Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD

INNOMINATUS : THE LOST CHILD

Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku tahu dia bohong. Untuk seseorang yang ingin balas dendam wajahnya terlalu santai. Aku tidak tahu apa yang ia incar hanya saja jika dia ingin bermain, maka aku akan melayaninya.

Dengan bantuan James, aku bisa sampai di lokasi terakhir mereka terlihat. Hutan belantara menyambut diriku. Hari masih siang, namun matahari sama sekali tidak terlihat.

Kejadian 10 tahun yang lalu masih menyisakan bukti-bukti pertempuran. Jika apa yang di katakan Pak Tua itu soal usaha pemerintah untuk mencari mereka benar-benar dilakukan, seharusnya masih ada tanda-tanda kehadiran manusia di tempat ini. Tapi, ini terlihat seperti tidak pernah ada seseorang di sini seolah-olah tempat ini tak pernah di jamah sejak 10 tahun yang lalu.

Tulang belulang berserakan dimana-dimana. Seharusnya mayat-mayat ini telah di kubur, tapi tidak terlihat demikian. Dan juga semua tulang-tulang ini memiliki tingkat kerusakan yang sama. Dengan kata lain, ini tidak pernah di sentuh sama sekali. Pemerintah tak pernah mengupayakan pencarian.

Namun, ada yang aneh. Tulang-tulang ini lebih kecil untuk seukuran orang dewasa.

BUUGH

''Siapa....kau...''

Sial!

Kesadaranku mulai memudar. Aku benar-benar lengah. Pukulannya terlalu keras.

Aku.....tak bisa melawan.....

.

.

.

.

Samar-samar aku mendengar suara anak-anak.

Perlahan aku membuka mataku. Rasa sakit dari belakang kepalaku masih terasa. Untuk orang normal mungkin sekarang dia akan bangun di alam lain. Sedikit bersyukur bahwa aku bukan orang normal tersebut.

IniΒ seperti sebuah kamar dan juga aku tidur di atas kasur yang empuk. Cukup nyaman.

''Ah, kau sudah bangun.''

Suaranya mengembalikan kesadaranku seutuhnya.

Tampak seorang gadis cantik berdiri di hadapanku. Ia membawa sepasang pakaian di tangannya.

''Kau pasti punya banyak pertanyaan. Pakailah ini terlebih dahulu. Aku akan menunggu di luar.''

Kurasa aku tidak punya pilihan lain. Saat ini tubuhku hanya berbalutkan perban. Akan sangat aneh jika aku keluar dengan penampilan ini.

''Ikut aku.''

Tempat ini terlihat seperti bangunan klasik. Di sepanjang lorong yang kami lewati aku berpapasan dengan beberapa anak seusiaku. Kurasa aku tahu dimana ini. Takdir benar-benar mempertemukan kami.

''Zero, aku membawanya.''

Aku merasakan sesuatu yang besar dari orang bernama Zero ini. Dia.....di kelilingi oleh bau kematian.

Dengan anggukan kepala, gadis yang bersamaku tadi pergi meninggalkan kami berdua. Kini suasananya lebih mencekam.

2 menit telah berlalu dan gadis di depanku tak membuka suara sama sekali. Kurasa aku akan memulai pembicaan ini.

''Siapa ka-''

''Apa kau melihatnya?''

Dia memotong ucapanku.

''Apa?''

''Tulang-tulang yang berserakan di atas sana.''

''Ya. Ini dimana?''

''Lavianno. Itu adalah nama tempat ini dan berada dibawah tanah.''

Kurasa aku mulai paham kenapa mereka tidak pernah di temukan sejak 10 tahun terakhir ini. Tidak ada yang menyangka bahwa ada bangunan besar di bawah tanah ini. Tapi, dengan kemajuan teknologi saat ini seharusnya tempat ini sudah terdeteksi.

''Jika bukan karena surat ini, kau sudah mati. Berterima kasihlah pada orang yang membawamu."

''Jadi, yang membawaku bukan salah satu dari anggotamu?"

"Bukan. Pagi tadi kau di temukan di depan pintu dengan kepala berdarah. Lalu surat ini ada di sampingmu."

