Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri sang Tuan Muda Lumpuh

Istri sang Tuan Muda Lumpuh

Fyorin terjebak dalam momen intim yang menegangkan bersama Tuan Muda Sooya. Di tengah balutan gairah dan keraguan, Fyorin menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan segalanya. Namun, kepolosannya muncul saat ia terkejut melihat realitas fisik sang tuan muda yang mengintimidasi. Rasa takut mulai menyelimuti benaknya, hingga Sooya memintanya memejamkan mata demi meredam kecemasan. Sebuah kisah romansa dewasa penuh intrik keluarga yang menguji keberanian hati Fyorin.
Bab
Bagikan

Bab 3

Laki-laki itu menoleh, menatap lekat seorang gadis yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.

"Tuan...--"

Kalimat Fyorin terhenti tatkala Tuan Muda Sooya mengacungkan telapak tangan ke arahnya. Mulutnya seketika kembali terkatup. Ia hanya bisa bergumam dalam hatinya. Kenapa aku merasa tidak asing dengan laki-laki ini? Aku memang tidak begitu ingat dengan wajah laki-laki yang tadi berada di hotel bersamaku. Tapi aku yakin Tuan muda Sooya adalah orang yang sama dengan laki-laki yang di hotel tadi, kalau tidak salah laki-laki itu juga punya tahi lalat di hidungnya persis seperti tahi lalat yang dimiliki oleh Tuan muda Sooya. Iya, aku yakin...

Eh, tapi laki-laki yang tadi berada di hotel bersamaku tidak lumpuh. Dia bahkan bisa berjalan dengan normal. Sedangkan Tuan Muda Sooya pakai kursi roda? Aduuuhhh... Ini membingungkan sekali. Batin Fyorin sibuk berdebat, perdebatan yang membuatnya bingung sendiri.

"Tinggalkan kami berdua! Saya mau bicara empat mata dengan perempuan ini!" Ucapnya datar. Tentu saja kalimatnya itu ditujukan untuk ibunya.

Wanita paruh baya itu mengedikkan bahunya, "Ok!" Sahutnya. Ia menghela nafas panjang lalu membalikan badannya, lalu meninggalkan Fyorin yang sekarang hanya tinggal berdua saja dengan laki-laki itu.

Bingung, sekarang Fyorin bingung harus melakukan apa. Bahkan wanita yang mempekerjakannya sekarang pergi begitu saja tanpa memberikan arahan apapun.

BRAKK!!

Daun pintu di tutup sedikit kasar. Menghasilkan dentuman keras dari daun pintu yang membentur bingkainya. Membuat Fyorin terlonjak kaget setengah mati. Jantungnya seketika berdebar dengan kencang, jari jemari tangannya sampai gemetar. Oh, kaget sekali. Fyorin mengusap-ngusap dadanya. Sungguh keluarga yang aneh, Mereka ibu dan anak tapi dari cara mereka berinteraksi lebih seperti dua orang yang sedang bermusuhan. Batin Fyorin.

"Kemarilah!" Suara Tuan Muda Sooya kembali mengagetkannya. Laki-laki itu ternyata sedang menatap ke arahnya. Entah sejak kapan kursi roda yang didudukinya itu berbalik arah jadi menghadap ke arah Fyorin. Mungkin saat Fyorin sibuk dengan rasa kagetnya saat mendengar suara pintu dibanting.

Dengan langkah yang perlahan, Fyorin berjalan menghampiri laki-laki yang tengah duduk di atas kursi rodanya itu untuk memenuhi panggilannya. Namun Baru beberapa langkah,

"Stop! Diam di situ!" Fyorin mengangkat wajahnya. Laki-laki itu mengangkat telapak tangannya yang ia hadapkan ke arah Fyorin dan membuat langkah Fyorin seketika berhenti dengan jaraknya sekarang yang kurang dari dua meter lagi.

"Siapa nama kamu?" Tanyanya dengan nada yang datar dan dingin.

