Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri sang Tuan Muda Lumpuh

Istri sang Tuan Muda Lumpuh

Fyorin terjebak dalam momen intim yang menegangkan bersama Tuan Muda Sooya. Di tengah balutan gairah dan keraguan, Fyorin menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan segalanya. Namun, kepolosannya muncul saat ia terkejut melihat realitas fisik sang tuan muda yang mengintimidasi. Rasa takut mulai menyelimuti benaknya, hingga Sooya memintanya memejamkan mata demi meredam kecemasan. Sebuah kisah romansa dewasa penuh intrik keluarga yang menguji keberanian hati Fyorin.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kecvpan lembut laki-laki itu telah berhasil melambungkan dirinya ke angkasa. Berguling-guling di antara gumpalan awan nan lembut yang seketika menghilangkan akal sehatnya.

Itu adalah pengalaman pertamanya. Jadi seperti ini rasanya?! Laki-laki itu telah mengambil c!vman pertamanya. Bahkan kekasihnya sekalipun tidak pernah ia izinkan untuk melakukan itu. Sialnya, laki-laki itu mengambilnya secara tiba-tiba, tidak ada kesempatan untuk Fyorin menolak, meskipun sebenarnya masih bisa. Tapi bodohnya, Fyorin malah men!kmatinya. Bodoh sekali, bukan?

Sihir macam apa yang membuatnya jadi sebodoh itu? Fyorin terlambat menyadarinya. Bahkan ketika Fyorin membuka matanya dan menyadari laki-laki itu sudah menghilang di balik pintu lift, ia masih saja terpaku di tempatnya.

Ia sentuh permukaan b!birnya yang tadi dik3cup oleh laki-laki tampan itu. Tubvhnya masih mematung. Seolah enggan beranjak dari kejadian yang baru saja terjadi.

Fyorin... Kamu ini apa-apaan?! Kamu lihat, laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak kamu kenal, tahu namanya saja tidak! Bangun Fyo!! Lupakan! Rutuknya seraya memukul-mukul kepalanya pelan. Berharap semua tentang kejadian singkat yang baru saja ia alami akan hilang dari ingatannya.

Ok, fokus lagi... gumamnya. Sekarang aku harus ke mana? Dia bertanya pada dirinya sendiri.

Aku pasti berada jauh dari kampung halamanku. Di kampungku mana ada hotel semewah ini! Orang-orang s!alan itu benar-benar selalu menyusahkan hidupku! Batin Fyorin.

Ia melangkah gontai, masuk ke dalam pintu lift. Termenung sejenak, memikirkan langkah yang akan diambil selanjutnya.

Ia hempas nafasnya dengan kasar, lalu menekan salah satu dari deretan angka yang ada di samping pintu lift itu. Tujuannya adalah lantai dasar. Ia harus segera keluar dari sana meskipun dia sendiri belum tahu kemana tujuan setelah keluar dari hotel itu.

Udara terasa begitu panas saat Fyorin keluar dari pintu berbahan kaca tebal yang menjadi salah satu akses keluar masuk hotel mewah itu.

Aku harus ke mana? Pertanyaan itu terus saja diputar berulang-ulang di otaknya. Fyorin benar-benar bingung sekarang. Saking bingungnya dia hanya berdiri mematung di bawah pohon rindang yang sengaja ditanam di sepanjang trotoar jalan yang melintang di depan hotel yang baru saja ditinggalkannya.

Fyorin menghela nafasnya, meratapi nasibnya yang benar-benar sial. Kesialan yang ia rasa sudah ia bawa sejak masih berada dalam kandungan bahkan sampai di usianya yang menginjak dewasa seperti sekarang ini kesialan itu terus mengikutinya. Kesialan yang dibuat oleh laki-laki yang seharusnya menjadi Cinta pertamanya, menjadi tempatnya berlindung, menjadi alasan dia merasa aman hidup di dunia yang terkadang sangat kejam.

Ayah... Lihat aku sekarang! Aku sampai terdampar di kota besar yang jauh dari kampung halamanku gara-gara kelakuan ayah. Aku dijual oleh orang-orang itu kepada orang kaya. Entahlah, jangan-jangan orang kaya itu sudah berhasil mengambil mahkotaku yang sangat berharga. Tapi di hidupku yang sesial ini apakah aku masih harus menghiraukan hal-hal seperti itu? Rasanya itu sudah tidak ada artinya lagi. Hidupku sudah terlanjur hancur, ya sudah, hancur saja sekalian.

