Sampul Novel Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen)

Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen)

8.2 / 10.0
Tanpa perkenalan mendalam, Asoka nekat melamar Riri meski restu orang tua menjadi penghalang besar. Di tengah perjuangannya, Asoka terpaksa pergi ke London dalam waktu lama. Saat ia kembali untuk meraih cinta Riri, kenyataan pahit menantinya: Riri telah resmi dipersunting oleh Kris. Kini, Asoka terjebak dalam dilema asmara yang rumit, sementara kehadiran Kris menjadi penengah tak terduga dalam drama cinta yang penuh rintangan dan pengorbanan ini.

Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen) Bab 1

Di sebuah gedung pencakar langit dengan cat yang dominan berwarna putih, terlihat seorang wanita yang mengenakan setelan blazer krem tengah duduk di lobi perusahaan bernama Bramasta Group. Wanita tersebut ialah Riri, tujuan Dia datang kesini tidak lain dan tidak bukan untuk memenuhi panggilan interview kerja yang telah diumumkan kemarin siang dan beruntungnya pagi ini cuaca cukup cerah seakan menjadi pertanda baik untuk Riri.

"Saudari Amarilis Jelita," panggil seorang pria berkemeja abu-abu yang jaraknya hanya dua meter dari Riri.

"Iya betul," jawab Riri singkat.

"Silakan segera masuk dan langsung memperkenalkan diri anda," ajak pria berkemeja abu-abu sembari mendorong pintu ruangan di depannya.

Tanpa menjawab Riri segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengekori Pria tersebut dari belakang.

"Silakan duduk disini," perintah pria berkemeja abu-abu sembari menunjuk kursi kosong yang telah di sediakan untuk para pelamar yang hendak interview.

Segera Riri duduk manis tanpa permisi di kursi tersebut dan tanpa disadari oleh Riri, Pria berkemeja abu-abu itu telah melenggang pergi dari ruangan tersebut.

Terlihat di depan Riri ada dua orang yang diyakini berbeda kelamin itu sedang sibuk membaca tumpukan berkas yang berada di mejanya. Tidak berselang lama mereka menyadari kehadiran Riri di sana dan pandangan mereka berdua segera teralihkan ke arah Riri yang hanya diam saja sedari pertama masuk ke ruangan itu.

Karena menyadari kalau dua orang di depannya telah fokus padanya, Riri pun langsung memperkenalkan diri dan mengatakan apa tujuannya melamar pekerjaan di perusahaan itu, bahkan Riri juga menyisipkan visi dan misi hidupnya agar lebih lengkap perkenalan dirinya.

Setelah selesai berbicara cukup panjang, Riri kembali diam menunggu respon dari orang yang ada di depannya. Namun, cukup lama Riri menunggu jawaban dari mereka, kira-kira sudah lebih dari sepuluh menit berlalu mereka masih setia diam sambil melihat ke arah Riri.

Namun Pria berjas navy yang tertuliskan nama Asoka B Kusuma terlihat dari name tag yang tertempel di dada bidangnya berdiri dan berjalan secara perlahan menghampiri Riri.

"Saya mau dengar kekurangan dan kelebihanmu apa?" tanya Asoka yang telah berada di hadapan Riri sembari duduk disana yang terlebih dahulu Dia menarik kursi disamping Riri.

"Kelebihan dari diri saya tidak banyak, kecuali kelebihan lemak di pipi. Namun kekurangan saya cukup banyak salah satunya kurang tinggi, kurang cantik, kurang berat badan, kurang uang, tapi saya tidak kurang ajar. Mungkin kurang lebih seperti itu. Sekian perkenalan singkat dari saya, terima kasih," terang Riri.

Asoka yang mendengarnya hanya mengulum senyum untuk menahan tawanya, Riri yang melihat gelagat Asoka pun spontan mengerutkan alisnya.

'Aneh.' satu kata itu yang berada di pikiran Riri untuk sosok Pria di depannya ini.

