
Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
Bab 3
Suasana malam yang cukup sunyi di luaran sana. Tapi di hati dan pikirannya bergejolak membuat ramai dan berisik sendiri.
Gadis itu masih terdiam. Masih belum ada bayangan untuknya kalau akan diminta menikah lalu ada sebuah perjanjian seperti yang diinginkan pria ini.
Ia belum menandatanganinya, masih ragu dan takut. Menikah .... Belum pernah ada bayangan untuknya jika harus menikah di usianya yang masih terbilang belia.
"Tanda tangani segera, aku tidak ada waktu lagi!" sahutnya.
Gadis itu bergetar tangannya, seharusnya tidak seperti ini. Pria yang memesannya kenapa minta lebih. Tidak sesuai perjanjian. Yang diinginkan hanya melakukan sesuatu yang akan diselesaikan malam ini juga dan dia dibayar sesuai kesepakatan.
Pria itu memicingkan matanya, menyuruhnya melakukan yang menjadi perintahnya.
"Poinnya masih banyak, Tuan, aku perlu membacanya tapi ..."
"Tidak ada yang merugikan mu, kamu justru akan nyaman berada di sisiku jika kita menikah," ucapnya dengan percaya diri.
"Tapi aku ... aku belum ingin menikah, tolong jangan memaksa!"
"Bayaranmu aku naikkan! Jangan terlalu lama berpikir, kita memburu waktu," ujar pria itu.
Pikirannya belum bisa terbayang bagaimana dia akan menjadi seorang istri nantinya. Tidak ada bayangan menjalin kasih dan menikah.
Pria itu menyentuh jemarinya, seperti menuntunnya untuk segera tanda tangan. Tidak ada waktu lagi katanya.
"Ayo, tanda tangani, kita menikah lalu melakukan malam pertama kita dan bayaranmu baru kamu terima," ujarnya.
"Semudah itu, Tuan? Tapi a-aku belum siap,"
"Siap atau tidak siap kamu harus siap, uang yang jadi tujuanmu, aku tahu betapa berat hidupmu membayar hutang. Jangan terlalu lama mengulur waktu, ayo!"
Gadis itu berpikir sejenak, hingga kemudian ia benar-benar menandatanganinya. Meski janji pria itu akan langsung membayarnya, tapi untuk menikah tidak ada dalam tujuannya untuk membayar hutang.
Akhirnya pernikahan tertutup dan rahasia pun dilakukan, pria itu dengan tegas dan tampak gagah mengucapkan ikrar dalam ijab kabul. Gadis yang dinikahinya meneteskan air matanya.
Pernikahan ini, adalah awal kehidupan barunya, seharusnya ia bergembira dan juga berbahagia. Tapi tiba-tiba, rasa sedih menghampiri. Hatinya seolah tersayat sembilu.
Bagaimana tidak? Seharusnya dia bisa hidup tenang tanpa memikirkan ada beban layaknya hutang yang ditinggalkan orang tuanya.
Ibunya pernah bilang padanya, 'Dea, ibu dan Ayah tidak punya apa-apa yang akan kami tinggalkan. Mungkin hanya rumah ini yang bisa kamu jadikan pegangan di kemudian hari. Apalagi banyak tanggungan yang dimiliki, semoga kami bisa menyelesaikan semuanya dan kamu akan tumbuh jadi anak yang paling beruntung,'
Dan kini .... ia tak merasakannya. Ibunya telah pergi bersama Ayahnya dengan membawa sejuta harapan padanya. Sekolahnya untungnya sudah selesai, tinggal menunggu waktu mengambil ijazahnya.
FLASHBACK ON
Waktu itu, ketika sedang duduk sambil beristirahat. Beberapa saat setelah pulang dari sekolah untuk cap tiga jari, tetangganya datang dengan tergopoh-gopoh.
"Dea! Dea! Ayo, Nak. Kamu ikut ibu!"
"Ada apa, Bu?" tanyanya waktu itu dengan hati yang cemas.
"Kita ke rumah sakit, ya? Kamu ikut ke mobil ibu!" ajak tetangganya.
"Memangnya ada apa, Bu?"
Wanita yang baik itu matanya berkaca-kaca, menyuruhnya untuk ikut saja dan akan tahu sendiri saat nanti tiba di rumah sakit.
"Baik, Bu. Aku ganti pakaian dulu. Seragamnya besok mau dipakai lagi," ucapnya.
Tangan tetangganya tampak gemetaran. Sementara dia belum tahu apa yang terjadi.
Setelah berganti pakaian dan mengunci pintu rumah, mereka langsung pergi menuju ke sebuah rumah sakit yang paling besar yang ada di kota ini.
Ternyata mereka tidak hanya berdua saja melainkan ada beberapa tetangganya yang ikut.
"Sebenarnya, di rumah sakit kenapa, Bu? Apa ada musibah?" tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
"Dea ... kita sudah hampir sampai. Ibu akan beritahu kalau ayah sama ibu kamu kecelakaan,"
"A-apa, Bu. Ayah .... Ibu?" tentu saja ia kaget luar biasa.
