
Istri Cadangan
Bab 3
Pagi itu, langit mendung seolah memantulkan suasana hati Nadia. Di balik jendela besar apartemennya yang baru, ia memandang kosong ke arah jalanan ibu kota yang sibuk, namun hatinya hampa. Sejak meninggalkan rumah dan menandatangani dokumen pemisahan sementara, hidupnya berubah drastis. Tapi yang tidak berubah adalah niatnya-Reza dan Karina harus dihancurkan. Perlahan, menyakitkan, dan dengan elegan.
Telepon di meja berdering pelan. Nadia menjawab dengan suara datar.
"Halo?"
"Saya sudah mendapatkan data tentang perusahaan Karina, Bu Nadia," ujar suara di seberang. Itu adalah Aurel, asisten pribadi yang Nadia rekrut setelah keluar dari rumah Reza.
"Bagus. Kirim semua ke email saya. Aku ingin tahu setiap celah yang bisa kupakai untuk menjatuhkan mereka."
"Baik, Bu."
Nadia menutup telepon dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menyipit menatap layar laptop yang sudah menampilkan sejumlah data perusahaan Karina-perusahaan kecil yang sedang naik daun berkat sokongan modal dari Reza. Tapi Nadia tahu, Karina bukan wanita ambisius yang bekerja keras dari bawah. Ia memanjat cepat berkat tubuhnya-dan suaminya.
Namun ada satu hal yang Karina tidak miliki: koneksi bisnis kelas atas dan nama keluarga terhormat yang dimiliki Nadia. Dan itu akan jadi senjatanya.
**
Hari itu juga, Nadia melangkah ke dalam salah satu klub sosial paling eksklusif di Jakarta-tempat orang-orang berpengaruh biasa bertransaksi sambil menyeruput anggur mahal. Ia kembali ke dunia yang dulu pernah ia hindari, dunia para istri konglomerat, penuh senyum palsu dan niat tersembunyi. Tapi kali ini, ia datang bukan sebagai istri Reza. Ia datang sebagai Nadia Adrielle, pewaris keluarga Tanaya, dengan nama belakang yang masih punya kekuatan di pasar saham.
"Bu Nadia?" Seorang wanita cantik setengah baya menghampirinya. "Saya dengar kabar buruk itu... Saya turut prihatin."
Nadia tersenyum tipis. "Kabar buruk hanya berlaku bagi yang kalah. Saya hanya sedang menata ulang prioritas hidup."
Wanita itu tertawa geli, namun matanya meneliti. Nadia tahu dia sedang mengukur kekuatannya. Dunia ini tak mengenal simpati, hanya kekuasaan dan kepentingan. Maka Nadia memainkan perannya.
Ia mulai membangun aliansi diam-diam, mendekati pengusaha yang pernah bekerja sama dengan Reza, lalu menggoda mereka dengan tawaran kerjasama baru, dengan keuntungan lebih besar-asal mereka siap memutuskan kontrak dengan Reza dan Karina. Dalam waktu dua minggu, bisnis Karina mulai goyah. Reputasi mereka digoyang secara halus, dengan kabar burung yang sengaja disebar.
Karina mulai merasa terguncang. Dalam suatu malam yang dipenuhi emosi, ia mendatangi Reza yang baru pulang dari kantor.
"Ada yang aneh, Za. Dua investor besar tiba-tiba membatalkan kerja sama. Lalu aku dapat pesan anonim yang menyebut aku pelakor murahan... Aku takut ini bukan kebetulan."
Reza yang sedang membuka dasi hanya mendengus. "Mungkin mereka cuma nggak suka kamu karena kamu terlalu cepat naik. Biasa, saingan bisnis."
"Bukan, ini bukan karena bisnis. Ini karena aku bersamamu! Ini Nadia, Reza. Dia mulai balas dendam!"
Reza mendongak, menatap Karina tajam. "Kamu paranoid."
"Aku nggak paranoid! Kamu yang terlalu meremehkan dia. Kau pikir dia akan diam saja setelah kau hancurkan hidupnya?"
Reza membanting gelas di meja. "Aku sudah mencoba bicara baik-baik. Tapi dia keras kepala. Kita menikah, ya? Sudah, biar saja dia kalap. Nanti juga capek sendiri."
Namun Karina tahu lebih baik. Nadia bukan tipe wanita yang 'capek sendiri.' Ia tahu Nadia sedang merangkai sesuatu. Dan itu membuat Karina tidak bisa tidur malam itu. Ia mulai menghubungi teman-teman lamanya, mencoba mencari tahu gerakan Nadia-tapi semua terasa terlalu tenang. Dan justru itu yang menakutkan.
**
Sementara itu, Nadia memulai langkah berikutnya. Ia memanfaatkan koneksi media keluarga Tanaya. Sebuah artikel ringan tentang "wanita tangguh yang bangkit dari pengkhianatan" muncul di salah satu portal berita populer. Wajahnya terpampang, disertai kutipan halus tentang "pengkhianatan dari orang terdekat yang menyamar sebagai sahabat." Tidak menyebut nama, tapi cukup untuk membuat pembaca tahu: ada cerita dalam diam yang lebih tajam dari pengakuan.
Dan efeknya pun terasa.
Karina mulai menerima komentar sinis di media sosial. Beberapa klien mulai mempertanyakan kredibilitasnya. Nadia hanya menonton dari kejauhan, tanpa pernah menyentuh mereka secara langsung. Semua dilakukan lewat tangan-tangan yang tak kasat mata. Ia tidak ingin mereka tahu dari mana serangan itu datang. Ia hanya ingin mereka merasa terus diawasi... terus dihantui.
**
Di sebuah pesta amal besar yang dihadiri para petinggi bisnis, Nadia muncul dengan gaun hitam elegan dan riasan tanpa cela. Semua mata tertuju padanya. Ia tak hanya kembali ke dunia sosialita-ia kembali sebagai ancaman yang nyata.
Dan malam itu, saat Reza dan Karina masuk ke ballroom yang sama, seisi ruangan sunyi sejenak. Para undangan melihat mereka, lalu beralih memandangi Nadia yang berdiri anggun di dekat panggung. Ia mengangkat gelas anggurnya sedikit, menyambut pandangan mereka dengan senyum penuh teka-teki.
Karina menggenggam tangan Reza kuat-kuat. "Dia di sini..."
Reza hanya menatap Nadia dari jauh, namun kali ini tak ada kepercayaan diri di wajahnya. Karena untuk pertama kalinya, ia merasakan apa yang selama ini hanya Nadia rasakan-rasa kalah.
Dan itu baru permulaan.
Anda Mungkin Juga Suka





