
Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
Bab 3
Udara sore mulai menggigil ketika langkah kaki Aluna menuruni tangga apartemennya. Ia mengenakan mantel cokelat tua, rambut diikat rendah, dan mata yang tampak lebih hidup dari biasanya. Sudah hampir sebulan sejak pertemuan pertamanya dengan Dion dan Elvano, dan sejak saat itu, hidupnya mulai terasa... berbeda.
Bukan berarti lebih mudah. Tapi lebih bermakna.
Hari ini, Dion mengundangnya makan malam di rumahnya. Bukan di restoran mewah atau kafe miliknya. Tapi rumah tempat Elvano tinggal, tempat kenangan dibentuk dan luka dikenang.
Mobil Dion sudah menunggu di depan apartemen saat Aluna keluar. Seperti biasa, pria itu turun sendiri dan membukakan pintu.
"Senyummu sore ini... beda," ujar Dion pelan, memandangi wajahnya sejenak.
"Mungkin karena aku belum pernah diundang makan malam oleh seorang duda kaya sebelumnya," jawab Aluna setengah bercanda.
Dion tertawa, dan untuk pertama kalinya, tawa itu terdengar hangat. Bukan lagi sekadar basa-basi atau topeng sosial. Tapi tulus. Jujur. Rapuh.
Rumah Dion terletak di kawasan elit dengan pagar besi tinggi dan taman yang luas. Tapi begitu memasuki dalamnya, aura hangat langsung menyambut Aluna. Tidak ada kemewahan berlebihan. Ruang tamunya dihiasi lukisan-lukisan tua dan foto-foto Elvano saat bayi.
"Rumah ini terlalu besar untuk hanya dua orang," gumam Aluna saat duduk di sofa.
Dion mengangguk, menuangkan teh ke dalam dua cangkir. "Tapi jadi terasa lebih kecil... saat kamu di sini."
Kalimat itu membuat dada Aluna hangat sekaligus canggung. Ia menunduk, mencoba menahan senyum.
Namun momen itu tak berlangsung lama. Bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Dion tampak terkejut. "Aku tidak sedang menunggu tamu..."
Ia berjalan ke pintu, dan sesaat kemudian suara perempuan terdengar dari ambang pintu.
"Dion. Kita perlu bicara."
Suara itu dingin, tajam. Seperti peluru yang membelah keheningan.
Aluna menoleh, dan di pintu berdirilah seorang wanita dengan balutan gaun hitam dan parfum mahal yang menusuk hidung. Rambutnya tergerai rapi, riasan wajahnya sempurna. Namun yang paling menonjol... adalah sorot matanya yang penuh klaim.
"Clare," desah Dion nyaris tanpa suara.
Mata Aluna melebar. Clare? Itu... mantan istrinya?
"Aku ingin bertemu dengan Elvano," lanjut Clare tanpa peduli pada kehadiran Aluna.
"Elvano tidak membutuhkanmu lagi," jawab Dion dengan nada datar.
Clare melirik ke arah Aluna. Matanya menelanjangi perempuan itu dari ujung rambut hingga kaki. "Dan kamu pikir dia butuh... wanita kelas dua seperti ini?"
Kalimat itu menyayat.
Aluna bangkit berdiri, tidak ingin menjadi penonton dari drama yang bukan miliknya. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Dion berbicara lebih dulu.
"Jangan pernah bicara seperti itu pada Aluna."
Clare tertawa kecil. "Lucu. Kau dulu bahkan tidak pernah membelaku seperti ini."
"Kau tidak pantas dibela saat meninggalkan anakmu demi pria lain," sahut Dion, kali ini nadanya meninggi.
Aluna menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan guncangan dalam dadanya. Ia tidak ingin jadi penyebab pertengkaran. Tapi kenyataannya, kehadirannya memicu ledakan yang seharusnya sudah lama meletus.
Clare melangkah maju, kini berdiri tepat di depan Aluna. "Dengar, aku tahu wanita sepertimu. Mengincar pria kaya yang lemah karena luka. Kau pikir Dion butuhmu? Tidak. Dia hanya kesepian. Dan saat aku ingin kembali, kamu tak akan jadi apa-apa."
"Cukup, Clare!" Dion menarik wanita itu menjauh. "Aluna berbeda. Dia tidak datang karena uangku. Dia datang karena dia punya hati-hal yang sudah lama tidak kumiliki dalam rumah tangga kita."
Clare mendengus, menampar Dion dengan keras sebelum akhirnya berlari keluar dari rumah itu.
Keheningan menyelimuti ruangan. Aluna berdiri terpaku, jantungnya berdentam.
"Maafkan aku," suara Dion terdengar serak. "Aku tak tahu dia akan muncul malam ini."
Aluna menarik napas dalam, mencoba meredam emosi yang berkecamuk. "Aku... aku seharusnya pergi."
"Tidak, jangan pergi." Dion mendekat, suaranya penuh kerisauan. "Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu seseorang yang mau mendengarkanku tanpa menuntut apa-apa."
"Tapi dia benar," bisik Aluna. "Aku wanita yang rusak, Dion. Dan kamu... kamu terlalu baik untuk seseorang sepertiku."
Dion meraih tangan Aluna, menggenggamnya dengan tegas namun lembut. "Kamu bukan rusak, Aluna. Kamu adalah bukti bahwa seseorang bisa bertahan meski dunia ingin menghancurkannya."
Air mata mengalir di pipi Aluna. Untuk pertama kalinya, ia tidak menahannya.
Di balik jendela, Elvano mengintip diam-diam dari atas tangga. Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggalkannya, bocah itu tersenyum.
Karena malam ini, ia tahu... rumah mereka perlahan mulai terisi kembali.
Dengan harapan.
Dengan seseorang yang mungkin... akan menjadi pelengkap yang selama ini hilang.
Anda Mungkin Juga Suka