π˜Όπ™’π™—π™žπ™‘ π™™π™žπ™–. π™Žπ™ͺ𝙖𝙩π™ͺ 𝙨𝙖𝙖𝙩 π™£π™–π™£π™©π™ž π™™π™žπ™– 𝙖𝙠𝙖𝙣 π™’π™šπ™¬π™ͺπ™Ÿπ™ͺ𝙙𝙠𝙖𝙣 π™žπ™’π™₯π™žπ™–π™£π™’π™ͺ.

"Impian?"

"Membunuh pemerintah dunia saat ini."

"Kenapa?"

"Tulang- tulang itu adalah milik anak-anak di sini. Dulu, ada sekitar 1000 anak yang bekerja di bawah pemerintah sebagai alat untuk membunuh para pengkhianat, namun setelahnya kami juga di singkirkan oleh mereka. Dari 1000 anak kini yang tersisa hanya 57. Selebihnya telah di bantai. Di tengah pelarian kami, tempat ini ada begitu saja dan kami memutuskan untuk tinggal disini.''

''Ada apa dengan tubuhmu?''

Sekilas dia seperti anak-anak, tapi secara bersamaan dia juga terlalu 'dewasa' untuk seukuran anak-anak.

''Ini adalah hasil dari eksperimen. Seluruh anak-anak disini adalah hasil dari eksperimen gila para ilmuwan pemerintah. Sehebat-hebatnya seseorang akan kalah dengan umur. Inilah hasilnya. Umurku 16 tahun, tapi terlihat seperti umur 6 tahun. Kami tidak mengalami pertumbuhan secara fisik. Tubuh ini akan terus seperti ini hingga kami mati.''

Itu eksperimen yang cukup gila. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang mereka derita selama itu.

''Izinkan aku tinggal disini. Aku akan membalasnya suatu saat nanti.''

''.......''

Zero terdiam sejenak menatap diriku dengan intens. Aku penasaran dengan apa yang dilihat matanya terhadapku.

''Tubuhmu....Perban apa itu?''

''Ini? Aku tidak tahu. Hanya saja aku tidak bisa membukanya. Bukan karena tidak bisa, tapi setiap kali aku ingin membukanya kenangan aneh terlintas di kepalaku dan itu sangat menyakitkan."

''Begitu, ya. Mulai sekarang kau akan tinggal disini. Ini adalah rumahmu. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Jangan pernah mempercayai siapapun yang ada disini bahkan jika itu adalah aku. Percayalah pada darahmu.''

Aku tidak begitu paham dengan apa yang dikatakannya. Bukankah mereka tinggal dalam satu atap lalu kenapa ia perlu meragukan mereka?

''Apa pendapatmu tentang Zero?"

''Seperti seorang pemimpin dan dia memiliki aura yang aneh seperti kematian selalu berusaha menariknya.''

''Hmph....Hanya kau yang berpikiran seperti itu. Bagi anak-anak disini, Zero itu sosok ibu, panutan sekaligus musuh yang perlu dikalahkan.''

''Musuh?''

''Zero adalah yang terkuat. Kekuatan berarti kekuasaan dan kekuasaan.....berarti melihat dunia luar.''

Ekspresinya di penuhi oleh kesedihan yang begitu mendalam.

''Kenapa tidak melihatnya langsung?''

''Yang menentangnya akan di bunuh. Sekalipun kami semua melawannya itu tidak akan cukup. Tapi, terkadang aku melihat duka dimatanya setiap kali ia 'membunuh' mereka. Kurasa ia terus menanggung beban yang sangat berat selama 10 tahun terakhir ini. Karena itu, jika ini adalah takdir, ku mohon......angkatlah beban yang ia pikul.''

''Kenapa kau sangat yakin?''

''Entahlah. Keberadaanmu terasa begitu mencekam. Mungkin saja kau adalah yang 'terpilih'."

''Jangan terlalu berharap. Bisa-bisa kau akan mati jika itu mengecewakanmu.''

''Apa itu lelucon?''

''Tergantung bagaimana kau menanggapinya.''

''Yah, kurasa aku akan menganggapnya sebagai lelucon.''

''Tapi, kau sama sekali tidak tertawa.''

''Timingnya sudah lewat.''

Sekarang kami ada di tengah-tengah ruangan. Anak-anak seumuranku berkumpul dengan titik pusatnya adalah Zero. Kurang lebih ada sekitar 300 anak yang berkumpul dan semuanya memiliki ekspresi yang tak dapat di jelaskan. Beberapa anak memiliki aura yang kuat akan kegelapan dan beberapa lagi aura kehidupan yang sedikit menipis. Tidak ada anak yang normal di-

DEG

Eh?

