Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kontrak Kembali Bersinar

Istri Kontrak Kembali Bersinar

Pasca kecelakaan tragis, Amalia menyadari cintanya telah mati saat Rayan justru lebih mempedulikan Eliza. Selama delapan tahun, ia bertahan sebagai istri kontrak demi pengobatan ibunya meski terus dihina. Begitu kontrak usai, Amalia memilih bercerai dan membangun karier sebagai peneliti bioteknologi di Norwegia. Saat Rayan datang memohon kesempatan kedua di tengah badai salju, Amalia hanya menatapnya dingin sebagai mantan suami yang gemar berselingkuh.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kaki kiriku patah dan terjepit di balik kemudi, darah segar mengalir membasahi gaunku.

Namun suamiku, Rayan, berlari melewatiku tanpa menoleh sedikit pun.

Ia langsung memeluk Eliza, cinta pertamanya yang duduk di kursi belakang, padahal wanita itu hanya mengalami lecet kecil di lengan.

"Sayang, kau baik-baik saja? Jangan takut, aku di sini," ucapnya lembut pada Eliza.

Lalu ia berbalik menatapku dengan tatapan penuh kebencian.

"Amalia! Kalau kau tidak becus menyetir, jangan membahayakan nyawa Eliza!"

Diiringi sirene ambulans, aku tersenyum pahit.

Delapan tahun aku mengabdi sebagai istri kontrak yang patuh demi biaya pengobatan ibu, menelan semua hinaan dan melihatnya bermesraan dengan wanita lain.

Hari ini, di ambang kematian, aku akhirnya sadar.

Cintaku padanya sudah mati bersamaan dengan tabrakan ini.

Tiga hari kemudian, tepat saat kontrak pernikahan kami berakhir, aku meninggalkan surat cerai di atas meja dan menghilang ke Norwegia.

Aku kembali menjadi peneliti bioteknologi yang bersinar, bukan lagi istri pajangan yang membosankan.

Hingga suatu hari, Rayan yang hancur karena skandal perselingkuhan menemukanku di tengah badai salju, berlutut memohon agar aku kembali.

Aku hanya menatapnya datar, lalu berkata pada asistenku:

"Abaikan saja. Dia hanya mantan suami yang hobi berselingkuh."

Bab 1

Amalia POV:

"Aku tidak akan melakukannya lagi, Rayan."

Suara saya tenang, nyaris seperti bisikan, tetapi cukup keras untuk membuat sendok yang dipegang Rayan berhenti di tengah jalan menuju mulutnya. Matanya yang tajam menatap saya, sedikit kerutan muncul di dahinya. Saya tahu ekspresi itu. Itu adalah campuran kebingungan dan kemarahan, ekspresi yang selalu muncul ketika saya berani menyimpang dari skrip yang telah ia tulis untuk saya.

"Apa yang baru saja kau katakan?" tanyanya, suaranya rendah dan penuh bahaya. "Apa kau sedang demam, Amalia?"

Saya tidak menjawab. Saya hanya duduk di seberang meja sarapan, membiarkan tatapan saya menelusuri wajahnya. Wajah tampan yang telah saya lihat setiap pagi selama lima tahun terakhir, wajah yang kini terasa asing. Tidak ada emosi di mata saya, tidak ada ketakutan, tidak ada kesedihan. Hanya kekosongan yang dingin.

Rayan merasa tidak nyaman di bawah tatapan saya. Dia menggeser duduknya, menghindari pandangan saya. Saya tahu dia tidak terbiasa dengan ini. Dia terbiasa dengan Amalia yang patuh, Amalia yang selalu menunduk, Amalia yang menghindari kontak mata. Tapi Amalia itu sudah lama mati.

"Dengar, aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan," katanya, suaranya sedikit lebih keras sekarang. Dia berusaha membangun kembali kontrolnya. "Tapi aku tidak punya waktu untuk lelucon bodohmu. Pergi ke dapur dan siapkan sarapan."

Dia mendengus, lalu berbalik kepada kepala pelayan. "Buatkan aku sarapan, Robert. Dan pastikan Amalia tidak membumbui dengan drama pagi ini."

Robert mengangguk kaku, menghindari pandangan saya. Dia sudah terbiasa dengan adegan seperti ini. Saya masih duduk di sana, tidak bergerak. Saya bisa merasakan pandangan Rayan di punggung saya, penuh ketidaksabaran. Namun, saya tidak merasakan apa-apa.

