Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kontrak: Penebusan Thorne

Istri Kontrak: Penebusan Thorne

Clara kehilangan bayinya akibat ulah kejam Marko, suaminya sendiri. Bukannya berduka, Marko justru menyodorkan surat cerai demi menikahi sahabat Clara yang sedang mengandung anaknya. Diancam akan dijebloskan ke RSJ, Clara terdesak hingga pengacara orang tuanya datang membawa kunci rahasia. Kunci itu mengungkap kontrak kuno yang menjodohkannya dengan Julian Aditama, miliarder tangguh yang sangat ditakuti Marko. Kini, Clara memiliki peluang untuk membalas dendam.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku terbaring dalam keheningan rumah sakit yang steril, meratapi bayi yang tak pernah sempat kudekap.

Semua orang menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Tapi aku tahu kebenarannya. Suamiku sengaja mendorongku.

Marko akhirnya datang menjenguk. Dia tidak membawa bunga; dia membawa sebuah koper.

Di dalamnya ada surat cerai dan perjanjian kerahasiaan.

Dengan tenang dia memberitahuku bahwa selingkuhannya—sahabatku sendiri—sedang hamil. Mereka adalah "keluarga sejatinya" sekarang, dan mereka tidak mau ada "keributan".

Dia mengancam akan menggunakan laporan psikiatri palsu untuk menggambarkanku sebagai wanita labil yang membahayakan diriku sendiri.

"Tanda tangani surat-surat ini, Clara," dia memperingatkan, suaranya hampa tanpa emosi. "Atau kau akan dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang."

Aku menatap pria yang pernah kucintai dan melihat sesosok monster. Ini bukan tragedi; ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Dia sibuk bertemu dengan pengacara saat aku kehilangan anak kami. Aku bukan istrinya yang berduka; aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan, sebuah benang kusut yang harus diikat.

Aku benar-benar terperangkap.

Tepat saat keputusasaan menelanku, pengacara lama orang tuaku muncul bagai hantu dari masa lalu. Dia meletakkan sebuah kunci tua yang berat dan berukir di telapak tanganku.

"Orang tuamu meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya penuh tekad. "Untuk hari seperti ini."

Kunci itu membawaku pada sebuah kontrak yang terlupakan, sebuah perjanjian yang dibuat oleh kakek kami puluhan tahun yang lalu.

Sebuah perjanjian pernikahan yang mengikatku pada satu-satunya pria yang ditakuti suamiku lebih dari kematian itu sendiri: Julian Aditama, miliarder kejam yang hidup menyendiri.

Bab 1

Hantu dari kehidupan yang tak pernah sempat kudekap menghantuiku dalam keheningan kamar rumah sakit yang steril.

Rasa sakit itu seperti nyeri samar di perutku, sebuah ruang hampa di mana harapan pernah bersemayam. Bau antiseptik menempel di sprei tipis yang kaku, aroma kimia tajam yang menggores tenggorokanku setiap kali aku bernapas. Di luar jendela yang tertutup rapat, kota Jakarta tampak kabur oleh hujan kelabu dan cahaya redup, sebuah dunia yang terasa jutaan mil jauhnya.

Duniaku telah menyusut menjadi empat dinding putih ini, bunyi monitor jantung yang berirama dan merendahkan, serta kenangan yang terus berputar tanpa henti.

*Dorongan yang tajam dan tiba-tiba. Lantai marmer yang licin melesat menyambutku. Wajah Marko, tidak menoleh padaku dengan cemas, tetapi pada *dia*, lengannya melindungi wanita yang pernah menjadi sahabatku. Matanya, ketika akhirnya melirik tubuhku yang terkulai di lantai, tidak menunjukkan cinta, tidak ada kepanikan. Hanya ketidakpedulian yang dingin dan menakutkan. Sebuah gangguan. Aku adalah penghalang di jalan menuju kebahagiaannya.*

Kenangan itu bagai serpihan kaca di benakku, dan setiap kali aku berkedip, serpihan itu menusuk lebih dalam. Para dokter menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Aku tahu kebenarannya. Aku telah dibuang.

Pintu berderit terbuka, menarikku dari kubangan masa lalu. Aku tersentak, jantungku berdebar kencang di dada seperti burung yang terperangkap. Aku berharap itu Sofi, sahabat terbaikku, dengan senyum hangatnya dan sebatang cokelat selundupan.

Tapi itu Marko.

Dia tidak membawa bunga. Dia membawa koper kulit yang ramping. Dia berdiri di dekat pintu, seorang asing dalam setelan jas yang dijahit sempurna, kainnya berwarna arang gelap yang seolah menyerap semua cahaya di ruangan itu. Dia berbau parfum mahal dan hujan yang baru saja dilewatinya. Dia tidak mendekati tempat tidur.