Rasanya Fyorin sudah berada di titik paling rendah di hidupnya. Pasrah... Itulah satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang. Terkadang ingin rasanya ia bvnuh d!ri saja, melompat dari puncak gedung tertinggi, atau berdiri di tengah jalan agar ada pengemudi yang sama sialnya dengannya menabrak tubvhnya. Tapi ia masih punya ibu. Ibu yang sangat menyayanginya, satu-satunya orang yang mungkin nasibnya lebih sial dari dirinya karena memiliki suami yang sangat tidak bertanggung jawab. Yang tidak pernah memberi kesempatan istrinya bahagia.

"Ibu! pasti ibu khawatir sama aku. Ah, aku harus segera pulang!" Ujarnya.

Saatnya berhenti meratap. Dan kembali menjadi Fyorin yang kuat.

Ia merogoh kantong celananya. Satu-satunya benda yang ada di sana adalah kartu kredit berwarna hitam yang laki-laki itu berikan kepadanya tadi.

Fyorin menggigit bibir bawahnya seraya termenung, "Apa aku gunakan saja kartu ini, ya? Aku butuh uang untuk ongkos pulang ke kampungku," gumamnya seraya menatapi kartu berwarna hitam yang ada dalam genggamannya.

"Ok, aku pakai saja, anggaplah aku pinjam uang kepada laki-laki itu, nanti suatu hari akan aku bayar,"

Fyorin mengangguk-anggukan kepalanya, seolah sedang berkomitmen dengan dirinya sendiri tentang keputusan yang baru saja ia ambil.

Ia masukkan kembali kartu itu ke dalam saku celananya. Kepalanya celingukan mencari ATM terdekat. Ia harus mengambil uang di sana, tidak akan banyak-banyak, secukupnya saja asal bisa membawanya kembali ke kampung halamannya.

Kepalanya menoleh ke belakang, di samping gedung hotel ternyata ada bilik ATM. Ah, aku bisa mengambil uang di sana. Pikirnya.

Gegas ia berjalan menuju mesin penarik uang itu yang ketika Fyorin hendak membuka pintu ATM itu tak sengaja berbarengan dengan seorang wanita paruh baya yang juga sepertinya hendak masuk ke sana.

Fyorin seketika kembali menarik tangannya lalu menoleh ke arah wanita paruh baya dengan pakaiannya yang sangat elegan. Tas yang ditentengnya juga tas import yang jumlah produksinya terbatas. Yang tentunya dibandrol dengan harga yang mungkin lebih mahal dari harga rumahnya di kampung.

"Maaf, silakan Anda saja duluan," Fyorin mempersilahkan.

Wanita itu tersenyum, "Terima kasih," ucapnya.

Fyorin membalas senyum wanita itu seraya mengangguk.

Namun bukannya langsung masuk, wanita itu justru tampak mengamati Fyorin dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Fyorin tidak bisa menebak.

Merasa ditatap seperti itu, Fyorin merasa tidak nyaman. Ia memalingkan wajahnya, memilih menatap ke arah lain dan berpura-pura tidak tahu kalau dia sedang diperhatikan.

Ibu-ibu ini kenapa? Ngeliatin aku sampai segitunya. Apa gara-gara penampilan aku yang Kumal? Atau karena aku pakai baju murah, yang mungkin hanya seharga tusuk giginya? Batin Fyorin.

"Kamu sedang ada masalah?" Tanya wanita itu.

Seketika Fyorin menoleh, "Maksudnya?" Tanyanya.

"Saya lihat dari ekspresi wajah kamu sepertinya kamu sedang banyak masalah. Atau jangan-jangan kamu habis kecopetan?"

"Kenapa nyonya bisa punya kesimpulan seperti itu?" Fyorin mengernyitkan alisnya.

"Soalnya saya tidak melihat kamu membawa tas, kamu bahkan tidak membawa apa-apa. Penampilan kamu juga sangat berantakan, seperti orang yang sudah beberapa hari tidak mandi,"

Fyorin mengerjapkan matanya.

What the hell?! Maksud ibu-ibu ini apa? Dia lagi menghina aku? Dia mau mengata-ngatai aku jelek dan bau karena belum mandi? Walaupun memang benar aku sudah tidak mandi dari kemarin. Batinnya menggerutu.

"Em, sebenarnya saya...--"

"Kamu butuh pekerjaan?!" Potongnya.

"Pe-pekerjaan?"

"Iya, pekerjaan. Saya lihat sepertinya kamu pengangguran, benar begitu?"

Fyorin menghela nafasnya, bisa-bisanya dia bicara sefrontal itu, ibu-ibu ini menyebalkan sekali. Pikirnya.