"Na-nama saya Fyorin, Tuan Muda..." Sahut Fyorin hati-hati.

Laki-laki itu kembali memutar kursi rodanya. Kembali menghadapkannya ke arah jendela.

"Ok! Kamu boleh keluar sekarang!" Perintahnya.

"Ke-keluar? Keluar ke mana, Tuan Muda?" Tanya Fyorin bingung.

"Di sebelah kamar ini ada satu kamar lagi. Kamu boleh gunakan kamar itu, di sana juga ada lemari, dan di dalamnya ada baju yang bisa kamu pakai untuk sementara sampai kamu membeli baju yang baru,," jawabnya.

Fyorin tertegun. Sikap Tuan mudanya itu memang masih dingin. Tapi kali ini wajahnya sudah tidak semenyeramkan tadi ketika ada ibunya. Malahan dia terlihat sangat peduli kepada Fyorin sampai-sampai ia berfikir meminjami baju untuk ia pakai. Seolah tahu kalau Fyorin memang tidak membawa baju satu helai pun kecuali yang melekat di badannya.

"Saya boleh istirahat dulu, Tuan?" Tanya Fyorin.

"Iya, barusan saya memang menyuruh kamu istirahat. Dan sebaiknya kamu mandi, Saya tidak tahan dengan bau tubvh kamu yang sudah tidak mandi dari kemarin,"

Fyorin membelalakkan matanya. "Tuan tahu saya belum mandi dari kemarin? Atau jangan-jangan dugaan saya benar kalau ternyata Tuan adalah orang yang sama dengan orang yang tadi pagi bersama saya di...--"

"Kamu jangan mengarang cerita! Saya tidak pernah pergi dengan siapapun apalagi bersama kamu!" Potong Tuan muda Sooya dengan nada suara yang ia naikkan satu oktaf sebagai penegasan.

"Maaf, Tuan muda..." Sahut Fyorin seraya menundukkan kepalanya. Sepertinya mulai sekarang ia harus lebih berhati-hati ketika berbicara dengan Tuan muda Sooya. Pikirnya.

"Keluar sekarang!" Tegasnya.

Fyorin terperanjat, "Se-sekarang, Tuan?"

"Iya, sekarang! Kapan lagi? Atau kamu berfikir mau tidur bersama saya di kamar ini?!"

Fyorin kembali membelalakkan matanya. "Nggak Tuan muda! Ba-baik, sa-saya keluar sekarang!" Ujar Fyorin dengan cepat lantas bergegas keluar dari kamar itu. Oh, apa ini? Bisa-bisanya Tuan mudanya itu berbicara seperti itu kepadanya. Laki-laki itu benar-benar sulit ditebak.

Fyorin berjalan cepat menjauhi pintu kamar berbahan jati bermotif naga itu sambil terburu-buru. Kepalanya celingukan ke sana kemari. Mencari kamar yang tadi ditunjukkan oleh Tuan mudanya itu. "Ah, kayaknya itu kamar yang tuan muda maksud," gumam Fyorin ketika melihat pintu ruangan yang berada tepat di sebelah kamar tuan mudanya tadi. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar itu yang ternyata memang tidak dikunci.

Kamarnya sangat besar dan luas, sama saja dengan kamar yang ditempati oleh Tuan mudanya sekarang. "Ini nggak salah? Masa kamar pembantu semewah ini?" Gumam Fyorin seraya memindai setiap sudut ruangan kamar itu. Di salah satu dinding kamar itu terpajang sebuah foto seorang wanita dengan ukuran yang sangat besar. Cantik sekali wajah wanita dalam foto itu. Gaya berpakaiannya terlihat sangat elegan. "Itu foto siapa, ya?" Gumam Fyorin. Ah, itu bukan urusanku.

Ia pun berjalan menuju ke arah lemari kayu besar yang juga terdapat banyak ukiran di daun pintunya. Kunci lemari itu tergantung di sana sehingga Fyorin bisa membuka lemari itu.

