Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Bodoh, Mantan Miliarder

Istri Bodoh, Mantan Miliarder

Alisa terjebak dalam pernikahan menyesakkan bersama Dion, suami super pelit yang hanya memberinya uang belanja dua puluh lima ribu rupiah sehari untuk enam orang. Selain tekanan ekonomi, Alisa harus menelan makian mertua setiap hari. Situasi memburuk saat ia memergoki Dion mendekati mantan kekasihnya. Di tengah kemelut, Alisa menemukan aplikasi penghasil uang dan merahasiakannya. Namun, saat mencoba membongkar skandal Dion, ia justru difitnah menggoda ayah mertuanya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Lia bangun pagi ini dengan energi baru. Bukan karena tidur nyenyak, tapi karena semalam dia berhasil menyelesaikan tiga artikel sekaligus. Total cuan yang masuk ke rekeningnya setelah dipotong biaya administrasi aplikasi adalah Rp 350.000. Angka itu terasa begitu ajaib. Itu sudah cukup untuk membiayai tiga belas hari kehidupan di bawah kepemimpinan Dion yang pelitnya minta ampun.

Ia melakukan ritual pagi seperti biasa. Membuka dompet usang yang diberikan Dion-dompet yang sudah kusam, warnanya pudar-dan mengambil dua puluh lima ribu rupiah.

"Ini uang jatah hari ini, ya. Jangan sampai kurang seribu perak pun. Dan ingat, menu harus yang berprotein, jangan cuma sayur busuk kayak kemarin," ujar Dion, suaranya dipenuhi otoritas palsu. Dia sedang memakai dasi di depan cermin, tampak lebih rapi dari biasanya. Rambutnya disisir klimis, wangi parfumnya tercium menusuk.

Lia hanya mengangguk. "Iya, Mas. Aku usahakan," jawabnya, nadanya datar.

Dalam hati, Lia sudah merencanakan: Baiklah, Mas Dion. Aku akan pakai uangmu ini untuk beli kerupuk dan bumbu dapur. Sisanya? Sisanya aku ambil dari cuanku untuk beli ayam potong yang besar. Toh, kalau masakanku enak, kamu juga yang makan kan? Anggap saja aku mentraktir kamu.

Perhitungan Lia kini selalu begitu. Dia tetap menjalankan peran Lia Istri Miskin dengan budget Rp 25.000 agar tidak dicurigai Dion dan Mami Sandra. Tapi dia selalu menambahkan bahan premium, yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri.

Hari ini, dia ke pasar bukan sebagai pembeli yang terdesak, melainkan sebagai investor yang cerdas. Dia hanya membeli bahan-bahan dasar seperti beras, minyak, dan bawang dari uang Dion. Begitu tiba di tukang ayam langganannya, dia langsung menunjuk satu ekor ayam utuh yang terlihat fresh dan gemuk.

"Tolong potong delapan ya, Bu. Ini uangnya," kata Lia, menyodorkan uang ratusan ribu dari saku rahasianya.

Si penjual ayam, Ibu Nana, terkejut. "Tumben, Nyonya Lia beli ayam utuh? Biasanya cuma seperempat, terus potong kecil-kecil lagi biar kelihatan banyak."

Lia hanya tersenyum simpul, senyum yang mengandung seribu rahasia. "Iya, Bu. Lagi ada rezeki sedikit. Mau bikin makanan spesial buat anak-anak."

"Alhamdulillah. Nah, gitu dong Neng. Jangan mau disuruh hemat terus sampai nggak makan enak," balas Ibu Nana, ikut senang.

Lia merasakan kebahagiaan kecil yang luar biasa. Hanya dengan mengeluarkan uang dari sakunya sendiri, dia bisa membeli kemewahan berupa ayam utuh. Dia bisa membeli kekuatan untuk menolak kritik mertua dan memberikan gizi terbaik untuk anak-anaknya.

Di rumah, rutinitas pagi berjalan seperti biasa, namun dengan hasil yang luar biasa. Ayam goreng bumbu kuning yang gurih, ditemani sayur sop lengkap dengan wortel dan kentang. Mami Sandra mengambil porsi besar, begitu juga Ayah Mertua.