Disaat mereka sedang sibuk berbincang tanpa sadar Pandangan Asoka dan Pandangan Riri terkunci satu sama lain yang jaraknya hanya dua meter, “Aku suka kepribadianmu, Manis. Buat apa kamu melamar kerja di perusahaan saya, lebih baik kamu yang saya lamar untuk menjadi Ratuku."

Seketika Riri mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, "Bapak ini ternyata suka bercanda ya." Tanpa dipungkiri timbul rona merah di pipi tembem Riri.

Asoka yang mendengar perkataan itu langsung terkekeh-kekeh, melihat tingkah Wanita didepannya ditambah pipinya yang mulai merona membuat Asoka terpesona oleh kecantikan Wanita didepannya ini.

"Kenapa?" tanya Asoka terjeda sejenak dengan nada menggoda, "saya tidak pernah bercanda dengan ucapan saya. Bahkan jika perlu saya akan hari ini juga melamar ke rumahmu." Peryataannya itu sukses membuat kedua mata Riri membola sempurna dan detik berikutnya Riri melirik Asoka di hadapannya yang tengah tersenyum manis sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Eh," cicit Riri, "bapa serius?" sergahnya yang langsung di anggukki oleh Asoka yang di pastikan CEO Bramasta ini.

"Pa-bapak," ucap Riri gelagapan, "cukup, Pak. Saya kesini mencari kerja bukan mencari tambatan hati."

Asoka tidak mengindahkan perkataan Riri, Dia memilih berdiri dan berjalan menghampiri Wanita di belakangnya. Ada percakapan diantara mereka namun tidak cukup jelas terdengar oleh Riri, yang pasti setelah percakapan mereka berakhir Wanita itu segera melenggang pergi dari ruangan ini meninggalkan mereka berdua di dalam.

"Waktu jam makan siang akan segera dimulai," ucap Asoka sambil berjalan menghampiri Riri, "saya cukup terganggu dengan suara perutmu itu." Asoka melirik sekilas kearah perut Riri sebelum Dia berjalan perlahan keluar ruangan.

Riri yang mendengar perkataan itu langsung tertunduk malu sembari mengusap perutnya yang memang benar cacing-cacing didalam perutnya telah berdemo meminta asupan makanan.

"Tunggu apa lagi," ajak Asoka yang telah lebih dulu berjalan didepan.

"Tapi, Pak. Bagaimana dengan peserta lain yang telah menunggu di luar ruangan ini?" Riri berkilah untuk memenuhi ajakan dari atasannya tersebut.

Asoka yang mendengar perkataan Riri segera menghentikan langkahnya, "Kamu jangan pedulikan mereka, mereka bukan urusanmu. Urusanmu bersama dengan saya." Tanpa permisi Asoka berbalik berjalan menghampiri Riri untuk mengandeng tangannya.

"Eh," cicit Riri, “bapak ngapain main pegang-pegang tangan saya segala." Sekuat tenaga Riri mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar Asoka.

"Pak, lepas gak!" Riri menyalak galak.

"Gak," sahut Asoka singkat.

Dengan pasrah Riri mengiyakan ajakan Asoka karena jika Dia melawan pun akan percuma, yang membuat Riri sangat malu adalah disepanjang perjalanan tangan kiri Riri tidak terlepas dari gandengan tangan Asoka yang cukup menimbulkan keterkejutan dari karyawan yang berpapasan dengan mereka.

Disaat Asoka hendak berjalan keluar kantor yang tinggal lima langkah didepan diikuti oleh Riri di sampingnya, tiba-tiba gawai di saku jas mahalnya bergetar Dia langsung berjalan menjauh dari Riri untuk menerima panggilannya yang terlebih dahulu telah melepaskan genggaman tangannya.

Setelah selesai menerima panggilan  dari gawainya, Asoka segera berlari kecil menghampiri Riri yang telah menunggunya diambang pintu keluar kantor.

"Maaf, sepertinya lain kali saja kita makan siang bareng, Manis," ucap Asoka terjeda sejenak dengan lirih, "karena saya besok ada metting ke luar kota untuk beberapa hari ke depan."

