
Istri ke 96 Sang Raja Muda
Bab 3
Fatima duduk di lorong rumahnya suatu hari. Di tangannya terdapat sebuah buku, sebuah hadiah ulang tahunnya yang ke sebelas. Bukan dari ayahnya, pria itu tidak pernah memberinya apa-apa. Bukan juga dari ibu tirinya, wanita itu tidak pernah menganggapnya ada.
Hossein yang memberikan buku itu kepada Fatima.
Benda itu sangat indah di mata Fatima, berjilid dari kulit yang di cat dengan warna ungu dan halus ketika dipegang. Di sampulnya tertulis: Dongeng 1001 Malam.
Baru saja Fatima membuka sampul buku itu, Shahira muncul.
Adik tirinya itu kini berusia enam tahun. Tinggi untuk anak seusianya dan cantik. Mata lebar Shahira membesar melihat buku di tangan Fatma. Gadis itu menjulurkan tangannya.
"Sini, aku mau lihat."
"Tidak boleh."
Fatima mendekap bukunya, tidak ingin Shahira merebut. Adik tirinya itu memang kerap iri dengan benda apapun yang dimiliki Fatima dan sering bersikap semena-mena. Shahira melakukannya karena ia tahu ayah mereka pasti akan membela.
"Aku ingin buku itu." Shahira bahkan tidak perlu mengancam Fatma.
"Tidak."
Shahira melangkah maju. "Berikan padaku."
"Buku ini milikku," Fatima membalas dengan gigi mengerat layaknya seekor kucing yang mempertahankan ikan asin.
Shahira ingin meraih buku itu, tapi Fatima berdiri dan mendorong. Shahira yang lebih pendek terhuyung ke belakang dan semakin marah.
"Hei! Berani-beraninya kau mendorongku," Shahira menjerit ke arah kakak tirinya dan menyerang maju dengan wajah merah.
Secara refleks, Fatima melompat mundur.
Shahira tersenyum mengejek melihatnya.
"Cih! Dasar penakut," bocah itu mendecih.
"Siapa bilang? Aku tidak takut kepadamu." Suara Fatima melengking tinggi sementara wajahnya memanas.
"Baba mengatakan bahwa kau adalah gadis bodoh." Kata-kata Shahira yang penuh ejekan diucapkan oleh gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.
"Tidak mungkin Baba berkata seperti itu," Fatima menyangkal meski ia tahu Saheer sering melakukannya.
Shahira mendekat dan mendelik.
"Apakah kau mengataiku pembohong, Fatima Bodoh Yang Bungkuk?"
Fatima tahu apa yang dilakukan Shahira. Gadis itu sengaja ingin ia menyerang duluan. Fatima sudah bisa membayangkan apa yang dikatakan oleh ayahnya jika ia memulai perkelahian dengan Shahira.
Gadis bodoh! Minta maaf pada Shahira atau aku akan melecutmu!
Fatima mengeratkan rahangnya menahan mulutnya untuk membalas, tapi ketika Shahira menyambar buku di tangannya, Fatima kehilangan kesabaran. Ia mendorong Shahira sekeras mungkin hingga gadis itu terjatuh. Dahi Shahira membentur dinding rumah yang terbuat dari batu.
Shahira meraba kepalanya dan membelalak ketika melihat sedikit darah mengalir keluar.
Sementara Fatima mengamati dengan tenggorokan tercekik, Shahira berdiri dan berlarian sambil menangis dan menjerit.
Matilah ia, Fatima berpikir.
Benar saja, tak lama terdengar suara teriakan Saheer yang memanggilnya.
Lemas dan pucat, dengan buku pemberian Hossein erat dalam pelukan, Fatima menatap wajah ayahnya yang marah. Bibir pria itu tertarik ke samping, menampakkan giginya yang kuning.
"Mengapa kau mendorong Shahira, Fatima?" Saheer bertanya dengan wajah merah padam sambil memeluk Shahira yang menangis.
"I-ia yang memulai, Baba. Shahira merebut buku yang diberikan oleh Hossein kepadaku."
"Bohong!" Shahira menyela. Wajah gadis itu penuh air mata. Dahinya yang terbentur masih sudah tidak lagi berdarah tapi masih terlihat memerah.
"Aku hanya ingin meminjam, Baba." Shahira kembali menangis, membuat suaranya menjadi terputus-putus. "T-tapi Fatima tidak mau me-membagi. Me-me-mengapa ia selalu jahat kepadaku, Baba."
