Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Mafia, Tak Pantas untuk Pewaris

Istri Mafia, Tak Pantas untuk Pewaris

Suamiku, Wakil Bos Mafia, mencampakkanku karena aku divonis mandul. Ia membawa ibu pengganti ke rumah dan memperlakukannya bak kekasih, mengkhianati janji suci kami. Puncaknya, ia membiarkanku terluka parah demi melindungi wanita itu. Di dunia kelam ini, seorang istri mustahil bercerai secara normal. Maka, aku merancang skenario kematianku sendiri untuk menghancurkan hidupnya, membiarkannya membusuk di atas puing-puing kejayaan yang ia bangun.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di hari saat suamiku, seorang Wakil Bos Mafia, memberitahuku bahwa aku cacat secara genetik dan tidak pantas melahirkan pewarisnya, dia membawa pulang penggantiku—seorang ibu pengganti dengan mata sepertiku dan rahim yang berfungsi.

Dia menyebut perempuan itu "rahim sewaan", tapi memamerkannya seperti wanita simpanan. Dia menelantarkanku saat aku bersimbah darah di lantai sebuah pesta demi melindungi perempuan itu, dan merencanakan masa depan rahasia mereka di vila yang pernah dia janjikan untukku.

Tapi di dunia kami, seorang istri tidak bisa pergi begitu saja—mereka lenyap. Maka, aku memutuskan untuk merancang sendiri skenario pelenyapanku, membiarkannya hancur dalam reruntuhan yang telah dia bangun dengan susah payah untuk dirinya sendiri.

Bab 1

Kania POV:

Di hari saat suamiku memberitahuku bahwa aku cacat secara genetik dan tidak pantas melahirkan pewarisnya, dia juga memperkenalkan penggantiku—seorang perempuan dengan mata sepertiku, rambut sepertiku, tapi dengan rahim yang berfungsi.

Hari itu hari Selasa. Langit di atas Jakarta Selatan berwarna ungu lebam, mengancam akan turun badai yang sama persis dengan badai yang sedang bergejolak di apartemen penthouse kami. Bramantyo berdiri di dekat jendela setinggi langit-langit, siluet kekuasaan dan kontrol dingin dengan latar belakang kerlip lampu kota. Dia tidak pernah menyentuhku lagi sejak hasil tes terakhir dari klinik pribadi keluarga keluar.

"Ini kelainan mitokondria, Kania," katanya saat itu, suaranya datar, tanpa sedikit pun kehangatan yang sangat kubutuhkan. "Garis keturunan yang bersih adalah segalanya. Kamu tahu itu."

Aku tahu. Aku sudah tahu itu sejak hari aku, Kania Anindita, menikah dengan keluarga Adiwangsa dan menjadi istri seorang Wakil Bos. Tujuanku hanya satu: melahirkan seorang pewaris dan mengamankan posisi Bram. Selama lima tahun, aku telah gagal.

Sekarang, ayahnya, Pak Suryo Adiwangsa, sedang sekarat. Perintah terakhirnya menggema di seluruh keluarga seperti lonceng kematian: seorang pewaris, lahir dalam satu tahun ke depan, atau Bramantyo akan dicopot dari jabatannya. Kepemimpinan keluarga paling berkuasa di Jakarta akan jatuh ke tangan sepupunya. Itu adalah takdir yang lebih buruk dari kematian.

"Jadi, aku sudah menemukan solusinya," kata Bram, berbalik dari jendela. Kata-katanya menggantung di udara, sarat dengan keputusan final yang tak terucap. Dia menunjuk ke arah pintu, dan sesaat kemudian, perempuan itu masuk.

Namanya Rania Putri. Dia adalah bayanganku, versi yang lebih murah dan lebih kasar. Rambut hitam yang sama, mata biru yang sama, tapi jika posturku tegak karena bertahun-tahun berlatih balet, posturnya sedikit membungkuk menantang. Ada rasa lapar, ambisi yang liar dan putus asa, terpancar dari tatapannya. Dia memandangi rumah kami bukan dengan kekaguman, tapi dengan perhitungan.

"Dia yang akan mengandung anak itu," kata Bram, sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. "Ini urusan keluarga. Sebuah transaksi. Dia hanyalah sebuah rahim sewaan."

Rahim sewaan. Sebuah wadah untuk pewaris yang tidak bisa kuberikan. Secercah harapan, tajam dan menyakitkan, tiba-tiba menyala di tengah kehampaanku. Mungkin ini satu-satunya jalan. Demi keluarga. Demi Bram.

"Begitu anak itu lahir," lanjutnya, matanya terpaku padaku, mengabaikan perempuan yang berdiri di sampingnya, "dia akan pergi. Semuanya akan kembali normal."

Tapi 'normal' sudah retak. Dia mulai sering pulang larut, dengan alasan perlu mengawasi Rania demi keselamatannya, untuk memastikan "aset" itu terlindungi. Ulang tahun pernikahan kami yang kelima datang dan pergi. Aku melewatinya sendirian, menatap kalung berlian yang dia berikan bertahun-tahun lalu, simbol janji yang kini terasa seperti kebohongan. Aku menjadi hantu dalam hidupku sendiri, seorang ratu pengganti di kerajaan yang perlahan-lahan menjauh dariku.

Retakan pertama menjadi jurang seminggu kemudian. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah acara amal ketika sebuah sedan hitam menabrak sisi penumpang mobilku. Itu bukan kecelakaan. Itu adalah pesan dari keluarga saingan, sebuah ujian bagi kekuatan Adiwangsa. Gemetar, berdarah karena luka di dahi, aku menelepon Bram. Tidak ada jawaban. Teleponnya langsung masuk ke pesan suara.

