
Istri Yang Di Jual Suami
Bab 2
Tak berselang lama ia berdiri di sana, hangat sinar mentari pun menerpa tubuhnya, pandangannya melebar melihat suasana yang mulai ramai. Dengan riuh suasana di jalan raya dengan padatnya lalu lintas kendaraan di pagi hari itu yang memang adalah hari Senin, yang tentunya begitu sibuk seperti biasanya.
Akhirnya, satu taksi pun menepi tepat di hadapannya.
Audrey pun segera menaiki taksi dengan perasaan yang sangat gelisah.
"Kemana, Mbak?" tanya sopir taksi.
"Komplek kemuning raya no, 29 ya, Pak." jawabnya datar setelah mendaratkan bokongnya di jok.
"Baik, kita berangkat" ucap sopir taksi pun lanjut menginjak pedal gas dan akan segera meluncur ke alamat yang telah di sebutkan oleh si penumpang.
"Eh, sebentar, Pak!" seru Audrey, sontak membuat sopir taksi pun kaget dan mengerem mendadak. Untung saja jarak kendaraan lain di belakangnya itu masih jauh dan tak menabrak.
"Ada apa ya, Mbak?" tanyanya seraya menoleh ke belakang.
"Maaf ya, Pak." Ia pun baru teringat dan ingin mampir terlebih dahulu ke Rumah Sakit karena anak semata wayangnya yaitu Jonathan masih dirawat di rumah sakit karena penyakitnya yang kembali kambuh.
"Oh, tidak apa-apa kok, Mbak" ucapnya santai.
"Maaf ya, Pak. Saya baru ingat, bisa putar balik ga? Sepertinya saya harus pergi ke Rumah Sakit dulu," tanya Audrey sambil melongokan wajahnya ke depan.
"Oh, tentu boleh kok, Mbak. Emangnya Rumah Sakit mana ya?" tanya pak sopir seraya menoleh melihat wajah Audrey yang amat berantakan itu dari kaca spion atasnya. Seraya langsung memutar kemudi untuk memenuhi permintaan sang penumpang, yang merupakan penumpang pertamanya di pagi itu.
"Rumah Sakit Medika Sentosa ya, Pak." jawab Audrey dengan suara yang amat lesu tak bertenaga. Sambil membuka layar ponselnya ia pun menyamankan posisi duduknya.
"Oh, baik mbak. Tak jauh dari sini memang kalau Rumah Sakit itu sih," pungkasnya kembali menginjak pedal gasnya.
"Iya, Pak" jawab Audrey lagi. Pandangannya pun nanar menyapu suasana di sepanjang jalan, di pagi hari yang sangat cerah, namun tidak untuk hatinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 20 menit akhirnya ia pun tiba di halaman Rumah Sakit.
"Terimakasih ya, Pak" Audrey pun keluar dan membayar tarif taksi tersebut dengan sebelah tangan meraih tasnya. Ia pun masuk ke halaman Rumah Sakit untuk segera melihat keadaan sang buah hati yang telah dua hari dirawat disana.
Dengan berjalan lesu, ia pun membuka pintu ruang rawat inap Jonathan.
"Mama," lirih bocah itu dengan selang infus yang masih tertempel di tangannya. Ia sangat senang melihat kehadiran ibu tercintanya itu yang ia tunggu dari tadi.
"Hai, Jo. Sayang kamu sudah bangun, nak?" Audrey pun berlari dan langsung mengecup kening bocah ganteng kesayangannya itu. Bocah yang baru berumur 4 tahun itu mengidap masalah serius pada jantungnya sehingga ia sering bolak-balik masuk Rumah Sakit. Hal itu pun membuat Audrey sangat sedih, dan itu alasan kenapa ia harus terus berjuang bekerja untuk mendapatkan uang demi pengobatan sang buah hati.
"Sudah Mama, Jo kangen, Ma!" Serunya begitu nyaman dalam pelukan sang ibu.
"Oh iya, Jo. Kenapa kamu sendirian di sini? Hm, papamu mana, bukannya dia harus menemani kamu di sini semalam tadi?" tanya Audrey yang heran seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu, tapi tak melihat batang hidung sang suami.
