
Istri mandul CEO bucin
Bab 2
Marco yang sedari tadi berada di ruang rapat menemani sang bos, mendadak mendapat telepon dari petugas yang berjaga di lantai dasar. Setelah meminta izin pada sang bos, Marco dengan langkah cepat menuju tempat yang diberitahukan petugas penjaga padanya.
"Siapa yang berani membuat keributan di gedung ini akan berurusan langsung denganku," gumam Marco sambil terus berjalan.
Sesampainya di tempat yang dikatakan petugas penjaga, langkah Marco yang awalnya cepat perlahan melambat saat melihat para pegawai yang berkerumun seperti menyaksikan sesuatu. Perlahan ia mendekat, Marco menyipitkan matanya, ia merasa familiar dengan wanita berkemeja putih berambut panjang itu. Mungkinkah itu istri dari sang bos? Jika iya, Marco akan mendapat masalah besar. Untuk memastikan, Marco mendekat. Langkahnya perlahan tapi pasti, berharap yang ia lihat itu adalah salah. Dan sepertinya dugaannya itu sangatlah tepat, wanita yang tengah dicengkeram tangannya itu ternyata adalah istri dari Bosnya, Asmaraloka.
"Mampus aku!" Marco merutuki dirinya.
Saat tangan resepsionis wanita itu hendak melayangkan ke arah Ara, Marco dengan cepat mencegahnya.
"STOP!"
Semua pandangan mata beralih pada Marco, begitu juga dengan Ara.
"Lepaskan dia!" perintah Marco pada kedua security itu.
"Tapi Bos, dia yang membuat keributan di kantor kita dengan penampilannya yang seperti ini," jawab resepsionis wanita itu.
Plakk ...
Marco menampar pipi resepsionis wanita itu, membuat semua yang ada di sana kebingungan.
"Kenapa menamparku, Bos?" ujar wanita itu tidak terima.
Plak ...
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Sinta, ia tidak tahu alasan mengapa asisten tuannya itu menamparnya. Sakit? Tentu saja. Marco menamparnya dengan sangat keras, bukan cuma sekali tapi dua kali. Pipi wanita itu pun sampai memerah, terlihat jelas bekas tangan Marco di sana. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkejut.
Marco lalu mendekati Ara. "Nyonya, tidak apa-apa?" tanya Marco pada Ara.
Mendengar Marco memanggil Ara dengan panggilan 'Nyonya', semua yang ada di sana begitu terkejut dan yang jelas kebingungan, tak terkecuali dua security dan resepsionis wanita tadi yang ingin memukul Ara. Sekujur tubuh wanita itu lemas sekaligus takut, sebentar lagi ia pasti akan dipecat dari perusahaan besar ini.
"Marco, kenapa kau memukulnya?" tanya Ara pada Marco yang keheranan.
"Maksud Anda, Nyonya?" tanya Marco bingung, apa dia salah jika memukul seseorang yang berbicara tidak sopan pada istri bosnya?
Ara menghampiri Marko, lalu ia berteriak tepat di telinga Marco. "APA KAU TULI, MARCO ...?"
Marco sontak langsung menutup kedua telinganya. "Maafkan saya, Nyonya."
"Marco, kau seorang pria tidak sepatutnya kau memukul seorang wanita," tutur Ara. "Kau pikir dipukul itu tidak sakit, heh? Kau cukup pecat dia saja, tidak perlu dengan menghukumnya dengan fisik."
Mendengar itu Sinta langsung bersimpuh di kaki Marco sambil menangis."Bos, jangan pecat saya, saya minta maaf!"
"Kau seharusnya minta maaf pada Nyonya Ara, bukan aku," jawab Marco.
Sinta beralih pada Ara sambil tetap bersimpuh. "Nyonya, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Anda istri Tuan. Saya mohon jangan pecat saya!"
"Marco, urus dia!" Ara menjawab dengan berlalu tak menghiraukan resepsionis angkuh itu.
"Urusanmu denganku belum selesai, ke ruanganku setelah ini!" ucap Marco pada resepsionis wanita itu.
Resepsionis wanita itu mengangguk, lalu ia bangkit. Dalam hatinya ia begitu merutuki dirinya yang dengan bodohnya tidak bertanya lebih dulu siapa perempuan itu. Tapi memang ia benar-benar tidak tahu jika CEO-nya itu sudah menikah.
"Nyo—" Ucapan Marco terhenti ketika ingin berbicara pada Ara yang sudah tidak ada di sana. Ternyata Ara memilih pergi terlebih dahulu. Dengan cepat Marco mengejarnya. "Nyonya, tunggu saya!" teriak Marco.
Ara yang dipanggil hanya menoleh sejenak. "Cepatlah Marco, Aku ingin segera bertemu Raizel."
"Nyo—nyonya serius ingin bertemu Tuan?" tanya Marco sambil mengatur napasnya karena mengejar Ara.
"Memangnya aku terlihat bercanda?" jawab Ara ketus.
"Tidak, Nyonya. Tapi Tuan saat ini sedang rapat dengan pemilik perusahaan-perusahaan penting."
"Lalu, aku peduli?" Ara terus berjalan menuju lift.
Marco kebingungan, ia harus mencari alasan apa agar nyonya-nya ini tidak sampai ke ruang rapat. Bisa kacau jika sang nyonya sampai di sana, apalagi dengan penampilannya yang akan membuat malu bos-nya di depan pemilik perusahaan-perusahaan besar di dalam sana. "Lebih baik aku ditugaskan untuk membunuh seratus orang musuh, daripada berurusan dengan Nyonya Ara." gumam Marco dalam hati.
