
Istri pengganti Tuan Bramasta
Bab 2
Bram tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukan pada istrinya sendiri tapi selalu ia tunjukan pada wanita lain yang notabenenya Kakak iparnya sendiri.
Bram dengan sigap membantu Anggun untuk duduk dan bersandar di dashboard ranjangnya.
“Kenapa gak mau makan hm?” tanya Bram lembut.
“Malas, aku mau makan tapi kamu yang suapin Mas.”Manja Anggun seperti biasa.
“Tapi aku harus ke kantor sebentar lagi, kamu makannya di suap sama Mbok aja ya?” bujuk Bram, memang benar jika sebentar lagi dia harus menghadiri sebuah rapat penting yang tidak bisa ia tinggal atau di wakilkan. Andai saja tidak ada urusan pekerjaan , maka dengan senang hati dia akan melakukannya. Bahkan tanpa Anggun harus meminta sekalipun.
“Jadi kamu gak mau suapin aku Mas?” tanya Anggun dengan wajah merajukanya.
“ Bukan gak mau, tapi aku harus ke kantor.” Jawab Bram selembut mungkin dengan tangan membelai sayang surai hitam Anggun.
“Kamu udah gak sayang sama kau Mas? Kamu udah sayang sama istri kamu itu? Iya?!”
Selalu seperti itu, Bram memutar bola matanya jengah. “Sayang bukan seperti itu, tapi aku harus ke kantor karena ada pertemuan penting yang harus aku temuin.”
Anggun diam dengan tangan berlipat di dada. Sedetik kemudain ia melirik ke arah Bram. “Tapi janji nanti pulang dari kantor harus ke sini, temenin aku, Ayah sama Mama lagi ke Bandung, aku gak mau sendirian. Terus kalau bisa makan siangnya sama aku ya?” Rengeknya manja.
Bram diam, namun setelahnya dia langsung mengangguk megiyakan permintaan dari Anggun. “Yaudah aku pergi dulu,ini bunganya buat kamu, sarapannya jangan lupa.”
Cup!
Bram mengecup sayang kening Anggun, lalu setelahnya pergi.
***
Sementara Pelita saat ini tengah mengigil di atas kasur, badannya benar-benar panas bak bara api. Setelah beberes rumah, tubuhnya tiba-tiba saja lesu tak bertenaga. Gigi atas dan bawahnya saat ini sampai bergemerutuk akibat getaran mulutnya.
‘Bunda Pelita dingin.’ Racaunya dalam hati.
Andai saja Bundanya masih ada, sudah pasti saat ini dia di perhatikan, saat dia sakit seperti ini pasti Bundanya yang paling khawatir dan berusaha melakukan apapun untuk mengobatinya.Namun sekarang apa? Tidak ada yang peduli akan dirinya sakit atau tidak.
Air bening mulai menetes menuruni pipinya yang mulus, jika sedang sakit seperti ini Pelita memang akan lebih sensitive, dia akan menjadi wanita lemah yang selalu berteman denga air mata.
“Pelita kangen sama Bunda, Bunda kenapa perginya cepat sekali, padahal Pelita masih ingin sama Bunda. Bunda tau tidak, sekarang Pelita sakit dan tidak ada yang peduli sama Pelita, suami Pelita pergi menemui Kak Anggun, Pelita cape Bunda.Bunda bisa tidak jemput saja Pelita di sini, rasaya Pelita sudah tidak kuat.” Lirihnya dengan mata yang sayu yang perlahan mulai menutup.
***
Drrrt! Drrrt!
Tepat jam dua belas siang, Pelita terbangun lantaran suara getaran ponselnya yang berada di meja nakas. Dengan sedikit susah payah ia mebangunkan dirinya, berusaha untuk duduk meski di rasa kepalanya seakan ingin pecah saat itu juga.
Di raihnya benda pipih yang masih setia bergetar.
“Halo,” sahut Pelita dengan suara lemah.
“Sedang apa kamu! Antarkan berkas saya yang tertnggal di kamar saya.” Ucap seseorang di seberang sana, yang sudah pasti adalah suamianya sendiri.
Pelita memijat keningnya yang terasa pusing. “Bang maaf, tapi Pelita lagi sakit sekarang, bergerak saja rasanya Pelita ga-“
“Alasan! Bilang saja kamu memng tidak mau!” potong Bram dengan nada tinggi di seberang telpon sana.
“Bukan gitu Bang, tapi Pelita benaran lagi sakit, ini aja Pelita pusing banget.”
“Jangan banyak alasan Pelita! Cepat antarkan sekarang juga!”
Tut!
Pelita menghela nafas pasarah. Dengan menarik nafas dalam Pelita bangkit perlahan untuk bersiap, ia harus menuruti semua perkataan suaminya itu jika iangin permasalahan tidak panjang.
Pelita memoles ajahnya dengan make-up agar wajahnya tidak terlihat pucat, beruntung rasa peningnya sedikit menghilang meski tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya berkurang.
Setelah selesai bersiap, Pelita keluar dari kamarnya beralih menuju kamar sang suami yang berada tepat di samping kamarnya. Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamar Bram, saat masuk ke dalam kamar lelaki itu bau wangi maskulin menyeruak masuk ke indra penciuman Pelita. Meski sudah sering masuk ke dalam kamar itu tetap saja rasanya sangat asing bagi Pelita, dia memang sering masuk ke dalam kamar itu, namun hanya sekedar untuk membersihkan saja.
