
Istri Kedua Pak Kades
Bab 3
Satu bulan telah berlalu sejak kejadian itu, namun aku masih belum bisa kembali menjadi diriku yang dulu. Setiap kali aku melangkahkan kaki ke kampus, ada beban yang selalu membayangi. Aku berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja, tapi jauh di dalam hatiku, hidupku sedang berada di ambang kehancuran. Perasaan itu semakin menyesakkan dada setiap hari. Aku terus meyakinkan diriku bahwa apa yang terjadi di desa hanya sekadar masa lalu, tetapi kenyataannya jauh dari itu. Bayangan peristiwa malam itu tak pernah benar-benar pergi.
Dinda, sahabatku, tampaknya mulai menyadari perubahan sikapku. Dia sudah mengenalku terlalu lama untuk tidak melihat ada yang berbeda. Saat kami makan siang di kantin, aku tahu dia pasti akan bertanya. Aku mencoba bersikap biasa, mencoba mengalihkan perhatiannya, tetapi kali ini sulit untuk menghindar.
"Ray, lo baik-baik aja kan?" tanyanya sambil menatapku dengan penuh perhatian. "Sejak di KKN, lo kelihatan beda. Ada apa, sih?"
Aku hanya tersenyum tipis, mencoba mengelak. "Gak ada apa-apa, Din. Mungkin gue cuma lagi sibuk sama tugas kampus, itu aja," jawabku berbohong. Aku tak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya kepada Dinda tanpa merasakan kembali luka yang sudah terlalu dalam?
Namun, obrolan ringan kami tiba-tiba berubah ketika ponsel Dinda berdering. Dia menatap layar ponselnya sebentar sebelum menatapku dengan ekspresi yang aneh. Tangannya yang lentik dengan cepat mengetik sesuatu, dan setelah itu dia kembali meletakkan ponselnya di saku.
"Lo inget Pak Kades waktu KKN dulu, kan?" tanya Dinda tiba-tiba, suaranya terdengar santai, seolah itu tidak berarti apa-apa. "Gue masih sering komunikasi sama dia."
Kalimat itu langsung membuatku hampir tersedak. Perasaanku seketika kacau. Aku berusaha keras menenangkan diri, mencoba bersikap biasa, meski jantungku mulai berdegup kencang.
"Sering nanyain kabar lo, tau. Dulu dia sempet minta alamat rumah lo, tapi ya, gue enggak kasih. Dia bilang kalau ke kota, mungkin bisa mampir ke salah satu anggota KKN kita," lanjut Dinda tanpa menyadari bahwa setiap kata yang diucapkannya membuatku semakin mual.
Kepalaku mulai berputar. Aku tidak ingin mendengar ini. Aku tidak ingin tahu bahwa dia masih mencoba mencari tahu tentang diriku. Aku menahan perasaan takut dan cemas yang tiba-tiba muncul, berusaha untuk tetap tenang di depan Dinda. Tapi di dalam diriku, rasa panik sudah merayap, seakan-akan dunia di sekitarku runtuh.
Setelah makan siang selesai, dosen kami tidak hadir di kelas, jadi aku memutuskan untuk pulang lebih awal. Namun, begitu aku bangkit dari kursi, kepalaku terasa berputar hebat. Aku meringis, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang.
"Ray, lo kenapa? Sakit?" tanya Dinda khawatir, melihat wajahku yang pucat. Dia langsung menopang tubuhku yang hampir terjatuh, membantuku duduk kembali.
"Sedikit pusing," jawabku lemah. "Gak apa-apa, mungkin gue cuma kecapekan."
"Mau ke klinik?" Dinda menawarkan.
Aku menggeleng. "Enggak, Din. Gue cuma pusing biasa," ucapku, meski kepalaku semakin berat, dan mataku berkunang-kunang. Tubuhku lemas, dan aku tahu ada yang tidak beres.
Begitu sampai di rumah, aku langsung bergegas masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Setibanya di sana, perutku tiba-tiba mual dan aku berlari ke kamar mandi, muntah dengan hebat. Semua yang ada di dalam perutku keluar tanpa bisa kutahan. Setelah itu, aku terduduk di lantai kamar mandi, tubuhku lemas dan penuh keringat dingin.