*Kode Kehormatan* keluarga berarti aku tidak bisa pergi ke rumah sakit umum. Aku menyetir sendiri ke klinik darurat rahasia milik keluarga. Saat dokter menjahit kepalaku, kebisuan suamiku terasa lebih memekakkan telinga daripada decitan ban di aspal.

Ketika aku akhirnya kembali ke penthouse, udara terasa hening dan berat. Aku berjalan ke kamar tidur kami, dan jantungku seakan berhenti berdetak. Di atas meja riasku, di sebelah botol parfum Chanel No. 5-ku, ada sebatang lipstik. Warnanya merah murahan dan norak yang tidak akan pernah kupakai. Bekasnya menodai marmer putih.

Rania. Dia sudah ada di sini. Di kamarku. Di ruang pribadiku. Keamanan keluarga Adiwangsa, benteng tak tertembus yang seharusnya dikomandani Bram, telah ditembus oleh seorang perempuan yang dia sebut "rahim sewaan."

Namun, kebenaran yang sesungguhnya terungkap di sebuah pesta sebulan kemudian. Itu adalah pertemuan formal para rekan bisnis terpenting keluarga di sebuah klub pribadi di pusat kota. Bram adalah tuan rumah yang sempurna, lengannya melingkar posesif di pinggangku, senyum terpampang di wajahnya untuk publik. Tapi matanya kosong.

Aku permisi sejenak, mencari perlindungan di teras yang remang-remang. Melalui pintu kantor pribadi yang terbuka, aku mendengar suaranya. Dia sedang berbicara dengan Reza, Penasihatnya.

"Aku tidak bisa lepas darinya, Reza," kata Bram, suaranya serak oleh emosi yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar. "Dia itu seperti api. Nyata. Tidak seperti... patung yang sempurna."

Darahku terasa membeku.

"Vila di Puncak," lanjut Bram, "siapkan. Setelah bayinya lahir, aku akan menempatkannya di sana. Dia dan anak itu."

Vila itu. Vila yang dia janjikan untukku pada ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh. Tempat untuk *kita*.

Tanganku gemetar, dan aku tak sengaja menyenggol nampan berisi gelas-gelas kosong. Gelas-gelas itu pecah berkeping-keping di lantai batu. Bram dan Reza terdiam. Sedetik kemudian, Bram muncul di ambang pintu, wajahnya topeng kepanikan.

"Kania. Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Siapa dia, Bram?" bisikku, kata-kata itu tercekat di tenggorokan.

"Bukan apa-apa," desisnya, mencengkeram lenganku. "Rania tidak ada di sini. Kamu tidak mendengar apa-apa. Reza," bentaknya ke belakang, "pembicaraan ini tidak pernah terjadi."

Dia menarikku pergi, cengkeramannya menyakitkan. Malam itu, ketika dia pikir aku sudah tidur, aku mengambil tablet terenkripsinya dari tas kerjanya. Kata sandinya masih tanggal ulang tahunku. Ironi yang terasa begitu pahit.

Di sanalah dia. Rania. Puluhan foto. Tertawa di mobilnya. Mengenakan kemejanya di tempat tidur yang bukan milik kami. Dan kemudian aku melihatnya: sebuah folder berlabel "Puncak." Di dalamnya ada denah arsitektur untuk kamar bayi. Cetak biru untuk kehidupan yang tidak melibatkanku.

Patung yang sempurna itu akhirnya retak. Dan aku tahu aku tidak bisa pergi begitu saja. Di dunia kami, istri seorang Wakil Bos tidak bisa pergi begitu saja. Mereka lenyap. Tapi aku tidak akan menjadi korban lainnya. Aku akan merancang kepergianku sendiri, dengan caraku sendiri, demi kehormatan keluarga yang begitu rela dia khianati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Jhon Christy terobsesi pada Aleta Louison sejak pandangan pertama. Seiring waktu, perasaan tersebut berkembang menjadi obsesi yang kelam. Demi mendekati sang pujaan hati, Jhon rela melepas hidup mewahnya dan bertolak ke Rusia untuk menjadi seorang bodyguard. Ambisi terbesarnya hanyalah terus mendampingi Aleta. Jhon bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri gadis itu dan membimbingnya kembali menjadi sosok wanita yang normal sepenuhnya.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Obsesi saya
9.1
Mimpi seorang wanita untuk menjadi model ukuran plus hancur seketika setelah ia menjadi korban penculikan keji oleh pedagang pasar gelap. Di tengah keputusasaan, ia justru terjerat dengan pria yang memiliki obsesi ekstrem terhadapnya. Pria posesif ini bertekad menjadikannya istri dan menghalalkan segala cara demi memilikinya seutuhnya. Kini ia terjepit dalam dilema besar: haruskah ia menyerah pada keadaan atau berjuang meloloskan diri dari cengkeraman maut sang pria?
Sampul Novel Pembalasan Dendam Seorang Ayah
9.6
Niat baik seorang putri membantu lansia ke ambulans berujung petaka saat dia diculik ke sebuah desa. Sang ayah yang berhasil melacaknya mendapati putrinya telah tewas mengenaskan akibat dilecehkan. Kecewa karena hukum membebaskan pelaku dengan dalih gangguan jiwa, sang ayah memutuskan untuk ikut berpura-pura gila. Dia sengaja menjadi pasien rumah sakit jiwa demi bisa mendekati dan membalas dendam langsung kepada pembunuh putrinya.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.