
Istri Mudaku Meresahkan!
Bab 2
Dengan sangat terpaksa Yasmin mengejar duda yang sudah menolaknya itu, untung saja ia menggunakan sandal rumah hingga dapat mengejar langkah pria itu dengan cepat tanpa harus ada drama kesandung ataupun keseleo.
Yasmim merentangkan tangannya di depan Galih sebelum berhasil masuk kedalam mobil, nafasnya masih terengah-engah berlari dari dalam rumah, ia mengabaikan tatapan tajam dari Galih yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Bagaimana kalau kita berbicara dulu, setelah itu baru boleh pulang." Pinta Yasmin memberanikan diri.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, jadi menyingkirlah sebelum saya berbuat kasar." Balas Galih.
Gadis itu membuang nafas pelan, ia menyingkir dari hadapan Galih memberikannya jalan, membuka pintu mobil dan masuk. Sekilat itu juga gadis itu beraksi ikut masuk kedalam mobil dari pintu sebelumnya, ia tidak akan membiarkan targetnya lolos begitu saja.
Ternyata Galih tetap tidak memperdulikannya dan meminta supir menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah gadis itu, pria itu tidak meliriknya sama sekali mengabaikan keberadaannya.
"Jika bukan karena keluarga, tidak akan aku menyerahkan diri dan mempermalukan diri sendiri. Masa menaklukan duda saja tidak bisa...Sabar Yasmin, orang sabar pantatnya lebar." Gumamnya dalam hati berusaha menenangkan dirinya.
Yasmin membuka mulutnya ingin menyampaikan sesuatu, tetapi pria itu sudah memotongnya dan membuat mulut gadis itu tertutup rapat dengan perkataan yang cukup membuatnya bungkam.
"Diamlah jangan membuat kepala saya tambah sakit, kalau tidak saya tidak akan segan-segan membuangmu di pinggir jalan." Ancam Galih.
Pria itu menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata, jangan lupakan putrinya yang berada di pangkuan pria itu sedang menatap Yasmin dengan wajah ceria dan menggemaskan.
Yasmin tersenyum tipis membalas tatapan balita itu, ia melipat kedua tangannya di dada memperhatikan pria duda yang tampak lelah dengan mata yang terpejam membiarkan bayinya main sendiri.
Mobil terus melaju entah akan kemana membawa Yasmin pergi, jarak dari rumahnya semakin jauh dengan jalanan gelap di malam hari sudah melewati kota dan memasuki daerah sepi yang terlihat seperti hutan sepanjang jalan.
Bulu kuduknya merinding memperhatikan jalanan yang begitu sepi, tidak ada satupun rumah atau bangunan yang saat ini sedang mereka lewati. Begitu gelap dan menyeramkan jika ia benar-benar dibuang dipinggir jalan, tidak akan ada orang yang menolongnya kecuali kematian yang mengenaskan.
Sungguh bergidik membayangkan itu semua, jika tahu akan begini Yasmin tidak akan berani melakukannya. Namun kembali lagi pada nasib keluarganya, jika pulang pulang tidak membawa kabar itu tidak akan mengubah nasib keluarganya.
Yasmin harus berjuang mempertaruhkan nasib keluarganya, ia harus bisa membujuk duda itu agar mau menerimanya dengan cara apapun. Ia sudah tidak memperdulikan apapun, selain keluarganya.
Tangisan balita menyadarkan lamunannya, mata sayu Galih terbuka menengakan dan menimang putrinya, tetapi tangisan balita itu tidak kunjung reda dan semakin keras tangisannya. Susu botol yang diberikan suster tak mau diminum, bahkan suster yang setiap hari menangani balita itu tetap tiba bisa menghentikan tangisannya.0
Suana hening tadi dibuat ramai karena tangisan seorang balita di dalam mobil, Yasmin melirik Galih yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja memejamkan mata tidak bisa menangani putrinya yang entah kenapa.
Yasmin membuka suaranya meminta suster untuk memberikan balita itu padanya, suster yang duduk di depan berbalik dan menyerahkan balita itu padanya. Meskipun ragu dan tidak punya keahlian dalam menjaga anak kecil, tetapi ia berusaha untuk mencobanya.