Lagi-lagi pandangan Pelita tertuju pada seuah figura foto yang tertempel di dinding, foto itu adalah foto Anggun. Foto yang tidak pernah di lepas oleh Bram dari dinding kamarnya. Setiap kali Pelita masuk ke dalam kamar sang suami, pandangannya pasti langsung tertuju pada figura foto tersebut, pasalnya figura foto tersebut berukuran besar.
‘Bunda, emangnya boleh seperti ini? Bunda coba tanyain samaTuhan, emangnya boleh ya, seperti ini, nikahnya sama siapa tapi foto siapa yang di pajang.’ Lirih Pelita di dalam hati.
Jujur saja, hatimya selalu perih jika mengingat dirinya hanya lah istri pengganti saja. Ingin berontak, tapi rasanya sudah sangat telat sekali, toh semuanya sudah berjalan selama setahun.
Pelita selalu berandai. Andai saja dulu dia mempunyai keberanian untuk membantah semua perkataan sang Ayah dan Mama tirinya. Andai saja dulu dia punya keberanian untuk berkata tidak, andai saja dulu dia tidak penah merasa kasihan pada sang Ayah yang terdesak, harus memilih antara dirinya atau perusahaan akan bangkkrut yang artinya kehidupan mereka semua akan hancur. Andai saja dulu dia memiliki keberanian untuk kabur dari pernikahn konyol yang menjadikan hidupnya seperti sekarag ini. Tapi lagi-lagi semuanya hanya lah perandaian yang tidak pernah akan terjadi. Nyatanya sudah satu tahun lamanya dia menjadi seorang istri dari lelaki tampan bernama Bramasta Prayoga. Padahal umurnya masih sangat belia, bahkan dia sendiri masih duduk di bangku universitas. Pelita merasa kehidupannya di renggut paksa, tapi dia bisa apa? Dia tidak bisa apa-apa selain menerima. Entah sampai kapan ia bisa bertahan seperti itu.
Setelah mengambil sebuah berkas dari meja kerja Bram, dengan cepat Pelita melangkahkan kakinya keluar, rasanya sangat tidak nyaman sekali berada di dalam kamar tersebut.
Baru Pelita hendak mengambil ponsel dari dalam tas untuk memesan taxi online, sebuah mobil tiba-tiba masuk ke halaman rumah.
Tin! Tin!
Mobil itu membunyikan klaksonnya. Lalu stop tepat di hadapan teras rumah di mana Pelita tengah berdiri.
“Bang Rafli,” sapa Pelita tersnyum melihat Rafli keluar dari mobilnya. Rafli adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Bram.
“Kamu mau kemana Ta?” tanya Rafli melihat Pelita dengan penampilan rapinya.
Kening Pelita berkerut, tadinya dia berfikir jika Rafli datang karena di suruh Bram untuk mengambil berkas, ternyata dugaannya salah. “Pelita di suruh anterin berkas ini ke Bang Bram. “Sahut Pelita apa adaya.
“Oh gitu yaudah ayo bareng aja kita kantor. “
“Bang gak bisa Pelita titip ke Bang Rafli saja ini berkasanya?” tanya Pelita.
“Aku sih gak masalah Ta, tapi yang jadi masalah itu suami kamu, kamu mau di terkam harimau gila itu?”
Pelita berfikir sejenak, benar juga apa kata Rafli barusan. “Ya udah Pelita bareng Bang Rafli saja ya ke kantornya Bang Bram.”
“Iya Ayo!” Rafli membukakan pintu mobil untuk Pelita. Sesautu yang tidak perah di lakukan suaminya sendiri, tapi malah di lakukan oleh lelaki lain.
**
“Giaman dengan hbungan kamu sama Bram Ta?” tanya Rafli tiba-tiba.
Pelita tersnyum kecil. “Tidak gimana-gimana Bang, masih sama. Jalan di tempat.” Jawabnya.
Rafli menengok sekilas kearah Plita yang duduk di sampingnya. Ada rasa iba pada wanita muda dan cantik itu. Rafli tahu benar bagaimana kehidupan rumah tangga Pelita dan Bram.
‘Kasihan sekali kamu Ta.’ Batinnya mengiba.
“Bang Rafli tadi mau kemana dan dari mana?” tanya Pelita mengalihkan pembicaraan.
“Aku tadi dari nemui client di luar, niatnya mau singgah numpang makan siang dulu rumah kalian ehehe.” Jawab Rafli dengan cengiran manisnya.
Pelita ikut tertawa. “Tapi maaf banget loh Bang hari ini sebenarnya Pelita gak masak.”
Kening Rafli berkerut, pasalnya tumben sekali Pelita tidak masak. Setahu dia, Pelita tidak perah absen memasak. “Kok tumben Ta?”
Pelita tersnyum malu. “Soalnya Pelita lagi gak enak badan Bang.”
Sontak leher Rafli menoleh ke arah Pelita. “Kamu sakit?!” tanyanya dengan wajah panik.
Anda Mungkin Juga Suka