"Nah, begini kan enak! Kenapa dari kemarin-kemarin kamu nggak masak begini, Lia? Ini baru namanya makanan bergizi," puji Mami Sandra, yang terdengar lebih seperti kritik pedas daripada pujian tulus.

Lia hanya menunduk, pura-pura malu. "Iya, Mi. Kebetulan hari ini dapat diskon di pasar. Jadi bisa beli lebih banyak," bohongnya halus.

Dion, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya menaruh perhatian pada ayam di piringnya. Wajahnya terlihat puas.

"Diskon yang bagus," gumam Dion. Tapi ekspresinya berubah. Dia menatap Lia dengan mata menyipit. "Kamu beli apa lagi kemarin? Total belanja kamu kemarin kan cuma Rp 24.500. Sisanya cuma lima ratus perak. Kamu nggak pakai uang lain, kan?"

Jantung Lia berdebar. Dion mulai curiga.

"Nggak, Mas. Itu uang dari kembalian belanja minggu lalu yang aku kumpulin. Kan Mas bilang harus pintar-pintar menabung," jawab Lia, memasang wajah polos sempurna. Skill berbohongnya kini sudah di level dewa.

Dion mengangguk, tapi sorot matanya masih penuh selidik. Dia tidak akan pernah percaya bahwa Lia bisa hemat, karena di matanya, Lia adalah istri yang boros dan tidak becus.

"Pokoknya jangan macam-macam. Semua uang itu harus transparan," tegas Dion.

Lia hanya membalas dengan anggukan. Transparan? Tentu, Mas. Ini transparan: kamu selingkuh, dan aku kaya diam-diam.

Beberapa hari setelah pesta ayam utuh itu, Dion menjadi semakin sembrono. Dia pulang makin malam, alasannya selalu rapat mendadak atau proyek klien. Tapi Lia tahu, wangi parfumnya selalu bercampur dengan aroma manis yang bukan aroma ruangan kantor. Ada wangi parfum wanita.

Suatu sore, anak sulung Lia, Riko, merengek karena sepatu sekolahnya sudah jebol.

"Ma, malu. Sepatunya bolong di depan," kata Riko, hampir menangis.

Lia melihat sepatu Riko. Kondisinya memang parah. Sudah waktunya ganti.

"Nanti malam aku tanya Papa ya, Nak," kata Lia, meskipun dia tahu jawaban Dion pasti, Nanti saja, Nak. Papa lagi banyak cicilan. Kamu kan masih punya sandal.

Benar saja. Malam itu, saat Lia menyampaikan keluhan Riko, Dion menjawab dengan nada kesal.

"Sepatu? Nanti saja tunggu gajian bulan depan. Bilang Riko jangan cengeng. Anak cowok itu harus kuat, jangan manja minta dibelikan barang terus," hardik Dion, sambil kembali fokus pada ponselnya.

Sikap tak acuh Dion kali ini benar-benar membuat kesabaran Lia habis. Anak sendiri butuh sepatu layak, dan dia malah sibuk memanjakan wanita lain.

Malam itu juga, Lia mengambil keputusan. Dia tidak akan menunggu Dion. Dia sudah punya cuan.

Besok paginya, tanpa izin Dion, Lia membawa Riko dan adiknya ke pusat perbelanjaan. Lia mengenakan pakaian terbaiknya, dress lama yang ia simpan rapi, dan dia membawa dompet tebal yang isinya cuan hasil jerih payahnya.

Mereka membeli sepatu baru yang bagus. Bukan yang paling mahal, tapi yang paling nyaman dan kuat. Riko tersenyum lebar, senyum yang sudah lama tidak Lia lihat.

"Terima kasih, Mama! Sepatunya bagus banget! Ini dari mana uangnya, Ma?" tanya Riko polos.

Lia memeluk putranya erat-erat. "Ini rezeki dari Allah, Sayang. Mama usaha, dan Allah kasih. Jangan bilang Papa ya. Ini rahasia kita. Bilang saja ini sepatu lama yang Mama bersihkan, oke?"

