
Istri Bodoh, Mantan Miliarder
Bab 2
Pagi itu, suasana dapur terasa lebih dingin dari biasanya, padahal kompor sudah menyala. Dinginnya itu berasal dari hati Lia sendiri. Dia masih harus pura-pura sibuk mengaduk-aduk bubur kacang hijau - menu penyelamat di tanggal tua yang selalu jadi andalan kalau jatah belanja cuma dua puluh lima ribu.
Lia berdiri di depan panci, mencium aroma manis kacang hijau yang seharusnya menenangkan. Tapi hatinya, justru bergolak.
"Lia! Cepat sedikit! Kamu masak jam segini baru selesai? Anak saya harus sarapan sebelum berangkat kerja!" Suara Mami Sandra yang tajam sudah membelah udara dari ruang makan, bahkan sebelum Lia sempat mengangkat panci.
"Iya, Mi. Sudah mau matang," jawab Lia pelan, tanpa berbalik. Matanya fokus pada gelembung bubur.
Biasanya, cacian pagi dari mertua akan langsung merusak mood-nya seharian, bahkan bisa bikin dia menangis diam-diam di kamar mandi. Tapi hari ini berbeda. Di saku daster lusuhnya, tersimpan uang kertas sepuluh ribuan. Itu adalah sisa dari cuan hasil tulisan semalam, yang dia tarik tunai diam-diam di ATM dekat gang.
Rasanya aneh. Dia masih harus dihina karena bubur kacang hijau yang harganya cuma belasan ribu, tapi di saku, dia punya power kecil. Kekuatan itu membuat bahunya tegak sedikit, dan kata-kata Mami Sandra hanya terdengar seperti dengungan nyamuk yang mengganggu, tidak lagi merobek perasaannya.
"Mami Sandra itu tidak tahu betapa susahnya bikin bubur kacang hijau ini bisa mengenyangkan enam perut. Semuanya harus dihemat, porsi airnya harus lebih banyak dari kacangnya," batin Lia, senyum kecil-senyum sinis-terukir di bibirnya.
Setelah sarapan usai, Dion seperti biasa, menghitung lagi uang sisa kembalian belanja Lia. Itu rutinitas paling memuakkan. Lia harus menyodorkan kuitansi kecil (yang dia tulis sendiri karena warung sayur tidak pakai kuitansi) dan sisa uang lima ratus perak.
"Ini apa? Cabai mahal lagi? Kenapa kamu beli cabai yang harganya hampir sama dengan beras seperempat kilo? Kan sudah saya bilang, pakai cabai rawit yang di pasar itu saja, lebih murah!" protes Dion, menunjuk-nunjuk catatan Lia dengan pensil.
"Mas, cabai rawit yang di pasar itu busuk, Mas. Kalau aku beli yang busuk, Mami juga yang marah nanti," jawab Lia, berusaha sabar.
Dion mendengus. "Alasan! Kamu itu boros. Jatah kamu dua puluh lima ribu, besok akan saya kurangi jadi dua puluh ribu kalau kamu tidak becus mengurus uang."
Ancaman itu seharusnya membuat Lia panik. Dua puluh ribu? Itu sudah gila! Tapi kali ini, Lia hanya menatap Dion lurus-lurus. Di kepalanya, dia sedang menghitung: Rp 20.000? Nggak masalah. Aku semalam dapat Rp 150.000. Aku bisa beli lauk yang jauh lebih enak dan bilang kalau itu 'hadiah dari teman'.
"Terserah Mas saja," kata Lia, suaranya datar.
Dion mengangkat alis, terkejut dengan respon Lia yang tidak panik seperti biasanya. "Kamu kenapa? Tumben nggak nangis."
"Nggak apa-apa. Aku cuma lagi mikir, kalau aku pakai jatah dua puluh ribu, berarti besok aku cuma bisa masak nasi sama kerupuk. Kalau Mami protes, Mas yang jelaskan, ya. Aku kan cuma menjalankan perintah," balas Lia, tanpa ekspresi.
Respons balik yang dingin dan logis itu membuat Dion terdiam. Pria itu tidak terbiasa dilawan dengan ketenangan. Biasanya Lia akan merengek atau membela diri dengan emosi. Melihat Dion bungkam, Lia merasa sedikit puas. Dia akhirnya bisa mengendalikan emosinya sendiri, dan itu mahal harganya.
Sejak hari itu, kehidupan Lia berubah menjadi sebuah sandiwara yang ia mainkan dengan sangat baik. Pagi sampai sore, ia adalah Alisa si Ibu Rumah Tangga Malang yang harus berjuang dengan Rp 25.000 dan dimarahi mertua karena telurnya kurang asin. Tapi begitu malam tiba, setelah Dion dan seluruh keluarga tidur, Lia bertransformasi menjadi Lia Sang Penulis Konten Malam.
