Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri pengganti Tuan Bramasta

Istri pengganti Tuan Bramasta

Pelita Abadisyara terjebak dalam situasi pelik saat dirinya dipaksa menikahi Bramasta Prayoga, pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya. Tragedi kecelakaan yang menimpa Anggun, sang kakak tiri, mengubah segalanya dalam sekejap. Tanpa pilihan lain, Pelita harus menggantikan posisi Anggun di pelaminan demi memenuhi tuntutan keluarga. Kehidupan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kini dimulai bersama sosok pria yang asing baginya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Di perusahaan, Bram berkali-kali menengok jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam dari ia menelpon Pelita, seharusnya Pelita sudah sampai di perusahaan saat ini, namun sampai detik ini ia tak juga melihat batang hidung sang istri.

“Cih! Kemana dia!” Dengan perasaan dongkol, Bram merih jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya lalu memakainya dengan sedikit kasar, tak lupa meraih kunci mobilnya dan kaluar dari ruangan. Wajahnya terlihat begitu datar, lelaki itu berjalan melewati banyak karyawan yang bersiap untuk makan siang, karena saat ini sudah waktunya istirahat makan siang.

Langkahnya yang lebar terlihat begitu tegap di mata setiap yang melihat.Bahkan tak sedikit para karyawan ketakutan saat melihat sang majikan berjalan di hadapan mereka.

Nmaun langkah Bram seketika terhenti tepat di loby saat matanya menangkap  sosok yang di tunggu-tunggu tengah keluar dari mbbil Rafli.

Semakin memerah saja wajah Bram saat melihat keduanya, dengan langkah lebar ia berjalan mendekat.

“Dari mana saja?!” tanyanya sarkas pada Pelita.

Pelita terlonjak kaget mendapati Bram tepat di hadapannya saat ini. “Ini Bang berkasnya.” Alih-alih menjawab Pelita memilih untuk menyerahkan berkas yang di minta oleh Bram.

“Saya tanya! Kamu dari mana?! Kenapa lama sekali.” Tanya Bram pelan namun dengan penuh penekanan tanpa menyambut uluran berkas yang di berikan oleh Pelita.

“Dari rumah Bang, jalan sedikit macet soalnya bertepatan jam makan siang.” Sahut Pelita.

“Iya Bram, jalan macet.” Sahut Rafli menimpali.

Pandangan Bram beralih kearah asisten sekaligus sahabtanya itu. “Dani kau dari mana? Kenapa bisa sama dia?”

“Aku tadinya mau singgah numpag makan gratis, eh taunya dia ,mau pergi ke perusahaan, yaudah sekalian aja bareng.” Sahut Rafli santai.

“Bang ini berkasnya.” Pelita lagi-lagi menyodorkan berkas yang di bawa.

Bram meraih sedikit kasar berkas tersebut. “Ikut saya!” ajaknya datar.

Kening Pelita mengkerut. “Kemana Bang, Pelita mau langsung pulang saja.” Tolak Pelita lemah.

Mata Bram memicing tajam.  “Saya bilang ikut saya Pelita!”

Pelita akhirnya hanya bisa mengangguk sembari menghembsukan nafas pasrah. Sedangkan Rafli diam-diam memperhatikan sepasang suami istri itu. Terbesit rasa kasihan melihat Pelita yang di perlakukan seperti itu oleh sang sahabat, Rafli jadi teringat mendiang adiknya yang telah meninggal karena penyakit kanker.

“Bang Rafli, terimakasih ya.” Ucap Pelita sebelum melangkah  mengiringi sang suami yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam gedung besar.

“Oke Ta, santai aja.”

Pelita mengiringi Bram yang berjalan di hadapannya, seisi kantor memang sudah tau jika Pelita adalah istri dari Bram, karena dulu waktu pernikahan di adakan sangat meriah dan besar-besaran.

Hingga tiba di ruangan Bram, kepala Pelita kembali terasa pening. Namun masih ia coba untuk bertahan meski rasanya sangat berat sekali.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ?!” Suara tegas Bram mengalihkan perhatian Pelita.