Saat aku kembali ke kamar, pandanganku tertuju pada kalender di meja belajarku. Ada sesuatu yang aneh. Tanggal-tanggal yang biasanya aku lingkari setiap bulannya ternyata tidak lagi kulingkari. Aku terdiam sejenak, mencoba mengingat kapan terakhir kali aku mendapatkan siklus bulanan. Pikiran itu tiba-tiba membuat jantungku berdetak lebih cepat. Tak mungkin. Jangan sampai.
Aku panik, rasa khawatir yang selama ini kupendam meledak. Sudah beberapa minggu aku tidak mendapatkan haid, dan rasa mual yang tadi kurasakan semakin membuatku takut. Apakah ini semua ada hubungannya dengan kejadian di desa? Pikiran buruk mulai menghantuiku, dan aku berusaha menolaknya, tapi semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin nyata kemungkinan itu terasa.
Aku duduk di tepi tempat tidur, menggenggam ponselku dengan tangan gemetar. Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana jika yang aku takutkan benar-benar terjadi? Aku tidak siap menghadapi kemungkinan ini. Aku bahkan belum bisa memulihkan diri dari trauma itu, dan kini aku harus menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar.
Aku mencoba menenangkan diri, tapi kepanikan sudah menguasai diriku. Aku tahu aku harus memastikan semuanya, tapi aku belum tahu bagaimana caranya. Apakah aku harus pergi ke dokter? Atau haruskah aku memberitahu seseorang?
Tiba-tiba, suara ponselku berdering lagi. Aku melihat layar dan terkejut melihat nomor tak dikenal yang mencoba menghubungiku. Seketika, aku merasakan ketakutan yang sama seperti saat pertama kali Pak Kades menghubungiku. Aku tidak berani menjawabnya. Aku langsung menekan tombol untuk menolak panggilan itu, dan tanpa pikir panjang, aku memblokir nomor tersebut.
Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia masuk lagi ke hidupku. Apa pun yang terjadi, aku harus menghadapi ini sendiri. Aku tidak bisa bergantung pada orang lain, dan aku tidak akan membiarkan masa laluku mengendalikan masa depanku.
Namun, satu hal yang pasti: aku tidak bisa terus menghindari kenyataan. Aku harus mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan tubuhku, meskipun itu menakutkan. Aku tidak bisa menunda lagi.
Aku duduk di tepi tempat tidur, merasakan seluruh tubuhku lemas. Perasaan mual masih menguasai perutku, dan ketakutan yang terus menghantui pikiranku makin menggila. Aku tahu aku tidak bisa terus menunda ini. Ada sesuatu yang salah, dan aku harus mencari tahu apa yang terjadi. Namun, ketakutan yang lebih besar menghalangiku. Apa yang akan terjadi jika semua kekhawatiranku terbukti benar?
Dengan tangan gemetar, aku membuka kalender di ponselku. Bulan ini sudah hampir berakhir, dan aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku mendapat haid. Bulan lalu, siklusku terasa normal, tapi kali ini-tidak ada. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada peringatan. Ini tak mungkin hanya karena stres. Tubuhku memberitahuku sesuatu yang lebih serius.
Setelah beberapa saat merenung, aku memutuskan untuk mengambil langkah pertama. Aku pergi ke apotek terdekat untuk membeli test pack. Rasanya seperti berada dalam mimpi buruk saat aku melangkahkan kaki ke sana. Setiap langkah terasa berat, dan napasku terasa sesak. Ketakutan akan hasilnya menambah beban di dadaku, tetapi aku tahu aku tidak bisa mundur lagi. Untung saja Mama dan Papa masih berkutat di kantor hanya ada mbok Inem dan Mang Diman yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Kenapa Non?"
"Ini Bi, saya mau keluar sebentar."
"Tadi non kenapa? Muntah-muntah, sakit?"
Aku segera menghilangkan rasa gugupku pada Mbok Inem yang mungkin sebenarnya masih berpengalaman.
"Sedikit pusing mungkin masuk angin,tapi enggak apa-apa Mbok ini udah baikkan."
