
Istri Pengganti
Bab 3
Rayhan tidak berhenti memanggil nama calon istrinya, namun seperti yang ia lihat tidak ada siapa pun di dalam kamarnya yang ia tempati saat ini, hingga ia berangjak, lalu berjalan ke arah kamar mandi, Rayhan mengira Lucia berada di dalam kamar mandi untuk membersikan diri.
Rayhan mengetuk pintu kamar mandi lalu membukanya, melihat sekeliling dalam kamar mandi namun ia tidak menemukan keberadaan calon istrinya.
“Kemana Lucia? Apa ia keluar mencari sesuatu untuk ia makan?”
Rayhan mengambil haduk yang tergantung di dalam kamar mandi lalu melilitkan di bagian pinggannya. Kembali berjalan ke arah tempat tidur, lalu meraih hapenya yang ia letakkan di atas nakas, lalu menghubungi nomor calon istrinya.
Rayhan nampak sangat terkejut ketika menghubungi nomor Lucia yang tidak aktip-aktip.
“Apa Lucia keluar membeli keperluannya? Namun kenapa ia tidak mengatakan padaku kalau ia ingin keluar?” ucap Rayhan mulai merasa khawatir.
Rayhan kembali meletakkan hapenya di atas meja, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersikan diri, namun sebelum ia berjalan ke arah kamar mandi, tampa sengaja Rayhan melihat selembar kertas di depan cermin hias yang ada di dalam kamar yang ia tempati saat ini.
Dengan segera Rayhan berjalan ke arah cermin, lalu meraih selembar kertas yang berada di bawah botol parfum milik calon istrinya kemudian membacanya.
‘Ray, maafkan aku ya sayang. Aku tidak bisa menikah denganmu, karna aku tidak ingin terikat dengan siapapun, dan setelah aku berfikir lebih jernih, akan lebih baik jika aku pergi meninggalkanmu, terimakasih atas semua pelayananmu selama ini, aku mencintaimu semua kepuasan yang kamu berikan untukku. Emuaa, Lucia.
Itulah isi surat yang Lucia tulis di dalam kertas putih yang ia tinggalkan untuk calon suaminya, dan itu membuat Rayhan merasa sangat kesal dan marah, karna merasa di permainkan oleh calon istrinya. Untuk seketika wajah Rayhan memerah, giginya menggerutu kesal, bahkan sampai merasa sebuah tanduk tumbuh di kepalanya karna merasa sangat marah setelah membaca surat yang di tinggalkan oleh calon istrinya.
“Dasar wanita murahan! Tidak tau diri! aku sudah berbaik hati ingin mengankat derajatnya, namun ternyata ia lebih memilih pergi meninggalkan aku tepat di hari pernikahan, apa ia ingin membuat aku malu? Dengan meninggalkan aku dengan cara seperti ini?” sumpah serapah mulai Rayhan lontarkan keluar begitu saja dari dalam mulutnya.
Rayhan nampak sangat marah dengan apa yang telah di lakukan Lucia kepadanya, meninggalkan di hari pernikahan sama halnya dengan mempermalukannya di depan semua para tamu dan semua rekan bisnisnya yang akan menghadiri acara pesta pernikahannya.
Rayhan mengusap kasar wajahnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini, empat jam lagi acara pernikahan akan segera di mulai, sementara mempelai wanitanya kabur tidak tau kemana.
Trinzz.
Rayhan beralih melihat ke arah hapenya yang terus berdering di atas meja, samping tempat tidur dimana ia meletakkan, setelah ia menghubungi nomor telpon Lucia yang tidak aktip-aktip.
Rayhan meraih hapenya, lalu melihat nama yang tertera di layar hapenya.
‘Zahra Desainer’
Itulah nama yang tertera di layar hape Rayhan, sehingga membuatnya, dengan segera ia menjawab panggilan telpon tersebut.
“Sekaran bawa semua, pakaianku ke hotel Malioboro, cepat aku menunggumu!" tegas Rayhan kepada sag desainer.