Dia menulis tentang banyak hal: tips menghemat air, cerita lucu tentang pengalaman naik angkot, bahkan review produk skincare murahan yang dia beli dari uang cuannya sendiri. Pelan-pelan, penghasilannya mulai terkumpul. Tidak banyak memang, tapi konsisten. Setelah seminggu penuh bekerja keras, Lia berhasil mengumpulkan hampir satu juta rupiah.
Jumlah itu, di mata Lia, setara dengan satu tahun uang jajan dia!
Dia menyembunyikan uang tunai itu di dalam celengan keramik tua berbentuk babi, yang dulu dia beli saat baru menikah (dan Dion protes habis-habisan karena katanya itu tidak islami). Celengan itu ditaruh di dasar lemari baju, di balik tumpukan kain batik yang jarang terpakai. Setiap kali memasukkan lembaran uang ke dalamnya, Lia merasa sedang menyuntikkan vitamin ke dalam jiwanya yang sekarat.
Puncak kemerdekaan kecilnya terjadi di suatu sore. Lia sengaja bilang ke Mami Sandra kalau dia mau ke warung sebelah beli bawang. Padahal, dia menyelinap ke kafe kecil di seberang gang. Kafe itu menjual kopi latte dengan harga Rp 35.000. Jauh lebih mahal dari jatah harian.
Lia duduk di sudut, menikmati setiap tegukan kopi yang pahit, manis, dan creamy. Sambil minum kopi mahal itu, dia membuka laptop bututnya (yang dulu dia beli sebelum menikah dan tidak pernah disentuh lagi karena Dion bilang buang-buang listrik) dan mulai mengetik. Dia sedang menulis sebuah esai ringan tentang kebahagiaan sejati seorang ibu rumah tangga.
Saat itu, dia tidak peduli lagi dengan cucian kotor di rumah, atau menu makan malam apa yang akan dia sajikan nanti. Selama satu jam itu, Lia adalah seorang wanita mandiri, yang punya uang sendiri, dan bisa menikmati kemewahan kecil tanpa meminta izin siapa pun. Rasanya lebih lega daripada terapi.
Namun, kedamaian kecil itu tidak bertahan lama. Kejanggalan Dion mulai terlihat.
Beberapa minggu terakhir, Lia melihat ada perubahan pada Dion. Pria itu mulai sering merapikan rambutnya sebelum berangkat kerja, memakai parfum yang lebih mahal (Lia tahu itu mahal karena dulu Mami Sandra pernah komplen soal harga parfum itu), dan yang paling kentara, Dion sering sekali tersenyum saat menatap ponselnya.
Senyum itu bukan senyum tulus saat melihat foto anak-anaknya. Itu adalah senyum licik, senyum sembunyi-sembunyi yang membuat perut Lia mual.
Suatu malam, sekitar jam sebelas. Lia sudah tidur, atau setidaknya pura-pura tidur, setelah sibuk menyelesaikan deadline dua artikel. Dia mendengar Dion keluar dari kamar.
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi ditutup. Lia membuka mata. Kenapa Dion ke kamar mandi malam-malam begini? Biasanya Dion sangat menjaga jam tidurnya, takut terlambat bangun untuk salat subuh (walaupun seringnya tetap kesiangan).
Lia mendengar suara bisikan dari kamar mandi. Bukan suara orang buang air atau sikat gigi. Itu suara percakapan telepon.
Rasa penasaran Lia tiba-tiba memicu adrenalin. Dia tahu dia tidak seharusnya menguping, tapi nalurinya sebagai seorang istri sudah berteriak kencang. Dengan sangat hati-hati, Lia turun dari ranjang. Lantai kamar mertua yang terbuat dari kayu tua selalu berdecit. Lia harus berjalan sangat pelan, seperti ninja.
Dia mendekat ke pintu kamar mandi. Suara Dion samar-samar terdengar, tertahan di balik pintu.
"...Iya, aku kangen juga. Kangen banget, Sar..."
Sar.
Hanya satu suku kata. Tapi bagi Lia, suara itu sudah seperti palu godam yang menghantam dadanya. Sar... itu pasti Sarah. Mantan pacar yang selalu Dion puja-puja kesempurnaannya. Sarah yang katanya lebih hemat, lebih cantik, lebih segala-galanya daripada Lia.
Dion melanjutkan, nadanya rendah, penuh bujukan. "...Aku usahakan besok siang ya. Kan aku bilang, lagi susah di rumah. Istriku... ya begitulah. Susah diatur. Tapi aku usahakan ada waktu buat kamu."