Dengan ribuan bintang di kepalanya Pelita mengangkat pelan hingga matanya bersitubruk degan mata Bram yang mentapnya dengan tatapan tajam. Pelita dengan cepat berjalan masuk ke dalam ruangan Bram, tak lupa menutup rapat kembali pintu. Pelita dengan cepat duduk di sofa, lalu memijat keningnya sendiri, persetan dia di anggap tidak sopan, saat ini kepalanya benar-benar berat, jika lama-lama berdiri khawatir dia akan pingsan.

Melihat Pelita yang seperti itu kening Bram berkerut heran. ‘Ada apa dengannya?’ tanyanya membatin.

Bram terus menatap Pelita yang sibuk memijat keningnya sendiri. “Ada apa?” akhirnya dua kata itu keluar dar mulut lelaki itu.

Pelita menoleh sebentar. “Kepala Pelita pusing sekali Bang.” Sahut Pelita apa adanya.

Bram menelisik keadaan Pelita. ‘Sepertinya dia sungguh sakit, tidak mungkin dia berbohong, wajahnya saja pucat sekali.’ Lagi-lagi Bram membatin, tadinya dia berfikir jika Pelita haya bersandiwara, namun setelah melihat wajah pucat pasi Pelita, pikirannya itu menghilang, dia percaya jika Pelita memang benar-benar sakit.

Bram keluar dari ruangannya tanpa berpamitan pada Pelita.

Tak lama ia kembali lagi dengan segelas air hangat di tangannya.

“Minumlah, saya tidak ingin karyawan saya tau punya istri lemah dan penyakitan.” Perkataan menusuk itu menjatuhkan segala ekspetasi Pelita, tadinya dia berfikir jika sang suami sudah mulai membaik dengan membawakannya air Minum sendiri, padahal dia bisa saja menyuruh office Boy/girl mengambilkan air minum. Namun, semua pikiran Pelita seketika terjun bebas setelah mendengar ucapan Bram barusan. Dia sadar jika semua yang di lakukan Bram pasti untuk nama baiknya, lelaki itu tidak mau di cap sebagai suami buruk oleh karyawannya.

Sakit? Tantu saja, hati wanita mana yang tidak sakit? Tapi sepertinya hati Pelita sudah mulai kebal akan semua perkataan tajam dan manyakitkan dari sosok suaminya itu.

Setelah meletakan segelas air hangat itu, Bram berajak menuju kursi kebesarannya.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu diketuk.

“Masuk!” suruh Bram  yang telah duduk nyaman di kursinya. Dan masuklah Rafli dengan senyuman manis di wajahnya.

“Sudah makan siang?” tanya Rafli  yang masuk.

“Belum.” Sahut Bram.

Rafli menatap Pelita yang duduk di sofa. “Ada apa Ta? Kamu baik-baik saja?” tanya Rafli mendekat, dan langsung meletakan punggung tanganya di kening Pelita.  “Astaga badan kamu panas Ta.” Panik Rafli saat merasa panas di punggung tangannya.

Pelita tersnyum kecil, sembari menjauhkan tangan Rafli dari keningnya.“Nanti juga bakal hilang kok Bang.”

“Enggak, kamu harus ke rumah sakit, ayo Abang anterin.” Ajak Rafli menarik tangan Pelita untuk berdiri.

“Gak usah Bang Rafli, Pelita gak papa, ini nanti dia bakal reda sendiri kok.”

“Ta tap-“

“Kau tidak dengar? Dia bilang tidak apa-apa, tidak usah terlalu berlebihan, lebih baik kau keluar.” Sergah Bram dari kursinya, sedari tadi dia memperhatikan keduanya.

“Bro, istrimu lagi sakit ini, seharusnya kamu bawa dia ke rumah sakit, bagaimana kalau dia  kenapa-napa.” Ucap Rafli pada Bram.

Bram memutar kedua bola matanya mlaas, sembari bersandar di kursinya. “Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan? Dia tidak apa-apa.”

“Tapi ini badannya panas Bram.”

“Dia tidak akan mati hanya karena demam biasa.”

“Bram –“

“Udah Bang Rafli , Pelita gak apa-apa, tidak usah di perpanjang, nanti Pelita beli obat di apotek, jadi tidak perlu ke rumah sakit.” Potong Pelita, ia merasa semakin pusing mendengar perdebatan antara dua lelaki itu.

“Apa kau sudah makan siang?” tanya Rafli dengan suara lemah. Pelita menggelengkan kealanya pelan.

“Tunggu sebentar, aku pesan ‘kan makanan, kamu mau apa Ta?” tanya Rafli sembari mengeluarkan gawainya dari saku jas.

