Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri ke 96 Sang Raja Muda

Istri ke 96 Sang Raja Muda

Di Kerajaan Khorasan, Fatima El Sayeed hidup terasing karena fisiknya yang dianggap kurang menarik dan latar belakang ibunya. Meski dikucilkan ayahnya, ia memiliki daya imajinasi luar biasa. Suatu hari, seorang raja kejam yang gemar membunuh pasangannya memilih Fatima sebagai istri ke-96. Terinspirasi dari kisah 1001 malam, Fatima kini harus berjuang bertahan hidup melalui kemampuan bercerita demi meredam amarah sang raja gila dan menyelamatkan nyawanya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Baiklah, kita kembali ke kelas sekarang."

Fatima tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya, jadi ia hanya mengangguk dan mengikuti Hossein berjalan keluar dari gudang melewati lorong bangunan berdinding batu menuju ke kelas mereka.

Guru mereka, Ibn Sani sudah memulai pelajaran ketika keduanya masuk. Mengabaikan pandangan murid di dalam kelas, Hossein menghampiri ayahnya dan meraih tangan pria itu untuk dicium.

"Mawlawi, aku perlu meminta maaf padamu."

"Oh?" Ibn Sina menaikkan alisnya. "Bicaralah."

Dari tempat Fatima berdiri wajah pria itu terlihat dingin dan tegas. Fatima seketika kembali ketakutan.

"Aku sudah membuat Fatima terlambat."

Sang guru menoleh ke arah Fatima. "Ah, ya. Putri Saheer."

"Ya. Tapi bukan salahnya ia terlambat. Aku lupa memberitahumu bahwa aku meminta bantuannya untuk merapikan gudang."

Detak jantung Fatima berada di tenggorokan sekarang. Ia sedang menunggu kemarahan dari Sang Guru. Tapi pria itu hanya menatap wajah putranya dengan pandangan penasaran sebelum kemudian beralih kepada Fatima dan mengangguk.

"Baiklah kalau begitu. Lain kali beritahu aku jika kau hendak membuat seseorang terlambat, Hossein. Sekarang, duduk kalian berdua. Aku ingin melanjutkan pelajaran."

"Ya, Mawlawi."

Begitu Hossein dan Fatima mendudukkan diri di antara murid yang lain, Ibn Sani melanjutkan pelajarannya.

Entah berapa lama Fatima berada di dalam ruang kelas, ia tidak memperhatikan. Fatima bahkan tidak mendengarkan apa saja yang diajarkan oleh Ibn Sani hari itu, benaknya tidak bisa berhenti memikirkan tentang bocah yang duduk di sebelahnya, bertanya-tanya mengapa Hossein bersikap baik kepadanya.

Ketika jam istirahat tiba, Fatima berbaris bersama murid yang lain untuk mendapatkan makan siang.

Ruang makan di sekolah mereka berada di luar dan terbuka. Cukup besar untuk menampung puluhan murid yang ada di sana. Menu hari itu simpel tapi banyak. Kari kacang merah dan roti tebal yang dioles dengan keju berempah.

Murid-murid di sekolah Ibn Sani berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak saudagar kaya hingga anak pedagang pasar. Semua terlihat berbaur menjadi satu di tempat itu.

Fatima memilih meja paling ujung yang kosong dan meraih roti yang ada di piring. Remahannya yang terasa kasar melawan jemarinya membuat nafsu makannya lenyap.

Fatima mendorong piringnya menjauh dan menoleh ke meja sebelah. Ia melihat Hossein dan beberapa temannya bercakap-cakap tentang permainan dadu yang sering mereka mainkan ketika jam istirahat.

Di tengah percakapan, Hossein berdiri dan meraih mangkuk berisi buah ara yang ada di atas meja. Bocah itu meraih beberapa dan dengan lemparan tangannya, Hossein melambungkan buah itu satu persatu ke udara sebelum menangkapnya kembali.

Hossein menambahkan satu lagi, lalu satu lagi, hingga kini ada empat buah beterbangan membentuk lingkaran.

Anak-anak yang ada di meja Hossein bersorak dan bertepuk tangan. Lagi! Lagi!

Semakin banyak buah melayang, semakin cepat lingkaran berputar hingga terlihat seakan tidak menyentuh tangan terampil bocah itu. Semakin nyaring pula teriakan anak-anak yang ada di ruang makan.

Pandangan mata Hossein yang tadinya mengikuti pergerakan buah ara mendadak beralih ke arah Fatima. Gadis itu tidak sempat mengalihkan pandangannya sebelum Hossein berkata, "Tangkap."

Satu buah ara meluncur keluar dari pola lingkaran di tangan Hossein dan terlempar ke arah Fatima. Buah itu terjatuh tepat ke dalam telapak tangan Fatima dengan anggunnya dan suara teriakan kembali terdengar.

Satu persatu, Hossein menangkap buah ara yang dimainkannya dan mengembalikannya ke mangkuk kecuali yang terakhir, yang digigit dan di makannya.

Tanpa berpikir, Fatima melakukan hal yang sama dengan buah yang dilemparkan oleh Hossein kepadanya. Jusnya yang manis menyembur ke dalam mulut Fatima, memenuhi lidah gadis itu dengan dagingnya yang lembut. Seketika Fatima menyukai buah ara.

***

***

Pertemanan Fatima dan Hossein datang layaknya air bah setelah itu.

Sebelumnya, Fatima melihat Hossein sebagai anak yang serius dan kaku. Tapi Kini Fatima sadar bahwa dibalik penampilan Hossein yang tenang, ada wajah lain yang penuh dengan kekonyolan.

Hossein senang ketika bisa membuat orang lain tertawa. Entah berapa kali anak laki-laki itu berusaha menangkap benda dengan mata tertutup saat istirahat, atau bertaruh bisa melompati meja dan kursi dengan teman-temannya. Dan ketika melihat Hossein tertawa dengan matanya yang menyipit, mau tidak mau Fatima juga jadi ingin ikut tertawa.

Hossein layaknya sebuah api di padang pasir, memanggil semua ngengat untuk berkumpul ketika menyala.

Tapi di antara permainan Hossein dengan teman-temannya, ia selalu duduk bersama Fatima ketika jam makan. Hossein akan menceritakan kebiasaan-kebiasaannya di rumah. Kedua adik laki-lakinya yang nakal. Ayahnya yang tegas tapi selalu bersikap adil. Ibunya yang pandai memasak dan penuh kasih sayang.

Awalnya Fatima hanya mendengarkan, tapi lama kelamaan lidah gadis itu mulai mencair dan Fatima pun mulai membuka diri. Ia bercerita tentang ayahnya, bagaimana pemarahnya pria itu. Ia bercerita tentang kedua adiknya, Shahira yang sering iri dan Khallid yang mengikutinya ke mana-mana. Ia bercerita tentang ibu kandung dan ibu tirinya. Ia bahkan menceritakan tentang apa saja yang dibayangkannya ketika melamun di antara pelajaran kelas. Cerita-cerita yang dikarangnya dan petualangan yang dialaminya di dalam kepala.

Awalnya Fatima mengira Hossein akan mengejek dan menganggapnya aneh, seperti yang dilakukan ayahnya. Tapi Hossein tidak melakukannya. Hingga suatu kali, Fatima akhirnya menanyakan pertanyaan yang sejak lama ingin ditanyakannya.

"Mengapa kau memilih berteman denganku?"

"Maksudnya?" Hossein balik bertanya dengan kepala memiring.

"Ada banyak murid di sekolah ini yang bersedia menjadi temanmu. Mengapa kau memilih untuk duduk denganku setiap makan siang?"

"Entahlah." Hossein mengedikkan bahu. "Kau tidak seperti dugaanku. Kau menarik."

"Menarik?"

"Ya." Hossein tidak menjelaskan lebih jauh meskipun Fatima berharap.

Fatima mengerutkan bibirnya. Jika ada orang yang menganggap ia menarik, maka Hossein adalah satu-satunya.

Berada di sekolah itu selama beberapa bulan, Fatima selalu kesulitan mengikuti pelajaran. Ibn Sani bahkan berkali-kali harus memberinya pelajaran tambahan agar tidak tertinggal semakin jauh. Penampilannya tentunya juga tidak bisa dibilang menarik. Di antara teman sebayanya ia paling tinggi. Kadang ia membungkukkan punggungnya hanya agar tidak terlihat terlalu mencolok. Apa yang dilakukan Fatima tidak berhasil tentunya. Teman-temannya kini malah memanggilnya 'Gadis Bungkuk'.

"Aku hanyalah gadis jelek yang bodoh, Hossein. Berteman denganku hanya akan membuat reputasimu jelek."

"Kau tidak bodoh," Hossein menjawab. "Dan reputasiku tidak akan terpengaruh hanya karena aku berteman denganmu."

Cara Hossein mengatakannya tidak terdengar angkuh atau sombong. Hanya jujur. Perlahan, Fatima akhirnya berhenti bertanya-tanya dan mencari ekor scorpion dari apa yang dilakukan Hossein.

Hossein berkata apa yang ada dalam benaknya dan heran ketika orang lain melakukan kebalikannya. Orang kadang menyamakan kepolosan bocah itu dengan kenaifan, tapi justru itulah yang membuat Hossein berbeda dengan kebanyakan.

Kadang di hari libur, Hossein mengajak Fatima bermain ke luar rumah. Kadang mereka jalan-jalan ke pasar yang ramai, kadang mereka duduk-duduk di bawah pohon palem sambil mengamati orang yang berlalu lalang.

Fatima akan menciptakan permainan untuk dimainkan bersama.

"Tebak apa yang aku lihat," ia akan bertanya.

Burung elang yang sedang lewat di atas kepala.

Salah satu tetangga mereka yang bermata juling.

Pedagang makanan yang sedang lewat.

Tidak ada kata bosan ketika Fatima bersama dengan Hossein.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menjadi Luna Orang Lain
9.5
Tujuh tahun mengabdi, Sylvie justru dikhianati Ethan Hudson demi serigala muda. Tanpa memohon, ia membuang simbol ikatan mereka dan pergi selamanya. Ethan dan kawan-kawannya bertaruh Sylvie akan kembali menangis dalam tiga hari, namun perkiraan itu meleset. Saat Ethan mulai panik dan menghubungi Sylvie, Victor Wilson yang merupakan rivalnya justru menjawab. Di pelukan Victor, Sylvie telah memulai hidup baru, meninggalkan Ethan yang kini meraung dalam penyesalan mendalam.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Raja Alfa, Dendam Diamku
9.5
Tiga tahun mendampingi Alpha Kaelan, aku hanyalah bayang-bayang Lyra, bibiku sendiri. Saat ayahku wafat, Kaelan justru mengabaikanku demi wanita itu di Paris. Kebenaran pahit terungkap di ruang rahasianya; seluruh pertemuan kami hanyalah rekayasa agar dia memiliki pengganti Lyra. Kini, mengandung benihnya, aku membalas dendam dengan tipu daya. Menggunakan sihir untuk menyembunyikan kehamilan dan surat penolakan resmi, aku pergi selamanya menuju benua baru.
Sampul Novel Dia Memilih Kakak Angkatnya
9.4
Alpha Carl mendadak menghentikan operasi saat skalpelnya sudah merobek kulitku. Panggilan darurat dari Bianca, adik angkatnya yang mencoba bunuh diri, membuatnya tega menelantarkanku di meja bedah dengan perut terbuka. Tanpa ragu, Carl menyerahkan nyawaku kepada Alpha Arthur lalu pergi begitu saja. Di tengah isak tangis dan rasa sakit yang menghunjam, Arthur melanjutkan prosedur itu dengan dingin sambil menjamin bahwa aku tidak akan mati di tangannya.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, putra Prabasari dan Baron Smith, memulai misi baru mencari sang ayah. Berbekal pusaka Pedang Kebenaran Sejati serta teknik Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia menghadapi kerasnya dunia persilatan. Meski lahir dari hubungan gelap, tekadnya tak tergoyahkan. Segala rintangan dan musuh yang menghadang diterjang demi menuntaskan pencariannya. Sebuah petualangan penuh aksi dalam membuktikan keteguhan hati di tengah pahitnya konflik.
Sampul Novel Purwoko Family: Selipan Utara
8.8
Pasca kebangkrutan, Pak Purwoko memboyong keluarganya pulang ke kampung demi ketenangan. Namun, kenyataan pahit menanti karena dalang kehancuran bisnisnya ternyata berada di sana. Mereka terjebak dalam konflik lama terkait perebutan usaha penggilingan padi antara orang tua Purwoko dan rivalnya. Teror mencekam langsung menyambut kedatangan mereka, mengancam keselamatan seluruh anggota keluarga. Mampukah Pak Purwoko menghadapi masa lalu dan keluar dari kemelut ini?