Shahira kembali memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sendu.
"Berikan buku itu kepada Shahira, Fatima!" Saheer membentak.
"Tapi, Baba—"
Saheer membelalakkan matanya penuh ancaman.
Fatima membeku, tertangkap antara kemarahannya kepada Shahira dan ketakutannya akan ayahnya. Rasa takut pada ayahnya menang.
Sambil menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis, Fatima menyerahkan buku pemberian Hossein kepada adiknya.
Tidak selesai sampai di sana, ayahnya melecut Fatima sepuluh kali karena sudah berani melukai Sang Putri kesayangan.
Keesokan paginya di sekolah, dengan pantat panas bekas lecutan dan wajah cemberut, Fatima menceritakan apa yang terjadi kepada Hossein.
"Maaf kau harus mengalami hal tidak adil seperti itu, Fatima," Hossein berkomentar ketika Fatima selesai bercerita.
Kini sama-sama sebelas tahun, meski masih lebih pendek dari Fatima, tapi wajah Hossein tidak lagi terlihat kekanak-kanakan, melainkan penuh dengan kebajikan seperti ayahnya.
"Apakah kau tidak apa-apa?" Hossein bertanya.
"Ya, hanya kesal."
Hossein mengangguk seakan mengerti. "Akupun juga akan kesal jika berada di posisimu."
Fatima ikut mengangguk. Kini keduanya terlihat layaknya dua anak burung yang menggerakkan kepala.
"Lupakan soal buku itu," Hossein berkata setelah beberapa saat kesunyian. "Bagaimana kalau kau membantuku bermain bola?"
"Aku tidak tahu caranya."
"Kau tidak perlu tahu. Aku akan menunjukkan padamu."
Fatima ingin menolak. Ia tidak ahli bermain bola seperti Hossein. Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan temannya. Tapi wajah Hossein yang penuh harapan membuat Fatima akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
"Berapa yang bisa kau pegang?"
"Entahlah."
Hossein meraih tangan Fatima dan berkata, "Lebarkan telapak tanganmu."
Fatima melakukan permintaan Hossein. Temannya itu melekatkan telapak tangannya ke atas milik Fatima dan mendadak detak jantung Fatima terasa semakin cepat. Kulit Hossein terasa lembut dan berpasir. Jemarinya yang empuk melekat hangat di telapak Fatima.
"Hampir sama lebar. Mungkin akan lebih mudah jika kau mulai dengan dua bola." Hossein meraih ke dalam tasnya dan mengeluarkan enam bola berlapis kulit yang sering digunakannya untuk bermain dan menyerahkan dua kepada Fatima.
"Ketika aku suruh, lempar satu padaku," Hossein berkata. "Apakah kau mengerti?"
Biasanya, Fatima akan jengkel ketika seseorang memberinya perintah. Tapi ketika Hossein yang mengatakannya, kata-kata temannya itu tidak terdengar seperti perintah. Fatima pun mengangguk.
Hossein mulai memutar empat bola di tangannya seperti yang ia lakukan dengan buah ara di ruang makan ketika itu.
"Sekarang," Hossein berkata.
Fatima melemparkan satu bola dari tangannya menuju Hossein. Temannya itu menangkap dan dengan mulusnya dan menambahkannya ke dalam putaran bola-bola di tangan.
"Lagi, Fatima," Hossein berkata.
Fatima melemparkan lagi satu bola di tangannya dan seperti sebelumnya, bergabung dengan yang lain dengan mulusnya.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Fatima," Hossein memuji.
Fatima mengernyitkan dahinya bertanya-tanya apakah temannya itu mengejek. Tapi wajah Hossein yang tulus membuat Fatima tersipu malu.
"Tangkap."
Sebuah bola melayang kembali ke arah Fatima.
Fatima menangkap bola yang dilemparkan Hossein dengan mudahnya. Mereka berdua tertawa satu sama lain setiap Hossein meminta atau melemparkan bola ke arah Fatima. Setelah beberapa saat, Hossein berhenti dan mengumpulkan bola-bola itu kembali ke dalam tas.
"Pelajaran sudah mau dimulai, sebaiknya kita masuk sebelum ayah marah," Hossein berkata.
Dengan perasaan ringan, Fatima ikut berdiri dan berjalan mengikuti Hossein.
Bagi Fatima saat itu, tidak ada kata sedih ketika ia bersama Hossein.
***
***
bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