Ok, sabar Fyo... Sepertinya kamu memang membutuhkan pekerjaan, Bukankah kamu sudah tidak bisa menjadi kurir pengantar makanan? Sepeda motor kamu saja sudah diambil sama orang-orang penagih hutang itu. Fyorin berbicara dengan hatinya sendiri.

"Em, sebenarnya saya punya pekerjaan, Saya seorang kurir pengantar makanan. Tapi sepertinya sekarang saya harus kehilangan pekerjaan saya. Soalnya sepeda motor saya yang biasa saya pakai untuk mengantar makanan diambil sama orang," tuturnya.

"Kasihan sekali, sepertinya hidup kamu benar-benar sedang tidak beruntung," ujar wanita itu.

"Iya, mungkin memang begitu," Fyorin akui saja.

Wanita itu tampak tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ok, itu artinya sekarang kamu pengangguran,"

"Kalau saya tawari kamu pekerjaan bagaimana?" Tanya wanita itu.

"Sa-saya mau!" Sahut Fyorin spontan.

Jujur saja, ia memang sangat membutuhkan sekali pekerjaan. Apapun itu akan dia kerjakan yang penting menghasilkan uang. Dan satu lagi, pekerjaan itu bukan pekerjaan yang kotor.

"Tapi, Maaf sebelumnya. Kira-kira pekerjaan yang Anda tawarkan itu pekerjaan apa, ya?"

"Kamu jangan khawatir, pekerjaan yang Saya tawarkan halal. Sebenarnya saya sedang membutuhkan orang untuk merawat Putra saya yang sedang sakit, apa kamu bisa??" Tanyanya.

Merawat orang sakit? Sepertinya itu bukan pekerjaan yang buruk. Aku biasa merawat ibuku kalau sakit. Sepertinya itu tidak sulit. Gumamnya dalam hati.

"Iya, saya mau. Saya bisa kok kalau hanya merawat orang sakit," ujar Fyorin tanpa berpikir panjang lagi.

Entah ini keputusan yang benar atau salah. Mungkin keputusan yang diambil ini terlalu ceroboh dan terburu-buru. Tapi apa salahnya jika mencoba. Yang paling penting sekarang dia harus bekerja untuk menghasilkan uang. Untuk membayar hutang-hutang ayahnya dan untuk keberlangsungan hidupnya dan juga ibunya.

"Ok, Jadi kapan kamu bisa mulai bekerja?" Tanyanya.

"Kalau lusa gimana? Soalnya saya harus pulang dulu ke rumah orang tua saya di luar kota, Saya takut beliau khawatir, Jadi saya harus izin dulu kepada beliau," ujar Fyorin.

"Tapi kan kamu bisa meminta izin lewat telepon,"

"Iya, harusnya memang begitu. Tapi handphone saya hilang, beserta dompet dan juga tas saya, Jadi sekarang saya tidak bisa menghubungi siapapun," kata Fyorin.

"Kamu ingat nomor yang bisa kamu hubungi?"

Fyorin menganggukan kepalanya. "Iya, saya ingat nomor bibi saya, biasanya saya menghubungi beliau kalau ingin berkomunikasi dengan ibu," jawab Fyorin.

"Bagus, kalau begitu kamu hubungi saja orang tua kamu pakai handphone saya, jadi kamu tidak perlu repot-repot pulang dulu ke kampung halaman kamu. Karena saya sedang butuh cepat, orang yang bisa merawat Putra saya," ujarnya seraya mengeluarkan ponsel keluaran terbaru yang tampak begitu mewah yang tidak pernah bisa Fyorin sentuh sebelumnya.

"Ini, kamu telepon orang tua kamu sekarang! Bilang kalau kamu sekarang bekerja sama saya," ujarnya caranya menyodorkan ponsel berwarna silver kepada Fyorin.

Tidak ada pilihan lain selain menurut, Fyorin Sudah malas berpikir. Yang paling penting dia harus mendapat pekerjaan dan mendapatkan uang. Itu saja. Terkesan terburu-buru memang, dan sempat terlintas dalam pikirannya perasaan khawatir, takut jika ternyata wanita itu adalah orang jahat yang menjebaknya. Tapi apa yang harus Fyorin takutkan? Takut wanita itu seorang muc!kari? Untuk apa takut? Bahkan dia baru saja dianggap seorang p3l-4cur beberapa saat lalu oleh seorang laki-laki yang sepertinya sudah t!dur dengannya semalaman. Meskipun ia sendiri tidak tahu apakah laki-laki itu menyentuhnya atau tidak.