Yasmin memangkunya, kepala balita itu berada di dadanya dan penyangganya dengan satu lengannya. Sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk menepuk pahanya dengan bayi itu dengan lembut, tatapan balita itu bertemu dengan mata coklat milik Yasmin.
Yasmin tersenyum dan berkata. "Cup cup sayang, sudah ya nangisnya jangan lama-lama nanti tenggorokannya sakit. Sekarang waktunya minum susu dan bobo ya," ucapnya mengajak balita itu berbicara.
Yasmin seperti menghipnotis balita itu, kini tangisannya sudah mereda dan mau minum susunya dengan wajah sembab memegang botol susu. Ia begitu gemas mengusap jejak air mata balita itu dan mengusap ingusnya dengan tisu yang diberikan suster, Yasmin menimangnya tidak berhenti mengajak balita itu berbicara.
Galih kembali membuka matanya melirik gadis di sampingnya yang sedang menimang putrinya, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman tipis. Putrinya terlihat mulai mengantuk dan tenang membuatnya lega, tidak disangka gadis itu ternyata pandai menenangkan seorang anak.
"Haruskah aku menerimanya? Setidaknya aku bisa memanfaatkan gadis itu untuk menjaga Vira selama aku tidak dirumah, lagipula penampilan dan wajahnya cukup cantik dan ideal." ucapnya dalam hati memberikan penilaian gadis disampingnya.
Mobil sudah memasuki halaman mansion, kemudian mobil berhenti tepat di pangga. Para bodyguard dan maid menyambut mereka dengan hormat setelah mereka turun dari mobil, Yasmin mengikuti langkah Galih yang berjalan lebih dulu diikuti maid dan bodyguard menaiki tangga.
Pintu besar mansion sudah terbuka lebar menunggu tuannya masuk, mereka menutup kembali pintu besar itu setelah mereka masuk.
"Gila, baru tau ada istana segede ini. Wah ternyata dia benar-benar duda kaya raya, bisa sejahtera aku tinggal disini."Gumam Yasmin dalam hati kagum dengan semua interior dan kemewahan istana pria itu.
Yasmin tidak memperhatikan langkahnya yang terus mengikuti Galih karena kekagumannya dengan seisi ruangan, kakinya sudah melangkah jauh hingga langkah mereka terhenti di sebuah kamar.
"Baringkan Vira di sana," ucap pria itu membuka suara.
Yasmin hanya menurut melangkah maju menuju ranjang king size, dengan perlahan naik ke atas ranjang meletakan balita bernama Vira itu dengan hati-hati.
Sayangnya pergerakan Yasmin membuat balita itu kembali menangis, lengannya tidak bisa bergerak dan memaksanya untuk berbaring menyamping menepuk paha balita itu lembut sampai terpejam kembali.
"Ekhem," dehem Galih.
Yasmin terperanjat dari rasa kantuknya yang menyerang, ia berbalik menatap Galih yang hanya mengenakan handuk sebatas dada. Abs pria itu tercetak begitu sempurna dan bulu halus di sekitar dada membuatnya menelan ludah, matanya yang kantuk kini kembali segar melihat tubuh sexy seorang duda.
"Kenapa gue baru nyadar kalau sudah ada di kandang harimau, jangan takut Yasmin. Inget ini demi keluarga," gumamnya dalam hati untuk menyadarkan dirinya. "Emhh kenapa?" Katanya sedikit gugup.
"Baca ini dan tandatangani jika mau jadi istri saya," kata Galih menyerahkan sebuah kertas dan pena pada Yasmin yang masih duduk di pinggir ranjang.
Yasmin menunduk membacanya dengan kesadaran yang masih ada, sedikit demi sedikit matanya melebar membaca tulisan itu lalu menatap Galih tak percaya.
Pria itu tersenyum smirk melihat ekspresi wajah Yasmin, kemudian ia mendekatkan wajahnya membisikan sesuatu tepat di samping telinganya membuat tubuh Yasmin menegang seketika merasakan hembusan pria itu di lehernya.
Aliran darah Yasmin bergejolak saat pria itu membawa telapak tangannya menyentuh abs yang membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi aneh, matanya terpejam merasakan sesuatu yang menyentuh lehernya dengan hisapan yang secara perlahan merambat ke area lain.
"Ya tuhan kenapa engkau memberikan duda kejam sepertinya."Teriak gadis itu dalam hati.
Anda Mungkin Juga Suka