Lia bersandar di dinding, matanya terpejam. Dadanya terasa dingin, bukan sakit. Bukan lagi rasa sakit yang meremas-remas, melainkan rasa beku yang menjalar ke seluruh tubuh.
Istriku... ya begitulah. Susah diatur.
Kalimat itu, yang diucapkan Dion untuk menyenangkan wanita lain, adalah puncak dari semua rasa sakit Lia. Dia sudah mengurus enam orang dengan uang saku seadanya, mengorbankan tidurnya, menahan hinaan, hanya untuk menjaga rumah tangga ini. Dan balasan dari suaminya? Menganggapnya beban dan mengadukannya pada wanita lain.
Lia tidak bergerak. Dia tidak mendobrak pintu. Dia tidak menangis. Dia hanya berdiri di sana, mendengarkan sisa percakapan Dion yang penuh janji manis dan rayuan murahan. Setelah beberapa menit, Dion mengakhiri panggilan dengan nada tergesa-gesa dan membuka pintu.
Wajah Dion langsung pucat pasi saat melihat Lia berdiri di depan pintu kamar mandi, diterangi cahaya remang-remang dari lampu tidur.
"Lia! Kenapa di sini? Kamu... kamu ngapain?" tanya Dion, suaranya sedikit bergetar. Dia langsung menyembunyikan ponsel di balik punggungnya.
Lia menatapnya. Tatapannya kosong, tanpa amarah. Inilah saatnya dia menerapkan prinsip masa bodoh yang sudah dia tanamkan di hatinya.
"Aku haus, Mas. Mau ambil minum," jawab Lia, suaranya juga datar. Dia sama sekali tidak menyebutkan kata 'telepon' atau 'Sarah'.
Dion terlihat sangat lega, tapi masih curiga. "Oh. Ya sudah. Sana ambil minum. Jangan keluyuran malam-malam."
Lia mengangguk. Dia berjalan melewati Dion, menuju dapur. Langkahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat mengambil air minum, Lia melihat pantulan dirinya di jendela dapur yang gelap. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada kilatan aneh di matanya. Pria ini. Dion. Dia benar-benar sampah.
Dulu, Lia pasti akan mengamuk, menangis, dan menuntut penjelasan. Tapi sekarang? Sekarang dia punya cuan di celengan babinya. Dia punya kemerdekaan yang sedang dibangun. Berdebat dengan Dion hanya akan membuang energi berharganya yang seharusnya dia pakai untuk menulis.
Masa bodoh.
Lia kembali ke kamar. Dion sudah di ranjang, pura-pura membaca buku, tapi matanya jelas-jelas mengawasi Lia.
"Siapa yang telepon, Mas?" tanya Lia, sambil naik ke ranjang.
Dion tersentak. "Oh! Itu... itu rekan kerja. Biasa, proyek dadakan. Harus cepat."
Lia hanya mengangguk pelan. Dia tahu Dion berbohong.
"Oh, begitu. Kerja keras ya, Mas. Semoga lancar proyeknya," kata Lia, lalu membalikkan badan memunggunginya.
Dion, yang sudah siap dengan seribu pembelaan, terperangah. Respons Lia yang terlalu biasa itu justru membuatnya tidak tenang. Kenapa Lia tidak marah? Kenapa Lia tidak menuntut? Apakah Lia sudah tidak cinta?
Lia menutup mata. Ia benar-benar mematikan perasaannya untuk Dion. Pria di belakangnya, suaminya, kini hanyalah partner rumah tangga dan ayah dari anak-anaknya. Selesai. Masalah hati? Sudah diputuskan. Lia tidak akan menghabiskan satu tetes pun air matanya untuk perselingkuhan murahan ini.
Yang Lia pikirkan sekarang hanyalah: Besok aku mau nulis fiksi romantis tentang wanita yang meninggalkan suaminya dan sukses jadi pengusaha. Pasti honornya besar.
Ketenangan yang dingin itu kini menjadi benteng pertahanan Lia. Dia fokus pada pekerjaan rahasianya. Cuan adalah segalanya. Kalau Dion mau main-main di luar, silakan. Karena saat Dion sibuk PDKT dengan mantan, Lia sedang sibuk membangun kekayaan rahasianya. Dan sebentar lagi, ia akan punya cukup uang untuk tidak hanya membeli kopi mahal, tapi juga mungkin menyewa pengacara cerai terbaik.
Lia tertidur dengan senyum kecil di bibirnya, senyum seorang pejuang yang baru saja menemukan musuh sejati dan strategi yang tepat untuk mengalahkannya: kebebasan finansial.
Anda Mungkin Juga Suka