Suara batinku menjerit. *Dia tidak menyesal. Lihat saja dia. Dia bahkan tidak melihatmu, dia melihat mesin-mesin itu, menghitung.*

"Clara," katanya, suaranya halus dan masuk akal seperti yang biasa dia gunakan untuk menutup kesepakatan bisnis. Suara yang dulu menenangkanku. Sekarang, suara itu membuat kulitku merinding.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Tenggorokanku kering kerontang, lidahku terasa berat. Aku hanya memperhatikannya, jari-jariku mencengkeram selimut tipis, satu-satunya perisai yang kumiliki.

Dia membuka koper dengan bunyi klik yang lembut dan tegas. Dia mengeluarkan setumpuk kertas, meletakkannya di atas meja dorong di samping tempat tidurku dengan bunyi gedebuk yang steril. Halaman teratas bertuliskan, dengan huruf tebal dan mencolok: 'PERJANJIAN PENYELESAIAN PERCERAIAN'.

"Kupikir kau akan menganggap syarat-syaratnya murah hati," katanya, tatapannya akhirnya bertemu denganku. Datar, tanpa emosi. Rahangnya mengeras, otot kecil berkedut di dekat telinganya. Dia tidak sabar. Dia ingin ini cepat selesai.

"Murah hati?" Kata itu keluar serak, suara orang asing yang keluar dari tenggorokanku. "Kau membunuh bayi kita, Marko."

Untuk sesaat, sesuatu melintas di wajahnya. Bukan rasa bersalah. Bukan penyesalan. Kejengkelan. Kejengkelan murni tanpa filter.

"Itu kecelakaan, Clara. Dokter sudah memastikannya," katanya, suaranya merendah, menjadi sangat lembut dan berbahaya. "Dan kau... tidak sehat sejak saat itu. Tidak stabil. Begini lebih baik."

Dia mendorong dokumen lain ke seberang meja. Perjanjian kerahasiaan. Darahku terasa dingin saat aku membaca istilah-istilah hukum itu. Aku tidak boleh berbicara tentang dia, bisnisnya, atau... keluarga barunya.

"Keluarga sejatiku membutuhkanku sekarang," lanjutnya, kata-katanya seperti anak panah beracun. "Amelia sedang hamil. Kami tidak mau ada keributan. Kau akan menandatangani ini, dan kau akan diurus."

Aku menatapnya, kekejaman rencananya yang terperinci menghantamku. Ini bukan tragedi. Ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan.

*Dia merencanakan ini. Saat aku berdarah, saat aku kehilangan anak kami, dia bertemu dengan pengacara. Dia melindungi wanita itu. 'Keluarga' sejatinya.* Pikiran itu begitu keji, begitu mengerikan, hingga aku merasa mual.

"Dan jika aku tidak menandatanganinya?" bisikku, semangat juangku terkuras habis, hanya menyisakan batu ketakutan yang dingin dan keras di perutku.

Marko sedikit mencondongkan tubuh ke depan, buku-buku jarinya memutih saat dia mencengkeram tepi meja. Topeng kesopanannya terlepas.

"Maka aku tidak punya pilihan lain," katanya, suaranya mendesis berbisa. "Aku punya laporan. Dari dokter-dokter yang sangat dihormati. Mereka semua mengatakan kau menderita delusi, paranoia. Bahwa kau berbahaya bagi dirimu sendiri dan orang lain. Sayang sekali jika kau harus dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang."

Ancaman itu menggantung di udara, tebal dan menyesakkan. Dia akan memasukkanku ke rumah sakit jiwa. Dia akan menghapusku, melukisku sebagai wanita gila, dan pergi dengan segalanya. Suamiku. Masa depanku. Kewarasanku.

Air mata yang tak kusangka masih kumiliki mulai mengalir, panas dan tanpa suara, menuruni pelipisku dan masuk ke rambutku. Aku terperangkap. Benar-benar hancur.

Dia melihatku menyerah. Dia merapikan dasinya, ketenangannya pulih sempurna. "Pengacaraku akan kembali besok untuk tanda tangan. Istirahatlah, Clara."

Dia berbalik dan berjalan keluar, pintu tertutup dengan bunyi klik lembut dan final yang menggemakan suara hidupku yang hancur berkeping-keping.

Aku terbaring di sana entah berapa lama, tenggelam dalam keheningan yang dia tinggalkan. Bunyi monitor adalah satu-satunya bukti bahwa aku masih hidup. Aku tidak punya apa-apa. Tidak, aku lebih buruk dari itu. Aku adalah masalah yang harus diselesaikan, benang kusut yang harus diikat.

Tepat saat secercah cahaya terakhir memudar dari langit, terdengar ketukan lembut. Pintu terbuka lagi. Aku memejamkan mata, bersiap untuk pukulan lain.

"Nona Clara?"

Suara itu lembut, feminin, dan akrab. Aku membuka mata. Seorang wanita tua dengan mata ramah dan rambut perak yang disanggul rapi berdiri di sana. Ibu Ratna. Dia adalah pengacara orang tuaku, seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat. Dia membawa tas kulit usang, bukan koper. Ruangan itu tiba-tiba terasa sedikit lebih hangat.

Dia bergerak ke samping tempat tidurku, ekspresinya campuran antara kasihan dan tekad. Tangannya yang dingin dan kering menempel di lenganku sejenak. Itu adalah sentuhan ramah pertama yang kurasakan dalam beberapa hari.