Sesampainya di apotek, aku menundukkan kepala, berusaha menghindari tatapan siapa pun. Ketika petugas apotek memberikan barang yang kupesan, aku merasa malu, seolah-olah mereka bisa mengetahui apa yang sedang aku alami. Padahal, aku tahu mereka tidak tahu apa-apa.
Setelah mendapatkan apa yang kubutuhkan, aku kembali ke rumah dan segera menuju kamar mandi. Dengan tangan gemetar, aku membuka bungkus test pack itu dan melanjutkan prosedurnya. Detik-detik menunggu hasil terasa seperti seabad. Dadaku berdebar kencang, tanganku dingin. Aku berusaha keras menenangkan diri, tapi tidak ada yang bisa membuatku merasa lebih baik saat itu.
Dan kemudian, hasilnya muncul.
Dua garis.
Aku menatap test pack itu, seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku menggenggam alat kecil itu erat-erat, jantungku hampir berhenti berdetak. Dua garis itu sangat jelas-tidak ada ruang untuk keraguan. Aku positif hamil.
Segalanya seolah runtuh di hadapanku. Seluruh dunia terasa berputar, dan aku jatuh terduduk di lantai kamar mandi, air mata mulai mengalir tanpa bisa kuhentikan. Ini tak mungkin. Aku masih belum siap. Bagaimana mungkin ini terjadi padaku? Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Pikiran tentang masa depan melintas cepat di benakku. Bagaimana aku akan menjelaskan ini pada keluargaku? Pada Dinda? Dan yang lebih menakutkan, bagaimana dengan Pak Kades? Dia mungkin tidak tahu, tetapi aku tahu. Bagaimana jika dia mencoba mendekatiku lagi setelah tahu ini? Bagaimana jika dia menganggap ini sebagai jalan untuk masuk kembali ke hidupku?
Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia mengendalikanku lagi. Tapi apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengatakan kepada seseorang? Apakah aku harus menyembunyikan ini selamanya? Rasa takut dan bingung terus bergelayut di dalam pikiranku. Aku merasa terjebak, seperti berada dalam perangkap yang tak bisa kuloloskan.
Sambil menangis di lantai kamar mandi, aku mencoba berpikir jernih, tetapi tak ada jawaban yang terasa tepat. Semua ini terlalu cepat, terlalu mendadak. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Apa yang akan terjadi dengan hidupku? Apakah aku harus menghentikan kuliahku? Bagaimana dengan keluarga dan teman-temanku?
Setelah beberapa saat, aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diriku. Meski terasa mustahil, aku harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku tahu ini bukan hal yang bisa kuabaikan. Hidupku mungkin berubah selamanya, tetapi aku harus mulai menghadapi kenyataan ini.
Aku memutuskan untuk menemui dokter keesokan harinya. Langkah itu terasa seperti keputusan paling berat yang pernah kuambil, tapi aku tahu aku tidak bisa melarikan diri dari kenyataan ini selamanya. Apapun hasil dari pertemuan itu, aku harus mulai merencanakan bagaimana cara menghadapi ini. Aku harus kuat, walau rasanya aku tak punya kekuatan sama sekali.
Pagi harinya, aku pergi ke klinik sendirian. Duduk di ruang tunggu, jantungku berdebar kencang. Ruangan itu penuh orang, tetapi rasanya seperti hanya ada aku di sana, sendirian menghadapi ketakutan yang kian menumpuk. Ketika namaku dipanggil, kakiku terasa lemas. Tapi aku memaksakan diri untuk bangkit dan melangkah ke dalam ruangan dokter.
"Selamat pagi, Raya," kata dokter dengan senyum ramah. "Bagaimana saya bisa membantu hari ini?"
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menjelaskan situasiku. Setiap kata yang keluar dari mulutku terasa berat, seolah aku mengeluarkan beban yang selama ini tertahan di dadaku. Dokter mendengarkan dengan sabar, dan setelah pemeriksaan singkat, dia mengkonfirmasi apa yang sudah kutakutkan. Aku memang hamil.
"Kenapa tidak menceritakan semuanya pada orang tua kamu Ray? Pria itu harus bertanggung jawab."
"Tidak dok, dia sudah beristri dan aku lihat dia juga sudah punya anak, saya tidak mau merusak rumah tangga orang."
"Dan kamu hanya menderita sendirian? Jika dia tahu saya pikir dia akan bertanggung jawab, hamil sendirian dan melahirkan itu tidak mudah kamu butuh suport setidaknya."
"Saya bisa sendiri dok."
Seolah menguatkan dokter pun menggenggam tangan saya, dia pun memberikan nomor ponselnya, agar aku bebas berkonsultasi. Aku seolah memiliki pendukung baru.
Air mata mengalir lagi, tapi kali ini aku berusaha untuk tetap tegar. Aku tahu, menangis tidak akan mengubah apapun. Aku harus mulai membuat keputusan tentang masa depanku, meskipun aku belum tahu bagaimana caranya. Dokter memberiku beberapa opsi dan memberikan nasihat yang baik, tetapi keputusan terakhir ada di tanganku. Dan aku tahu, apapun yang aku pilih, hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Setelah keluar dari klinik, aku merasa berat di dadaku sedikit berkurang, tapi bukan berarti masalahku sudah selesai. Aku masih harus menghadapi kenyataan yang tak terhindarkan ini. Perasaan cemas dan takut terus menghantui pikiranku. Setiap langkahku pulang terasa semakin sulit, seolah-olah seluruh dunia berubah menjadi lebih gelap dan lebih berat.
Di rumah, aku mengunci diri di kamar, berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit. Pikiran tentang apa yang harus kulakukan terus berputar. Hanya aku yang tahu masalah ini, dan aku tak tahu harus memulai dari mana untuk menghadapinya. Aku mencoba berpikir rasional, tapi ketakutan dan kekhawatiran selalu lebih besar.
Sejak pulang dari klinik, aku semakin yakin bahwa aku tidak bisa menyelesaikan ini sendiri. Namun, kepada siapa aku harus bercerita? Aku tidak siap mengatakan ini pada mama atau keluargaku. Mereka pasti akan kecewa, dan aku tak sanggup melihat tatapan penuh penilaian dari orang-orang yang paling aku cintai. Dinda mungkin akan mengerti, tapi jika dia tahu, dia pasti akan mendesakku untuk melakukan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum siap melakukannya.
Namun, yang paling membuatku takut adalah apa yang akan terjadi jika Pak Kades tahu. Jika dia mengetahui aku hamil, dia bisa saja menggunakan ini sebagai alasan untuk mendekatiku lagi. Pikiran itu membuatku merinding. Aku tidak bisa membayangkan harus berurusan dengannya lagi, apalagi dengan situasi ini. Tidak, aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Dalam kebingungan ini, aku teringat pada salah satu nasihat dari dokter yang kutemui. Dia bilang bahwa tidak ada keputusan yang mudah dalam situasi seperti ini, tetapi yang terpenting adalah aku harus mengutamakan diriku sendiri-kesehatan fisik dan mentalku. Itulah prioritas utamaku saat ini.
Aku memutuskan untuk menenangkan diri, setidaknya untuk malam ini. Tidak ada gunanya terus-menerus merasa takut dan cemas tanpa tahu langkah apa yang akan kuambil. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal dan berharap esok hari, dengan pikiran yang lebih jernih, aku bisa melihat situasi ini dengan lebih baik.
"Ray...Raya buka pintunya Nak," dengan Malas aku membuka pintu kamarku, namun aku tahu mungkin saja Mama akan syok melihat penampilanku saat ini.
"Hey, kamu kenapa sayang? Sakit? Kamu habis menangis?"
"Tidak Ma, tidak enak badan aja, Raya mau bobo."
"Enggak makan malam dulu?"
Aku pun menggeleng tidak ada nafsu makanku kali ini setelah semua benar-benar rumit.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan yang masih tidak menentu, tapi setidaknya aku merasa sedikit lebih tenang. Setelah mandi dan sarapan, aku duduk di meja belajar, mencoba berpikir jernih. Aku membuka laptop dan mulai mencari informasi tentang berbagai opsi yang bisa kuambil dalam situasi ini. Ada begitu banyak hal yang perlu kupertimbangkan, dan aku tahu tidak ada jalan yang benar-benar mudah.