Setelah mengatakan itu Rayhan menutup sambungan telponnya secara sepihak, lalu melempar hapenya ke atas tempat tidur.
Sehingga membuat gadis itu terdiam menatap layar hapenya ketika mendengar perintah orang yang telah bersedia membeli hasil rancangannya dengan harga yang sangat pantastis.
“Hotel Malioboro? Apa aku harus kesana? Oh tentu saja kamu harus kesana, membawa pakaiannya yang tengah kamu bawa ini.” Ucap gadis yang bertubuh mungil yang menggunakan kecamata kecil yang selalu ia gunakan dalam setiap pekerjaannya.
Banyak orang yang mengira gadis kecil ini penglihatannya minus, namun sebenarnya tidak, ia menggunakan kecamata hanya karna ia menyukai bukan karna ada hal yang lain.
Dialah Zahra gadis bertubuh mungil, yang selalu pokus dengan pekerjaannya karna ia memiliki impian yang sangat besar yang ingin menjadi seorang Desainer terkenal di negara yang ia tempati saat ini, Zahra selalu bekerja dengan sangat rajin dan telaten, karna ia memiliki impian, ingin memiliki butiq sendiri dengan cara mendesain gaun-gaun yang indah yang akan membuat para gadis yang ingin menikah akan memilih gaun rancangannya dan menjualnya sesuai dengan harga yang sepantasnya.
Zahra memiliki paras yang sangat cantik, namun semua itu tertutup oleh kecamata yang selalu ia kenakan kemana pun ia pergi, wajah polos tampa riasan itu semua yang membuat kecantikan Zahra tidak pernah terlihat.
Namun satu yang perlu di ketahui Zahra adalah gadis sederhana, ia terlahir dari keluarga yang terbilang miskin, karna ibunya hanyalah seorang perkebung sayur di pinggir negara yang ia tempati saat ini, sementara ayah Zahra elah meninggal beberapa tahun yang lalu sehingga ia hanya tinggal berdua dengan sang ibu.
Wina selaku ibu Zahra bekerja begitu sangat keras, semua untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga biaya untuk pendidikan Zahra agar cita-cita putrinya menjadi kenyataan yaitu dengan menjadi seorang desainer sukses di negara yang ia tempati saat ini, dan memang benar kata orang berusaha keras untuk mencapai sebuah tujuan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karna semua butuh proses.
Hingga akhirnya Zahra bisa menyewa tempat yang terbilang sangat kecil di negara yang di tempatinya saat ini, dan mulai merangcang semua gaun-gaun yang selama ini ia kumpulkan sewaktu masih kuliah.
Zahra pernah membawa hasil gambar rancangannya ke desainer terkenal yang ada di negaranya, namun desainer itu hanya ingin membeli harga yang murah tidak sesuai dengan harga yang sebenarnya, hingga akhirnya ia memilih untuk menyimpan semua hasil rancangannya dengan baik, hingga suatu hari dan suatu saat ia sendiri yang akan menjahit semua hasil rancangannya itu.
Dan memang benar, setelah lulus kuliah di bidang desain Zahra mulai menjahit gaun dari kain biasa, lalu menjualnya dengan harga yang sesuai dengan bahan yang ia gunakan untuk membuat gaun tersebut, dan ia tidak pernah menduga gaun yang ia jahit laku di pasaran karna banyak yang menyukai bentuk gaun yang ia jahit.
Sedikit demi sedikit Zahra mulai mengumpulkan uang dari hasil menjual gaun buatannya, hingga akhirnya ia bisa menyewa tempat yang terbilang sangat kecil di negara tempat tinggalnya.
Tempat kecil yang Zahra sulap menjadi sebuah butiq yang unik dan bisa menarik para pencinta gaun, untuk membeli gaun buatannya, karan memang benar semua hasil rancangan Zahra sangat indah dan menarik.
Anda Mungkin Juga Suka