BRAK!!

Pintu lemari ia buka. Dan isinya penuh dengan baju-baju perempuan. Mungkin ini juga yang dimaksud oleh Tuan muda Sooya.

Mata Fyorin membulat, tatkala melihat tumpukan baju yang tertata rapi. Bajunya sangat cantik-cantik sekali. Sepertinya baju itu memang baju-baju mahal. Tapi kemudian muncul pertanyaan dalam hati Fyorin, Siapa pemilik baju-baju ini? Kenapa bisa ada di rumah Tuan muda Sooya? Dan Tuan mudanya itu memperbolehkannya memakai baju dari lemari itu.

Belum satu hari bekerja di rumah itu tapi sudah banyak sekali pertanyaan yang bertumpuk di kepalanya. "Ah, sudahlah... Tebak-tebakannya dipikirkan nanti saja. Badanku sudah terasa sangat lengket, lebih baik aku cepat-cepat mandi sekarang. Siapa tahu nanti Tuan muda tiba-tiba butuh bantuanku," gumamnya lantas bergegas mengambil satu set pakaian dari dalam lemari itu dan membawanya masuk ke kamar mandi yang juga ada di dalam kamar itu.

Hari ini benar-benar hari yang ajaib. Semua kejadian berlangsung dengan sangat cepat. Mulai dari Fyorin yang tiba-tiba bangun di dalam sebuah kamar hotel bersama seorang laki-laki tampan yang tidak ia kenal, kemudian dituduh sebagai seorang p3l-4cur. Lalu beberapa saat kemudian ia beralih profesi menjadi asisten rumah tangga yang bertugas merawat Tuan muda anak konglomerat yang lumpuh. Yang wajahnya mirip sekali dengan laki-laki yang ia temui di hotel pagi tadi.

Dan keajaiban itu tidak hanya berhenti sampai di situ. Pagi-pagi sekali Fyorin sudah dibangunkan oleh seorang asisten rumah tangga lain yang memang sudah bekerja di rumah itu lebih dulu darinya. Matahari masih lama terbitnya, bahkan jarum jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Tapi Fyorin sudah harus membuka matanya.

"Apa jam kerja di rumah ini memang harus sepagi ini? Ck, Ya ampun... Emang asisten rumah tangga di sini digaji berapa sih?" Fyorin menggerutu. Kelopak matanya masih sangat terasa lengket. Tapi dia sudah diminta untuk mandi dan berpakaian rapi karena menurut asisten rumah tangga yang membangunkannya tadi, Nyonya besar menunggunya dan meminta Fyorin menemuinya dua jam lagi.

"Hah? Masih dua jam lagi tapi aku sudah disuruh siap-siap dari sekarang?" Fyorin terus menggerutu. Ia benar-benar tidak paham dengan cara kerja orang-orang kaya terkhusus yang ada di rumah itu. Namun dia tetap harus melaksanakannya.

Fyorin bergegas mandi dan memilih baju yang pantas untuk menemui sang Nyonya besar.

Ia mengambil dress polos berbahan stretch yang mengembang di bagian roknya yang hanya sebatas lutut Fyorin. Lalu kemudian mengikat semua helaian rambutnya ke atas agar tidak mengganggunya saat bekerja nanti, selain itu juga agar terlihat lebih rapi. Lalu bergegas menemui majikannya yang katanya harus is temui di ruang tamu rumah itu.

"Selamat pagi, Nyonya!" Ucap Fyorin sambil menundukkan kepalanya hormat sesaat setelah ia tiba di ruang tamu.

Wanita itu tidak menjawab, ia tampak mengenyitkan alisnya seraya memindai penampilan Fyorin dari atas hingga ke bawah. Tentu saja hal itu membuat Fyorin jadi salah tingkah.

Kenapa nyonya besar melihatku seperti itu? Apa jangan-jangan baju ini miliknya? Mati aku! Pasti aku kena marah! Batinnya.