Marco terus berusaha membujuk Ara agar mengurungkan niatnya bertemu Raizel, tapi Ara dengan kekeh tetap ingin bertemu Raizel, apapun alasannya.
"Marco, DIAM!" bentak Ara.
Marco terkejut. "Ba–baik Nyonya."
"Kenapa kau mati-matian tidak memperbolehkan aku bertemu dengan Raizel? Apa jangan-jangan Raizel bersama dengan seorang wanita di dalam sana, he?" ucap Ara seraya menatap asisten suaminya itu dengan tajam.
"Ti—tidak Nyonya, itu tidak mungkin. Tuan begitu setia kepada Anda," jawab Marco gelagapan.
"Kalau begitu, cepat tunjukan ruang rapat Raizel!"
"Ba—baik Nyonya." Pada akhirnya Marco menyerah, ia sudah pasrah. Jika nanti Raizel akan menghukumnya, ia akan terima semua itu. "Kenapa Nyonya Ara berubah jadi seperti ini?" gerutu Marco pelan agar Ara tidak mendengarnya.
Lift berhenti. Ara segera keluar dan langsung menuju ruangan yang diberitahu Marco tadi.
"Nyonya, tolong jangan masuk!" Marco kembali memohon. Tapi Ara tidak menghiraukan sama sekali.
Sampai di depan sebuah ruangan yang dimaksud, tanpa ragu Ara langsung membuka pintu berukuran besar itu. Marco yang memperhatikan hanya bisa menepuk jidatnya. "Maafkan saya, Tuan, peliharaanmu benar-benar susah dijinakkan."
Brak ...
Pintu dengan ukuran tinggi lagi besar itu terbuka dengan lebar, semua yang ada di ruangan rapat itu sontak menoleh dan terlonjak kaget. Tidak terkecuali Cadis, yang saat itu tengah berbicara pada anggota rapat.
"Ara?" ucapnya terkejut.
Ara berjalan dengan langkah yang cepat menghampiri Cadis yang tengah duduk di ujung meja berbentuk persegi itu. Jelas saja orang-orang yang berada di sana kebingungan dengan kedatangan Ara yang tiba-tiba, belum lagi penampilannya yang hanya mengenakan kemeja berwarna putih di atas lutut. Paha mulus Ara terekspos dengan sempurna bersamaan tanda kissmark yang menghiasinya. Cadis sontak berdiri, dengan matanya yang mengerjap beberapa kali tak percaya.
Plak ...
Ara melayangkan tamparannya pada pipi Cadis. "Kamu menyebalkan!" ucap Ara.
Tamparan Ara membuat Cadis tersadar dari keterkejutannya. Buru-buru sekretaris Cadis yang juga ada di ruang rapat itu menghampiri Ara, berusaha menjauhkan Ara dari Cadis.
"Jangan ikut campur urusanku dengan suamiku!" ucap Ara seraya melototkan matanya, yang mana membuat semua orang di sana tercengang.
Belum juga sekretaris itu berucap, tapi sudah didahului oleh Ara.
Marco pun datang, mencoba menjauhkan sekretaris Cadis dari Ara. Bisa mati sekretaris itu jika berurusan dengan Ara yang tengah mengamuk.
"Nyonya, sabar!" ucap Marco ia ingin menyentuh tangan Ara. Namun Cadis tiba-tiba menatapnya dengan tatapan tajam, seperti ingin menelan seluruh tubuh asistennya itu.
"Jangan sentuh dia!" ucap Cadis.
Marco dengan cepat mengurungkan niatnya. "Ma—maaf Tuan!"
Cadis pun akhirnya mendekati Ara. "Kamu kenapa ada di sini, Baby?" tanya Cadis begitu lembut pada Ara yang tengah mengobarkan amarahnya. Tangannya meraih tangan Ara lalu mengecupnya.
"Kamu nyebelin!" Suara Ara melemah, ia langsung berhambur ke pelukan sang suami. Dengan sekejap amarah Ara yang berapi-api tadi langsung redam. Seperti api yang disiram dengan air, sekejap itu juga akan mati.
Cadis memeluk istri mungilnya itu dengan erat, ia tahu betul kondisi sang istri sekarang seperti apa. "Do you miss me, Baby?" tanya Cadis sembari mengelus lembut puncak kepala Ara, yang dibalas anggukan oleh wanita itu.
Semenyebalkan apapun Ara, Cadis tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya ketika berbicara kepada sang istri. Jika emosi Ara sedang tidak stabil, Cadis memilih diam dan bersikap selembut mungkin kepada Ara. Seperti sekarang ini. Menurut Cadis, membentak, membalas ucapan, bahkan memukul wanita bukan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan menambah masalah baru. Wanita itu sebenarnya hanya ingin dimengerti, dimanja dan diperhatikan, begitu juga dengan sang istri. Ia mempunyai segalanya, tapi Ara tidak pernah meminta hal yang mewah atau apapun itu yang berurusan dengan harta. Istrinya itu malah meminta hal-hal yang aneh dan gak masuk akal seperti orang mengidam, tapi sebisa mungkin Cadis akan mewujudkannya. Istrinya itu memang wanita yang sangat unik, karena hal itulah Cadis begitu mencintai Ara dan rela melakukan apapun untuk sang istri tercinta.
Anda Mungkin Juga Suka