"Ya, itu terserah bapak. Yang jelas apa saya diterima kerja di perusahaan ini atau enggak?" Dengan tatapan tajam Riri hunuskan ke Asoka.

Asoka menyugar rambutnya sembari tersenyum menyeringai, "Apa masih kurang jelas," ucap Asoka terjeda sejenak, "kamu itu sudah diterima. Diterima menjadi Ratuku." Dengan mengedipkan sebelah matanya Dia tunjukkan ke Riri.

"Cukup, Pak. Saya sudah jengah dengan perlakuan aneh ditambah sifat pemaksa, bapak!" sergah Riri, "jika bapak tidak mau menerima saya bekerja disini. Ya sudah, jangan mempermainkan saya seperti ini."

Detik berikutnya Riri segera melenggang pergi tanpa permisi dari atasannya tersebut.

"Tunggu!" teriak Asoka sambil ikut berlari kecil, "kok kamu malah marah. Apa ada perkataan saya yang salah?" Asoka mencoba meraih tangan Riri namun segera Riri menepis kuat-kuat genggaman tangan Asoka.

"Tunggu, Manis," panggil Asoka namun lawan bicaranya terus berjalan tanpa mengindahkannya.

"BERHENTI!" Asoka tanpa sadar menaikan suaranya satu oktaf.

Seketika langkah kaki Riri terhenti setelah mendengar seruan Asoka di belakangnya tersebut yang membuat tubuhnya mendadak merinding ditempat.

Asoka segera berjalan menghampiri Riri, "Saya mohon apa ada salah dengan ucapan saya, saya butuh penjelasan. Ada apa denganmu?" Asoka menatap nanar punggung Riri.

"Apa yang harus dijelaskan. Mungkin seharusnya saya dari awal tidak datang ke perusahaan ini," jelas Riri tanpa melihat lawan bicaranya.

"Apa itu artinya kamu menolak ajakan nikah saya?"

"Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu. Saya hanya mengenal anda sebatas CEO Bramasta ini tidak lebih," jelas Riri sambil melirik sekilas Asoka dibelakangnya.

Terdengar Asoka menghela nafasnya dengan kasar didepan wanita pujaan hatinya.

"Baiklah, tapi kamu jangan menolak kalau saya mau mengantarmu pulang," ucap Asoka dengan lirih.

Riri tidak mengindahkannya Dia memilih untuk melanjutkan langkahnya ke arah parkiran, namun disaat kakinya hendak melangkah tiba-tiba Dia merasakan kepalanya mendadak pusing, pandangannya pun lambat laun mengabur dan mengakibatkan tubuhnya langsung ambruk. Beruntungnya bagi Riri ada Asoka, Dia segera merangkul pundak Riri dan menggendong tubuh Riri ala bridal style yang sebelumnya Asoka telah menepuk pipinya untuk memanggil namun tak kunjung mendapati respon.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen)

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berubah drastis saat ia mengetahui fakta mengejutkan di kampusnya. Ezza, pria yang dijodohkan orang tuanya dan kini telah resmi menjadi suaminya, tiba-tiba muncul sebagai dosen baru di sana. Kehadiran Ezza yang tak terduga di lingkungan akademisnya memicu tanda tanya besar bagi Bunga. Ia pun mulai meragukan alasan di balik keputusan suaminya tersebut. Apakah Ezza memiliki motif tersembunyi atau ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu demi satu nyawa teman, keluarga, hingga mereka yang pernah menyakitiku terenggut secara brutal. Kematian tragis ini menyisakan kengerian mendalam karena sang pelaku sangat lihai menghapus jejak, membuat identitasnya mustahil terungkap. Di tengah kepungan teka-teki gelap yang penuh misteri, korban terus berjatuhan tanpa henti. Naasnya, aku yang menjadi tokoh utama dalam kisah kelam ini pun tak luput dari incaran maut yang mengintai dari balik bayangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan