Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri ke 96 Sang Raja Muda

Istri ke 96 Sang Raja Muda

Di Kerajaan Khorasan, Fatima El Sayeed hidup terasing karena fisiknya yang dianggap kurang menarik dan latar belakang ibunya. Meski dikucilkan ayahnya, ia memiliki daya imajinasi luar biasa. Suatu hari, seorang raja kejam yang gemar membunuh pasangannya memilih Fatima sebagai istri ke-96. Terinspirasi dari kisah 1001 malam, Fatima kini harus berjuang bertahan hidup melalui kemampuan bercerita demi meredam amarah sang raja gila dan menyelamatkan nyawanya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Fatima duduk di lorong rumahnya suatu hari. Di tangannya terdapat sebuah buku, sebuah hadiah ulang tahunnya yang ke sebelas. Bukan dari ayahnya, pria itu tidak pernah memberinya apa-apa. Bukan juga dari ibu tirinya, wanita itu tidak pernah menganggapnya ada.

Hossein yang memberikan buku itu kepada Fatima.

Benda itu sangat indah di mata Fatima, berjilid dari kulit yang di cat dengan warna ungu dan halus ketika dipegang. Di sampulnya tertulis: Dongeng 1001 Malam.

Baru saja Fatima membuka sampul buku itu, Shahira muncul.

Adik tirinya itu kini berusia enam tahun. Tinggi untuk anak seusianya dan cantik. Mata lebar Shahira membesar melihat buku di tangan Fatma. Gadis itu menjulurkan tangannya.

"Sini, aku mau lihat."

"Tidak boleh."

Fatima mendekap bukunya, tidak ingin Shahira merebut. Adik tirinya itu memang kerap iri dengan benda apapun yang dimiliki Fatima dan sering bersikap semena-mena. Shahira melakukannya karena ia tahu ayah mereka pasti akan membela.

"Aku ingin buku itu." Shahira bahkan tidak perlu mengancam Fatma.

"Tidak."

Shahira melangkah maju. "Berikan padaku."

"Buku ini milikku," Fatima membalas dengan gigi mengerat layaknya seekor kucing yang mempertahankan ikan asin.

Shahira ingin meraih buku itu, tapi Fatima berdiri dan mendorong. Shahira yang lebih pendek terhuyung ke belakang dan semakin marah.

"Hei! Berani-beraninya kau mendorongku," Shahira menjerit ke arah kakak tirinya dan menyerang maju dengan wajah merah.

Secara refleks, Fatima melompat mundur.

Shahira tersenyum mengejek melihatnya.

"Cih! Dasar penakut," bocah itu mendecih.

"Siapa bilang? Aku tidak takut kepadamu." Suara Fatima melengking tinggi sementara wajahnya memanas.

"Baba mengatakan bahwa kau adalah gadis bodoh." Kata-kata Shahira yang penuh ejekan diucapkan oleh gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.

"Tidak mungkin Baba berkata seperti itu," Fatima menyangkal meski ia tahu Saheer sering melakukannya.

Shahira mendekat dan mendelik.

"Apakah kau mengataiku pembohong, Fatima Bodoh Yang Bungkuk?"

Fatima tahu apa yang dilakukan Shahira. Gadis itu sengaja ingin ia menyerang duluan. Fatima sudah bisa membayangkan apa yang dikatakan oleh ayahnya jika ia memulai perkelahian dengan Shahira.

Gadis bodoh! Minta maaf pada Shahira atau aku akan melecutmu!

Fatima mengeratkan rahangnya menahan mulutnya untuk membalas, tapi ketika Shahira menyambar buku di tangannya, Fatima kehilangan kesabaran. Ia mendorong Shahira sekeras mungkin hingga gadis itu terjatuh. Dahi Shahira membentur dinding rumah yang terbuat dari batu.

Shahira meraba kepalanya dan membelalak ketika melihat sedikit darah mengalir keluar.

Sementara Fatima mengamati dengan tenggorokan tercekik, Shahira berdiri dan berlarian sambil menangis dan menjerit.

Matilah ia, Fatima berpikir.

Benar saja, tak lama terdengar suara teriakan Saheer yang memanggilnya.

Lemas dan pucat, dengan buku pemberian Hossein erat dalam pelukan, Fatima menatap wajah ayahnya yang marah. Bibir pria itu tertarik ke samping, menampakkan giginya yang kuning.

"Mengapa kau mendorong Shahira, Fatima?" Saheer bertanya dengan wajah merah padam sambil memeluk Shahira yang menangis.

"I-ia yang memulai, Baba. Shahira merebut buku yang diberikan oleh Hossein kepadaku."

"Bohong!" Shahira menyela. Wajah gadis itu penuh air mata. Dahinya yang terbentur masih sudah tidak lagi berdarah tapi masih terlihat memerah.

"Aku hanya ingin meminjam, Baba." Shahira kembali menangis, membuat suaranya menjadi terputus-putus. "T-tapi Fatima tidak mau me-membagi. Me-me-mengapa ia selalu jahat kepadaku, Baba."

Shahira kembali memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sendu.

"Berikan buku itu kepada Shahira, Fatima!" Saheer membentak.

"Tapi, Baba—"

Saheer membelalakkan matanya penuh ancaman.

Fatima membeku, tertangkap antara kemarahannya kepada Shahira dan ketakutannya akan ayahnya. Rasa takut pada ayahnya menang.

Sambil menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis, Fatima menyerahkan buku pemberian Hossein kepada adiknya.

Tidak selesai sampai di sana, ayahnya melecut Fatima sepuluh kali karena sudah berani melukai Sang Putri kesayangan.

Keesokan paginya di sekolah, dengan pantat panas bekas lecutan dan wajah cemberut, Fatima menceritakan apa yang terjadi kepada Hossein.

"Maaf kau harus mengalami hal tidak adil seperti itu, Fatima," Hossein berkomentar ketika Fatima selesai bercerita.

Kini sama-sama sebelas tahun, meski masih lebih pendek dari Fatima, tapi wajah Hossein tidak lagi terlihat kekanak-kanakan, melainkan penuh dengan kebajikan seperti ayahnya.

"Apakah kau tidak apa-apa?" Hossein bertanya.

"Ya, hanya kesal."

Hossein mengangguk seakan mengerti. "Akupun juga akan kesal jika berada di posisimu."

Fatima ikut mengangguk. Kini keduanya terlihat layaknya dua anak burung yang menggerakkan kepala.

"Lupakan soal buku itu," Hossein berkata setelah beberapa saat kesunyian. "Bagaimana kalau kau membantuku bermain bola?"

"Aku tidak tahu caranya."

"Kau tidak perlu tahu. Aku akan menunjukkan padamu."

Fatima ingin menolak. Ia tidak ahli bermain bola seperti Hossein. Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan temannya. Tapi wajah Hossein yang penuh harapan membuat Fatima akhirnya mengangguk.

"Baiklah."

"Berapa yang bisa kau pegang?"

"Entahlah."

Hossein meraih tangan Fatima dan berkata, "Lebarkan telapak tanganmu."

Fatima melakukan permintaan Hossein. Temannya itu melekatkan telapak tangannya ke atas milik Fatima dan mendadak detak jantung Fatima terasa semakin cepat. Kulit Hossein terasa lembut dan berpasir. Jemarinya yang empuk melekat hangat di telapak Fatima.

"Hampir sama lebar. Mungkin akan lebih mudah jika kau mulai dengan dua bola." Hossein meraih ke dalam tasnya dan mengeluarkan enam bola berlapis kulit yang sering digunakannya untuk bermain dan menyerahkan dua kepada Fatima.

"Ketika aku suruh, lempar satu padaku," Hossein berkata. "Apakah kau mengerti?"

Biasanya, Fatima akan jengkel ketika seseorang memberinya perintah. Tapi ketika Hossein yang mengatakannya, kata-kata temannya itu tidak terdengar seperti perintah. Fatima pun mengangguk.

Hossein mulai memutar empat bola di tangannya seperti yang ia lakukan dengan buah ara di ruang makan ketika itu.

"Sekarang," Hossein berkata.

Fatima melemparkan satu bola dari tangannya menuju Hossein. Temannya itu menangkap dan dengan mulusnya dan menambahkannya ke dalam putaran bola-bola di tangan.

