelengkan kepalanya, "Tidak," sahutnya dengan segera begitu sadar Emily tidak akan melihat gelengan kepalanya. "Kau tidak salah mendengar. Tadi dia memang ada di sini dan segera pergi karena kedatangan seorang tamu yang menyebalkan," sahut Morin dengan wajah kesal. Ellard memang menyebalkan.

"Sepertinya tamunya memang menyebalkan, aku bisa merasakannya dari nada suaramu,"

"Dia pria tampan yang sangat menyebalkan tapi juga menyedihkan," timpal Morin dengan nada getir. Sungguh ia juga sangat prihatin dan kasihan pada nasib hidup adik satu-satunya itu.

"Dia pasti pria yang sangat baik,"

Morin tercengang mendengar pernyataan ringan yang keluar dari mulut Emily. Apakah ia akan mengatakan hal yang sama jika tahu bahwa seseorang yang sudah mempermainkannya beberapa menit yang lalu tidak lain adalah Ellard.

Tok.Tok.

Terdengar ketukan membuat Morin menoleh ke arah pintu masuk. Dua pria yang sangat berarti dalam hidupnya kini berdiri di ambang pintu. Morin tersenyum manis ke arah Jovan dan ekspresinya seketika berubah begitu tatapannya ia alihkan pada adiknya, Ellard. Morin mendelik kesal yang disambut Ellard dengan dengkusan wajah datar tanpa ekpresi.

Jovan dan Ellard berjalan masuk, mendekat ke arah mereka. Morin segera memberikan tatapan peringatan pada Ellard agar tidak berbuat macam-macam. Elllard tidak menggubrisnya sama sekali. Ia menyoroti dengan tajam wanita yang sedang berusaha untuk duduk dari pembaringannya.

"Dokter Jovan sudah datang?" tanyanya.

"Ya, Emily, aku di sini. Apa kau siap untuk berlatih berjalan?"

Emily menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias membuat Ellard yang melihatnya merasa muak. Rahangnya seketika mengeras. Wajahnya merah padam menunjukkan emosi nyata tatkala Emily menyunggingkan senyum tipis.

"Aku berharap bisa berjalan secepatnya, Dok."

"Baiklah, ayo kita lakukan." Jovan menarik kursi roda milik Emily dan segera membantu wanita itu turun dari ranjangnya. Emily berdiri sempurna dengan bantuan Jovan. Emily bertumpu pada tubuhnya.

Jovan mengulurkan sebelah tangannya untuk menarik kursi roda yang letaknya tidak pas. Tangan pria itu tidak berhasil menjangkaunya karena Ellard dengan entengnya mendorong kursi tersebut dengan kaki panjangnya yang refleks membuat Jovan bergerak untuk menggapai kursi tersebut sehingga membuat Emily kehilangan pegangan dan keseimbangan. Ia terjatuh dan hampir saja mencium lantai jika Ellard tidak sigap menahan tubuhnya.

Ya, refleks Ellard mengulurkan tangan menyelamatkan wnaita itu.

"Te..terima kasih," ucap Emily dengan wajah sedikit pucat karena panik.

"Tidak semudah itu," desis Ellard yang terdengar seperti gumaman. Ellard segera menarik kasar tangannya, alhasil Emily terjatuh dengan dagu yang mencium lantai marmer rumah sakit.

"Akh!" ringisnya.

"Apa yang kau lakukan?!" sentak Morin dengan memukul keras lengan adiknya.

"Tanganku licin," tukasnya dengan enteng lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HRR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HRR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
8.8
Saat putri mereka terbaring lemah akibat demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri rapat sekolah untuk anak dari cinta sejatinya. Panggilan telepon sang istri malah dijawab oleh wanita tersebut yang menangis meminta maaf, memicu kemarahan Jeffry yang membela diri dengan dalih menolong janda dan yatim. Di tengah dinginnya ruang rumah sakit, sang istri akhirnya mengambil keputusan besar. Sambil menemani putrinya yang disuntik, ia menawarkan awal baru bagi mereka untuk hidup berdua saja.
Sampul Novel Cinta Tiga Bidadari
9.7
Muhammad Abidzar Al Hafiz pernah mengikrarkan janji suci kepada istri pertamanya. Ia bersumpah tidak akan pernah menikah lagi setelah resmi berpisah dari istri keduanya. Namun, komitmen tersebut kini dipertanyakan. Apakah Abidzar mampu mempertahankan kesetiaannya dan menepati ucapan itu selamanya? Ataukah janji tersebut hanya menjadi rangkaian kata manis yang pada akhirnya akan dikhianati kembali demi kehadiran wanita yang baru dalam hidupnya?
Sampul Novel Dilema
8.5
Insiden kecelakaan yang menimpa Doni Damara mengungkap rahasia besar yang memicu konflik batin mendalam. Kini ia terjebak dalam pilihan sulit antara tetap bersama Rina, penolongnya, dan Romeo yang sudah menganggapnya ayah, atau kembali pada masa lalunya. Di sisi lain, ada Ibu Marmi, Aida sang istri setia, serta Ajeng yang merindukannya. Akankah Doni meninggalkan keluarga barunya demi mereka? Bagaimana reaksi Rina saat mengetahui kebenaran tentang identitas Doni?
Sampul Novel Dominasi Yang Disengaja
8.1
Tiga tahun membina rumah tangga, Dahlia Nicholson memilih untuk menceraikan suaminya, Dustin Rhys. Bagi Dahlia yang kini berada di puncak kesuksesan, Dustin hanyalah beban yang tidak berguna dalam hidupnya. Namun, di balik sikap angkuhnya, ia tidak menyadari sebuah kenyataan pahit. Segala pencapaian luar biasa dan kekayaan yang ia miliki saat ini sebenarnya hanyalah hasil dari campur tangan serta dukungan rahasia sang suami yang selama ini ia remehkan.
Sampul Novel Dosa-dosa Suamiku, Balas Dendam Hatiku
9.5
Hidupku hancur saat Bramantyo, suamiku, berselingkuh dengan Karin, bawahanku sendiri. Bram tega menyiksaku dan membiarkan anak kami menderita kerusakan otak demi menyelamatkan Karin dalam kecelakaan rekayasa. Di ambang kematian, cintaku berubah menjadi dendam membara. Aku segera menghubungi pengacara untuk memiskinkannya lewat perjanjian pranikah, lalu meminta bantuan Yudha Perkasa guna menghancurkan monster yang telah menghianatiku itu tanpa sisa.
Sampul Novel Jangan Ada Dusta di Antara Kita
8.6
Demi memulai hidup baru tanpa jejak, Gina membulatkan tekad untuk melenyapkan seluruh informasi mengenai identitas aslinya. Keputusan krusial ini diambil agar tidak ada satu orang pun di masa lalunya yang mampu melacak keberadaannya lagi. Meskipun sempat membuat pihak operator terkejut, permintaan penghapusan data tersebut tetap diproses. Kini, Gina harus menunggu dengan sabar selama dua minggu hingga seluruh prosedur pembersihan identitasnya selesai sepenuhnya demi mewujudkan pelarian misteriusnya.