
Istri Mudaku Meresahkan!
Bab 3
Seorang gadis cantik masih memejamkan matanya dengan nyaman meringkuk dibawah selimut, padahal waktu sudah menunjukan jam 6 pagi tetapi tidak ada yang membangunkannya dan membuat gadis itu terlena dengan kenyamanan itu.
Ranjang yang begitu besar, membebaskan tubuh Yasmin yang bergerak seperti kincir angin dengan mata terpejam di alam mimpi. Ranjangnya jauh dari elegan jika gadis itu sudah nyaman tidur, wajahnya yang cantik belum tentu tidurnya cantik.
Ceklek.
Seorang pria masuk kedalam kamar membawa balita perempuan dalam gendongannya, pri itu menggelengkan kepala melihat gadis di hadapannya masih masih memejamkan mata dengan kondisi ranjang yang berantakan.
Bahkan posisi kepala gadis itu berada dibawah kaki ranjang dengan selimut yang membelitnya tubuhnya namun masih memperlihatkan keindahan tubuh gadis itu, gadis itu hanya menggunakan tanktop dan celana sepaha membuat pria itu menelan ludah.
Galih adalah pria normal, mana mungkin ia tidak tergoda saat melihat ikan asin tergeletak pasrah di depannya. Namun ia masih bisa menahan dan menyadarkan pikirannya yang liar, ia membuang nafas pelan beralih ke jendela untuk membukanya agara sinar matahari masuk.
Sreek
Sinar matahari pun mengganggu kenyamanan si pemilik kamar, matanya yang tertutup mulai berkedut merasakan cahaya menembus retinanya dan memaksanya untuk membuka mata.
"Mam mamma mama," panggil balita satu tahun itu belajar berbicara.
Mata Galih membulat sempurna mendengar panggilan putrinya barusan, ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan berkata. "Vira panggil dia mama? Gak salah dengar kan gue?" Gumamnya dalam hati memperhatikan putrinya menatap Yasmin.
Yasmin mengerjapkan matanya mendengar suara balita, ia duduk di pinggir ranjang menatap pria tinggi sedang menggendong anak. Kesadarannya masih belum terkumpul semua, ia menggelengkan kepalanya merasa jika itu mimpi. Rambut gadis itu berantakan seperti singa, dengan wajah bantal ia menuruni ranjang.
Galih membuang nafas pelan, ia meraih pergelangan tangan gadis itu lalu menuntunnya ke kamar mandi dan menutup pintunya.
"AKHH, DUDA SIALAN KENAPA MELAKAKUKANNYA DISINI." teriak Yasmin dalam kamar mandi.
Teriakan gadis itu membuat Galih segera menutup telinga putrinya, dengan santai ia berjalan ke luar kamar meninggalkan gadis yang sedang syok di dalam kamar mandi.
Sebuah perjanjian yang sudah disepakati dan ditandatangani oleh Yasmin tadi malam membuat mereka menikah dengan cepat, dan hari ini adalah hari pertama mereka menjalani rumah tangga setelah pernikahannya kemarin.
Tidak ada acara yang begitu spesial di hari pernikahan mereka, hanya ijab qobul dengan penghulu yang didampingi beberapa orang dari dari pihak keluarga, Rt dan Rw.
Itu adalah sebagian dari kecepatan dalam pernikahan mereka yang tidak ingin di mempublikasikan sebelum mereka siap, yang terpenting hubungan mereka sudah terjalin dan tentunya sah menjadi suami istri.
Sepertinya gadis itu belum sadar jika statusnya sudah berubah menjadi nonya Galih Pramono, itulah yang membuat Galih bebas melakukan apapun terhadap istri barunya, termasuk membuat gadis itu menjerit dalam kamar mandi karena ia sudah memberikan sebuah tanda merah di area leher dan dada hingga gadis itu menjerit dalam kamar mandi.
Yasmin yang sudah rapi menuruni tangga memperhatikan Galih yang tengah menyuapi putrinya ditemani perempuan lain yang duduk di sampingnya, tentu saja Yasmin tahu siapa perempuan cantik dan seksi itu adalah kekasih suaminya.
"Baru saja semalam habis grepedrepe gue, sekarang dia sudah berani bawa selingkuhannya kerumah ini. Dasar duda serakah," maki Yasmin dalam hati.
Jangan berharap jika sudah menikah dan melakukan malam pertama akan membuat pria itu puas dengan satu wanita, karena bagi pria itu Yasmin hanya sebagai alat yang membuat mereka saling menguntungkan.