"Lagi, Fatima," Hossein berkata.

Fatima melemparkan lagi satu bola di tangannya dan seperti sebelumnya, bergabung dengan yang lain dengan mulusnya.

"Kau melakukannya dengan sangat baik, Fatima," Hossein memuji.

Fatima mengernyitkan dahinya bertanya-tanya apakah temannya itu mengejek. Tapi wajah Hossein yang tulus membuat Fatima tersipu malu.

"Tangkap."

Sebuah bola melayang kembali ke arah Fatima.

Fatima menangkap bola yang dilemparkan Hossein dengan mudahnya. Mereka berdua tertawa satu sama lain setiap Hossein meminta atau melemparkan bola ke arah Fatima. Setelah beberapa saat, Hossein berhenti dan mengumpulkan bola-bola itu kembali ke dalam tas.

"Pelajaran sudah mau dimulai, sebaiknya kita masuk sebelum ayah marah," Hossein berkata.

Dengan perasaan ringan, Fatima ikut berdiri dan berjalan mengikuti Hossein.

Bagi Fatima saat itu, tidak ada kata sedih ketika ia bersama Hossein.

***

***

bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NYH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NYH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menjadi Luna Orang Lain
9.5
Tujuh tahun mengabdi, Sylvie justru dikhianati Ethan Hudson demi serigala muda. Tanpa memohon, ia membuang simbol ikatan mereka dan pergi selamanya. Ethan dan kawan-kawannya bertaruh Sylvie akan kembali menangis dalam tiga hari, namun perkiraan itu meleset. Saat Ethan mulai panik dan menghubungi Sylvie, Victor Wilson yang merupakan rivalnya justru menjawab. Di pelukan Victor, Sylvie telah memulai hidup baru, meninggalkan Ethan yang kini meraung dalam penyesalan mendalam.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Raja Alfa, Dendam Diamku
9.5
Tiga tahun mendampingi Alpha Kaelan, aku hanyalah bayang-bayang Lyra, bibiku sendiri. Saat ayahku wafat, Kaelan justru mengabaikanku demi wanita itu di Paris. Kebenaran pahit terungkap di ruang rahasianya; seluruh pertemuan kami hanyalah rekayasa agar dia memiliki pengganti Lyra. Kini, mengandung benihnya, aku membalas dendam dengan tipu daya. Menggunakan sihir untuk menyembunyikan kehamilan dan surat penolakan resmi, aku pergi selamanya menuju benua baru.
Sampul Novel Dia Memilih Kakak Angkatnya
9.4
Alpha Carl mendadak menghentikan operasi saat skalpelnya sudah merobek kulitku. Panggilan darurat dari Bianca, adik angkatnya yang mencoba bunuh diri, membuatnya tega menelantarkanku di meja bedah dengan perut terbuka. Tanpa ragu, Carl menyerahkan nyawaku kepada Alpha Arthur lalu pergi begitu saja. Di tengah isak tangis dan rasa sakit yang menghunjam, Arthur melanjutkan prosedur itu dengan dingin sambil menjamin bahwa aku tidak akan mati di tangannya.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, putra Prabasari dan Baron Smith, memulai misi baru mencari sang ayah. Berbekal pusaka Pedang Kebenaran Sejati serta teknik Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia menghadapi kerasnya dunia persilatan. Meski lahir dari hubungan gelap, tekadnya tak tergoyahkan. Segala rintangan dan musuh yang menghadang diterjang demi menuntaskan pencariannya. Sebuah petualangan penuh aksi dalam membuktikan keteguhan hati di tengah pahitnya konflik.
Sampul Novel Purwoko Family: Selipan Utara
8.8
Pasca kebangkrutan, Pak Purwoko memboyong keluarganya pulang ke kampung demi ketenangan. Namun, kenyataan pahit menanti karena dalang kehancuran bisnisnya ternyata berada di sana. Mereka terjebak dalam konflik lama terkait perebutan usaha penggilingan padi antara orang tua Purwoko dan rivalnya. Teror mencekam langsung menyambut kedatangan mereka, mengancam keselamatan seluruh anggota keluarga. Mampukah Pak Purwoko menghadapi masa lalu dan keluar dari kemelut ini?