"Apakah dia sudah pergi?" Sebuah suara merdu bertanya.

Saya menoleh dan melihat Eliza Jafar menuruni tangga, rambutnya yang panjang berkilau di bawah cahaya pagi. Dia tersenyum cerah, wajahnya yang cantik tampak sempurna tanpa cela.

"Sayang, apa yang Rayan bicarakan denganmu semalam? Apakah dia marah?" Eliza bertanya, suaranya penuh kepura-puraan manis.

Rayan berbalik, wajahnya melembut seketika. "Tidak ada apa-apa, sayang. Hanya sedikit kesalahpahaman. Sekarang, ayo sarapan. Kau punya jadwal pemotretan, kan?"

Eliza mengangguk, lalu menoleh ke arah saya. Dia mengedipkan mata, senyum kemenangan terukir di wajahnya. Seolah ingin mengatakan, Lihat, dia adalah milikku.

Saya hanya mengabaikannya, membiarkan pandangan saya melayang ke luar jendela. Matahari pagi menyinari taman yang terawat rapi, burung-burung berkicau. Sebuah pemandangan yang damai, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam rumah ini.

Rayan dan Eliza duduk di meja, tawa mereka mengisi ruang makan. Eliza menyuapi Rayan sepotong roti panggang, dan Rayan tersenyum lembut padanya. Pemandangan yang seharusnya menusuk, seharusnya membuat saya hancur. Tapi tidak ada. Hanya kekosongan.

Saya menunduk, menatap jari-jari saya yang terlipat di pangkuan. Saya memikirkan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Tiga hari lagi. Hanya tiga hari lagi.

Sebuah sentuhan di lengan saya membuat saya tersentak. Saya mendongak. Rayan berdiri di samping saya, ekspresinya sulit dibaca.

"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanyanya.

"Aku hanya berpikir," jawab saya, "tentang masa depan."

Rayan mendengus, ejekan jelas dalam suaranya. "Masa depan? Apa yang bisa diharapkan dari seorang wanita sepertimu, Amalia? Lulusan universitas yang tidak pernah menggunakan gelarnya. Bagaimana kau akan hidup tanpaku? Kau bahkan tidak memiliki pengalaman kerja. Apa kau pikir kau bisa bersaing dengan lulusan baru yang cerdas dan bersemangat?"

Saya tidak bereaksi. Kata-katanya, yang dulu bisa membuat saya menangis, kini hanya berlalu begitu saja, seperti angin sepoi-sepoi. Saya sudah terlalu lama mendengarnya. Delapan tahun. Delapan tahun mendengar ejekan, penghinaan, dan perbandingan. Saya sudah terbiasa.

Saya ingat betapa saya dulu seorang mahasiswa bioteknologi yang cemerlang, penuh mimpi dan ambisi. Saya ingin menciptakan sesuatu, sesuatu yang bisa mengubah dunia, atau setidaknya membuat ibu saya bangga. Tapi kemudian, ibu saya jatuh sakit. Biaya pengobatan, yang melonjak tinggi, mengancam untuk menelan kami hidup-hidup. Saya putus asa.

Saat itulah Rayan muncul, seperti penyelamat dalam kegelapan. Dia menawarkan kontrak. Lima tahun pernikahan, sebagai imbalan untuk biaya pengobatan ibu saya yang tak terbatas. Saya setuju tanpa ragu. Apa pun untuk ibu saya.

Selama delapan tahun ini, saya telah melihatnya membawa wanita yang berbeda ke rumah ini. Saya telah melihatnya memperlakukan mereka dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada saya. Saya bahkan ingat suatu malam, ketika ia mabuk, ia menatap saya dengan mata dingin dan berkata, "Jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta padaku, Amalia. Kau hanya sebuah kontrak. Tidak lebih."

Saya percaya padanya saat itu. Saya percaya ia tidak tahu bagaimana mencintai. Sampai tahun lalu, saya mendengar dari seorang pelayan tua bahwa ia pernah memiliki cinta pertama, seorang wanita yang meninggal karena penyakit.

Dan sekarang, Eliza. Dia memiliki kemiripan yang mencolok dengan foto mendiang kekasihnya yang tersimpan di laci meja kerjanya. Tidak heran Rayan begitu memanjakannya.

Saya menatapnya, lalu berbalik ke arahnya. "Aku ingin mencari pekerjaan."