Apa itu?

Barusan aku merasakan sesuatu yang sangat mengerikan. Jika Zero ditarik oleh kematian, maka dia sebaliknya. Dia... justru berjalan bersama kematian itu sendiri. Auranya terlalu mengerikan.

Hanya sesaat. Setelah itu aura itu menghilang begitu saja seolah-olah tak pernah ada. Kurasa tak ada yang menyadarinya, kecuali aku dan.....

Zero. Apa dia menyadarinya? Aku akan bertanya langsung padanya setelah ini selesai.

''Seperti yang kalian lihat, kita kedatangan anggota baru. Kuharap kalian tidak mencari masalah dengannya.''

Tatapan penuh tekanan ditujukan padaku. Mungkin aku sudah di benci oleh mereka.

''Zero, dia belum punya nama kan? Bagaimana jika kami bertarung dan aku akan memberikan namaku jika dia menang?''

''Lakukan sesukamu. Siapa pun yang bisa mengalahkannya akan menyandang nama Zero.''

''Wah, serius?''

''Aku akan bertarung.''

''Ini akan menarik.''

Beberapa tanggapan terdengar. Antusias mereka untuk membunuhku semakin meninggi. Ini seperti melemparkan diri kedalam lubang tak berujung.

''Tapi...''

Suasanya kembali hening.

''Yang kalah akan dimasukkan dalam 'ruang isolasi."

Kata 'ruang isolasi' memberikan efek yang sangat besar bagi sebagian anak sehingga membuat suasana menjadi lebih mencekam daripada sebelumnya. Marah, takut, dan trauma bercampur menjadi satu di dalam ekspresi mereka. Kini, ada 2 pilihan yang bisa mereka pilih.

Terkurung seumur hidup di dalam sini atau....

Melawan dengan menghadapi traumanya.

Pilihan yang cukup sulit.

''Aku akan melawannya.''

''Zeta, apa kau yakin?''

''Tentu saja. Aku tidak akan berdiam diri disini seumur hidupku. Aku akan keluar dari sini.''

Tekad yang bagus. Tatapannya terlihat tidak akan goyah akan badai apapun.

''Aku suka semangatmu, tapi maaf saja kau akan kalah. Mundurlah dan matilah disini.'' Aku sedikit serius mengatakannya.

''Sepertinya kau sangat yakin dengan kemampuanmu.''

''AkuΒ sudah memperingatkanmu.''

''Kaulah yang akan mati.''

''Karena kedua pihak setuju maka pertandingan akan dimulai.''

Pertandingan pun dimulai.

***

Zeta melakukan pergerakan terlebih dahulu. Serangan membabi buta ia kerahkan untuk menyerang lawannya.

Ia mengangkat kakinya lalu dengan kecepatan yang luar biasa langsung menghantam sisi kanan wajahnya.

''I-Itu serangan telak. Bagaimana bisa dia...''

Peluang kemenangan yang akan ia raih pupus seketika setelah melihat apa yang terjadi. Serangannya berhasil ditahan oleh bocah itu hanya dengan menggunakan satu tangan saja.

Aksi itu membuat yang lainnya tercengang apalagi itu adalah serangan mematikan yang biasa Zeta gunakan untuk membuat lawannya pingsan seketika. Hingga saat ini hanya ada 10 orang, termasuk dirinya yang bisa menangkis dan menghindari serangan tersebut.

Dengan pertunjukkan itu, nyali mereka mulai menciut.

''Cih. Kalau begitu coba tangkis ini.''

Serangan yang sama kembali ia layangkan dan seperti sebelumnya juga di tangkis.

Seringai aneh muncul di wajah Zeta. Sepertinya ia merencanakan sesuatu.

''Gotcha.''

Kaki kirinya yang ia layangkan seolah berhenti diudara dan dalam sekejap kaki kanannya telah mendarat pada perut bocah itu yang terbuka dengan lebar. Tangannya terlalu fokus melindungi wajahnya sehingga pertahanan di bawah wajahnya menjadi terbuka lebar. Itu adalah gerakan berputar dengan menyembunyikan serangan yang sebenarnya.

Serangan tipuan berhasil mengenai perutnya. Ia mundur beberapa langkah untuk menghindari cedera parah.

''Terlalu lemah. Apa itu serangan terbaikmu?''