Saat aku sedang tenggelam dalam pikiran, ponselku berdering. Nomor tak dikenal. Aku terdiam sejenak, takut bahwa itu adalah Pak Kades lagi. Namun, rasa penasaran membuatku menjawab panggilan itu.
"Raya?" Suara di ujung telepon terdengar sangat familiar. Hatiku langsung terasa berat.
"Iya, Din,Lu pakai nomor baru" jawabku pelan.
"Ini aku, Dinda. Gue dapat kabar dari Pak Kades, dia sempat nanyain lo lagi. Lo kenapa enggak pernah bales pesannya? Dia bilang dia mau bertanggung jawab kalo ada masalah," Dinda berbicara dengan nada netral, mungkin dia belum tahu apa-apa, tapi kata-katanya langsung membuat dadaku terasa sesak. Takut jika Pak Kades berterus terang pada temanku Dinda.
Aku terdiam, jantungku berdetak lebih cepat. Kata-kata 'bertanggung jawab' itu membuatku merasa muak. Dia tidak tahu betapa besar luka yang dia timbulkan, dan sekarang dia mengaku ingin bertanggung jawab? Bagiku, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.
"Dinda... gue gak bisa ngomong soal itu sekarang," kataku, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Ray, lo baik-baik aja kan? Gue bisa datang ke tempat lo kalo lo butuh temen buat cerita," suara Dinda berubah lembut, terdengar benar-benar khawatir.
Aku terdiam beberapa saat, dan akhirnya air mata itu jatuh. "Gue... gue gak tahu harus gimana, Din," kataku dengan suara yang bergetar. "Semua ini terlalu berat buat gue."
Dinda terdiam di seberang telepon, seolah menunggu aku melanjutkan. Aku tidak pernah merasa seputus asa ini dalam hidupku, tapi saat itu, aku sadar bahwa aku tidak bisa menyimpan semua ini sendiri. Jika aku terus memendamnya, aku hanya akan hancur lebih dalam.
"Dinda, gue... gue hamil," aku akhirnya mengakui dengan suara yang hampir berbisik, tapi kata-kata itu terdengar jelas di telingaku sendiri. Ada kelegaan kecil yang kurasakan, meskipun rasa takut itu masih menggantung di udara.
Dinda terdiam lama, begitu lama hingga aku berpikir bahwa dia mungkin terkejut. Namun, ketika dia akhirnya berbicara, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh pengertian.
"Ray... lo nggak sendirian. Gue akan ada buat lo. Kita cari jalan keluar sama-sama, oke?" katanya dengan penuh kepastian.
Aku mulai menangis lagi, tapi kali ini bukan karena rasa takut, melainkan rasa lega. Aku tidak perlu menghadapi ini sendiri. Meski jalan yang ada di depanku masih panjang dan penuh tantangan, setidaknya aku tahu bahwa aku memiliki seseorang yang akan mendukungku. Itu adalah langkah kecil, tapi penting. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa menemukan jalan keluar dari semua ini.
Setelah panggilan telepon dengan Dinda, aku merasa sedikit lebih ringan. Walaupun masalah ini jauh dari selesai, setidaknya aku tahu bahwa ada seseorang yang bisa kuandalkan. Malam itu aku bisa tidur sedikit lebih nyenyak, tapi kecemasan tetap menghantuiku. Keputusan-keputusan besar masih harus diambil, dan aku belum tahu langkah apa yang harus kuambil berikutnya.
Keesokan harinya, Dinda datang ke rumah. Dia tidak banyak bicara ketika melihatku, hanya langsung memelukku erat. Aku tak bisa menahan air mata, semuanya terasa begitu berat. Dalam pelukan Dinda, aku merasa ada ruang untuk melepaskan beban yang selama ini kutahan.Cer
"Ceritakan yang terjadi Ray, Lu jangan diem aja. Gue selalu ada disamping Lu. Davin menghamili Lu?"
Ya Davin adalah kekasih aku, tapi hubungan kami jarak jauh karena dia sedang kuliah di Jogja dan sedang mengurus skripsi. Aku kembali menggeleng dan itu membuat Dinda penasaran.