"Kenalin gue Gina, kekasih juga sekertaris suami kamu." Ujar perempuan itu mengulurkan tangannya ke hadapan Yasmin.
Yasmin mengabaikan sapaan perempuan itu dengan jutek langsung duduk di seberang Galih dan perempuan bernama Gina, ia melirik suaminya yang seperti biasa cuek dan tidak peduli dengan kehadirannya saat ini.
Jadi untuk apa dia harus merespon perempuan itu, toh tidak ada yang peduli kepada dirinya.
Perempuan itu menarik telapak tangannya berkata. "Wah... ternyata istri kamu kecil-kecil cabe rawit," ujarnya menatap gadis itu sinis.
Seketika Galih melirik ke arah istrinya memakan roti menatap Gina datar, Galih mengangkat tangannya keatas puncak kepala kekasihnya dan berkata. "Tidak usah pedulikan, sekarang kamu habiskan sarapannya 5 menit lagi kita berangkat." Katanya mengecup dan mengusap rambut kekasihnya dengan lembut.
Perlakukan manis Galih membuat Yasmin kesal dan menjejalkan semua rotinya kedalam mulut, kedua pipinya sampai memgembang seperti bakapau yang baru dikukus.
Meskipun belum ada cinta di antara mereka, tetapi setidaknya pria itu harus menghargai gadis muda yang sudah menjadi istri sahnya.
"Iya sayang," jawab Gina dengan sengaja memeluk dan mencium pipi Galih.
Kunyahan mulut Yasmin semakin cepat karena kesal dengan perlakuan mereka yang tidak menghargainya, ia segera minum coklatnya sampai tidak ada setetes pun yang tersisa.
Brak.
Yasmin menaruh gelas di atas meja dengan kasar, Galih dan kekasihnya sampai beralih menatapnya. Ia membalas tatapan kedua orang itu dengan kedua tangannya yang dilipat di dada.
Drrt drrt drrt.
Ponsel Yasmin di atas meja bergetar memiliki satu panggilan, raut wajah seketika berubah melihat siapa orang yang tengah menelponnya. Senyumannya terbit melunturkan wajah muramnya dan segera ia mengangkat panggilan itu.
"Iya sayang 15 menit lagi aku sampai, otw sekarang nih." Ujarnya kemudian menyambar tasnya melengos dari meja makan.
"Tunggu," cegah Galih membuat langkah gadis itu terhenti.
Galih berdiri dari duduknya berjalan menghampiri istrinya, tepat di hadapan gadis itu ia memperhatikan penampilannya dari wajah sampai ujung kaki dan kembali lagi ke atas berhenti di bagian leher istrinya yang mulus.
Yasmin hanya mematung ditempat, sikap pria itu yang dingin selalu membuatnya gemetar bahkan hanya dengan tatapannya saja sudah membuat jantungnya tidak stabil dan meronta-ronta.
Apalagi sentuhan tangannya yang besar dan berurat itu menyentuh kulitnya selalu berhasil membuat tubuhnya merinding dan tegang, sentuhan di lehernya mengingatkannya dengan aktivitas malam pertama mereka yang dilakukan beberapa jam yang lalu.
"Tenang Yasmin...jangan sampai kamu bersikap murahan seperti kekasihnya. Kamu harus bisa menahan diri agar tidak tergoda, apalagi jatuh cinta padanya." Batinnya berusaha mempertahankan benteng pertahanannya yang akan runtuh saat ini juga.
Pria itu mengusap leher Yasmin yang tertutup rambut panjangnya, secara perlahan telapak tangan besar itu menarik tengkuk Yasmin membuat tubuh kecil itu bergerak mendekat.
Galih membungkuk mendekatkan wajahnya ke depan telinga Yasmin dan berkata. "Ingat perjanjian kita, jika kamu melakukan kesalahan sedikitpun kamu sudah tahu konsekuensinya. Jadi bersikap baik dan patulah," bisiknya kemudian menggigit telinga gadis itu gemas.
Yasmin menelan ludahnya merinding, tubuhnya membeku di tempat. Sedangkan Galih tersenyum smirk mengeluarkan salah tatu kartu atm black card dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.
"Kamu bisa membeli apapun yang kamu mau menggunakan kartu ini, anggap saja sebagai nafkah pertama dari ku." Ucapnya kemudian mengecup puncak kepala gadis itu.
"Gina ayo berangkat, baby sister Vira sudah datang." Panggilnya meninggalkan ruang makan di ikuti kekasihnya.
Anda Mungkin Juga Suka