Fyorin sudah tidak takut apapun, sungguh. Bahkan hal paling buruk seperti itu saja sudah dilewatinya, jadi apa lagi yang perlu di takutkan? Jadi hal buruk apa lagi yang akan melengkapi kesialannya? Fyorin sama sekali tidak peduli.

"Sekarang kamu ikut saya," ujar Wanita itu setelah Fyorin selesai menelpon ibunya.

"Ke mana, nyonya?" Tanya Fyorin.

"Ke rumah saya, kamu mau bekerja sama saya, kan?"

"Oh, iya, maaf, nyonya!" Ucap Fyorin seraya menundukkan kepalanya.

"Ya sudah, kamu masuk ke mobil saya sekarang!" Perintah wanita itu.

Fyorin mengangguk lantas membuntuti wanita itu dari belakang. Beberapa saat ia sempat ragu untuk masuk ke dalam mobil mewah yang sekarang sudah ada di hadapannya.

Ia menghela nafasnya dalam-dalam. Semoga keputusanku ini tidak membuat hidupku semakin susah, batinnya.

"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ayok masuk!" Tegur wanita itu.

Fyorin terperanjat, "Ah, i-iya, nyonya!" Ujarnya lantas bergegas masuk ke dalam mobil.

Ia duduk tepat di samping Bapak sopir yang diperkirakan berusia lima puluh tahunan. Sementara wanita itu duduk di kursi penumpang bagian belakang.

"Oh iya, nama kamu siapa?" Tanya wanita itu.

"Nama saya Fyorin nyonya," sahutnya.

"Ok, Fyorin. Mulai hari ini kamu akan bekerja untuk menemani dan merawat Putra saya yang sedang sakit, Saya harap kamu bisa merawatnya dengan baik," ujar wanita itu.

"Maaf, nyonya kalau boleh saya tahu, tuan muda sakit apa?"

"Dia mengalami kecelakaan dan akibat dari kecelakaan itu membuatna lumpuh. Jadi tugas kamu adalah membantu dia dalam beraktivitas, Kamu paham?!"

"Iya, nyonya saya paham!"

"Bagus!"

Fyorin terdiam, pekerjaan yang ia terima sepertinya bukan pekerjaan yang buruk. Merawat orang yang sedang sakit bukanlah pekerjaan kotor.

Tapi yang membuat Fyorin heran sekarang adalah cara nyonya itu mencari perawat untuk putranya. Kenapa sembarangan sekali? Padahal kalau dilihat dari penampilannya serta dari mobil yang dimilikinya sepertinya nyonya itu bukan orang biasa-biasa. Orang kaya pastinya. Tapi kenapa mencari orang untuk merawat putranya seperti memungut anak kucing di pinggir jalan. Bahkan nyonya itu tidak menanyai latar belakang Fyorin sama sekali.

Tapi itu bukan urusannya. Yang terpenting sekarang adalah Dia mendapat pekerjaan titik.

"Ayok, turun!"

Pikiran Fyorin yang terus melayang ke sana kemari selama di perjalanan membuatnya tidak sadar kalau ternyata mobil yang ditumpanginya sudah berhenti di depan sebuah rumah. Oh, bukan rumah lebih tepatnya mansion.

Fyorin sampai takjub melihat bangunan megah yang berdiri di hadapannya itu, yang mungkin luasnya bisa mencapai lebih dari lima ratus meter persegi.

Luar biasa sekali. Bangunan ini bisa dihuni oleh warga satu RT di kampungku. Batinnya.

"Ayok ikut saya! Saya akan mempertemukan kamu dengan Putra saya," ujar wanita itu.

"Baik, Nyonya!" Sahut Fyorin lantas mengikuti ke mana wanita itu berjalan.

Fyorin mengedarkan pandangannya, memindai setiap sudut mansion mewah itu yang tampak mengkilat di mana-mana seolah tidak ada satupun debu yang berani menempel pada permukaan benda-benda di sana.

Wah... Baru kali ini aku melihat rumah yang sangat megah seperti ini, ini lebih cocok disebut istana, sih! Gumamnya dalam hati dengan pandangannya yang terus berputar.

Setelah melewati beberapa ruangan yang sangat luas, akhirnya dia tiba di sebuah pintu yang tampak masih tertutup. Fyorin sempat mengira kalau itu adalah pintu kamar tuan muda yang akan dirawatnya. Tapi ternyata ia salah, karena saat pintu itu dibuka ternyata yang terlihat adalah hamparan rumput dan ruang terbuka hijau. Mungkin itu halaman belakang, atau apalah Fyorin sendiri kurang paham, yang jelas pintu itu tidak mengantarnya ke sebuah ruangan kamar, melainkan ruangan outdoor.

Tanpa berniat memprotes, Fyorin terus mengikuti langkah wanita yang sekarang sudah menjadi majikannya itu yang ternyata mengarah pada sebuah bangunan lain yang letaknya tak jauh dari rumah utama. Rumah itu tak kalah mewah, hanya saja ukurannya lebih kecil.

"Putra Saya tinggal di sini, dia sendiri yang memilih untuk tinggal di tempat ini padahal rumah utama juga masih tersedia kamar yang bisa dia tempati tapi dia tidak mau. Satu hal yang harus kamu tahu, Putra saya yang satu ini memang sedikit keras kepala. Jadi kamu jangan kaget dan harus siap menghadapi sikapnya yang keras," ungkap Wanita itu.

Fyorin menelan salivanya. Oh, apakah ini akan menjadi tantangan baru untukku? Mudah-mudahan saja tuan muda bukan orang yang galak. Batinnya.

"Maaf, nyonya, nama Tuan Muda siapa?"

"Namanya Sooya Bagas Bramantha, kamu bisa memanggilnya tuan muda Sooya!"

Fyorin menganggukkan kepalanya.

Sekarang mereka sudah tiba di depan sebuah pintu kamar yang terdapat di dalam rumah itu. Pintu berbahan kayu jati yang di plitur dengan ukiran berbentuk seekor naga yang tingginya hampir tiga meter itu di dorong oleh majikannya.

BRAK!!

Pintu itu terbuka, di dalamnya tampak ada seorang laki-laki yang tengah duduk di atas kursi roda sedang menghadap ke arah jendela kamarnya.

"Hallo, sayang... Bagaimana kabar kamu hari ini?" Ujar nyonya itu seraya menghampiri putranya.

Namun laki-laki itu tampak tak bergeming. Tidak ada respon apapun yang diberikan olehnya.

Wanita itu hanya tersenyum.

"Mami membawa seseorang untuk merawat kamu,"

"Saya tidak butuh dirawat oleh siapapun!" Suaranya terdengar angkuh.

Ya ampun! Serius aku harus merawat dia? Belum apa-apa Fyorin sudah ngeri sendiri. Kepada ibunya saja dia bersikap seperti itu, apalagi kepadaku yang hanya seorang pekerja, pikirnya.

Eh, tapi tunggu sebentar. Sepertinya aku tidak asing dengan suara laki-laki itu. Fyorin mengernyitkan alisnya. Ia mengamati laki-laki berambut putih keunguan yang dalam posisi memunggunginya itu dengan lekat. Suaranya seperti...--

Fyorin menggeser kakinya beberapa langkah ke samping, ia ingin melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Untuk memastikan kalau dugaannya salah.

Dan saat Fyorin berhasil melihat wajahnya, seketika matanya melebar. "Tuan muda?"

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 100 Hari Menikah Dengan Si BOS
9.7
Xavi Alonso bukan hanya taipan bisnis yang tak terkalahkan, tapi juga sosok dingin yang menjebak wanita incarannya dalam pernikahan. Saat sang istri merasa tertipu dan menuntut cerai karena perilaku dominannya, Xavi justru memberikan segalanya. Seluruh harta, perusahaan, hingga dirinya sendiri ia serahkan demi memanjakan sang istri. Di balik kemegahan hartanya, sang penguasa angkuh ini ternyata adalah iblis yang tak punya batas dalam mencintai pasangannya.
Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Billionaire
7.9
Demi membiayai pengobatan sang adik, Krystal terpaksa meminta bantuan finansial kepada Kaivan Bastian Mahendra. Namun, dukungan dana dari sang miliarder tidaklah cuma-cuma. Krystal harus membayar mahal dengan kesediaannya menjadi istri kedua pria tersebut. Terjebak dalam pernikahan yang rumit dan penuh tekanan, mampukah Krystal bertahan menjalani kehidupan barunya? Sebuah kisah tentang pengorbanan dan cinta yang terbelenggu oleh sebuah syarat berat.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Sampul Novel KUSEMBUNYIKAN KEKAYAANKU DARI SUAMI DAN MERTUA
9.6
Mia merasa muak karena terus direndahkan oleh ibu mertuanya hanya karena dianggap miskin dibanding menantu lainnya. Meski dihina secara zalim, Mia memilih bungkam dan menyembunyikan rahasia besar. Tanpa ada yang tahu, ia sebenarnya memiliki kekayaan melimpah dan tumpukan logam mulia dari hasil jerih payahnya menulis secara daring. Ia sengaja merahasiakan aset tersebut agar suami dan mertuanya yang rakus tidak bisa menyentuh hartanya sedikit pun.