"Dari mana kamu mendapatkan baju itu?!" Tanyanya.

Deg!

Pertanyaan yang dilontarkan oleh majikannya itu memang sebuah kalimat yang sederhana, tapi terdengar seperti sebuah kalimat pembukaan yang mungkin akan diikuti oleh kalimat-kalimat menyakitkan lainnya.

Tidak salah lagi, ini pasti baju punya nyonya besar. Tapi bisa-bisanya tuan muda menyuruhku memakai baju ini. Fyorin bergumam dalam hatinya dan menyalahkan Tuan mudanya.

"Sa-saya, saya ambil dari lemari yang ada di kamar itu," ucap Fyorin jujur dengan jari telunjuk yang acungkan ke arah pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruangan yang di belakangnya. Karena di sanalah kamar yang ia tempati berada.

"Kenapa kamu berani sekali mengambil barang yang bukan milik kamu? Kamu di sini bekerja baru satu hari, Fyorin!" Bentaknya.

"Saya yang menyuruhnya!" Suara yang lain terdengar dari arah belakang Fyorin berdiri. Membuatnya seketika menoleh.

"Tuan muda," melihat Tuan mudanya datang memutar kursi rodanya sendiri, Fyorin pun bergegas menghampirinya.

"Ah, Sooya," Wajah wanita itu tiba-tiba berubah ramah.  Tidak lupa dihiasi senyum di bibirnya, padahal Tuan muda Sooya tidak pernah menunjukkan keramahan sama sekali kepadanya. Aneh sekali. Fyorin semakin merasa heran dengan hubungan ibu dan anak itu.

"Apa ada masalah kalau Fyorin memakai baju-baju itu? Anda tidak berhak melarang sama sekali!" Ujarnya.

Alis Fyorin mengernyit. Anda? Tuan muda memanggil ibunya dengan sebutan anda? Apa-apaan ini? Tidak sopan sekali! Batinnya.

"Oh, tidak, tidak ada masalah sama sekali kalau memang kamu yang menyuruhnya, Mami cuma khawatir kalau dia yang kurang ajar," sahut wanita itu.

"Saya minta maaf, Nyonya, kalau saya lancang,"

"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada dia!" Tukas Sooya.

"Tidak apa-apa, Fyorin! Kalau memang Tuan muda Sooya yang menyuruh kamu, itu tidak masalah,"

Fyorin mengangguk lantas menundukkan kepalanya.

"Maaf, tadi Nyonya minta saya menemui nyonya di sini. Apa nyonya mau meminta saya melakukan sesuatu?" Tanya Fyorin.

"Oh, iya. Begini Fyorin... Hari ini kita akan pergi ke sebuah acara pernikahan. Jadi saya harap kamu juga bersiap-siap, karena kamu juga harus ikut!"

Fyorin mengangguk, dia diminta untuk ikut pasti untuk menemani Tuan mudanya. Dan mengurusi semua kebutuhan Tuan mudanya itu. Fyorin tak menaruh curiga sedikitpun.

"Ah, iya. Kamu sudah siap, kan?" kali ini ia berbicara kepada Tuan muda Sooya.

"Apa jawaban dari saya masih dibutuhkan? Bukankah seandainya saya tidak siap pun tidak akan merubah keputusan kalian?!" Jawabnya.

"Ini demi kebaikan kamu...--"

"Cih!! Munafik sekali!" Tukas Sooya.

"Sudahlah, kamu sekarang siap-siap, kita akan berangkat sebentar lagi. Nanti biar Fyorin yang bantu kamu, ya, nak!" Ucapnya,

Namun laki-laki itu sama sekali tidak menjawab. Terlihat sekali kalau dia sangat enggan berbicara dengan wanita itu. Wanita yang setahu Fyorin adalah ibunya. Hubungan antara Nyonya besar dengan Tuan muda Sooya sepertinya memang tidak baik. Terka Fyorin.

"Bantu saya siap-siap!" Kata Sooya kepada Fyorin.