"Saya dengar apa yang terjadi," katanya lembut, tatapannya tidak melewatkan sedikit pun keadaanku yang hancur. "Dan saya dengar... pria itu baru saja di sini." Dia mengucapkan kata 'pria' seolah-olah itu adalah sesuatu yang busuk.

Dia membuka tasnya dan mengambil sebuah kunci tunggal, berukir, dan kuno. Kunci itu berat, terbuat dari kuningan, dan terpasang pada gantungan kulit sederhana.

"Orang tuamu adalah orang-orang yang luar biasa, Clara," katanya, suaranya mantap dan yakin. "Mereka juga sangat pandai menilai karakter. Mereka sudah menduga bahwa suatu hari nanti serigala mungkin akan mengenakan pakaian domba."

Dia menekan kunci itu ke telapak tanganku, jari-jarinya menutup jari-jariku di sekelilingnya. Logam itu terasa dingin di kulitku.

"Mereka meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya menatap mataku dengan intensitas yang menembus keputusasaanku. "Kunci ini membuka brankas di Bank Sentral Jakarta. Di dalamnya, kau akan menemukan sebuah kontrak. Kontrak yang memiliki kekuatan lebih dari yang bisa kau bayangkan. Lebih banyak kekuatan daripada yang bisa diimpikan Marko."

Dia meremas tanganku untuk terakhir kalinya. "Orang tuamu memastikan kau tidak akan pernah benar-benar terperangkap, sayangku. Pergilah. Gunakan itu."

Dia pergi setenang kedatangannya, meninggalkanku sendirian dengan berat kunci di tanganku dan secercah harapan yang menakutkan dan mustahil di tengah kegelapan yang menyesakkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Brave Heart
8.7
Hidup Seruni Arkadewi hancur setelah kecelakaan membuatnya timpang. Ia dikhianati kekasih dan sahabatnya, lalu dipaksa ayah tirinya menikahi pria tua demi harta. Seruni pun kabur demi membuktikan kemandiriannya meski fisik terbatas. Di sisi lain, Antonio Brata Kesuma adalah pria kaya yang membenci segala bentuk kecacatan. Bagi Antonio, tekad Seruni hanyalah misi bunuh diri, namun Seruni tetap teguh berjuang menggapai mimpinya tanpa mau dikasihani.
Sampul Novel CEO with Pole Dancer
7.9
Insiden sepele mengubah hidup Zia Zovanka selamanya saat ia menjadi target buruan Sagara Pratama. Amarah mendorong pria berkuasa itu untuk mengejar Zia, sang yatim piatu, hingga berhasil merenggut sesuatu yang paling berharga darinya. Meski Sagara dikenal dingin terhadap wanita, bayangan Zia justru terus menghantui pikirannya. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Sagara tanpa sengaja menemukan Zia sedang menari di sebuah klub malam langganannya.
Sampul Novel Ditinggal Nikah Dengan Adikku
8.3
Lysandra Harrison hancur saat Vincent, mantan kekasihnya, justru melamar Amelia, adik kandungnya sendiri. Di tengah penolakan karena statusnya sebagai anak adopsi, Arthur Sterling hadir membawa pernikahan kontrak demi memenuhi wasiat kakeknya dan ambisi bisnis. Namun, rahasia identitas Lysandra yang sengaja ditutupi ayahnya terancam terbongkar. Akankah Arthur tetap bertahan saat mengetahui istri yang baru dinikahinya bukanlah putri kandung Harrison?
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan milyarder ini memuncak setelah menikahi akhwat impiannya. Namun, baru seminggu membina rumah tangga, sang istri mulai kewalahan menghadapi gairah suaminya yang tak terbendung. Sang suami terus meminta jatah di berbagai situasi, mulai dari ruang tamu hingga saat istrinya memasak di dapur. Meski sempat menolak karena sedang sibuk, sang istri akhirnya menyerah pada desakan suaminya. Keperkasaan sang suami yang luar biasa membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Cantika Putri menjalani kehidupan pernikahan yang harmonis bersama Ardi Permana. Hubungan mereka dibangun di atas fondasi cinta yang tulus, di mana Ardi sangat mengagumi pesona fisik dan kesempurnaan sang istri. Sementara itu, narasi lain mengikuti sosok miliarder ternama, Reza Dirgantara. Sang konglomerat tengah menjalin hubungan asmara dengan Luna Amara, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam dirinya.
Sampul Novel Membebaskan Diri: Cinta CEO yang Hilang
8.8
Miley bertahan dalam pernikahan dingin dengan Harold meski sang suami mencintai wanita lain. Saat semua orang menanti kehancurannya karena kembalinya cinta sejati Harold, Miley justru memilih pergi dan menandatangani surat cerai. Harold yang murka menuntut penjelasan, namun Miley dengan tenang mengumumkan rencana pernikahan barunya. Ternyata, selama ini Miley tidak benar-benar mencintai Harold; ada sosok lain yang selama ini diam-diam ia dambakan dalam hatinya.