Riko, yang sudah cukup besar untuk mengerti drama rumah tangga orang tuanya, mengangguk patuh. Anak itu tahu, ada masalah besar antara Mama dan Papa.

Pulang ke rumah, sepatu baru itu disembunyikan di dalam tas sekolah Riko.

Namun, takdir memang suka bercanda.

Saat Lia sedang mencuci baju Dion, dia menemukan sesuatu di saku celana panjang kerja Dion. Itu bukan uang, tapi selembar kertas kecil. Sebuah struk pembayaran parkir.

Struk itu tertanggal dua hari lalu, hari di mana Dion bilang dia ada "rapat mendadak sampai tengah malam."

Lia membalik struk itu. Tertulis nama tempat parkir: Kafe Senja.

Lia kenal tempat itu. Kafe Senja adalah kafe romantis di pusat kota yang terkenal mahal dan menjadi spot favorit anak-anak muda nge-date. Lia dan Dion tidak pernah ke sana, tentu saja, karena Dion akan bilang itu buang-buang uang.

Tapi yang membuat Lia tercekat bukanlah nama kafenya. Di bagian belakang struk itu, ada bekas noda lipstik berwarna merah muda pucat. Lipstik yang bukan milik Lia. Lia tidak pernah pakai lipstik.

Napas Lia tercekat. Ini bukan lagi kecurigaan. Ini adalah bukti fisik. Bukti perselingkuhan yang Dion sembunyikan di saku celana yang seharusnya kotor oleh debu kantor, bukan noda lipstik murahan.

Rasa dingin yang Lia rasakan saat mengetahui perselingkuhan Dion lewat telepon kini berubah menjadi rasa sakit yang tajam, menusuk, tetapi juga dibarengi dengan ledakan kemarahan yang tenang.

Dion, kamu benar-benar keterlaluan.

Lia melipat struk itu hati-hati, menyimpannya di tempat tersembunyi bersama uang rahasianya. Struk itu bukan lagi bukti perselingkuhan, melainkan kartu As yang akan dia gunakan saat waktunya tiba.

Perubahan sikap Lia mulai mengganggu Mami Sandra. Lia tidak lagi menangis, tidak lagi memohon. Bahkan ketika Mami Sandra mengkritik masakannya (padahal masakannya makin enak berkat cuan rahasia Lia), Lia hanya menanggapi dengan senyum kecil yang sangat mengganggu.

"Kamu ini kenapa, Lia? Senyum-senyum begitu. Kamu sehat? Jangan-jangan kamu sudah gila ya karena tidak punya uang?" cibir Mami Sandra saat mereka sedang menonton TV bersama.

Lia menoleh, senyumnya tetap terkembang. "Alhamdulillah sehat, Mi. Justru karena akhir-akhir ini aku merasa damai, jadi sering senyum," jawabnya.

Mami Sandra mendengus. "Damai apanya? Suami kamu pulang malam terus, kamu nggak curiga? Harusnya kamu itu cemburu, Lia! Kejar suami kamu, jangan malah santai-santai di rumah!"

Tiba-tiba, mata Lia menatap Mami Sandra lurus-lurus. Sebuah keberanian baru yang didorong oleh kemerdekaan finansial.

"Buat apa curiga, Mi? Kan Mas Dion bilang dia kerja. Kalaupun Mas Dion ada urusan lain, itu urusan Mas Dion. Tugasku di rumah sudah selesai. Aku sudah kasih makan dan urus anak-anak dengan baik. Kalau Mas Dion tidak menghargai itu, ya itu masalah Mas Dion, bukan masalah aku lagi," kata Lia dengan tenang.

Mami Sandra terdiam. Mulutnya menganga. Dia tidak pernah menduga Lia akan melawan, apalagi dengan kalimat yang begitu logis dan dingin.

"Kamu... kamu lancang ya sekarang! Berani melawan mertua!" teriak Mami Sandra, wajahnya memerah.