"Jo, ga tau Papa dimana, Ma." jawab bocah itu sambil menggeleng lemah.
"Tega banget sih dia, sudah tau anaknya sedang sakit begini. Tapi dia malah menghilang, apa yang sebenarnya yang sedang dia lakukan sekarang?" gumam Audrey sambil mengelus rambut Jonathan dengan penuh kelembutan seorang ibu.
Ia sangat sedih melihat tubuh Jonathan yang makin kurus dari hari ke hari.
"Papa tak ada, dan Mama pun tak ada. Jo sangat merasakan sepi," celoteh Jonathan sambil merengut.
"Iya nak, maafkan Mama ya, karena tak bisa menemani kamu tadi malam," ucap Audrey kembali mengecup pipi Jonathan.
sembari duduk Audrey kembali mengingat kejadian 2 hari yang lalu.
Tepat tengah malam, penyakit Jonathan pun kembali kambuh. Kondisinya kembali melemah.
"Ayo dong, Pa. Kita harus segera membawa Jo ke Rumah Sakit sekarang juga!" teriak Audrey yang tertatih menggendong Jonathan yang kembali pingsan.
"Haduh, telpon taksi online aja deh atau apa kek, ganggu orang lagi cape aja kamu tuh!" bentaknya seraya menenggak sebotol minuman rasa teler di tangannya.
"Hei, ngomong apa sih kamu? Ini anak kamu sendiri lho, kamu bisa bicara seperti itu dalam keadaan gawat seperti ini!" teriak Audrey tak habis fikir dengan ucapan sang suami yang malah merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya dengan keadaan yang sangat kacau itu.
"Panggil taksi, pliss ga usah ribet lah! Ini sudah malam." teriaknya sekuat tenaga. Membuat jantung Audrey kian terpacu kencang tak sanggup lagi untuk menahan amarahnya. Karena memiliki suami yang tai peduli dengan anaknya sendiri.
"Dalam keadaan yang sangat gawat seperti ini, tapi kamu bisa cuek begitu, heran aku." gerutu Audrey dengan wajah yang memerah.
"Argh bawel, kenapa sih mulut cewek itu hobinya ngoceh terus sampe berbusa! Pusing aku mendengar ocehanmu itu" teriaknya lagi semakin meracau.
"Dasar suami ga bertanggung jawab, nyesel aku menikah denganmu. Jonathan sakit keras seperti ini pun kelakuan kamu sama sekali ga berubah, pa!" teriak Audrey kesal.
"Suruh siapa punya anak yang sakit-sakitan seperti itu, dan malah menghabiskan uang kita!" teriaknya sambil meneguk habis minumannya.
"Ga pantes kamu jadi seorang ayah. Ga punya hati nurani kamu itu, jahat!" balas Audrey tak kalah geram.
Prangg
Seketika botol itu ia lemparkan, tepat menabrak dinding dan satu serpihan pecahan tajam itu mengenai kaki Audrey yang masih berdiri disana.
"Awww," pekik Audrey meringis karena pecahan beling tertancap di betisnya.
"Sudah pergi sana. Ngantuk aku ingin tidur!"
"Sialan, seperti orang yang kerasukan setan gondrong kamu itu," Audrey mendengus sangat kesal dan mencabutnya perlahan. Dengan tetesan darah dari lukanya itu ia merasakan perih. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan lelaki itu yang tak lain adalah suaminya yang telah menikahinya 6 tahun yang lalu ia bernama Jordan. Rumah tangga yang ia bayangkan akan penuh kebahagiaan dan harmonis. Namun ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya dengan sikap Jordan yang selalu kasar. Ia kerap memaki dan juga tak bertanggung jawab untuk kehidupan rumah tangganya.
Audrey segera menggendong Jonathan keluar rumah, dan berjalan tertatih untuk mencari Taksi atau pun angkutan umum, yang penting ia bisa membawa Jonathan segera pergi ke Rumah Sakit.
Bagaimana tidak, ibu mana yang tak kalut melihat keadaan anaknya yang memprihatinkan seperti itu, di tambah dengan sikap Jordan yang selalu membuat dirinya semakin sakit dan geram.
Anda Mungkin Juga Suka