Jantungnya mulai berdegup kencang, merasa cemas yang cukup besar. Pikirannya bertanya-tanya kenapa kalau kecelakaan, tetangganya ini wajahnya pucat pasi dan cemas berlebihan?
Mereka bilang kalau ayah dan ibunya hanya mengalami kecelakaan saja. Tidak ada yang memberitahu dari rumah kalau kedua orang tuanya telah meninggal dunia di tempat kejadian.
"Bu, sebenarnya ada apa? Kenapa bisa cemas begitu. Ayah dan ibu Dea nggak apa-apa, kan?" tanyanya penasaran.
Ia bertanya tanpa ada jawaban, tetangga yang lain mengusap air mata dan menunduk. Ketika mobil tiba di depan rumah sakit, ia diminta berjalan cepat tapi bukan ke ruangan dimana ayah dan ibunya dirawat karena kecelakaan.
Mereka diarahkan ke sebuah ruangan yang cukup sunyi dan terletak di bagian belakang, bahkan paling ujung. Dea mulai merasa takut, tempatnya begitu gelap.
Tiba-tiba, ia menjerit keras, saat masuk ke sebuah ruangan yang cukup sunyi dan banyak brankar kosong disana. Teriakannya sangat keras sehingga banyak pengunjung yang menutup pintu ruangan rawat inap.
Jeritan nya menyayat hati saat melihat tubuh kedua orang tuanya yang terbujur kaku. Kedua wajah orang tuanya tampak dingin, berada di atas tempat tidur ruangan jenazah.
"Ayah, ibu!"
Sekali lagi ia berteriak keras dan menangis. Keduanya ternyata meninggal dunia di tempat kejadian. Beberapa tetangga menangis mendengar jeritannya. Semua yang ada disana memeluknya.
"Yang sabar, Dea. Kami bersamamu, mereka memang sudah meninggal, maafkan ya kamu harus tahu ketika sampai disini,"
Beberapa tetangganya memeluk dengan rasa iba. Rasanya sangat pilu, melihat dirinya yang merupakan anak satu-satunya harus hidup sendirian ditinggal orang tuanya.
Dia terdiam, tangisnya berhenti namun terisak berubah menjadi sebuah kepiluan yang luar biasa. Pandangannya nanar seolah tak memiliki harapan.
Tak ada lagi harapan untuknya dalam menjalani hidup. Ia kehilangan semuanya. Mereka yang ia tunggu kepulangannya tadi saat pulang dari sekolah.
Tangisnya pecah lagi, teringat Ayahnya yang telah berjanji akan membawanya pergi menemani melamar pekerjaan di sebuah kantor.
Ayahnya memiliki harapan yang cukup tinggi padanya. Karena dia satu-satunya anak yang mereka miliki. Ayahnya menginginkan dia bekerja di kantor dan harus memiliki pendidikan yang cukup tinggi.
"Yah, aku padahal kan cuma lulusan SMK, apa bisa aku kerja di kantor?" tanyanya waktu itu.
Waktu itu ia bertanya tentang pekerjaan kantor, dan Ayahnya dengan sangat percaya diri menjawab kalau dia bisa masuk kantor meski hanya lulusan SMK saja.
Semua harapan telah sirna. Tidak ada lagi semangat menjalani hidup tapi para tetangganya yang baik memberikan support untuknya.
Pengalaman yang pahit itu tiba-tiba terngiang di pelupuk mata.
FLASHBACK OFF
Ia tersadar dari lamunannya. Lalu pandangannya beralih ke seseorang yang saat ini akan membuatnya menjadi seorang wanita yang sesungguhnya.
Pria itu merasa dia seperti sedih katanya.
"Apa kamu keberatan jika kita menikah?"
Gadis itu terdiam. Tangannya berkeringat dan ia merasa takut setelah ini mereka pasti akan melakukannya.
"Kita sudah selesai. Semua sudah pergi. Aku lihat kamu menangis seperti menyesali yang kita lakukan tadi,"
"Ti-tidak!"
Pria itu menelisik wajahnya. "Kamu yakin tidak terjadi sesuatu yang membuatmu melamun seperti tadi?"
Ia menggelengkan kepala, "A-aku ... ehm ... ingat ayah dan ibu," jawabnya lirih.
Pria itu tersenyum. "Aku lupa kalau kamu anak yatim piatu, tenang saja semua hutangmu akan aku bayar. Jangan melamun lagi, kalau kamu begini terus aku bingung harus melakukan apa malam ini," gerutunya.
Gadis itu menunduk lesu. Ia bukan saja bingung tapi takut. Apalagi saat tangan pria itu mulai menyentuhnya.
Panas dingin rasanya seperti tidak karu-karuan. "Kita jadikan malam ini menjadi malam yang penuh kenangan manis, persiapkan dirimu!"
Anda Mungkin Juga Suka