Rayan tertawa, tawa yang dingin dan meremehkan. "Pekerjaan? Pekerjaan apa? Kau tidak memiliki apa-apa, Amalia. Tidak ada yang akan menerima seorang wanita yang hanya tahu cara melayani suaminya."

Saya tidak menjawabnya. Saya hanya menatap ke depan, ke arah pintu utama. Saya akan pergi. Saya akan menunjukkan kepadanya bahwa saya lebih dari sekadar kontrak. Saya lebih dari sekadar istri yang membosankan.

"Rayan," Eliza memanggil manja dari meja makan. "Mengapa kau berdiri di sana? Ayo, sarapanmu akan dingin."

Rayan melirik saya sekali lagi, ekspresi bingung di wajahnya. Lalu, dia berbalik dan kembali ke meja makan, Eliza langsung melingkarkan lengannya di lengannya.

Saya tersenyum tipis. Saya tahu dia tidak akan pernah mengerti. Dan itu tidak masalah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Semalam Sang CEO
8.8
Terjebak tantangan teman saat mabuk, Prakas menghabiskan malam bersama Miona, gadis yang terpaksa menjual diri demi utang ibunya. Setelah mengusir Miona, Prakas terkejut mendapati gadis itu adalah putri Pak Imam, sosok OB yang ia anggap ayah sendiri. Berniat menebus kesalahan, Prakas melunasi utang keluarga Miona dan memintanya berhenti dari dunia hitam. Namun, Miona yang terluka justru menolak belas kasihan itu dan bertekad membayar balik semuanya.
Sampul Novel Diculik Untuk Menjadi Ibu
9.2
Alina Daryanov adalah wanita karier ambisius yang hidup tanpa cinta. Usai kecelakaan tragis saat badai, ia terbangun di samping Ivan Vasiliev, konglomerat yang menjadikannya istri kedua. Alina ternyata diculik untuk menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya yang putus asa. Kini ia terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh manipulasi dan rahasia gelap. Alina harus memilih: tunduk pada tekanan hidup baru atau berjuang melawan permainan besar demi kebebasannya.
Sampul Novel Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta
7.9
Demi kesembuhan ibunya, Alira Santika terpaksa menikahi Dimas Aditya Wiratama, pewaris ningrat yang butuh keturunan. Gadis 19 tahun ini harus meninggalkan kekasihnya, Raka, demi perjodohan tanpa cinta. Di rumah barunya, Alira menderita akibat kekejaman Cynthia, istri pertama Dimas yang penuh dendam. Tanpa pembelaan sang suami, ia berjuang sendirian melawan intrik keluarga. Akankah Alira mampu bertahan di tengah pengkhianatan dan tekanan demi cinta sejatinya?
Sampul Novel Not Seen
8.4
Demi membalas budi, seorang pria menikahi wanita yang telah menyelamatkan nyawanya. Pernikahan ini dipicu oleh desakan sang ibu yang justru membenci putri kandungnya sendiri dan memperlakukannya layaknya orang asing yang terjerat utang. Berharap menemukan kebahagiaan di kota, wanita malang ini malah menghadapi kenyataan pahit. Alih-alih lepas dari penderitaan masa lalu di desa, ia justru terjebak dalam kesepian dan dinginnya penolakan keluarga baru.
Sampul Novel Paman, Silakan Tanda Tangani Surat Cerainya
8.8
Delis sangat mencintai Kelven hingga berhasil menjadi istrinya. Namun, kebahagiaan saat ingin mengabarkan kehamilannya hancur ketika Kelven pulang bersama wanita lain yang merebut segalanya. Setelah berulang kali tersakiti, Delis membulatkan tekad untuk menyodorkan surat cerai lalu pergi menjauh. Kelven yang kehilangan tidak menyangka mantan istrinya akan lenyap tanpa jejak, membuatnya frustrasi dan mencari Delis ke berbagai belahan dunia bagai orang gila.
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+
7.9
Hadir khusus bagi pembaca dewasa, karya ini menyajikan kumpulan narasi romansa penuh gairah dari beragam latar belakang tokoh. Setiap bab dirancang untuk memicu imajinasi serta memberikan hiburan intens yang sangat cocok dinikmati saat malam hari. Jelajahi berbagai dinamika hubungan yang berani dan menggoda melalui setiap untaian ceritanya. Segera selami tiap bab untuk merasakan sensasi fantasi yang mendalam dan memuaskan bagi para penggemar genre ini.