“Emm terserah saja Bang.”

“Mana ada makanan terserah Ta.”

Pelita terkekeh pelan, “Samain aja sama Bang Rafli.” Rafli menganggukkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Bram. “Kamu mau sekalian?” tanya Rafli.

“Hm, samakan saja.”

Rafli mengangguk lalu memesan dari gawainya.

“Tunggu sebentar.” Ujar Rafli pada Pelita lalu setelahnya lelaki itu beranjak pergi dari ruangan Bram. Hingga kini hanya tersisa Pelita  dan Bram saja di ruangan tersebut. Dan suasana pun menjadi canggung, Pelita sampai heran sendiri. Sebenarnya suamianya itu Rafli apa Bram? Mengapa rasanya lebih canggung saat bersama dengan Bram, berbeda halnya bila bersama Rafli, Pelita akan merasa lebih santai jika bersama Rafli, mugkin karena Rafli yanh selalu baik padanya.

Pelita diam sembari memijat kembali pelipisnya yang sudah jauh lebih baik rasanya dari seblumnya.

“Jangan terlalu dekat dengan Rafli!!!”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NBD" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NBD
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Waris yang Terlupakan
9.6
Dikhianati oleh keluarga dan tunangannya sendiri, sang protagonis dipaksa menjadi sandera kelompok mafia saingan demi menebus kesalahan fatal adik tirinya, Emily. Sadar akan kelicikan mereka, ia memutuskan memutuskan hubungan selamanya. Sebelum diserahkan dalam lima hari, ia membagikan seluruh asetnya—kasino, uang, hingga cincin pertunangan—kepada mereka yang serakah. Saat keluarganya tersenyum puas menerima hadiah tersebut, mereka tidak menyadari bahwa kepergian sang ahli waris adalah awal kehancuran total mereka.
Sampul Novel Bukan Istri Idaman
9.3
Terus-menerus direndahkan oleh keluarga mertua membuat Karmila bertransformasi. Ia tak lagi pasrah menanti belas kasihan sang suami, melainkan bangkit demi masa depan anak-anaknya. Bertekad membuktikan kekuatannya, ia menyulap barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Di tengah tekanan batin, Karmila memilih jalannya sendiri untuk meraih sukses dan kemandirian. Akankah kreativitas dan kerja kerasnya mampu membungkam semua hinaan yang selama ini ia terima?
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel Kalau Jodoh Takkan Kemana
8.1
Dunia Asmitha Nindiva runtuh saat tunangannya, Saga Anggara, berpaling demi Marcella Anggita. Di tengah kehancuran hati itu, Fahri Mahendra hadir sebagai pelipur lara yang membantu Asmitha bangkit. Namun, saat Asmitha mulai menata hidup, hubungan Saga dan Cella justru kandas. Saga pun kembali untuk mengejar cinta Asmitha. Kini Asmitha terjebak dilema besar: memaafkan masa lalu bersama Saga atau menerima ketulusan Fahri yang selalu ada untuknya. Siapa pilihannya?
Sampul Novel Kau Sakiti Orang Yang Salah
9.0
Dendam atas kematian kakek dan neneknya membuat Reza Adyatama nekat menghancurkan hidup Luna Daniel. Luna yang tak bersalah menjadi sasaran kemarahan Reza hingga mereka berpisah. Empat tahun kemudian, Reza terkejut menemukan bocah tiga tahun yang sangat mirip dengannya. Menyadari itu anak kandungnya, penyesalan mendalam menghantui Reza. Kini ia bertekad mengejar Luna kembali. Akankah Luna memaafkan masa lalu kelam demi masa depan sang buah hati?
Sampul Novel Kembar Tiga: Ayah Presdir untuk Ibu
9.2
Akibat jebakan jahat yang merusak kehormatannya, Claire Adhitama terpaksa mengasingkan diri. Enam tahun kemudian, ia kembali bersama tiga anak kembarnya untuk membalas dendam. Namun, anak-anaknya yang sangat cerdas justru bergerak sendiri menemukan sang ayah presdir dan menculiknya pulang demi sang ibu. Menghadapi tiga replika dirinya, sang presdir menyudutkan Claire dan menggodanya untuk menambah anak lagi, membuat Claire mengusirnya dengan kesal.