Ucapan itu memprovokasi Zeta sehingga ia maju dengan penuh emosi tanpa menyadari bahwa pertahanannya terbuka dengan lebar. Menyadari bahwa itu adalah kesalahan, ia mencoba membentuk pertahanan, tapi terlambat.

BUGGH

Serangan yang kuat mengenai perutnya. Ia tidak bisa mengelak maupun menangkisnya dan itu membuat darah mengalir keluar dari mulutnya. Kembali serangan kedua di layangkan mengenai tepat dibawah dagunya. Sebelum ia sempat menarik napasnya, serangan ketiga dilancarkan tepat pada area ulu hatinya hingga tembus. Akibatnya Zeta terjatuh dengan bersimbah darah.

''Pertandingan selesai. Bawa dia.''

Tidak ada sorakan ataupun kericuhan yang menemani pertarungan itu. Seolah tidak ada kelanjutan Zeta diseret menuju sebuah ruangan yang tidak pernah dibuka. Sepertinya itu adalah ruang isolasi yang mereka maksudkan. Darahnya membekas di lantai yang putih itu.

''Zero, apa kau yakin mengurungnya di ruangan itu? Kau tahu itu kan-"

''Dia sudah setuju dan itu bukan urusanmu. Kalau kau keberatan maka lawanlah dia.'' Ucap Zero sambil menunjuk anak baru tersebut.

''Tapi, itu terlalu-''

''Kau, mulai sekarang namamu adalah Zeta. Kau adalah bagian dari tempat ini.''

Zero tak menggubris apapun ucapan anak-anak yang lain. Ia menunjukkan sosok yang sangat tegas dan perbedaan tingkat kekuatan mereka. Walau sangat singkat itu tetap memberikan gejolak yang aneh dan dengan demikian anak itu juga memiliki nama untuk ia sandang. Itu memberinya identitas baru sekaligus kehidupan baru.

Namun, kemenangannya menarik perhatian beberapa anak. Lebih dari setengahnya mulai menunjukkan bentuk aslinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calamity Of Love
9.4
Camilio Danielle Osvaldo adalah jenius ber-IQ 150 dengan prestasi militer gemilang. Namun, patah hati mendalam akibat ditinggal wanita tercinta mengubah hidupnya. Mike, petinggi Black Nostra, mengajaknya bergabung ke sindikat mafia global tersebut. Meski awalnya menolak karena nurani, Camilio akhirnya luluh setelah melihat solidaritas luar biasa di sana. Di balik aksi kriminal, ia menemukan kehangatan keluarga yang tak terduga dalam kelompok tersebut.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel DENDAM MERTUA MAFIA
8.2
Akibat kebencian mendalam, Ratih Darmi menukar janji masa lalu ayahnya demi melenyapkan cucunya sendiri, Farid Abdullah. Bocah itu diculik oleh raja mafia kejam, Razzore, untuk dieksekusi di istana bawah tanah. Diandra Safaluna, sang ibu yang memiliki masa lalu sebagai mafia, harus berjuang di tengah kehancuran jiwanya demi menyelamatkan Farid. Luna bersumpah akan menembus istana monster tersebut meski harus mengorbankan nyawanya sendiri demi sang putra.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Immortal and The Beast
9.1
Pasca perang berdarah 100.000 tahun silam, Theodore bangkit melalui mantra kuno. Namun, alih-alih pulih dalam 10.000 tahun, roh sang Immortal justru terbangun di masa depan dalam tubuh pemuda lemah yang sering dirundung. Di dunia yang kini terancam monster, ia bertekad menjadi Hunter, pahlawan pembasmi makhluk buas. Meski raga barunya rapuh, pengalaman tempur dari masa lalu akan membantunya menaklukkan tantangan demi mengubah nasib malang sang pemilik tubuh.
Sampul Novel Pacarku Anak Jendral
8.0
Sam melarikan diri ke kota Malang tepat saat ujian seleksi tentara dimulai demi menghindari paksaan ayahnya. Tanpa sengaja, ia terlibat perkelahian dengan komplotan pencopet dan justru berakhir menjadi pemimpin baru mereka. Di bawah kendalinya, kelompok kriminal tersebut perlahan bertransformasi ke jalan yang benar. Di tengah perubahan hidupnya, Sam bertemu seorang mahasiswi yang seketika mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka di sana.