"Baik, Tuan muda!" Sahut Fyorin lantas mendorong kursi roda yang diduduki oleh Tuan mudanya itu menuju ke ruangan kamarnya.

"Saya permisi, Nyonya!" Ucap Fyorin sambil menganggukkan kepalanya kepada Nyonya besar yang masih berdiri di sana. Dan wanita itu hanya menyahuti Fyorin dengan anggukan kepala.

"Tutup pintunya!" Perintah Tuan muda Sooya, "Baik, Tuan muda," sahut Fyorin lantas mendorong pintu kamar itu hingga tertutup. Kemudian berlari kecil menghampiri Tuan mudanya lagi.

"Saya mau mandi, tolong bantu saya melepas pakaian!" Fyorin mengerjapkan matanya beberapa kali. "Me-melepas pakaian? Ta-tapi Tuan muda...--"

"Kamu tidak mau? Kamu tidak ingat tugas kamu di sini apa? Kamu dipekerjakan di sini untuk membantu saya!" Tegasnya.

"Iya, saya tahu, tapi...--" Fyorin menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Ini serius? Aku harus bukain bajunya Tuan Muda? Jangan-jangan bentar lagi aku disuruh bantu dia mandi juga! Oh, pekerjaan macam apa ini? Kalau gini terus lama-lama bisa muncul berita yang judulnya 'Seorang Tuan Muda di P3r-k0s4 perawatnya', kan nggak lucu, batin Fyorin, berkelakar sendiri dalam hati. Namun setelahnya ia justru malah bergidik sendiri. Amit-amit, gumamnya seraya memukul-mukul kepalanya pelan.

"Ayok, cepat! Sebentar lagi kita sudah harus berangkat, kalau tidak nanti si nenek lampir itu akan mengomel," Ujarnya. Fyorin tahu Siapa orang yang disebut nenek Lampir oleh Tuan mudanya itu. Pasti yang dimaksud adalah ibunya. Apa tuan muda ini definisi anak durhaka? Masa ibunya sendiri dibilang nenek Lampir. Batin Fyorin.

Namun Fyorin tidak punya hak sama sekali untuk membantah, apalagi memprotes. Terpaksa ia lakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan mudanya itu.

Satu persatu kancing piyama yang melekat pada tubuh Tuan muda Sooya ia lepaskan tautannya. Lalu ia turunkan bagian kerah piyama itu dari bahunya. Tampaklah sudah bahu dan lengan kekar Tuan muda Sooya bahkan dadanya yang mirip seperti dada ayam pedaging. Yang tentu saja membuat Fyorin menelan salivanya berkali-kali. Apalagi ketika tangannya menyentuh tipis-tipis permukaan kulitnya. Darahnya tiba-tiba berdesir.

Aroma maskulin yang menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya seketika mengingatkan Fyorin pada sosok laki-laki yang berada di kamar hotel bersamanya pagi tadi. Bahkan saat Fyorin dalam keadaan setengah sadar ia seperti merasakan kalau ia tidur dalam pe-lvkan laki-laki itu, yang wangi tub-uhnya persis seperti wangi tubvh Tuan muda Sooya saat ini. Membuat Fyorin yakin kalau laki-laki itu dan Tuan Muda Sooya adalah orang yang sama, meskipun Tuan muda Sooya membantah kebenarannya.

Ah, tapi yang pakai parfum seperti ini kan banyak! Dan katanya manusia itu memang ada yang mirip meskipun tidak ada ikatan darah. Lagi pula laki-laki yang tadi pagi itu keadaannya sangat sehat. Tidak sakit seperti Tuan Muda Sooya. Lagi-lagi Fyorin menepisnya dengan logika.

Piyama yang dikenakan oleh Tuan Muda Sooya yang sudah berhasil dia lepaskan ia taruh di bahunya sendiri. Setelah itu ia mengulurkan tangannya meraih karet pinggang bawahan piyama Tuan muda Sooya untuk ia lepaskan juga. Tapi Apa yang terjadi? Tiba-tiba saja Tuan Muda Sooya menepis tangannya.