"Aku nggak melawan, Mi. Aku cuma bilang yang sebenarnya. Aku sudah capek, Mi. Biar Mas Dion juga tahu, aku bukan pembantu yang bisa dia perlakukan sembarangan," balas Lia, lalu bangkit dan pergi ke kamarnya.

Lia menutup pintu kamar, hatinya berdebar kencang. Itu adalah kali pertama dia membela dirinya secara frontal di depan Mami Sandra. Rasanya seperti memenangkan lotre-bahkan lebih baik daripada mendapatkan cuan ratusan ribu.

Di dalam kamar, Lia menatap Dion yang sedang pura-pura tidur. Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan aku, Mas. Kamu punya rahasia, aku juga punya. Dan rahasia aku ini akan jauh lebih menghancurkan hidupmu daripada perselingkuhanmu itu.

Lia meraih laptopnya, dan mulai mengetik lagi. Kali ini, tulisannya lebih bersemangat, lebih penuh tekad. Dia tahu, setiap kata yang dia ketik, setiap rupiah yang dia dapat, adalah satu langkah menjauh dari rumah yang terasa seperti penjara ini.

Lia sudah mulai berani melangkah, bahkan berhadapan dengan mertuanya. Di bab selanjutnya, mungkin perselingkuhan Dion akan semakin terang-terangan dan Lia akan mulai menyusun rencana balas dendam dengan cuannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Duda Pilihan Papa
9.6
Terjerat utang besar, Anwar Mahendra terdesak menyerahkan Ashiqa, putri tunggalnya, kepada rentenir. Demi melindungi masa depan sang anak, Anwar memohon bantuan Rama, duda kaya yang pernah berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Meski terkejut, Ashiqa terpaksa menerima perjodohan ini. Kini, Rama harus menghadapi dilema antara menumbuhkan benih cinta dalam pernikahan mereka atau melepaskan Ashiqa demi kebahagiaan pilihan hatinya sendiri.
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Yatim piatu dan terlilit utang miliaran, mahasiswi bernama Arabella Alexandro terpaksa menjalani kehidupan ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Di balik senyum palsunya, ia berjuang membiayai kuliah serta bertahan hidup sendirian tanpa bantuan keluarga besar. Suatu malam, ia bertemu Arkan Stevanno Orlando, CEO kaya raya yang memesan jasanya. Akankah pertemuan dengan Arkan menjadi pintu keluar dari kemelaratan atau justru memicu konflik baru yang lebih pelik?
Sampul Novel Ibu Susu Bayi Presdir
8.2
Lima tahun berlalu sejak malam misterius yang mengubah hidup Liana. Kini, ia terkejut menemukan bahwa Ethan Alvaro, CEO di tempat kerja barunya, adalah pria dari masa lalunya sekaligus ayah kandung Noel. Meski Ethan tak mengenali Liana, kecurigaan mulai tumbuh saat rahasia perlahan terkuak. Liana berusaha menjaga jarak demi melindungi putranya, namun Ethan justru terus mengejarnya. Akankah Ethan menerima kenyataan ini atau justru merebut Noel darinya?
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Muda!
7.8
Anna terjebak dalam skenario licik keluarganya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan. Kini, ia resmi menjadi istri Zain, tuan muda tampan namun berkepribadian dingin yang harus duduk di kursi roda. Meski awalnya penuh penekanan dan peringatan keras, Zain menjanjikan perlakuan baik jika Anna patuh padanya. Sebagai wanita yang lama terasing, Anna harus beradaptasi dengan status barunya sebagai istri dari pria yang menuntut pengabdian penuh tersebut.
Sampul Novel Keputusasaan Di Balik Pernikahan
7.9
Jerald Lucas dikenal sebagai CEO dingin yang sangat memuja istrinya, Clara Rernald. Namun, citra itu hancur saat Jerald terjebak skandal perselingkuhan akibat pengaruh racun di hari ulang tahun pernikahan ketujuh mereka. Meski Jerald bersujud memohon ampun dan berjanji setia, hati Clara telah hancur melihat bukti pengkhianatan di kamar mereka. Usaha penebusan dosa Jerald sia-sia karena sebuah foto misterius akhirnya memicu Clara untuk pergi selamanya.