
Istri Cadangan
Bab 2
Setelah kejadian itu, hari-hari Nadia berjalan dalam keheningan yang mencekam. Setiap sudut rumah terasa asing baginya. Ruangan-ruangan yang dulu penuh tawa dan canda kini sunyi. Hanya ada suara langkah kaki yang tertinggal di lorong rumah besar yang dulu terasa seperti tempat tinggal, kini berubah menjadi penjara bagi hatinya.
Malam itu, Nadia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap foto pernikahannya dengan Reza yang tersimpan dalam bingkai di meja samping tempat tidur. Wajah mereka tampak bahagia-tersenyum, penuh harapan. Namun sekarang, semua itu hanya kenangan pahit yang harus ditinggalkan. Reza telah mengkhianatinya, dan Karina, wanita yang selama ini ia anggap sebagai teman, ternyata telah merencanakan semuanya sejak awal.
Nadia menarik napas dalam-dalam. Ia tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Pikirannya berputar, merencanakan langkah berikutnya. Setiap detik yang berlalu memberi ruang bagi rasa sakit yang semakin dalam, namun sekaligus memberi peluang bagi kebencian yang tumbuh di dalam dirinya. Ia tidak bisa membiarkan Reza dan Karina begitu saja menikmati kemenangan mereka. Mereka harus membayar atas pengkhianatan ini.
**
Keesokan harinya, Nadia mengunjungi kantor pengacara. Ia membutuhkan saran, sesuatu yang bisa membantunya melawan keduanya secara hukum. Ruang pengacara itu dingin, suasananya formal dan tenang, sangat berbeda dengan perasaannya yang berkecamuk. Nadia duduk di kursi yang terletak di depan meja besar yang dipenuhi dengan dokumen-dokumen hukum.
Pengacara itu, seorang pria paruh baya dengan rambut beruban, menyimak penjelasannya dengan seksama. Nadia menggambarkan bagaimana semuanya dimulai, dari pernikahan yang tampak sempurna hingga penghianatan yang melukai. Ia menceritakan segala sesuatu dengan detail, tanpa menyembunyikan rasa sakitnya.
"Apa yang ingin Anda lakukan, Nona Nadia?" tanya pengacara itu dengan suara berat, matanya tajam menilai.
Nadia terdiam sejenak, merenung. Apa yang ia inginkan? Mencari keadilan? Membalas dendam? Atau mengakhiri semuanya dengan cepat? Tapi tidak, ia tidak bisa memilih jalan yang mudah. Ia ingin membuat mereka merasakan bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang yang mereka percayai.
"Aku ingin bercerai, tentu saja," jawabnya, suaranya tegas meskipun perasaannya terasa berantakan. "Tapi lebih dari itu, aku ingin memastikan Reza dan Karina membayar atas perbuatan mereka."
Pengacara itu menatapnya lebih lama, kemudian menulis sesuatu di kertas. "Pernikahan Anda dengan Reza adalah pernikahan yang sah dan dilindungi oleh hukum. Namun, jika Anda ingin memulai proses perceraian, kita perlu bukti pengkhianatan atau penyalahgunaan. Saya bisa membantu Anda dengan itu. Tapi Anda harus berhati-hati. Ini akan menjadi pertempuran yang panjang dan sulit."
Nadia menatap pengacara itu, matanya dipenuhi tekad yang keras. "Aku siap. Aku tidak akan mundur."
**
Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan kesibukan yang tak henti. Nadia mulai menggali lebih dalam, mencari bukti-bukti yang bisa membantunya dalam perceraian dan tindakan hukum lainnya. Ia mengumpulkan informasi tentang Karina, tentang latar belakangnya, tentang bagaimana wanita itu bisa masuk ke dalam hidupnya tanpa ia sadari. Sementara itu, ia juga berusaha menghindari Reza. Suaminya itu mulai menghubunginya, berusaha meminta maaf dan meyakinkan Nadia bahwa keputusan yang ia buat adalah yang terbaik.
Namun setiap kali Nadia menerima panggilan atau pesan dari Reza, hatinya hanya dipenuhi dengan kebencian. Ia tidak ingin mendengarkan penyesalannya. Sudah terlambat untuk itu. Semuanya sudah berubah.
Pada suatu sore, saat Nadia sedang duduk di ruang tamu, seseorang mengetuk pintu. Ia membuka pintu dan mendapati Reza berdiri di sana, wajahnya tampak lelah dan penuh penyesalan.
"Aku datang untuk berbicara, Nadia," katanya dengan suara yang hampir hampa.
Nadia menatapnya, matanya penuh dengan kebencian yang sulit disembunyikan. "Aku tidak ingin berbicara denganmu, Reza. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Reza menatapnya dengan penuh rasa bersalah. "Aku tahu aku telah mengkhianatimu, dan aku menyesalinya. Tapi aku ingin kita menyelesaikan semuanya dengan baik. Aku ingin bercerai secara damai."
Nadia terkekeh sinis. "Damai? Kau ingin bercerai dengan damai setelah semuanya yang kau lakukan? Kau pikir aku akan memberi restu? Kau terlalu naif, Reza."
Reza terdiam, wajahnya memerah. "Aku... aku akan melakukan apa saja untuk memperbaiki semuanya."
"Terlalu terlambat untuk itu," Nadia berkata dengan suara yang lebih rendah, namun penuh tekad. "Kau sudah membuat pilihanmu. Aku juga akan membuat pilihanku. Dan pilihan itu adalah untuk memastikan kau dan Karina merasakan akibatnya."
Reza tidak berkata apa-apa lagi. Nadia menutup pintu dengan keras, meninggalkan suaminya di luar dalam kesunyian yang penuh ketegangan.
**
Malam itu, setelah makan malam yang terasa hambar dan sepi, Nadia duduk di meja kerjanya. Di hadapannya terbuka beberapa dokumen dan foto yang ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. Bukti-bukti pengkhianatan yang ia cari mulai menunjukkan sisi gelap kehidupan Reza dan Karina. Setiap dokumen, setiap catatan yang ia temukan, semakin memperjelas betapa dalamnya kebohongan mereka. Nadia merasa kekuatannya mulai kembali.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menulis surat. Surat yang akan mengubah semuanya.
Reza dan Karina tidak akan pernah tahu apa yang akan datang. Tetapi Nadia sudah siap untuk menghancurkan mereka, perlahan-lahan, dengan cara yang paling menyakitkan. Dan tidak ada yang akan bisa menghentikannya.
Anda Mungkin Juga Suka