"Kamu mau apa?!" Serganya.

Seketika Fyorin terperanjat dan kembali menarik tangannya. "Maaf, Tuan Muda, Saya mau bantu Tuan Muda melepas...--"

"Tidak perlu! Kamu mau modus lihat junior saya?!"

Fyorin terhenyak, "Oh, ng-nggak Tuan muda! Sa-saya tidak bermaksud seperti itu!" Sanggah Fyorin seraya mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya.

"Maaf kalau saya lancang..." Imbuhnya lantas menunduk.

"Ya sudah, sekarang antar saya ke kamar mandi dan tinggalkan saya sendirian di sana. Dan jangan berharap saya meminta kamu untuk membantu saya mandi juga, Saya tidak mau kamu menodai saya!" Ujarnya.

Fyorin terperangah. Bisa-bisanya Tuan muda Sooya berbicara seperti itu dengan entengnya, memangnya aku ada tampang c4-bvl apa?! Fyorin mengumpat, meskipun ia hanya berani mengumpat di dalam hati.

Ia menghempaskan nafasnya dengan kasar lalu mendorong kursi roda Tuan mudanya itu dan mengantarkannya masuk ke dalam kamar mandi. Lalu meninggalkannya sendirian di sana sesuai dengan permintaannya.

Setelah pintu kamar mandi Fyorin tutup, ia lantas menyandarkan punggungnya di sana. Wajahnya merengut kesal. Ia tidak habis pikir dengan Tuan mudanya itu. Sungguh dia adalah laki-laki yang sulit di tebak. Sikapnya sangat dingin, bahkan sampai saat ini Fyorin belum pernah melihat sedikitpun senyum tergaris di bibirnya. Terkesan berbicara seperlunya. Tapi saat dia membuka mulut, kata-kata yang keluar terdengar sangat menjengkelkan.

Sepertinya Fyorin harus menyetok kesabaran lebih banyak lagi untuk menghadapi Tuan mudanya itu.

---

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 100 Hari Menikah Dengan Si BOS
9.7
Xavi Alonso bukan hanya taipan bisnis yang tak terkalahkan, tapi juga sosok dingin yang menjebak wanita incarannya dalam pernikahan. Saat sang istri merasa tertipu dan menuntut cerai karena perilaku dominannya, Xavi justru memberikan segalanya. Seluruh harta, perusahaan, hingga dirinya sendiri ia serahkan demi memanjakan sang istri. Di balik kemegahan hartanya, sang penguasa angkuh ini ternyata adalah iblis yang tak punya batas dalam mencintai pasangannya.
Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Billionaire
7.9
Demi membiayai pengobatan sang adik, Krystal terpaksa meminta bantuan finansial kepada Kaivan Bastian Mahendra. Namun, dukungan dana dari sang miliarder tidaklah cuma-cuma. Krystal harus membayar mahal dengan kesediaannya menjadi istri kedua pria tersebut. Terjebak dalam pernikahan yang rumit dan penuh tekanan, mampukah Krystal bertahan menjalani kehidupan barunya? Sebuah kisah tentang pengorbanan dan cinta yang terbelenggu oleh sebuah syarat berat.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Sampul Novel KUSEMBUNYIKAN KEKAYAANKU DARI SUAMI DAN MERTUA
9.6
Mia merasa muak karena terus direndahkan oleh ibu mertuanya hanya karena dianggap miskin dibanding menantu lainnya. Meski dihina secara zalim, Mia memilih bungkam dan menyembunyikan rahasia besar. Tanpa ada yang tahu, ia sebenarnya memiliki kekayaan melimpah dan tumpukan logam mulia dari hasil jerih payahnya menulis secara daring. Ia sengaja merahasiakan aset tersebut agar suami dan mertuanya yang rakus tidak bisa menyentuh hartanya sedikit pun.