Setelah beberapa saat, kami duduk di sofa. Dinda tidak memaksaku untuk berbicara lebih dulu. Dia menungguku siap untuk menceritakan semuanya. Saat akhirnya aku mulai bicara, suaraku bergetar, tapi aku tahu aku harus melakukannya. Dia begitu syok mendengar ceritaku apalagi ada sangkut pautan dengan pak Kades, pantas saja pikir Dinda pria itu sering menghubunginya menanyakan Raya. Dan dia baru ingat alasan Raya kenapa tidak kembali lagi ke desa itu.
"Dinda... gue nggak tahu harus mulai dari mana," kataku dengan suara lemah. "Semua ini... semuanya terjadi begitu cepat. Gue gak bisa berhenti merasa kalau ini semua salah gue."
Dinda menggeleng pelan, matanya penuh pengertian. "Ray, ini bukan salah lo. Jangan pernah berpikir kayak gitu. Yang lo alami itu bukan sesuatu yang lo minta. Lo nggak harus menanggung semua ini sendirian."
Aku terdiam, menyerap kata-kata itu. Meskipun aku tahu secara logis bahwa apa yang Dinda katakan benar, perasaan bersalah dan malu itu tetap ada. Aku merasa kotor, seolah-olah hidupku telah ternoda selamanya.
"Gue nggak tahu harus gimana, Din. Gue takut ngasih tahu keluarga gue. Gue takut mereka akan kecewa banget sama gue," lanjutku, air mata mulai mengalir lagi. "Gue juga nggak tahu apa yang akan terjadi dengan kuliah gue, sama masa depan gue... semuanya jadi terasa kabur."
Dinda menarik napas panjang, lalu menggenggam tanganku dengan erat. "Ray, lo punya hak buat nentuin jalan hidup lo sendiri. Gue tahu situasinya berat banget, tapi apapun yang lo pilih nanti, gue akan ada buat lo. Kita bisa nyari bantuan, tapi lo gak harus ngambil keputusan sekarang juga."
Aku mengangguk pelan, meskipun dalam hati masih ada perasaan bingung. Setidaknya, aku punya waktu untuk memikirkan semuanya dengan lebih tenang. Tidak ada paksaan untuk segera membuat keputusan, dan itu sedikit melegakan.
"Lo nggak harus buru-buru, Ray," Dinda melanjutkan dengan lembut. "Tapi lo juga harus inget kalau lo nggak sendirian. Gue ada di sini, dan kalau lo butuh bantuan lebih, kita bisa cari sama-sama."
Aku kembali terisak, tapi kali ini rasanya bukan karena keputusasaan, melainkan karena perasaan hangat yang mulai muncul di tengah kegelapan. Dinda benar, aku tidak harus menjalani ini sendirian. Ada orang yang peduli dan siap membantuku, bahkan ketika aku merasa hancur.
Satu hari, Dinda mengajakku untuk pergi ke taman. Di sana, kami duduk di bangku, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapu wajah kami. Setelah beberapa saat hening, Dinda memecah keheningan.
"Ray, lo udah kepikiran mau ngapain? Maksud gue, setelah semua ini, lo mau gimana ke depannya?"
Aku terdiam sejenak, merenung. Pertanyaan itu sangat besar dan sulit dijawab. Tapi setelah semua yang kulalui, aku merasa perlahan mulai memahami apa yang aku inginkan.
"Gue belum sepenuhnya yakin, Din," jawabku pelan. "Tapi satu hal yang pasti, gue nggak mau terus hidup dalam ketakutan. Gue tahu ini nggak akan mudah, tapi gue harus melanjutkan hidup gue. Gue nggak bisa terus terperangkap di masa lalu."
Dinda tersenyum mendengar jawabanku. "Itu langkah yang bagus, Ray. Gue tahu lo kuat. Lo udah bisa sampai sini, itu berarti lo lebih kuat dari yang lo kira."
"Seandainya Lu harus memilih, lebih baik memilih yang mana? berterus terang sama pak Kades atau keluarga Lu Ray?"
Aku terdiam entah pilihan mana yang akan aku pilih
Anda Mungkin Juga Suka





